Pesanggrahan Keramat

ilustrasi : http://indozone.net/

Suro temannya Mantili, yang menyamar sebagai Den Suro Rabin, seorang pelancong yang kaya raya, telah tiba di Penginapan Hegar. Kedatangannya segera disambut dengan hangat oleh Bu Karti, pemilik penginapan. Selanjutnya Mantili melaporkan hal tersebut kepada Brama.

Sementara itu, Lugina yang membawa pesan Bu Karti untuk Den Ayu Nyai Lapat, istri Tumenggung Aji Santa telah tiba pula di Desa Laliki. Kemudian menemui Den Ayu di rumah orang tuanya.

“Benarkah kau temannya bu karti?” Tanya Den Ayu Nyai Lapat

“Benar Den Ayu. Nama saya Lugina.” Jawab Lugina.

“Bu Karti berpesan apa kepadamu?”

“Selain pesan lisan juga ada pesan tulisan.”

“Coba pesan lisan dulu!” Pinta Den Ayu Nyai Lapat

“Bu Karti berpesan jika ada yang datang dan bukan suami Den Ayu melainkan seorang petugas bahkan kemungkinna besar Mantili yang akan datang.”

“Mantili?” Den Ayu Nyai Lapat terkejut.

“Begini Den Ayu,” Lugina memberikan penjelasan. “Tempo hari ketika Bu Karti sehabis mengunjungi Den Ayu berpasapan dengan Mantili. Entah karena secara kebetulan kepergok atau sengaja. Artinya mantili memata-matai Bu Karti dan semua itu belum jela bagi kami.”

“Lalu?”

“Demi untuk menjaga segala kemungkinan bilamana ada orang keraton datang ke sini harap Den Ayu mengatakan bahwa Bu Karti sering berkunjung ke rumah Den Ayu sebab punya saudara ipar yaitu Mbok Tua ini!” Jelas Lugina.

“Aku?” Mbok Tua, pembantu Den Ayu Nyai Lapat terkejut mendengar penjelasan Lugina.

“Begini Mbok. Waktu Bu Karti kepergok oleh Mantili, Bu Karti sangat gugup dan ketakutan. Jadi asal bicara. Yang dikatakannya habis mengunjungi saudara iparnya yang bekerja di rumah Tumenggang Aji Santa, yaitu kau mbok.” Lugina menambahkan penjelasannya.

“Waduh kok sembarangn begitu. Aku bukan saudaranya Bu Karti!” Mbok Tua mengelak.

“Memang bukan, tapi kami semua berharap agar Mbok mengaku begitu. Artinya jika ada orang bertanya apakah kau sudara ibu karti, iyakan saja.” Saran Lugina.

“Waduh bagaimana yah?” Mbok Tua meragukan saran tersebut.

“Alaah, apa susahnya mbok mengakui saudara ipar Bu Karti kan tidak apa-apa. Malah untung!” Den Ayu Nyai Lapat angkat bicara.

“Iya yah. Terserah Den Ayu.” Jawab Mbok Tua.

“Terima kasih, Mbok!” Jawab Lugina.

“Lalu pesan tertulisnya apa Lugina?” Tanya Den Ayu Nyai Lapat.

“Ini suratnya, Den Ayu!” Jawab Lugina sambil menyerahkan selembar surat.

Den Ayu Nyai Lapat kemudian membaca surat tersebut.

Den Ayu yang terhormat.
Bersama ini saya mengutus teman saya, Lugina. Maksudnya tak lain dan tak bukan adalah supaya Den Ayu tidak kembali ke keraton sebelum dijemput oleh suami Den Ayu sendiri. Semua itu untuk berhasilnya semua yang Den Ayu inginkan.
Demiain surat saya ini. Semoga Den Ayu memperoleh kebahagiaan.
Rampes.
Bu Karti

“Bagaimana menurutmu, Mbok?” Den Ayu Nyai Lapat meminta pendapat Mbok Tua.

“Saya setuju dengan pesan Bu Karti itu.” Jawab Mbok Tua.

“Kalau suami tidak menjemputku, berarti dia sudah masa bodoh kepada aku. Nah, untuk apa aku bercokol di sini?” Ada amarah dan kekesalan yang terpancar dari kalimat yang diucapkan Den Ayu Nyai Lapat.

“Seperti yang den ayu katakan, kalau dalam waktu lima hari Kanjeng Tumenggung tidak datang, maka Den Ayu mengambil kesimpulan bahwa Kanjeng Tumenggung sudah masa bodoh dengan Den Ayu. Tapi jangan terburu-buru mengambi keputusan. Biarlah dibuktikakn dulu.” Jawab Mbok Tua.

“Maksud, Mbok?” Den Ayu Nyai Lapat bertanya kembali.

“Kita kirim orang ke keraton untuk melihat kenapa suami Den Ayu tidak datang. Apakah karena terlalu sibuk dengan tugasnya atau ada sebab lain.” Jawab Mbok Tua.

“Iya. Aku setuju. Nah lugina, begitu keputusan kami saat ini.” Den Ayu Nyai Lapat menyetujui saran Mbok Tua.

“Daulat Den Ayu. Saya segera mohon diri untuk segera kembali ke kota guna melaporkan semua ini kepada bu karti.”

—o0o—

Di penginapan Hegar, Mantili mendatangi kamar tempat Suro menginap. Diketuknya pintu kamar Den Suro.

“Siapa?” Tanya Den Suro dari dalam kamar.

“Aku!”

“Oh, Kau mantili.”

“Selamat sore Den Suro!” Mantili menyapa Suro.

“Aduh jangan pakai Den, ah. Perasaanku jadi nggak enak. Ayo masuklah!” Ajak Suro.

“Hm. Kamar ini bagus sekali, bersih, rapi. Pantas penginapan ini laris. Kamarnya nyaman dan sedap di padang mata.” Ucap Mantili setelah memperhatikan kamar penginapan Suro.

“Sebab pemiliknya perempuan. Jadi pandai dalam mengatur tata ruang.” Timpal Suro.

“Dan rupanya kamu kerasan di sini, Suro.”

“Bukan kerasan lagi, ingin selamanya tinggal di sini.” Ucap Suro sambil tertawa.

“Ingat suro. Ingat anak-anak dan istrimu. Ayo kita keluar!” Ajak Mantili.

“Ada apa?” Tanya Suro heran.

“Kita jalan-jalan. Lagi pula aku sudah mengatakan kepada Bu Karti bahwa soere ini aku akan mengajakmu jalan-jalan melihat Ibu Kota Madangkara. Jadi kalau kita jalan-jalan akan terlihat wajar.” Jawab Mantili.

Di sisi lain Penginapan Hegar. Kijara sedang berbicara dengan Bu Karti perihal Mantili dan Suro.

“Bu karti, saya melihat Mantili mendatangi kamar Den Suro.” Ucap Kijara.

“Memang sore ini Mantili sudah berjanji akan menjemput Den Suro.” Jawab Bu Karti.

“Mau ke mana?”

“Katanya mau jalan-jalan.”

“Siapa tahu mereka mau ke keraton!” Kijara menduga-duga.

“Kalau begitu mereka perlu dimata-matai!” Timpal Bu Karti.

“Bisa saja tapi harus waspada. Mereka memiliki naluri pendekar jadi akan tahu kalau mereka diawasi.”

“Jadi harus bagaimana?” Tanya Bu Karti.

“Dari jarak jauh saja. Untuk mengetahui mereka pergi ke keraton atau bukan. Tidak perlu tahu apa yang mereka lakukan.” Jawab Kijara.

“Baiklah. Aku akan mengutus orang suruhanku.”

—o0o—

mantili dan Suro tiba di sebuah rumah makan.

“Nah, rumah makan ini suasananya sunyi. Di sini kita bisa berbincang dengan leluasa tanpa khawatir ada yang menyadap pembicaraan kita.” Ucap Mantili. “Siapa saja yang menginap di penginapan itu?”

“Wah banyak Mantili. Semua kamar penuh.” Jawab Suro.

“Aku tahu. Tapi maskudku, di antara tamu-tamu itu siapa yang sering mengadakan hubungan dengan Bu Karti?”

“Belum kelihatan.”

“Maksudmu?” Tanya Mantili lagi.

“Aku lihat Bu Karti bergaul dengan siapa saja sama. Bergaul penuh persahabtan jadi tak nampak siapa temannya yang istimewa.”

Mantili sebenarnya kecewa dengan mantan anak buahnya itu. Tapi dia sadar, Suro yang sekarang bukanlah Suro sepuluh tahun yang lalu. Suro bukan lagi tangan kanan Mantili. Sekarang, Suro hanyalah seorang petani biasa.

Siang ini saya mendapat sebuah link di youtube yang berisi sebuah episode dari sandiwara radio yang sangat terkenal pada masanya. Saur Sepuh, episode Pesanggrahan Keramat. Seperti di atas itulah kira-kira jalan ceritanya. Bernostalgia, ceritanya πŸ˜€

Dahulu, saya selalu menunggu diputarnya sandiwara radio ini. Sepertinya, mendengarkan sandiwara radio Saur Sepuh dan beberapa lainnya, jauh mengasyikkan daripada menyaksikan sinetron yang tayang di televisi di masa sekarang.
Adakah yang beranggapan sama seperti saya?


Postingan Terkait Lainnya:

Dari Brama Kumbara Hingga Rini Tomboy
Dari Brama Kumbara Hingga Rini Tomboy

Djadjanan Tempo Doeloe
Djadjanan Tempo Doeloe

Permainan Dulu : Murah dan Meriah
Permainan Dulu : Murah dan Meriah

Bukan Kisah Kasih Di Sekolah : Sepatu Warrior
Bukan Kisah Kasih Di Sekolah : Sepatu Warrior

Dingdong!
Dingdong!

40 respons untuk β€˜Pesanggrahan Keramat’

  1. ayanapunya September 6, 2013 / 19:38

    saya masih sd kalau nggak salah pas dengerin sandiwara radio ini. dulu dengarnya cerita arya kamandanu. tapi dah lupa ceritanya πŸ˜€

    • jampang September 6, 2013 / 20:18

      iya… saya juga masih SD.
      kalau arya kamandanu itu sandiwara radio Tutur Tinular. Banyak lagi sandiwara radio di zamannya, coba aja lihat link terkait yang judulnya dari brama kumbara sampai rini tomboy

      • ayanapunya September 6, 2013 / 20:27

        Ntar kalau buka di kompie yak πŸ˜€

      • jampang September 6, 2013 / 20:30

        iyah… silahkan… πŸ˜€

  2. herma1206 September 6, 2013 / 20:46

    Saya belum lahir..haha..boong banget.. πŸ˜€
    udh lupa semua ama nama2 tokohnya, yg inget cm brama, mantili, lasmini.
    Cerita pjg di atas itu hasil mindahin dri you tube?

    • jampang September 6, 2013 / 20:51

      yup. dengerin rekamannya

      iseng banget yah? πŸ˜€

      • herma1206 September 6, 2013 / 20:56

        embeeeeer…abang jampang kan emang tukang iseng… πŸ˜›

      • jampang September 6, 2013 / 21:01

        udah tahu iseng…. eh pada mampir di sini… iseng banget ngomentarin hasil iseng-iseng

        πŸ˜€

      • herma1206 September 6, 2013 / 21:07

        ya gimana gak iseng mampir..iklan blognya menuhin semua grup2 di fb..wkwkwkw…

      • jampang September 7, 2013 / 01:54

        nah…. ini namanya lebay… iklan cuma di beberapa group, bukan semua group πŸ˜€

      • herma1206 September 7, 2013 / 07:30

        hehe…u know me lah.. i’m a lebay woman πŸ˜€

      • jampang September 7, 2013 / 07:46

        nggak…. saya nggak tahu πŸ˜€

      • herma1206 September 7, 2013 / 07:48

        hehe….skrg jadi tau kan.. πŸ˜€

      • jampang September 7, 2013 / 07:58

        mungkin….xixixixixi

  3. fenny September 7, 2013 / 03:11

    Saya th saur sepuh itu dr film televisi wkt TK klo ngga slh, trnyt da sandiwara radio nya jg???
    Ngomongin film dl jd ingat film yoko, mc gyver, brama kumbara, sm film2 kartunnya. πŸ™‚

    • jampang September 7, 2013 / 07:16

      sebelum difilmkan ada sandiwara rdionya… sebelum ada RCTI

  4. chiemayindah September 7, 2013 / 06:18

    ya ampyun, baca cerita ini langsung teringat lagu : brama kumbara, raja madangkara, punya istri dua …(lupa liriknya).. adiknya ayu, sri dewi mantili hahahahaha

    tapi emang top pak dengerin sandiwara radio. kita jadi bisa berimajinasi. dulu saya selalu diputerin sanggar cerita sama orang tua sebelum tidur πŸ˜€

    • jampang September 7, 2013 / 06:30

      malah saya nggak tahu kalau ada lagu itu, mbak. πŸ˜€

      iya. malahan imajinasinya lebih seru dibanding ngeliat adegan pertarungannya ketika difilmkan

      • chiemayindah September 7, 2013 / 06:33

        hmmm… berarti lagu itu dari mana ya.. kok saya sampe bisa ingat sampai sekarang hehehehe

      • jampang September 7, 2013 / 06:36

        nah…. nggak tahu saya πŸ˜€

      • New Rule September 9, 2013 / 20:03

        iya inget lagunya brama kumbara, raja madangkara, punya ilmu sakti ajian serat jiwa…dstnya penggemar denger dari radio safari jam 11 siang sebelum berangkat sekolah …hihiih

      • jampang September 9, 2013 / 20:13

        setelah acara aneka ria safari. tapi lagu itu kenapa saya nggak pernah denger yah….

      • New Rule September 9, 2013 / 20:14

        Sebelum aneka ria safari kayaknya jadi jam 10.30

      • jampang September 10, 2013 / 05:48

        kalau saya malah setelahnya, mas πŸ˜€

  5. Firsty Chrysant September 23, 2013 / 08:47

    wah… penggemar sandiwara radio nih… Aku ngga pernah dengar sandiwara radio ini. Bebrapa tahun yang lalu, awal ke jakarta sempat aktif di sanggar ynag produksi drama radio kaya tutur tinular, putri cadar biru dll.

    • jampang September 23, 2013 / 08:55

      hiburan masa kecil. belum ada stasiun tv selain TVRI. πŸ˜€

      wow… jadi pengisi suara?

      • Firsty Chrysant September 23, 2013 / 08:56

        dubbing…^^ Tapi jalannya terjal hehe

      • jampang September 23, 2013 / 09:05

        dubbing film atau sinetron?

        terjal gimana? *kaya naik gunung aja*

      • Firsty Chrysant September 23, 2013 / 09:08

        hehe… belum bener2 jadi dubber. soalnya harus bertarung antara keinginan yang kuat jad dubber dengan perut yang ‘mengkudeta’. sebagai anak rantau yang merantau sendirian, harus kerja biar bisa memenuhi kebutuhan hidup… sementara dubbing kan baru mulai merintis.

        Seringnya ngisi kartun disney

      • jampang September 23, 2013 / 10:19

        oooo…. disambi kerja lain nggak bisa yah?

        jadi dubber suara tokoh apa?

      • Firsty Chrysant September 23, 2013 / 20:59

        Bisa nyambi sih, tapi sebagai anak bawang kan harus tongkrongin dulu biar dapat castingan, susah nyambinya karena ga leluasa nongkrong..

        Perannya beragam. Anak2, remaja, ibu2 sampae nenek…^^

      • jampang September 24, 2013 / 05:02

        sekarang masih sering ngisi suara atau udah nggak sama sekali?

      • jampang September 24, 2013 / 09:48

        yaaaah….. belum sempat denger πŸ™‚

      • Firsty Chrysant September 24, 2013 / 09:50

        kalo rajin nonton disney beberapa tahun yl sih insya allah udah, hehehe

      • jampang September 24, 2013 / 10:22

        channel disney? atau film kartun disney?

  6. danirachmat Maret 18, 2014 / 14:40

    Aaaaak. Dulu saya penggemar SETIA sandiwara radio mulai dari Saur Sepuh, Misteri Gunung Merapi sampe Arya Kamandanu. Issshhh.. Kualitasnya jauh lebih bagus dari sinetron jaman sekarang Bang. πŸ˜€

    • jampang Maret 18, 2014 / 15:41

      betul sekali, mas. sandiwara radio itu rasanya lebih seru dibanding nonton film. mendengar adegan pertarungan, suara pedang beradu, teriakan para pendekarnya… bikin kita berimajinasi tentang pertaurangan itu sendiri.
      jangan disamaian sama sinteron sekaranglah πŸ˜€

  7. pengembara Mei 2, 2015 / 20:57

    Saur sepuh itu memang sandiwara radio yang digarap dengan apik, profesional, dan voice actornya berpengalaman serta berbakat. Jelas jauh berbeda dengan sinetron yang digarap oleh para petualang job, bukan para profesional.

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s