Hidup Dalam Sepotong Nastar

ilustrasi : https://bukalapak.com/

Salah satu kue yang identik dengan lebaran adalah kue nastar. Setiap lebaran, kue tersebut ada di meja tamu rumah kedua orang tua saya. Ibu saya membuatnya sendiri, bukan membeli kue yang sudah jadi. Tak terkecuali lebaran kali ini.

Yang menjadi dasar pilihan mengapa ibu membuat sendiri kue nastar dan juga beberapa kue lainnya mungkin karena dengan jumlah uang yang sama besar nilainya, ibu bisa medapatkan jumlah kue yang lebih banyak dibandingkan dengan membeli yang sudah jadi. Lebaran kali ini, ibu membuat kue nastar dalam dua bentuk, bulat dan setengah lingkaran.

Kalau saya perhatikan, di antara kue-kue lainnya yang tersedia di meja tamu rumah kedua orang tua saya, maka nastar menjadi salah satu kue yang paling lama habisnya. Bukan karena rasanya tidak enak, tetapi mungkin karena rasanya yang manis. Biasanya kue yang cepat habis adalah kue-keu yang rasanya gurih dan garing. Barulah kemudian nastar yang menjadi pilihan berikutnya.

Konon, kata nastar ini berasal dari Bahasa Belanda, yaitu ananas dan taart. Ananas berarti nanas dan taart berarti kue tar. Jika digabung akan menjadi ananastaart, tar nanas. Tetapi kue tar nanas ini lebih mirip kue pai. Untuk kue nastar ini mungkin sudah diadaptasi dengan buah-buahan lokal di sini karena di Belanda nanas tidak tumbuh. Mungkin saja para nyonya Belanda mengadaptasi dari pai apel di sana. Wallahu a’lam.

Bila ibu saya ingin membuat kue ini sebagai salah satu sajian saat lebaran, maka untuk segala sesuatunya sudah ibu persiapkan sebelum Ramadhan, seperti membeli buah nanas yang akan dijadikan selai yang nantikan akan menjadi isi dari kue nastar.

Sependek yang saya tahu, ibu membeli buah nanas yang nasih utuh lalu mengupasnya, dan membersihkannya. Kemudian, semua nanas diparut dengan parutan manual seperti yang digunakan untuk memarut kelapa jika ingin membuat santan. Jika tidak hati-hati menggunakan parutan ini, bukan hanya nanas yang terparut, jari tangan pun bisa terluka hingga berdarah.

Hasil parutan nanas tersebut kemudian dimasak di atas penggorengan setelah dicampur dengan gula pasir hingga warnanya berubah menjadi kecoklatan. Proses ini cukup lama. Setelah matang, selai tersebut disimpan terlebih dahulu dan siap dijadikan isi nastar di proses selanjutnya.

Di bulan Ramadhan, biasanya sekitar seminggu menjelang lebaran, barulah ibu membuat adonan kue nastar. Berbagai bahan seperti tepung terigu, gula, telur, dan sebagainya diaduk hingga menyerupai adonan yang cukup kenyal sehingga mudah dicetak.

Adonan tersebut kemudian dipipihkan dengan ketebalan tertentu. Selai nanas sesuai takaranya diletakkan di atas adonan yang telah dipipihkan tersebut. Lalu dicetak. Ibu biasanya menggunakan gelas kecil untuk mencetak kue nastar. Bentuk yang dihasilkan adalah seperti bulan sabit. Selain itu juga, ibu membuat nastar berbentuk bulat seperti bola-bola kecil. Untuk bentuk yang kedua, ibu tidak menggunakan cetakan, cukup dengan kedua tangannya saja.

Setelah adonan sudah selesai dicetak dan dibentuk, selanjutnya adalah proses pembakaran. Untuk membakar kue, ibu menggunakan oven. Adonan kue yang telah dicetak dimasukkan ke dalam oven tersebut. Karena bagian bawah dan atas kue harus kena panas, maka pada bagian atas oven ibu meletakkan arang yang kemudian dibakar hingga menjadi bara api. Jadi bagian bawah dipanaskan dengan kompor, bagian atas dipanaskan dengan bara api. Selanjutnya tinggal menunggu sampai matang.

Setelah beberapa waktu, kue siap diangkat. Hasilnya, terkadang tidak semuanya bagus. Mungkin karena pengaturan panas yang kurang pas, ada beberapa kue yang hangus yang tidak dapat dimakan. Sementara yang bagus atau hangus sedikit dimasukkan ke dalam plastik dan toples dan siap disajikan di hari lebaran.

—oo0oo—

Dalam kehidupan sudah pasti ada proses. Sejak seseorang di dalam kandungan, sejak itulah sudah ada proses yang dilaluinya. Bahkan mungkin sebelum itu.

Untuk menjadi sesuatu yang lebih baik atau lebih berguna, maka proses yang mungkin terasa berat harus dijalani. Jika diibaratkan dengan sepotong kue nastar, maka untuk menjadi sebuah kue nastar yang enak, sekian proses harus dijalani. Mulai dari nanas yang diparut kemudian dipanaskan bersama gula. Lalu adonan yang sudah dicetak juga harus dipanaskan.

Seperti itulah mungkin proses dalam hidup dan kehidupan. Tak selamanya hidup ini tenang terasa, kadang ketegangan menyapa. Tak selamanya dalam hidup ini kesenangan saja yang mendekati, adakalanya juga kesedihan yang menghampiri. Semuaa proses itu adalah ujian hidup. Sepertinya paras siswa dan mahasiswa, ujian itu harus dilalui sehingga layak untuk bisa duduk di tingkat yang lebih tinggi. Demikian pula dengan ujian hidup. Ujian ada karena kita akan mendapatkan posisi atau kondisi yang lebih baik, lebih kuat. Hanya saja kita lebih sadar jika ujian yang datang menimpa adalah berupa kesusahan, namun kita terlena ketika yang menimpa adalah sebuah kesenangan. Nyatanya, keduanya adalah ujian.

Wallahu a’lam.

Catatan Lebaran lainnya :

Tjerita Hari Raya : Kenangan dan Perubahan
Hari Raya : Kenangan dan Perubahan

Lebaran dan Kisah Saudara
Lebaran dan Kisah Saudara

Ketupat Lebaran, Merajut Kembali Tali Persaudaraan
Ketupat Lebaran, Merajut Tali Persaudaraan

Nastar, Satu Aja Nggak Cukup!
Nastar, Satu Aja Nggak Cukup!

Jika Aku Mudik…
Jika Aku Mudik…

36 respons untuk ‘Hidup Dalam Sepotong Nastar

  1. ayanapunya Agustus 30, 2013 / 09:05

    Di rumah udah nggak pernah bikin kue nastar lagi. Ribet soalnya 😀

    • jampang Agustus 30, 2013 / 10:37

      nah, itu kendalanya kalau buat sendiri, ribet

  2. debapirez Agustus 30, 2013 / 09:52

    saya sukanya kue putri salju 🙂

    • jampang Agustus 30, 2013 / 10:37

      😀
      biar tambah manis yah…. kuenya kan bertabur gula

  3. herma1206 Agustus 30, 2013 / 10:48

    paling suka ama sagu keju…kue favorit 😀

    • jampang Agustus 30, 2013 / 10:49

      hmm… sepertinya nggak ada di rumah 😀

      • herma1206 Agustus 30, 2013 / 10:59

        di rumah saya selalu ada..tpi beli, gak bisa bikinnya 😀

      • jampang Agustus 30, 2013 / 11:15

        yang penting ada dan enak…. nyam nyam

      • herma1206 Agustus 30, 2013 / 11:23

        tapi tau kan kuenya yg gimana? 🙂

      • jampang Agustus 30, 2013 / 11:29

        nggak. 😀

      • herma1206 Agustus 30, 2013 / 12:46

        jiaah..terbuat dari sagu, di campur keju parut..pokoke weenak lah.. 😀

      • jampang Agustus 30, 2013 / 13:04

        hhmmm…. belum pernah lihat kayanya 😀

      • herma1206 Agustus 30, 2013 / 13:34

        masa sih…klo udh liat dan ngerasain yakin deh pasti udh pernah..itu kan kue khas lebaran juga 😀

      • jampang Agustus 30, 2013 / 13:40

        hmm… mungkin kalau ngeliat rupanya inget kali yah 😀

      • herma1206 Agustus 30, 2013 / 13:42

        iya yakin..klo perlu searching gera, keyword: sagu keju 😀

      • jampang Agustus 30, 2013 / 13:44

        nggak ah… saya nggak penasaran koq 😛

      • herma1206 Agustus 30, 2013 / 13:48

        haha yo wes lah..berbahagialah jdi org yg bkn tipe penasaran… 😀

      • jampang Agustus 30, 2013 / 14:14

        😀

  4. tinsyam Agustus 30, 2013 / 12:25

    kebalik deh, justru di rumah kue nastar paling cepat habis.. soal selera kali ya.. iya kaya kue pai, pai mini kalu mama bilang sih..
    yang tidak diceritakan kenapa ibu sekarang malah beli?

    • jampang Agustus 30, 2013 / 13:04

      iya mbak… beda selera mungkin.

      sekarang sih masih bikin mbak. kalau lebaran ini seepertinya bikin semua. kalau kue satu ada … itu beli apa dibagi tetangga yah… lupa 😀

  5. deetie Agustus 31, 2013 / 23:04

    wah kalo di rumah emang nastar paling terakhir bgtz.. karena yg punya rumah gk suka nastar… hehehe

    • jampang September 1, 2013 / 06:08

      kirain karena nyelab makan yang manis-manis mulu 😀

      • deetie September 1, 2013 / 21:02

        hehehe… saya aja udh manis koq… 🙂

      • jampang September 1, 2013 / 21:10

        xixixixixi…… air laut siapa yang garamin sih?

      • deetie September 1, 2013 / 21:19

        kenape dah bang?
        hehehe

      • jampang September 1, 2013 / 21:22

        ya itu ungkapan yang menggambarkan kondisi seseorang ketika memuji dirinya sendiri…. xixixixixi

      • deetie September 1, 2013 / 21:31

        abis kaga dipuji…
        kasian amat ya..
        hehehe

      • jampang September 1, 2013 / 21:32

        😀

        jadi pengen dipuji?

      • deetie September 1, 2013 / 21:45

        liat aja belum mo muji.. hehehe

      • jampang September 1, 2013 / 21:49

        nah…. itu tahu. 😛

      • deetie September 1, 2013 / 21:55

        hehehe..
        sapa tau abang tnp liat mo muji saya gt… 😀
        *pede bener

      • jampang September 2, 2013 / 06:06

        😀

        bisa nggak yah?

  6. faziazen Januari 19, 2014 / 15:12

    wah neneknya Sayikhan pinter bener, bisa bikin kue plus selainya sendiri
    btw suka banget filosofinya..menikmati proses kehidupan

    • jampang Januari 19, 2014 / 20:04

      lebaran kemarin juga bikin, cuma buat konsumsi sendiri 😀

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s