Sepucuk Surat Untuk Calon Istriku

Dinda, aku memilihmu, bukan hanya karena dirimu yang baik, tetapi karena ada keyakinan bahwa dirimu akan menjadi wasilah untuk menjadikan diriku lebih baik. Atau setidaknya, kita bisa melangkah bersama-sama untuk menjadi lebih baik. Maka tetaplah menjadi sahabatku, di duniamu dan di akhiratmu, serta don’t lup me!

Bukan, aku sama sekali tidak memintamu untuk tidak mencintaiku. Justru sebaliknya. Cintailah aku. Sebab aku akan selalu mencintaimu. Aku hanya mengatakan “Don’t lup me!“, bukan “Don’t love me!”, bukan juga “Don’t luv me!”.

Dinda pasti tahu benda yang disebut lup. Nama lainnya kaca pembesar. Suryakanta, itu sebutan lain untuk benda ini. Kamu pun pasti sudah tahu fungsinya. Yup, benar. Fungsinya untuk memperbesar penampakan benda-benda kecil. Dengan lup, kita bisa melihat benda-benda kecil dengan lebih jelas.

Karenanya, benda ini tidak cocok jika kamu gunakan untuk melihatku. Mengapa? Tentu saja karena aku bukan benda kecil. Aku ini benda besar. Lebih besar darimu. Itulah sebabnya aku mengatakan “Don’t lup me!” kepadamu.

Dinda, aku manusia. Demikian pula dirimu. Sebagai manusia yang sempurna, maka diriku akan memiliki banyak kekurangan dan sering berbuat kesalahan. Kuharap kamu bisa memakluminya. Sementara aku akan berusaha memperbaikinya.

Salah satu caranya adalah dengan tidak menggunakan lup ini untuk melihat kekurangan dan kesalahanku. Sebab, jika kamu menggunakannya, maka sekecil apa pun kesalahan yang kubuat atau sekecil apa pun kesalahan yang kulakukan, akan terlihat begitu besar. Bahkan sangat besar. Seandainya kamu terus melihat kekurangan dan kesalahanku dengan lup tersebut, maka tak akan ada kebaikan yang kau dapati di dalam diriku.

Lup itu, jika digunakan terus-menerus, akan menghasilkan sebuah titik fokus yang lama kelamaan akan membakar dan menghanguskan diriku. Ibarat kamu menggunakannya untuk melihat sebuah daun kering di bawah teriknya matahari, maka beberapa saat kemudian, daun kering itu akan terbakar.

Karena itulah aku mengatakan “Don’t lup me!“ Aku pun tak akan melakukannya kepada dirimu. Biarlah kekurangan dan kesalahan itu ada di dalam diri kita masing-masing. Lihatlah kekurangan dan kesalahan itu sesuai dengan porsinya. Jangan diperbesar. Akan menjadi baik jika porsinya diperkecil sehingga kita tidak berat untuk bisa memakluminya. Mengingatkannya. Memperbaikinya. Akan jauh lebih baik jika masing-masing dari kita untuk berusaha menghilangkannya. Dan hanya kebaikan-kebaikan saja yang tersisa di antara kita berdua.

Dinda, bagiku, pernikahan  itu saling memberikan kehangatan dan perlindungan satu sama lain. Ibarat pakaian. Seorang suami adalah pakaian bagi istrinya. Istri adalah pakaian bagi suaminya.Pakaian yang aku dan kamu kenakan tak hanya berfungsi untuk melindungi tubuh kita dari panas atau dinginnya cuaca dan gigitan serangga. Namun yang terpenting adalah untuk menutupi bagian dari tubuh kita. Penutup aurat. Karena tidak semua orang boleh melihat bagian tubuh yang merupakan aurat kita.

Dinda, jika kelak kita menikah, setelah kita resmi menjadi suami-istri, maka masing-masing dari kita adalah pakaian untuk yang lainnya. Kamu adalah pakaianku, aku adalah pakaianmu. Fungsinya pun sama, untuk memberikan perlindungan satu sama lain. Bahkan lebih dari itu.

Masing-masing dari kita memiliki kekurangan. Di masa-masa berikutnya pun mungkin masing-masing kita akan melakukan kesalahan. Maka fungsi diriku dan dirimu sebagai pakaian satu sama lain harus dijalankan. Jika pakaian yang melekat di tubuh kita adalah untuk melindungi tubuh dan menutup aurat, maka sebagai suami-istri, fungsi yang harus kita jalankan menutupi apa yang menjadi aib diri kita masing-masing. Aku menjaga aibmu agar tak ada orang lain yang tahu kecuali kita berdua dan kamu melindungi aibku agar tak keluar dari rumah kita. Aib yang aku miliki akan menjadi kekurangan dirimu. Sebaliknya pun demikian, aib yang ada pada dirimu akan menjadi kekurangan diriku.

Jika aku menceritakan apa yang menjadi kekuranganmu kepada rekan-rekanku, itu adalah sebuah kesalahan. Begitu pula jika dirimu memasang status di jejaring sosial yang berisi kekuranganku, itu merupakan sebuah kesalahan. Mungkin kesalahan yang lebih besar, karena dampaknya lebih luas. Seisi dunia bisa tahu. Karenanya, kita harus menghindari yang demikian.

Dinda, jika aku menikahimu maka aku juga harus ‘menikahi’ keluargamu. Begitu juga sebaliknya. Karenanya bukan kekurangan dirimu saja yang harus aku lindungi, tetapi juga kekurangan keluargamu. Dirimu pun bukan saja harus menjaga aibku, tetapi juga aib keluargaku.

Ketika dirimu menceritakan apa yang menjadi kekurangan ibuku, ayahku, atau adik-adikku kepada teman-temanmu, itu adalah sebuah kesalahan. Begitu pula jika aku memasang status di jejaring sosial yang berisi kekurangan ibumu, ayahmu, atau kakak-kakakmu, itu merupakan sebuah kesalahan. Mungkin kesalahan yang lebih besar, karena dampaknya lebih luas. Seisi dunia bisa tahu. Karenanya, kita harus menghindari yang demikian.

jika kesalahan itu begitu nyata
samarkan dengan cinta
tutupi dengan rasa sayang yang ada

jika kekurangan itu begitu jelas
samarkan agar tak menetas
tutupi agar tak meluas

jika aib itu begitu besar
samarkan agar tak melebar
tutupi agar tak menyebar

Dinda, aku sangat berharap bahwa kita bisa menjalankan fungsi penting tersebut di dalam keluarga kita dengan sebaik-baiknya. Fungsi bahwa kamu adalah pakaianku, aku adalah pakaianmu.

Bersambung Ke Halaman 4 >>>>>

221 respons untuk ‘Sepucuk Surat Untuk Calon Istriku

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s