Nak, Maukah Dirimu Menjadi Seorang Dokter?

Nak, apakah gurumu di sekolah pernah bertanya tentang cita-citamu kelak? Apakah mereka bertanya tentang keinginanmu menjadi apa bila dewasa nanti? Apakah kamu ingin menjadi guru, insinyur, atau dokter?

Kamu tahu, duhai perempuan kecilku, bahwa ketiga profesi itulah yang banyak diminati oleh anak-anak ketika Abimu ini seusiamu. Ah, mungkin Abi keterlaluan jika menyamakan kondisi masamu saat ini dengan masa kanak-kanak Abi dahulu. Terlalu jauh untuk dibandingkan meskipun masih bisa untuk dilakukan.

Duhai putriku sayang! Bolehkan Abi bercerita sedikit tentang masa-masa awal kehadiranmu di dalam kehidupan kami berdua, Abi dan ummimu? Terima kasih karena kamu berkenan untuk mendengarkan.

Putriku, kelak dirimu akan mengetahui bahwa ada peran seorang perempuan yang tidak digantikan oleh seorang lelaki. Peran itu adalah mengandung, melahirkan, dan menyusui. Ketiganya hanya bisa dilakukan oleh seorang perempuan. Tak ada lelaki yang mampu menanggungnya.

Masa mengandung adalah masa yang paling berat yang dialami setiap perempuan di muka bumi ini, termasuk Ummimu. Abi menyadari itu. Jika peran atau tugas lain mungkin Abi bisa mengambil alih, semisal memasak, mencuci, dan sebagainya. Sedangkan untuk peran perempuan yang satu itu, tak seorang pun yang bisa menggantikan Ummimu. Tidak juga Abi.

Bukan hanya manusia saja yang mengakui bahwa masa kehamilan adalah sesuatu yang berat, Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Sang Khaliq pun mengatakan hal yang demikian.

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS. Luqman : 14)

Selanjutnya, ada peran hebat lagi yang hanya bisa dilakuka oleh seorang perempuan, yaitu melahirkan. Dan ummi telah berhasil melaksanakan peran tersebut ketika menyabung nyawa antara hidup dan mati ketika melahirkanmu. Alhamdulillah, dengan segala kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, melalui bantuan seorang dokter perempuan, ummimu melahirkan dengan selamat dan sehat. Dirimu pun terlahir dengan selamat dan sehat.

Dokter perempuan, atau tepatnya dokter kandungan perempuan, inilah inti cerita yang ingin Abi sampaikan kepadamu yang di dalamnya juga tersimpan harapan.

Putriku sayang, tahukah kamu bahwa selama ketika mengetahui ummi mengandung dirimu, kami berusaha untuk mencari dokter kandungan perempuan untuk memeriksa kondisi kesehatan kandungan ummi di mana dirimu berada saat itu. Kami kesulitan. Beberapa rumah sakit yang kami datangi tidak memiliki dokter kandungan perempuan yang praktek di sana. Kebanyakan yang ada adalah dokter kandungan lelaki. Kami belum mengetahui apa yang menjadi penyebab perbedaan jumlah dokter kandungan lelaki jauh lebih banyak daripada dokter kandungan perempuan.

Ada alasan mengapa kami berdua hanya ingin memeriksakan kandungan ummimu dan juga kelak membantu proses kelahiranmu ditangani oleh dokter kandungan perempuan. Abi tak ingin aurat ummimu dilihat oleh lelaki lain, bahkan oleh seorang dokter kandungan lelaki sekalipun. Rasa sayang dan cemburu Abi kepada ummimu yang menjadi dasarnya. Ummi pun demikian, tak ingin auratnya terbuka di depan lelaki lain yang bukan mahramnya. Atas dasar kesamaan itulah, maka kami bertekad untuk mencari dokter kandungan perempuan.

Alhamdulillah, setelah melakukan pencarian ke beberapa rumah sakit, abi dan ummi menemukan seorang dokter kandungan perempuan. Kepadanyalah kami berkonsultasi selama proses kehamilan hingga proses melahirkan. Kami merasa aman dan nyaman membicarakan topik perempuan kepada perempuan pula, bukan lelaki.

Putriku, mungkin kini kamu bisa mengerti ke mana arah tujuan pembicaraan Abi ini. Ya, abi tak ingin ada saudari-saudari Abi, perempuan-perempuan lain yang sulit menemukan seorang dokter perempuan ketika mereka ingin memeriksakan kandungan mereka dan menangani proses melahirkan. Padahal mereka sangat ingin sekali melakukannya kepada dokter kandungan perempuan, bukan dokter kandungan lelaki. Namun karena mereka kesulitan, akhirnya mereka menyerahkan semuanya kepada dokter kandungan laki-laki.

Putriku, Abi tak bisa memaksakan kehendak atas dirimu. Dirimu berhak untuk memiliki cita-cita yang tinggi. Saat ini, abi hanya sekedar ingin mengetahui apakah dirimu berkeinginan untuk menjadi seorang dokter kandungan perempuan agar bisa membantu kaummu yang kelak berkeinginan agar masa kehamilan mereka dan proses melahirkan yang akan mereka lakukan ditangani oleh orang dari kaumnya sendiri?

Putriku sayang, pilihan tetap ada di tanganmu. Abi dan ummi hanya bisa memberikan bantuan semampu kami.

—–ooo0ooo—–

artikel terkait :

Aku Ingin Ultahku Dirayakan
Aku Ingin Ultahku Dirayakan

Bila Anda Melihat Anak Lelaki Anda Merokok
Bila Anda Melihat Anak Lelaki Anda Merokok

Temani, Jangan Biarkan sendiri
Temani, Jangan Biarkan sendiri

My Dearest Syaikhan : Sebuah Catatan Kebersamaan
My Dearest Syaikhan : Sebuah Catatan Kebersamaan

Surat Untukmu, Nak. Dari Calon Ayahmu
Surat Untukmu, Nak. Dari Calon Ayahmu

34 respons untuk ‘Nak, Maukah Dirimu Menjadi Seorang Dokter?’

  1. ayanapunya Agustus 20, 2013 / 08:32

    kenapa suratnya bukan buat syaikhan?

    • jampang Agustus 20, 2013 / 08:47

      karena syaikhan kan laki-laki, mbak. sedang dokternya adalah dokter kandungan perempuan 🙂

      • ayanapunya Agustus 20, 2013 / 08:48

        jadi agak aneh bacanya. hihi

      • jampang Agustus 20, 2013 / 09:23

        karena terbiasa baca surat buat syaikhan yah?

        😀

        mbak…. cek email donk…

      • ayanapunya Agustus 20, 2013 / 09:31

        udah dibalas 🙂

      • jampang Agustus 20, 2013 / 13:17

        sudah saya balas plus lampiran

  2. purwatiwidiastuti Agustus 20, 2013 / 08:32

    senengnya punya abi dan ummi yg bijak

    • jampang Agustus 20, 2013 / 08:47

      ini fiksi, mbak. ada disebutkan di tagnya 🙂

      • purwatiwidiastuti Agustus 20, 2013 / 10:22

        🙂

      • jampang Agustus 20, 2013 / 11:16

        🙂

  3. herma1206 Agustus 20, 2013 / 08:41

    Ke murid2 saya yg perempuan..yg pada mau ambil fak kedokteran, sy selalu menekankan..kalau mau ambil spesialis, tlg..ambillah spesial dokter kandungan, krn saat ini dokter kandungan wanita sangat susah. Tapi kebanyakan pada gk berani, krn wanita kurang mempunyai mental dan keberanian yg kuat utk ngambil spesialis kandungan ini…

    • jampang Agustus 20, 2013 / 08:48

      mungkin itu kali yah yang menyebabkan profesi ini kurang diminati sama kaum perempuan…. hiksss…

  4. fenny Agustus 20, 2013 / 10:33

    Klo aq prnh tny2 k dokter2 sih jwbnnya perempuan cepat trauma melihat proses kelahiran …
    Dokter kandungan perempuan ngga ada tp kan msh ada bidan … 🙂

    • jampang Agustus 20, 2013 / 11:17

      nah kenapa bidan kuat tapi dokter nggak? padahal bidan kan permepuan juga dan melihat proses kelahiran juga.

      • fenny Agustus 20, 2013 / 20:35

        Klo kt org bidan klo dokter kandungan itu biasanya mereka melakukan proses melahirkan yg bermasalah spt sesar jd bth tenaga n wkt lama ditakutkan oleh mereka ngga kuat, klo bidan itu hny menangani proses normal n tdk bermasalah jd tdk trll membutuhkan byk wkt n tenaga jd mereka kuat.
        Salut tuk dokter kandungan perempuan 🙂

      • jampang Agustus 20, 2013 / 21:11

        ya dari namanya aja juga beda. bidan sama dokter. lebih “hebat” dokter 😀
        alat-alat yang dimiliki dokter juga lebih lengkap

      • fenny Agustus 20, 2013 / 22:06

        Jgn salah ka walau dokter itu perlengkapannya lbh hebat tp mereka kurang sabar, bermasalah sedikit lgsg d suruh sesar.
        Kalau bidan mereka msh sabar, kalau msh bs normal mereka usahain dgn sabar.
        “Sok dah pernah ngerasain lahiran ja ye” 😀

      • jampang Agustus 21, 2013 / 04:28

        dokter yang gampang bilang sesar itu laki atau perempuan. kalau statistik bilang lebih banyak dokter kandungan laki daripada kandungan perempuan, berarti yang bilang sesar itu yang dokter laki-laki yah?

      • fenny Agustus 21, 2013 / 07:38

        Ya dua2nya mempunyai kemungkinan … 🙂

      • jampang Agustus 21, 2013 / 07:39

        ya ya… begitulah

      • fenny Agustus 21, 2013 / 14:15

        Tetap salut tuk dokter kandungan perempuan n bidan yg dpt membantu 2 nyawa sekaligus 🙂

      • jampang Agustus 21, 2013 / 14:22

        iya…. salutttt

  5. Wiwik Widiyatni Agustus 20, 2013 / 12:29

    Kalo kata temen saya yang juga dokter perempuan. Dulu pernah ngobrol kenapa kebanyakan dokter kandungan itu lelaki, karena perempuan itu fisiknya tidak setangguh lelaki. Ada sebuah keadaan bahwa perempuan itu tidak selalu dalam kondisi yang “prima” meski dia seorang dokter yang mungkin saja bisa berpengaruh terhadap emosional yang bisa jadi berpengaruh juga terhadap pasien. Dan masalah kehamilan, kelahiran itu kan merupakan masalah hidup dan mati. Jadi mesti segera mendapatkan pertolongan jika ada masalah. Dan dokter lelaki lebih cepat respon, lebih siap “tempur” gitu. Ya… intinya gitu.

    Tapi kalo saya….
    Saya tetap lebih nyaman dengan dokter kandungan perempuan. Dan alhamdulillah tidak jauh dari rumah ada dokter kandungan perempuan yang membuka praktek di rumah, lengkap dengan peralatan USG…

    • jampang Agustus 20, 2013 / 12:53

      ya memang aman dan nyamannya dengan dokter perempuan, mbak.

      semoga aja akan banyak perempuan2 yang tangguh dengan fisik prima dan selalu bisa siap tempur untuk menjadi dokter kandungan perempuan sehingga bisa memberikan kenyamanan bagi para perempuan lain yang akan melahirkan. aamiin

  6. tinsyam Agustus 20, 2013 / 13:24

    dokter kandungku lakilaki.. cuek aja dah.. udah nyaman sama dia..

    btw, aneh baca suratnya, biasanya buat syaikhan..

    • jampang Agustus 20, 2013 / 13:26

      iya yah. biasanya buat syaikhan. tapi, sebenarnya, sebelum saya menulis surat buat syaikhan, saya pernah juga menulis surat untuk bakal calon anak saya yang perempuan. itu ada di link terkait.

  7. eroza Agustus 20, 2013 / 15:08

    Sepupuku (perempuan) lg ambil spesialis obsgyn saat ini. Emang ga gampang banyak pengorbanannya. Harus siap jauh dan meninggalkan keluarga. Untung aja blom punya anak, mana 3 semester dia di tugaskan ke Aceh sementara suami di Jakarta 🙂

    • jampang Agustus 20, 2013 / 15:14

      semoga segera lulus dan bisa mengamalkan ilmunya, ya uni.

      aamiin

  8. deetie Agustus 20, 2013 / 21:46

    liat org lahiran aja serem.. apalagi jd dokter kandungan ya… tpi hebatlah wanita yang bs jadi dokter kandungan atau bidan.. jadi guru tk jg hebat koq.. *lho… 😀

    • jampang Agustus 21, 2013 / 04:26

      ya… semua profesi hebat. sebab bisa memberikan manfaat bagi orang lain.

      • deetie Agustus 21, 2013 / 15:58

        yuppp… 😀

      • jampang Agustus 21, 2013 / 16:24

        sipppp

  9. Haya Najma Agustus 22, 2013 / 22:37

    memang profesinya berat sekali, harus pegang dua nyawa, tanggung jawabnya lebih besar daripada bidan karena untuk kelahiran patologis (tidak normal) kan hanya bisa di DSOG. Apalagi wanita kebanyakan khawatir kehabisan waktu untuk keluarga karena DSOG tingkat kesibukan yang tidak tahu waktu 😀 melahirkan nggak bisa ditunda, jadi yaa.. sukses terus untuk para DSOG terutama wanita, tapi sekarang sudah banyak pak, alhamdulillah

    • jampang Agustus 23, 2013 / 07:43

      syukurlah kalau sekarang sudah banyak dokter kandungan perempuan. jadi nggak kesulitan nyari2 lagi 🙂

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s