Lupa, Antara Musibah dan Anugerah

brainSuatu hari saya dan seorang teman bermaksud untuk mengambil sertifikat dari diklat yang telah kami ikuti beberapa bulan yang lalu. Pada waktu yang telah kami sepakati, kami pun menuju tempat pengambilan sertifikat yang letaknya tak jauh dari gedung tempat kami bekerja.

Dengan proses yang tidak berbelit-belit, akhirnya sertifikat dan lampiran nilai sudah kami dapatkan. Kami pun keluar dari tempat itu dan bermaksud kembali menuju ruangan masing-masing. Namun baru beberapa langkah meninggalkan tempat tersebut, kami teringat bahwa ada sertifikat milik seorang teman yang tertinggal. Memang, teman tersebut tidak memberikan amanat kepada kami untuk mengambilkan sertifikatnya. Tapi biasanya, untuk urusan seperti ini kami bisa mengambilkan sertifikat tersebut. Akhirnya kami memutuskan agar teman kami sendiri saja nanti yang mengambil.

Di ruang kerja, saya letakkan sertifikat tersebut di atas meja kerja. Di saat pulang kantor, saya akan membawanya.

Di sore harinya, setelah absen, saya segera keluar ruang kerja menuju lift untuk turun dan pulang ke rumah. Ketika sudah sampai di lantai dasar, saya baru teringat bahwa sertifikat saya tertinggal di meja kerja. Lupa lagi. Akhirnya saya putuskan untuk langsung pulang saja. Toh, sertifikat itu bisa saya saya bawa pulang esok hari, begitu pikir saya. Keesokan harinya saya tidak lupa lagi untuk membawa pulang sertifikat itu.

Pengalaman lupa lainnya yang saya alami misalnya ketika saya mengikuti ujian baik di sekolah maupun bangku kuliah. Akibatnya saya tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan ujian tersebut dengan baik. Terbayanglah nilai yang tidak memuaskan yang nantinya saya akan terima.

Mungkin banyak lagi pengalaman saya akibat sifat lupa ini. Dan karena sifat itu juga, saya telah melupakan pengalaman-pengalaman lainnya. Sifat lupa ini juga yang mengakibatkan saya tidak bisa melengkapi tulisan mengenai empat faktor penghambat dalam menulis seperti yang saya ceritakan pada tulisan berjudul “Obstacles”.

Contoh lainnya, Seorang pengemudi yang ternyata lupa membawa SIM dan STNK sementara di hadapannya ada razia. Sudah pasti dirinya akan kena tilang dan harus ikut sidang serta membayar denda.

Apakah tidak ada sisi baik dari sifat yang namanya lupa? Bukankah sifat lupa itu,  Allah juga yang memberikannya kepada setiap manusia?

Seorang teman pernah bercerita tentang hubungan cintanya yang kandas di tengah jalan. Di kala itu, kekecewaan menyelimuti perasaannya. Orang yang dicintai, yang diharapkan akan menjadi pendamping hidup, telah mengecewakanya. Namun rasa kecewa itu berangsur-angsur mulai memudar atau mungkin terpendam di lapisan paling dalam memorinya sehingga tak muncul lagi muncul ke permukaan. Seiring perjalanan waktu, dirinya bisa melupakan sosok yang menyakitinya itu.

Beberapa waktu kemudian, dirinya mengabarkan akan menikah dengan orang yang Allah tetapkan sebagai jodohnya. Kini ia hidup bahagia bersama keluarganya.

Peristiwa terakhir, mungkin sedikit memberi gambaran bahwa sifat lupa pun bisa mendatangkan kebaikan bagi seseorang.

Satu lagi kebaikan dari sifat lupa yang dialami seseorang ketika dirinya makan atau minum di siang hari di saat berpuasa. Hilang lapar atau haus, puasa bisa jalan terus.

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa lupa bahwa ia sedang berpuasa, lalu ia makan dan minum, hendaknya ia meneruskan puasanya, karena sesungguhnya ia telah diberi makan dan minum oleh Allah.” (Muttafaq Alaih).

Menurut riwayat Hakim: “Barangsiapa yang berbuka pada saat puasa Ramadhan karena lupa, maka tak ada qodlo dan kafarat baginya.”


Postingan Terkait Lainnya :

Dua Sisi
Dua Sisi

Karena Aku Telah Denganmu
Karena Aku Telah Denganmu

Semuanya Akan Berlalu
Semuanya Akan Berlalu

Air yang Mengalir Sia-sia
Air yang Mengalir Sia-sia

Tahan Sejenak Sebelum Bertindak
Tahan Sejenak Sebelum Bertindak

58 respons untuk ‘Lupa, Antara Musibah dan Anugerah

  1. fenny Oktober 4, 2013 / 19:46

    “Barangsiapa lupa bahwa ia sedang berpuasa, lalu ia makan dan minum, hendaknya ia meneruskan puasanya, karena sesungguhnya ia telah diberi makan dan minum oleh Allah.” -> wahhh klo tuk yg satu ini jgn smp d lupa2in …

    • jampang Oktober 4, 2013 / 19:59

      Jangan lupa kalau begitu 😀

      • fenny Oktober 4, 2013 / 20:17

        Yoyoi … Klo yg satu ini insya allah blm prnh lupa, teman th jdwl puasa saya jd mrk srg ingat klo lg jdwl nya tdk menawarkan makanan k saya … 🙂

      • jampang Oktober 4, 2013 / 20:21

        Bagus itu. Temen yg baik. 😀

      • fenny Oktober 4, 2013 / 20:34

        Krn ngga da makanan yg mau d twrin makanya ngga d tawarin … 😀
        Temen yg baik -> klo sakit ngga bs krj dong ka … Xixixixi pisss ahh 😀

      • jampang Oktober 4, 2013 / 20:36

        Iyeh. Bener.

      • fenny Oktober 4, 2013 / 20:44

        😀 alhamdulillah ka msh d kelilingi org2 yg baik n mendukung …

      • jampang Oktober 4, 2013 / 20:45

        Alhamdulillah…

  2. ayanapunya Oktober 4, 2013 / 19:46

    pernah pas datang ke dinas pas lagi puasa. kan dicoret-coret tuh berkas, trus pas mau pulang ditawarin permen sama bapak itu. saya dengan cueknya ngambil dan langsung makan permennya. pas sampai parkiran baru ingat kalau lagi puasa 😀
    oya, kata guru ngaji saya, kalau kita lupa naruh barang atau apa baca shalawat

    • jampang Oktober 4, 2013 / 20:01

      Dibuang deh permennya 😀

      Baca shalawat itu bagus.

      Pas mau maghrib di masjid sekitar ini sering denger anak-anak baca shalawat.

      • ayanapunya Oktober 4, 2013 / 20:04

        permennya udah habis baru nyadar 😀

      • jampang Oktober 4, 2013 / 20:07

        Rezeki nggak akan kemana 😀

      • jampang Oktober 4, 2013 / 20:13

        Sepertinya setelah baligh saya nggak.pernah lupa pas puasa.
        Hmm… Barangkali yah…. Udah lupa juga soalnya…. *halah*

      • ayanapunya Oktober 4, 2013 / 20:16

        kalau pas puasa ramadhan insya Allah nggak lupa sih. yang waktu itu pas puasa sunah apa bayar hutang dan kyknya pusing karena diomelin sama orang dinasnya jadinya saya lupa kalau lagi puasa 😀

      • jampang Oktober 4, 2013 / 20:20

        Oalah…
        Kalau puasa sunnah seh biasanya lebih berat daripada puasa ramadhan

      • ayanapunya Oktober 4, 2013 / 20:24

        iya. apalagi kalau pas di kantor ada yang lagi bawa makanan. terpaksa deh cuma bisa ngeliatin. tapi kalau buat saya sih pas lagi nggak puasa saat orang lagi puasa ramadhan juga berat loh

      • jampang Oktober 4, 2013 / 20:26

        Karena nggak niat puasa… Tapi nggak bisa makan dan minum juga 😀

      • ayanapunya Oktober 4, 2013 / 20:29

        100!
        bisa sih sebenarnya masak mi instan pas orang jum’atan misalnya tapi ya tetap wanginya itu mengundang banget 😀

      • jampang Oktober 4, 2013 / 20:31

        Beuuh… Mi instan itu mah baunya ke.mana-mana. Bikin ngiler banget itu… 😀

      • ayanapunya Oktober 4, 2013 / 20:40

        iya. trus di kantor dulu kan ada yang memang ga biasa puasa tuh. trus seenaknya aja masak mi instan pas siang-siang. bayangin yaa penderitaan yang lagi puasa 😀

      • jampang Oktober 4, 2013 / 20:43

        Waduhhhh…. Tersiksa banget…

      • ayanapunya Oktober 4, 2013 / 20:51

        ya gitu deh. diomelin juga percuma aja. eh kalau di sana biasa juga ga sih orang yang ga puasa makan di antara orang puasa gitu?

      • jampang Oktober 4, 2013 / 20:54

        Saya seh blm pernah ngeliat langsung. Tapi ada tempat khusus buat makan. Agak terhalang dr pandangan orang.

      • ayanapunya Oktober 4, 2013 / 20:59

        ooo. baguslah kalau gitu 🙂

      • jampang Oktober 4, 2013 / 21:04

        Iya..alhamdulillah. Lagian yg nggak puasa bisa dihitung pake jari.

      • ayanapunya Oktober 4, 2013 / 21:08

        oo. berarti ceweknya dikit dong di situ?

      • jampang Oktober 4, 2013 / 21:10

        Dikit… 10% doank kali.

      • ayanapunya Oktober 4, 2013 / 21:14

        hiyaaa.. primadona banget dong ya cewek-cewek di sana 😀

      • jampang Oktober 5, 2013 / 04:10

        90% dr mereka ya… Ibu-ibu 😀

      • ayanapunya Oktober 5, 2013 / 04:14

        90% dari 10% itu ibu-ibu? Oh, malang sekali nasibmu, mas 😀

      • jampang Oktober 5, 2013 / 05:30

        😀
        tapi saya nggak merasa malang koq

      • ayanapunya Oktober 5, 2013 / 05:33

        Gitu ya? Ya udah kalau nggak merasa malang 😀

      • jampang Oktober 5, 2013 / 05:42

        kalau saya merasa malang, pegawai perempuannya juga nggak nambah 😀

      • ayanapunya Oktober 5, 2013 / 05:43

        Haha. Nggak boleh juga kan ngelirik teman sekantor 😀

      • jampang Oktober 5, 2013 / 05:45

        sebab kalau sekantor kebanyakan. cukup satu orang aja

      • ayanapunya Oktober 5, 2013 / 05:48

        Old joke tapi selalu sukses bikin nyengir 😀
        Satu orang juga pasti pusing ya mikirnya. Hehe

      • jampang Oktober 5, 2013 / 05:54

        ini ngebahas ngelirik apa mikir seh? kalau ngelirik kan nggak pake mikir.

        eh… pake mikir juga seh… mikir gimana supaya nggak ketahuan lagi ngelirik 😀

      • ayanapunya Oktober 5, 2013 / 06:08

        Ngeliriknya pakai kacamata hitam. Pasti nggak keliatan 😀
        Eh bukannya bagus dong kalau ketahuan ngelirik. Kali yg dilirik ngelirik juga

      • jampang Oktober 5, 2013 / 06:12

        lah…. yg dilirik kan ibu-ibu itu 😀

      • ayanapunya Oktober 5, 2013 / 06:15

        O iya ya. Haha. Ya udah lirik anak kantor sebelah aja 😀

      • jampang Oktober 5, 2013 / 06:17

        ya.. ya… kalau ada kesempatan. eh… pernah ngobrol juga sama anak kantor sebelah. berhadap2an… tatap muka gitu.

        *nyetor tabungan di teller dan ngobrol sama CS*

        😀

      • ayanapunya Oktober 5, 2013 / 06:21

        Ooo dekat sama bank to kantornya. Banyak nasabah juga kan di situ? 😀

      • jampang Oktober 5, 2013 / 06:24

        banyak kali. cuma pas saya datang sepi. kalau ketemu pun…ya temen sekantor juga 😀

      • ayanapunya Oktober 5, 2013 / 06:29

        Ya udah deh. Berarti buka di situ jodohnya mas rifki
        *kok saya yang semangat ngejodohin yak 😀

      • jampang Oktober 5, 2013 / 06:46

        bisa jadi begitu.

        😀

        memang lebih enak ngejodohin itu

      • ayanapunya Oktober 5, 2013 / 06:56

        Haha. Tapi saya kyknya nggak pernah ngejodohin orang betul2.
        *lah diri sendiri aja belum ketemu jodoh*

      • jampang Oktober 5, 2013 / 07:00

        😀

        saya juga nggak berani. kalau dibalikin begitu…. tertohok banget

        *halahkosakatanya*

      • ayanapunya Oktober 5, 2013 / 07:08

        Hahaha. Berarti mikirin nyari jodoh sendiri aja dulu kalau begitu 😀

      • jampang Oktober 5, 2013 / 07:12

        mungkin begitu… mungkin mencari bersama-sama bisa juga. sebab bisa jadi sama-sama dapat jodoh atau salah satunya dapat jodoh 😀

        *teoriprobabilitas*

      • ayanapunya Oktober 5, 2013 / 07:14

        Ya bisa juga gitu. Saling mendoakan sajalah 🙂

      • jampang Oktober 5, 2013 / 07:16

        *mengaminkan*

      • ayanapunya Oktober 5, 2013 / 07:19

        Kayaknya sudah waktunya komen2an ini ditutup 😀

      • jampang Oktober 5, 2013 / 07:24

        baiklah…
        c…l…o…s…e…d

  3. takediyaya Oktober 6, 2013 / 09:32

    tulisan ini tentang apa sih? *fokus di komenan

    • jampang Oktober 6, 2013 / 09:43

      Yah… Baca tulisannya donk… Jangan komentarnya 😀

      • takediyaya Oktober 6, 2013 / 09:51

        ceritain singkat dong isinya. komennya lebih “menarik” euy.

      • jampang Oktober 6, 2013 / 10:25

        Ya intinya…. Lupa itu bisa jadi musibah semisal luoa bawa SIM dan STNK saat berkendara dan ternyata ada razia. Tapi bisa juga anugerah ketika bisa lupa akan masa lalu yang menyakitkan atau lupa saat puasa sementara nasi sudah habis sepiring dan jus segelas 😀

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s