Sudahlah Kena Tilang, Pahala Puasa Pun Terbang

marka-1Suatu sore di bulan Ramadhan, saya sedang mengendarai sepeda motor di Jalan Margonda dengan lalu-lintas kendaraan yang cukup padat. Di belakang saya duduk seorang kawan. Tujuan kami saat itu adalah mencari tempat untuk berbuka puasa.

“Bang, nanti di depan putar balik aja biar cepet. Nggak usah usah lewat putaran yang satunya lagi. Jauh!” Pinta kawan saya.

“Tapi di situ ada tanda dilarang balik arah,” saya berusaha untuk menolak usulan tersebut.

“Ya jangan putar langsung, belok aja dulu ke restoran Padang itu. Baru kemudian lanjut,” kawan saya mengusulkan sebuah trik yang akhirnya saya ikuti.

Mendekati putaran, saya mengambil jalur sebelah kanan, merapat dengan pembatas jalan. Di hadapan, mobil dan sepeda motor masih berjalan dengan merayap. Pelan. Saya hanya bisa mengikuti di belakang, tidak ada ruang untuk bisa mendahului.

Tak lama kemudian, saya belokkan sepeda motor ke arah kanan tepat di bawah marka jalan dilarang memutar. Di seberang jalan, di depan restoran Padang, seorang polisi sedang berdiri mengawasi lalu-lintas. Polisi tersebut sepertinya melihat apa yang saya lakukan, namun tak memberikan tanda atau bahasa tubuh untuk melarang. Saya pun berpikir bahwa perbuatan saya tersebut memang diizinkan, sebab yang saya lakukan adalah belok kanan bukan berputar seperti yang ditunjukkan marka jalan.

Saya pun sudah berada di depan restoran padang. Saya hentikan sepeda motor sejenak. Baru kemudian melanjutkan perjalanan.

Tiba-tiba, sesaat sebelum sepeda motor saya keluar dari restoran padang, polisi yang sejak tadi berdiri mengawasi lalu-lintas menghentikan sepeda motor saya.

“Selamat sore, Pak. Bisa lihat surat-suratnya?” Tanya Pak Polisi.

Saya pun mengeluarkan SIM dan STNK dari dalam dompet dan menyerahkannya.

“Kenapa Bapak berputar?” Tanya Pak Polisi lagi.

“Saya bermaksud membeli makanan untuk buka puasa di sini tapi nggak ada.” Jawab saya.

Entah kenapa tiba-tiba saya mengucapkan jawaban tersebut. Padahal tujuan saya bukanlah demikian. Saya berbohong! Sepertinya saya hanya ingin mencari selamat. Dengan berbohong. Sebuah cara yang salah.

“Tapi Pak, saya kan tidak memutar. Saya belok kanan!” Saya melakukan protes.

“Bapak ini gimana sih, memutar arah saja yang tidak memotong arus lalu-lintas nggak boleh, apalagi belok yang memotong arus lalu-lintas, itu lebih enggak boleh lagi.” Jawab Pak Polisi. “Bapak ngerti nggak maksud tanda dilarang memutar itu? Jangan-jangan waktu bikin SIM nembak yah?” Sambung Pak Polisi.

“Ya nggak lah, Pak!” Jawab saya. Jawaban itu pun juga bohong. 😦

Sepertinya, sore itu saya berada dalam sebuah kondisi di mana, “sebuah kebohongan hanya akan bisa ditutupi dengan kebohongan yang lain”.

“Bapak saya tilang, nanti ikut sidangnya dua minggu lagi!” Ucap Pak Polisi sambil membuatkan surat tilang.

“Tapi, kenapa yang lain nggak ditilang, Pak? Itu banyak sepeda motor yang memutar, kok didiamin?” Teman saya protes.

“Tangan saya kan cuma dua, saya selesaikan yang ini dulu baru saya bisa mengawasi dan menilang yang lain.” Jawab Pak Polisi.

Dan saya pun harus terima akibat dari kesalahan saya melanggar lalu-lintas.

Sudah jatuh tertimpa tangga, mungkin pribahasa itu cocok dengan kejadian yang saya alami terkait dengan hal-hal yang membatalkan pahala puasa di mana berbohong adalah salah satunya. Sudahlah kena tilang, pahala puasa pun terbang, dan harus ikut sidang. 😦

14 respons untuk ‘Sudahlah Kena Tilang, Pahala Puasa Pun Terbang

  1. Iwan Yuliyanto Juli 20, 2013 / 16:35

    Sudah jatuh ditimpa tangga hilangnya pahala puasa. Semoga dibalas dengan kemenangan GiveAway. aamiin.

    • jampang Juli 20, 2013 / 21:20

      aamiin. terima kasih, pak 😀

  2. herma1206 Juli 20, 2013 / 17:06

    entah kenapa…kok sy justru mau ketawa ya bacanya..lucu ngebayangin kejadiannya…harusnya temen mas Rifki bilang gini ke polisi:

    “Ya udah deh..pak, saya bantu nilangin yg lain ya, Pak..kan tangan bpk cuma dua..”:D

    • jampang Juli 20, 2013 / 21:21

      😀
      bisa-bisa berantem sama pengendara yang lain, mbak

  3. ibuseno Juli 20, 2013 / 19:28

    Jadiiii jangan bohong di bulan puasa ya Mas 🙂

    • jampang Juli 20, 2013 / 21:21

      di luar bulan puasa juga nggak boleh, teh 😛

  4. omnduut Juli 20, 2013 / 19:28

    Pinter juga si polisi ngejawab. “Tangan ada dua, selesain satu ini dulu.” Aduuuuuh.

    • jampang Juli 20, 2013 / 21:22

      tapi emang bener begitu, mas. satu orang polisi nggak bisa sekaigus nilang banyak pengendara 😀

  5. dani Januari 27, 2015 / 09:27

    Hoalaaah. Kebayang bang gimana situasinya..

    • jampang Januari 27, 2015 / 11:19

      pengalaman yang ngggak ingin diulang 😀

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s