Sepucuk Surat Untuk Istriku

Dinda, kamu pasti masih ingat dengan salah satu poin isi suratku sebelumnya yang berisi permintaanku agar dirimu menjadikanku sahabatmu di duniamu dan akhiratmu. Kuyakin, dirimu pastilah menginginkan hal yang sama. Bukankah begitu?Salah satu cara untuk mewujudkan keinginan kita itu adalah mengenang hal-hal yang indah yang pernah terjadi di antara kita berdua dan mengubur dalam-dalam tentang hal-hal buruk yang pernah terjadi di antara kita. Karena sesungguhnya, di dalam hubungan yang kita jalani akan ada pasang-surutnya, akan hadir masa tegang dan masa tenang, akan bergilir masa indah dan masa gundah, akan berganti masa suka dan masa duka.

Dirimu pasti masih ingat dengan sebuah nasihat tentang siapa diriku dan siapa dirimu ketika menikah. “Kita tidaklah menikahi malaikat atau syetan”, begitulah intinya. Aku dan kamu tidaklah menikahi malaikat yang selalu berbuat baik setiap saat. Aku dan dirimu juga tidak menikahi setan yang setiap waktu selalu berbuat kesalahan. Aku dan dirimu menikahi seorang anak manusia, yang terkadang berbuat baik, namun adakalanya melakukan kesalahan. Karenanya, kenanglah yang indah-indah di antara semua yang terjadi di antara kita berdua.

Aku teringat tentang cerita dua orang sahabat, sebut saja Si A dan Si B, yang sedang melakukan perjalanan. Suatu ketika, terjadi pertengkaran di antara keduanya, bahkan Si A memukul wajah Si B hingga merasa kesakitan.

Si B kemudian menulis sebuah kalimat di atas pasir, “Hari ini, sahabatku telah menyakitiku.”

Lalu keduanya kembali melakukan perjalanan.

Di lain hari, Si B terpleset dan jatuh ke sungai. Dirinya tak bisa berenang. Dengan sigap, Si A langsung melompat ke sungai dan menyelamatkan Si B.

Beberapa saat kemudian, Si B mengukir sebuah kalimat di atas batu, “Hari ini, sahabatku telah menyelamatkanku.”

Apa yang dilakukan oleh sahabatnya itu membuat Si A bertanya kepada Si B, “Kenapa ketika Aku memukulmu, kamu menulis kalimat di atas pasir, sedang ketika Aku menyelamatkanmu, kamu mengukir kalimat di atas batu?”

Si B pun menjawab, “Ketika Aku menulis kalimat ‘Hari ini, sahabatku telah menyakitiku’ di atas pasir, itu karena Aku ingin segera melupakannya dari hatiku secepat angin atau hujan yang menghapus kalimat tersebut dari atas pasir. Sedangkan ketika Aku mengukir kalimat ‘Hari ini, sahabatku telah menyelamatkanku’ di atas batu, itu karena Aku tak ingin melupakan kebaikanmu itu, seperti kalimat di atas batu itu yang takkan terhapus oleh tiupan angin atau pun siraman hujan.”

Dinda, dari cerita tentang kedua sahabat itu yang mungkin bisa kita tiru dalam perjalan hidup kita adalah, kenanglah yang indah-indah. Apakah dirimu sepakat denganku?

Sekarang, di saat kita berjauhan, marilah kita coba mengenang peristiwa yang indah-indah yang pernah kita lalui bersama.

Masih ingatkah dirimu, ketika kita duduk-duduk di atas ayunan di tepi pantai beberapa hari setelah pernikahan kita? Kita biarkan hembusan angin yang menyapa tubuh kita ikut merasakan getaran indah yang terjadi di hati kita saat itu. Kita tak banyak bicara, hanya menikmati keindahan yang terjadi. Bahagia.

Lalu Aku membelikan es krim yang dibawa pedagang keliling yang ternyata hanya tersisa satu cup saja. Kita pun menikmatinya berdua, dari wadah yang sama, secara bergantian. Romantis bukan? Indah bukan? Itu adalah kali kedua kita makan atau minum dari wadah yang sama. Kali yang pertama juga tak kala romantis dan indahnya, yaitu ketika kita menikmati segelas susu di malam zafaf.

Masih ingatkah dirimu, ketika kita berebut minum air kelapa langsung dari buahnya karena tak sanggup lagi dengan pedasnya mie ayam yang kita santap? Tak ada rasa kesal atau marah saat itu meski salah satu di antara kita mendapatkan air kelapa lebih banyak. Yang ada hanya tawa yang lepas manakala air kelapa sudah tiada sementara mulut kita masing-masing masih menyedot kuat. Indah bukan?

Masih ingatkah dirimu ketika diriku dan dirimu kehujanan di atas sepeda motor? Kita berdua yang tidak mengenakan jas hujan kala itu sepakat untuk tetap melaju dan menikmati sapaan rintik hujan yang menambah indah suasana perjalanan pulang ke rumah. Romantis bukan?

Masih ingatkah dirimu, ketika untuk pertama kalinya kamu menggunting kuku jemariku? Dengan penuh kesabaran dan hati-hati, dirimu menggunting kuku di kesepuluh jari tanganku. Sungguh, itu adalah suasana indah bagiku. Berlaku jugakah suasana itu bagimu?

Dinda, sepertinya, mimpi indahku sering kali buyar saat kau membangunkanku menjelang shubuh. Tak apa, aku lebih suka dengan caramu membangunkanku daripada keindahan yang hadir dalam mimpiku. Aku suka caramu yang indah itu yang tanpa menggunakan tangan apalagi kaki, bahkan tanpa bersuara.

Aku pernah mengatakan bahwa panas terik dan hujan badai akan kulewati agar aku bisa bersamamu. Tapi beberapa hari yang lalu, dirimu yang melakukannya dengan membawa sebuah payung hitam, datang menjemputku, lima menit setelah shalat maghrib tertunaikan. Indahmu yang kurasakan saat itu.

Di lain hari dengan cuaca yang sama, kurasakan kembali keindahanmu, tak hanya di mata, tetapi juga di hatiku, ketika dirimu menghadiahkan senyuman hangat manakala menyambut kedatanganku yang membawa hawa dingin di seluruh tubuhku akibat hujan deras yang menemaniku selama perjalanan pulang dari kantor. Tanpa segan, dirimu menguluran tanganmu untuk membantu melepaskan mantel, jaket, sepatu, dan tas yang kukenakan, meski itu membuat pakaian yang kau kenakan menjadi sedikit basah. Handuk dan baju salinan pun dengan sigap kau sediakan. Selanjutnya, semangkuk mi rebus kau sajikan. Hangat. Indah.

Bukankah yang demikian itu indah, Dinda?

Maka, kenanglah yang indah-indah di antara kita!

Bersambung ke halaman 3 >>>>>

70 respons untuk ‘Sepucuk Surat Untuk Istriku

    • jampang Oktober 8, 2013 / 08:51

      iyah. maksimal dua naskah jadi ya kirim aja dua 😀

      • ayanapunya Oktober 8, 2013 / 08:58

        Ooo. Moga menang ya 🙂

      • jampang Oktober 8, 2013 / 09:02

        terima kasih. sekalian uji coba naskah 😀

      • ayanapunya Oktober 8, 2013 / 09:04

        Yg kmrn belum dikirim?

      • jampang Oktober 8, 2013 / 09:19

        ya belum. baru benerin separuh… mungkin 3/4… ternyata akhir pekan ada kegiatan keluarga jadi nggak selesai

      • jampang Oktober 8, 2013 / 09:28

        😀

      • nurme Oktober 8, 2013 / 15:46

        Aamin YRA

  1. herma1206 Oktober 8, 2013 / 09:58

    waah…panjangnya..gabungan berapa surat nih..?
    dindanya smpe ketiduran bacanya saking panjangnya.. 😀

    • jampang Oktober 8, 2013 / 10:44

      bisa dilanjut di dalam mimpi 😀

      • herma1206 Oktober 8, 2013 / 11:31

        waktu mimpinya suratny bisa ngomong sendiri..ternyata si kakanda lagi bacain suratnya di samping dinda
        *uhuuuy.. 😀

      • jampang Oktober 8, 2013 / 11:34

        so sweeeeeeeet

        😀

      • herma1206 Oktober 8, 2013 / 11:41

        naaah…sy tuh pinter mas bikin cerita yg romantis2..
        tapi sengaja gak mau bikin..takut kebawa pengen… 😀

      • jampang Oktober 8, 2013 / 13:47

        😀

        kepengen aja udah takut… gimana kalau kejadian 😛

      • herma1206 Oktober 8, 2013 / 13:53

        yaa…kalau kejadian bukan takut, tapi ketagihan..haha.. 😀

      • jampang Oktober 8, 2013 / 13:56

        ooooo….. kiain 😀

      • herma1206 Oktober 8, 2013 / 13:59

        kirain apa..??
        *wajib jawab 😛

      • jampang Oktober 8, 2013 / 14:04

        ya kirain tambah takut

      • herma1206 Oktober 8, 2013 / 14:12

        yaa…awalnya sih takut, dan agak sedikit malu2…xixixi..paan sih^^

      • jampang Oktober 8, 2013 / 14:36

        nggak tahu juga maksudnya apa

      • herma1206 Oktober 8, 2013 / 14:44

        hehe..yo wes pura2 gak tau ajalah..

      • jampang Oktober 8, 2013 / 15:43

        okelah

  2. nurme Oktober 8, 2013 / 11:04

    Oooh.. ini perpaduan beberapa cerita ya?memang ada ketentuan panjang naskah?

    • nurme Oktober 8, 2013 / 11:05

      wa alaikum salam Wr. Wb *membalas ucapan salam, karena kalau ada salam bukankah wajib dijawab kan ya?

      • jampang Oktober 8, 2013 / 11:21

        iya. terima kasih.

      • nurme Oktober 8, 2013 / 11:35

        🙂

    • jampang Oktober 8, 2013 / 11:19

      sepertinya nggak ada ketentuan mengenai panjang naskah di peraturannya

      • nurme Oktober 8, 2013 / 11:35

        bisa pendek berarti ya.. hmm…

      • jampang Oktober 8, 2013 / 11:36

        bisa.

      • nurme Oktober 8, 2013 / 11:42

        🙂

  3. rinasetyawati Oktober 8, 2013 / 12:53

    hiks aku pengen ikutan GA ini tapi lom sempet juga nulisnya… semoga menang yaaaaa

    • jampang Oktober 8, 2013 / 13:19

      masih ada kesempatan koq mbak… beberapa hari lagi.

      terima kasih

  4. bunda aisykha Oktober 8, 2013 / 13:08

    owh,,dindanya udh jd istri di sini,,emaknya syaikhan ya brrti,,

  5. fenny Oktober 8, 2013 / 13:19

    suratnya panjang bener … tp so sweet n romantis jg sih, ngebacanya jg sampe terhipnotis n merinding … enaknya bc suratnya smbl dgr lagu2 yg romantis tuh … 😀

    • jampang Oktober 8, 2013 / 13:20

      silahkan puter aja lagu yang ada di handphone

      • fenny Oktober 8, 2013 / 13:40

        D handphone saya ngga ada lagu romantis yg ada lagu2 aliran datar … 🙂 sayangnya jg saya blm jd istri sapa2 … 🙂

      • jampang Oktober 8, 2013 / 13:45

        😀

      • fenny Oktober 8, 2013 / 13:51

        cengirnya cengir ngga enak bgt ka … xixixixixi

      • jampang Oktober 8, 2013 / 13:52

        enak koq

      • fenny Oktober 8, 2013 / 17:49

        Mmg rasa apa ka koq enak … 😀

      • jampang Oktober 8, 2013 / 18:30

        rasa apa aja… yang penting enak

      • fenny Oktober 8, 2013 / 19:01

        Kalah dong makanan … :p

      • jampang Oktober 8, 2013 / 19:46

        Ya tergantung makanannya. Doyan apa nggak.

      • fenny Oktober 8, 2013 / 20:09

        Wahhh klo masalah makanan ma bagi saya sama smua ngga da yg enak n ngga enak kec sayuran …
        Uppssss kok jd ngomongin makanan … Kasihan makanannya nnt jd tersedak … 😀

      • jampang Oktober 8, 2013 / 20:21

        Iya. Kasihan makanannya

      • fenny Oktober 8, 2013 / 20:36

        Heeh … Jd mau makan tp sdh mlm …

      • jampang Oktober 8, 2013 / 20:50

        😀

      • pinkvnie Oktober 8, 2013 / 21:18

        sdh emoticon smiley yg kedua … berarti saya undur diri 😀
        smoga menang ya tulisannya … jgn lupa hadiahnya bagi2 … hehehehe 😀

      • jampang Oktober 8, 2013 / 21:27

        Terima kasih

  6. edi padmono Oktober 8, 2013 / 16:32

    Seumur umur saya belum pernah dapat surat atau mengirim surat, inilah surat pertama yang ku baca.

    • jampang Oktober 8, 2013 / 16:58

      beruntung dong saya 😀

    • jampang Oktober 8, 2013 / 17:32

      terima kasih… terima kasih 🙂

  7. Dyah Sujiati November 1, 2013 / 21:38

    Aku suka caramu yang indah itu yang tanpa menggunakan tangan apalagi kaki, bahkan tanpa bersuara.–>
    Disiram? :mrgreen:

    • jampang November 1, 2013 / 21:42

      Masa cara begitu dibilang indah….

      Ck… Ck… Ck…

      • jampang November 1, 2013 / 21:52

        😀

        Kau cara itu indah… Mgkn bisa dipraktekin nanti

      • jampang November 1, 2013 / 21:58

        Knp? Bingung?

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s