[Berani Cerita #20] Decoy

5 Agustus 2013

credit

Awal pekan yang cerah. Kugunakan untuk bersantai di rumah bersama lelaki kecilku yang berusia lima tahun, Bayu. Mataku menatap lurus ke arah televisi yang sedang menayangkan berita proses pengadilan seorang koruptor kelas hiu negeri ini. Sementara Bayu, asyik dengan mainannya, tak jauh dari tempatku. Dia sudah sembuh total dari sakitnya.

“Ini apa, Yah?” Tanya Bayu sambil memegang sebuah benda berbentuk kotak dengan dua buah lubang ditengahnya.

“Itu kaset,” jawabku.

“Kaset itu apa?” Tanyanya lagi.

“Hm, untuk mendengarkan lagu.”

“Oooo…. kaya VCD, ya?”

“Iya.”

“Mau dengar lagu, Yah!” Pintanya sambil menyerahkan kaset itu kepadaku.

“Kaset ini kosong. Nggak ada lagunya.”

“Oooo…. rusak ya?”

“Iya, rusak.” Mungkin baru kata itu yang bisa dimengertinya.

Aku menarik napas panjang. Terlintas dalam benakku rentetan peristiwa setahun yang lalu. Sebuah peristiwa yang mengaitkan diriku, Bayu, kaset kosong itu, dan Kumara, sosok koruptor yang baru saja dijatuhi hukuman mati melalui persidangan hari ini.

23 Agustus 2012 Pukul 08 : 10

“Kamu telah berhasil menyelesaikan tugasmu. Ini imbalannya!” Ucap lelaki bernama Bara sambil meletakkan sebuah koper di atas meja, bersebelahan dengan kaset yang kuletakkan sebelumnya. Hanya kepada lelaki itu aku harus menyerahkan kaset yang kubawa. Dia adalah seorang intel. Hanya dia yang dipercaya oleh Pramono, musuh besar Kumara.

Dengan menahan rasa sakit dari beberapa luka yang masih mengalirkan darah, aku membuka koper itu untuk memastikan isinya. Setelah melihat isinya, kututup kembali koper itu. Kuanggukkan kepalaku sebagai sebuah isyarat bahwa kesepakatan telah dilaksanakan.

Lelaki itu kemudian meninggalkanku bersama koper dan kaset yang sejatinya akan menjadi barang bukti persidangan hari ini. Aku tak sanggup bertanya dan melakukan apa-apa lagi. Pandanganku tiba-tiba menjadi gelap.

23 Agustus 2012 Pukul 05 : 40

Akhirnya aku terjatuh dari sepeda motorku setelah dua pengendara motor mengapitku dari sisi kanan dan kiriku. Seorang lagi menggangguku dari belakang.

Aku segera bangkit untuk menghadapi serangan mereka. Ini adalah kali ketiga aku mendapat serangan dari sekelompok orang yang bisa kupastikan adalah suruhan Kumara. Beberapa serangan mereka berhasil mendarat di wajah dan perutku. Aku menyerang balik. Bayu, dialah yang menjadi api semangatku untuk terus bertahan dan melawan. Membawa kaset ini ke tujuan artinya menyelamatkan nyawa Bayu.

Dengan susah payah, akhirnya aku bisa mengalahkan ketiga lelaki itu, meski luka di tubuhku bertambah. Dengan tertatih, kudekati sepeda motorku untuk kemudian melanjutkan misiku.

23 Agustus 2012 Pukul 01 : 17

“Kamu bersedia menerima pekerjaan ini meski nyawamu menjadi taruhannya?” Tanya Pramono di hadapanku.

“Ya. Aku terima!” Jawabku.

Ini adalah pekerjaan yang paling bisa kulakukan demi Bayu, anakku. Meskipun resikonya adalah kematianku. Imbalan dari pekerjaan ini cukup untuk biaya operasi Bayu yang jika tidak dilakukan segera, menurut vonis dokter, umur Bayu hanya tinggal hitungan hari saja.

“Baiklah. Kaset ini adalah bukti penting persidangan yang akan sangat memberatkan Kumara. Dengan ini, dia tidak akan mungkin bisa terlepas dari jeratan hukum lagi. Tapi kuingatkan, bahwa setelah kamu keluar dari rumah ini, dirimu dalam bahaya. Orang-orang Kumara akan berusaha keras mengambilnya dari tanganmu. Sekali lagi kuingatkan, dirimu akan selalu berada dalam bahaya.” Ucap Pramono.

“Aku sudah siap dengan segala resikonya!” Jawabku mantap.

39 respons untuk ‘[Berani Cerita #20] Decoy

    • jampang Juli 23, 2013 / 09:38

      kalau pake google translate artinya umpan

      • ayanapunya Juli 23, 2013 / 10:09

        ooo. bagus ceritanya, mas 🙂

      • jampang Juli 23, 2013 / 12:00

        terima kasih, mbak

  1. andiahzahroh Juli 23, 2013 / 10:29

    Tanya Mas, belum begitu mudeng

    Itu kenapa kasetnya ditinggal sama lelaki yang ngasih koper ya?

    • jampang Juli 23, 2013 / 12:53

      sesuai judulnya mbak, decoy alias umpan. kaset itu emang kosong, dan si aku itu hanya sebagai umpan agar kaset yang sebenarnya bisa sampai tujuan dengan selamat karena orang2 kumara mengira kaset itu dibawa oleh si ‘aku’

  2. ibuseno Juli 23, 2013 / 10:39

    Kadi kasetnya kenapa gak di musnahin aja Mas :-p

    • jampang Juli 23, 2013 / 12:54

      buat kenang-kenangan kali teh 😀

  3. riga Juli 23, 2013 / 12:29

    si ‘aku’ ini siapa? pengantar kaset? agak janggal jika ‘hanya’ mengantar kaset diberi imbalan ‘sekoper uang’ plus kasetnya ditinggalkan. lain halnya jika ‘aku’ tak sengaja merekam bukti kejahatan lalu diburu oleh musuh, dan akhirnya kaset itu ia ‘jual’.
    Lalu siapa si pemberi uang itu? Pihak pengadilan? siapa pemberi kaset? Musuh Kumara?
    ada banyak ‘lubang’ dalam cerita ini, Mas. 🙂

    • jampang Juli 23, 2013 / 12:57

      iya, mas. harap maklum, masih belajar.

      si “aku” hanya lelaki biasa yang menerima tugas mengantarkan kaset kosong karena sebenarnya dia hanya menjadi umpan untuk mengelabui orang2 kumara dan supaya kaset yang sebenarnya bisa dibawa secara aman.

      niatnya dalam hal ini, pihak kepolisian dan musuhnya kumara bekerja sama.

      terima kasih atas masukannya, mas

      • riga Juli 23, 2013 / 12:59

        jika keterangan di atas diselipkan dalam cerita, pasti jadi lebih bagus dan mudah dimengerti, Mas. Aku suka alur mundurnya. Terbayang sesuatu yang keren. 🙂

      • jampang Juli 23, 2013 / 13:10

        saya coba perbaiki, mas.
        cuma biasanya, bagi saya…. untuk mengubah cerita lebih susah daripada membuat baru

        😀

        sekali lagi terima kasih atas masukannya

      • riga Juli 23, 2013 / 13:12

        🙂

      • jampang Juli 23, 2013 / 14:07

        xixixixixixi….

  4. Ryan Juli 23, 2013 / 14:23

    baca komen2 di sini, semua terjawab. 😀
    cool mas… cool.

    • jampang Juli 23, 2013 / 15:52

      terima kasih 🙂

  5. Shabrina Ws Juli 23, 2013 / 15:13

    Keren idenya.
    Iya, kerjaan bahaya ya itu.

    • jampang Juli 23, 2013 / 15:52

      terima kasih, mbak. iya pekerjaan bahaya. untungnya nggak setiap waktu. cuma sekali aja 😀

  6. pitaloka89 Juli 23, 2013 / 16:47

    Awalnya ngira jamnya salah, ternyata memang mundur teratur alurnya.. 🙂
    Menarik ceritanya meski sempat merenyitkan dahi beberapa kali..

    • jampang Juli 23, 2013 / 20:50

      iya mbak, pake alur mundur 🙂

      terima kasih

  7. herma1206 Juli 23, 2013 / 21:31

    tema cerita yg beda dari biasa…bagus idenya, klo ceritanya lebih utuh dan lengkap, bisa lbh menegangkan kali ya…

    btw, BeraniCerita #20, Berani Cerita #21, itu mksdnya apa ya mas..???oot lagi nih..:D

    • jampang Juli 23, 2013 / 21:37

      terima kasih, mbak. ya bisa jadi begitu mbak. sayangnya saya belum bisa, meskipun ada kemauan 😀

      ih…. kepo lagi… 😛

      semacam challenge untuk bikin cerita. coba aja klik bannernya. nanti bisa tahu apa yang dimaksud

  8. herma1206 Juli 23, 2013 / 21:54

    oooowwh….waah..ketinggalan bgt sya…mklum, baru2 ini aja smpt buka2 blog, ikutan aaaah..hehehe…Makasih infonya mas, klo ada lomba2 kabar kabari ya….hehe…

    • jampang Juli 24, 2013 / 08:01

      silahkan…..
      biasanya saya tahu kalau ada lomba juga karena blogwalking. itu pun kalau ngeliatnya nggak terlambat 😀

  9. Syahroni Akbar P (@arai_88) Juli 24, 2013 / 10:39

    kayak lagi nonton film2 spionase euy kang. 😀
    jadi langsung kebayang sosoknya Bourne >,<

    nice story!

    • jampang Juli 24, 2013 / 13:18

      😀

      terima kasih

  10. rinibee Juli 28, 2013 / 08:16

    Pertanyaan saya terjawab dari jawaban mas Jampang di kolom komentar.. 🙂

    • jampang Juli 28, 2013 / 08:35

      ceritanya bikin bingung ya, mbak?
      😀

      • rinibee Juli 28, 2013 / 09:00

        Mungkin saya yang agak lemot :mrgreen:.

        Dan bagian kalau si ‘aku’ jadi pengalih perhatian nggak dijelasin di cerita… 🙂

        Mungkin penambahan kalimat, “terima kasih telah membantu tugas kami, Pak!” lalu dilanjutkan kalimat dari si Polisi misalnya, “Lelaki itu sepertinya memang benar-benar membutuhkan pekerjaan ini. Menjadi pengalih perhatian itu bukan pekerjaan mudah.” Dengan ditulis miring, misalnya.

        Ini cuma contoh. Karena terkadang yang kita pahami belum tentu dipahami pembaca.

        Seperti saya pembacanya. Suka nggak mudengan.. Hehehe

      • jampang Juli 28, 2013 / 09:20

        😀
        harap maklum mbak, namanya juga pemula jadi banyak celahnya dalam cerita.
        terima kasih atas saran dan masukannya 🙂

      • rinibee Juli 28, 2013 / 09:21

        Sama-sama.. 🙂

        Kalau bagian pemula itu boong banget deh.. hehehehe

      • jampang Juli 28, 2013 / 09:25

        lho… koq nggak percaya?

        saya nggak bisa nulis fiksi, apalagi yang pake twist. saya biasanya nulis diary aja 😀

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s