Kisah Lelaki dan Air Mata

menangis

Saat itu saya belum lama mengenal sosok bapak yang satu ini. Beliau baru saja dimutasikan dari kantor lama di Pulau Sumatera. Sepertinya Beliau akan menghabiskan masa pensiunnya di kantor di mana saya bekerja. Karena jika dilihat dari usianya, barangkali beliau akan mengabdi sekitar satu atau dua tahun lagi sebagai pegawai negeri.

Sebelum saya mengenal lebih jauh tentang beliau, saya mendapat informasi dari mantan anak buahnya di kantor lama yang kebetulan waktu itu seruangan dengan saya. Kawan saya itu bercerita bahwa, di kantor lama, sang Bapak dikenal sebagai orang yang sederhana. Beliau termasuk seorang atasan yang tidak ‘neko-neko’. Beliau begitu disegani oleh anak buah dan para pegawai di sana. Itulah sedikit informasi pendahuluan yang saya dapati tentang beliau.

Kedekatan saya dengan beliau bermula ketika pegawai yang mengurus kegiatan jum’at dimutasikan ke kantor lain. Saya yang diminta menggantikan posisi tersebut merasa keberatan dengan tanggung jawab yang nantinya akan saya pikul. Akhirnya diputuskan bahwa semua urusan mengenai kegiatan juma’tan diserahkan kepada sang Bapak dan saya ditunjuk untuk membantunya. Saat itulah dimulai sebuah kerja sama saya dengan beliau.

Kabar yang saya terima tentang beliau ternyata benar adanya. Dalam kesehariannya, beliau selalu berpenampilan sederhana, dan selalu ramah. Waktu di mana saya sering berbicara beliau adalah di saat-saat menghitung jumlah penerimaan sholat jum’at. Biasanya saya ditelpon beliau untuk segera turun ke bawah. Kemudian kami akan menghitung uang bersama.

Di saat itu terkadang beliau bercerita tentang beberapa hal, termasuk tentang keluarga beliau yang ditinggal di daerah Karawang. Sedangkan beliau tidak setiap hari bisa pulang. Sering beliau tidur di kantor. Karena untuk pulang membutuhkan waktu yang cukup menyita, di samping itu mungkin fisik beliau sudah tidak kuat untuk menempuh perjalanan jauh setiap hari.

Begitulah keseharian saya bersama beliau di kantor.

Hingga suatu saat, ketika akan memasuki masa pensiun, beliau memanggil saya ke ruangannya. Kala itu beliau menyampaikan permohonan maaf bila terdapat kesalahan selama kami berinteraksi. Beliau juga berharap seandainya punya waktu lebih lama dan bisa bekerja sama dengan saya. Di samping itu, beliau mengungkapkan rasa senangnya mengenal saya, walaupun waktunya tidak lama. Saya tak menyangka akan mendengar ucapan tersebut dari mulut beliau. Ucapan tersebut adalah kali pertama saya mendengar dari orang lain selama saya bekerja. Ketika berkata-kata, saya melihat mata beliau mulai basah. Sesekali kata-kata beliau tertahan. Beliau menangis.

Apa yang saya lihat pada sikap beliau saat itu sungguh di luar perkiraan. Sungguh saya tak menyangka. Dengan anak buah beliau yang berada satu ruangan dengan beliau dan selalu bertemu muka setiap hari tidak sampai sedemikian rupa.

Ternyata beliau begitu menghargai saya, sedangkan saya mungkin tidak melakukan hal yang sama terhadap beliau. Maafkan, saya Pak.

Semoga kesejahteraan tercurah kepada Bapak. Semoga Keselamatan menyertai Bapak di dunia dan akhirat, seperti nama yang Bapak sandang. Amin.


Tulisan Terkait Lainnya :

18 thoughts on “Kisah Lelaki dan Air Mata

  1. nurme September 14, 2013 / 13:13

    sangat berkesan di hati ya? sosok Bapak ini, sehingga tertuang dalam tulisan>

    • jampang September 14, 2013 / 13:44

      Ya… Begitulah

    • nurme September 14, 2013 / 18:12

      Jadi sekarang siapa yang menggantikan Bapak baik hati tersebut mengelola masjid?Bang Rif ikut?

      • jampang September 14, 2013 / 18:44

        nggak tahu. itu cerita di kantor lama

  2. fenny September 14, 2013 / 13:44

    Ceritanya bagus.. Jadinya bapak itu cuma krja disitu sebentar aja ya?

    • jampang September 14, 2013 / 13:47

      Iya. Karena sudah memasuki usia pensiun.

      • fenny September 14, 2013 / 14:35

        Kalo pegawai pemerintahan kaya gt mgkn ga ada lagi koruptor ya..

      • jampang September 14, 2013 / 15:40

        😀
        Ya… Mungkin aja. Kalau semua manusia selalu berbuat baik dan menghindari perbuatan buruk, ya nggak akan ada koruptor. Baik di pemerintahan maupun swasta.

      • fenny September 15, 2013 / 05:59

        Aaamiin … Mdh2an jg tdk terjajah bangsa sendiri … 🙂
        Jd ingat sosok papa yg d jadikan tmpt curhat n pemberi solusi teman, saudara n keluarganya …

      • jampang September 15, 2013 / 06:03

        doakan saja…. itu yang paling ditunggu dan dinantikan

      • fenny September 15, 2013 / 06:35

        Aaamiin … 🙂

      • jampang September 15, 2013 / 06:42

        ya rabbal ‘alaamiin

  3. deetie September 14, 2013 / 14:53

    terus abang jampang ikutan nangis jg gk?? 😀

    • jampang September 14, 2013 / 15:44

      Kayanya nggak…. Malah bingung… Baru ngalamin sekali yg kaya gini… 😀

      • deetie September 15, 2013 / 00:04

        bingungnya sambil celangak celinguk ya??
        😀

      • jampang September 15, 2013 / 05:29

        itu kalo mpok kali 😀

      • deetie September 15, 2013 / 18:40

        wah klo aye mah klo bingung gak celingak celingak ….aye bingung mah pelanga pelongo… 😀

      • jampang September 15, 2013 / 19:32

        Sama aja itu mah. Eh… Pok, coba cek email deh. Saya kiim email dg alamat yg ditulis di blog ini. Nyampe nggak?

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s