Karena Wajah Mereka Adalah Cermin

emoticonBerbelanja. Saya tidak begitu suka melakukan kegiatan tersebut. Saya pun jarang melakukannya. Tetapi, jika membeli beberapa jenis sembako seperti beras, telur, gula pasir, dan sejenisnya di warung tetangga masuk dalam kategori berbelanja, saya sering melakukannya semasa kecil. Ibu saya sering meminta saya membeli ini dan itu di warung yang yang letaknya tak jauh dari rumah. Di warung yang nama pemiliknya terkenal di seluruh kampung. Sebab saat itu belum banyak mini market seperti sekarang.

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya belanja di warung klontong itu lebih enak daripada di swalayan. Sebab kita dilayani oleh pemilik warung. Kita tinggal sebut nama barang, maka pemilik warung dengan senang hati mengambilkannya. Sementara di swalayan, barang yang kita inginkan harus kita ambil sendiri satu per satu.

Sayangnya, pamor warung klontong saat ini kalah mentereng dengan mini market yang kian menjamur. Mungkin, generasi tua semisal orang tua saya, masih setia untuk berbelanja di warung klontong. Salah satu keuntungan yang masih bisa dirasakan adalah jika membeli banyak jenis barang sekaligus, pembeli cukup memberikan catatan barang apa saja yang dibeli di atas selembar kertas kepada pemilik warung beserta uangnya. Beberapa saat kemudian, pemilik warung akan mengantarkan barang-barang tersebut langsung ke rumah. Pelayanan seperti itu mungkin tidak disediakan di mini market.

Jika berbelanja di warung klontong dan mini market, maka tak banyak wajah pedagang yang bisa kita lihat. Mungkin hanya satu atau dua wajah saja yang akan kita lihat di warung klontong. Sedangkan di mini market, kita sama sekali tidak pernah melihat wajah pedagang atau pemiliknya. Yang kita temukan adalah para pegawai yang bekerja kepada si pemilik.

Akan berbeda halnya jika kita berbelanja di pasar tradisional. Banya wajah pedagang yang bisa dilihat di sana. Beberapa jenis barang yang sama dijual oleh beberapa orang pedagang di lapak masing-masing lapak yang bahkan saling bersebelahan.

Sebenarnya saya tidak terlalu suka berbelanja di pasar tradisional. Namun pada suatu ketika, ada saat dan kondisi yang “mengharuskan” saya berbelanja ke pasar tradisional. Dan saya menemukan banyak wajah-wajah pedagang di sana.

Pernah saya bertemu pedagang yang acuh tak acuh kepada pembeli. Kedatangan pembeli yang bermaksud membeli barang dagangannya disambut dingin. Mungkin dalam pikirannya terlintas mau beli ya sukur, enggak beli juga enggak apa-apa. Akhirnya, pelayanan kepada pembeli dilakukan dengan ‘ogah-ogahan’.

Pernah pula saya mendapat cerita tentang pedagang yang sikapnya tidak menyenangkan. Pedagang tersebut melayani para pembeli dengan muka masam. Kata-kata yang keluar dari mulutnya bernada tinggi. Akibatnya, orang yang bercerita kepada saya tidak mau berbelanja di tempat itu lagi.

Di lain waktu atau tempat, saya bertemu dengan pembeli yang begitu gembira menyambut para pembeli yang datang. Pedagang tersebut melayani pembeli sambil memberikan senyum di wajahnya. Dengan sabar ia menjawab pertanyaan pembeli mengenai barang dagangan yang dijajakannya. Walaupun pada akhirnya tidak semua yang datang membeli barang dagangannya.

Saya juga pernah menjumpai seorang ibu pedagang yang merasa begitu gembira ketika barang dagangannya dibeli walaupun jumlahnya tidak banyak. Sebuah senyum terukir di wajah tuanya. Ucapan terima kasih pun terlontar beberapa kali dari mulutnya. Ibu pedagang itu sangat menghargai sekali para pembeli atau calon pembeli yang datang ke lapaknya.

Mungkin wajah-wajah yang saya dan kita temui di pasar adalah cermin dari wajah-wajah kita juga. Di pasar tak semua wajah yang kita temui ramah dan berhias senyuman. Ada pula yang acuh tak acuh, cemberut, bahkan terkesan sangar. Mungkin begitu pula wajah-wajah yang kita berikan kepada orang lain. Kita tak selalu memperlihatkan wajah yang ramah, manis, dan dihiasi senyuman kepada setiap orang. Adakalanya wajah masam, kesal, marah, masam, dan cemberut yang kita perlihatkan kepada orang lain. Padahal mereka tidak tahu-menahu apa yang baru saja terjadi pada diri kita. Kepada merekalah kemudian semuanya tersalurkan, melalui wajah kita.

Semuanya berpulang kepada kita. Wallahu a’lam.


Tulisan Terkait Lainnya :

53 thoughts on “Karena Wajah Mereka Adalah Cermin

    • jampang Oktober 21, 2013 / 09:00

      terima kasih, mbak

  1. Firsty Chrysant Oktober 21, 2013 / 10:07

    Paling sebal liat pedagang yang dingin kaya gitu… Kan kita simbiosis mutualisme ya….

    • jampang Oktober 21, 2013 / 10:29

      xixixixixi…. ya begitulah. cuma bisa jadi kita pernah begitu kepada orang sebelumnya

      • jampang Oktober 21, 2013 / 11:01

        Akhirnya Ngaku juga 😛

  2. tinsyam Oktober 21, 2013 / 12:33

    itulah di pasar basah ku punya langganan, ramah banget ibunya, kalu beli bawang suka ditambahin tomat.. ga pernah nawar.. tapi kalu di kelontong ada yang judes, mending ku beli di pasar swalayan.. emang bedabeda wajah.. banyak rejeki kalu kita ramah kan..

    • jampang Oktober 21, 2013 / 12:49

      ibu saya juga punya langganan. bahkan pernah karena uangnya kurang, dikasih bawa dulu barangnya. padahal pedagang itu nggak tahu rumah ibu saya di mana. percaya aja.

  3. pinkvnie Oktober 21, 2013 / 12:47

    klo da pedagang yg klo d tanya jawabannya ketus n d cuekin mending di tinggal ja k pedagang lain yg lbh ramah, krn sama ja pedagang itu tdk menyambut rezekinya …

    • jampang Oktober 21, 2013 / 12:49

      😀
      yang nggak enaklah datang mau beli dicemberutin

      • pinkvnie Oktober 21, 2013 / 13:05

        yup … nnt ijab jual belinya malah ngga ikhlas lg … 🙂

      • jampang Oktober 21, 2013 / 14:09

        😀

      • pinkvnie Oktober 21, 2013 / 16:37

        Tiap tmpt da kekurangan n kelebihan: warung klontong->kepercayaan, murah, n bs beli jmlh kecil tp kdg krg lgkp, mini market->nyaman n lgkp tp bs laper mata … 🙂
        Ada tips sdkt: klo belanja d psr tradisional tanyain hrg nya satu2 n qt hrs pntr hitung jg. Coz d psr tradisional srg kena pedagang iseng dlm hitungan …

      • jampang Oktober 21, 2013 / 16:46

        karena itulah, saya nggak suka belanja di pasar tradisional. nggak pinter nawar

      • pinkvnie Oktober 21, 2013 / 16:59

        Ngga prl pintar nawar jg ka tp hrs bs htg jg … 🙂
        Saya jg br akhir2 ini blnj d psr tradisional tuk bl sayur mayur persediaan seminggu, trnyt tiap blnj hit nya slh trs.

      • jampang Oktober 21, 2013 / 17:07

        nah lho…..

      • fenny Oktober 21, 2013 / 17:44

        Saya ikhlasin ja ka … Mdh2an bnr2 pedagangnya slh htg bkn krn d sengaja … 🙂
        Mknya skrg d htg bnr2 klo belanja …

      • jampang Oktober 21, 2013 / 18:56

        Diikhlasin memang lebih baik

      • pinkvnie Oktober 21, 2013 / 19:36

        Yup … 😀

  4. ayanapunya Oktober 21, 2013 / 15:11

    Jarang ke pasar tradisional. Kecuali kalaun ibu lagi nggak ada di rumah 😀

    • jampang Oktober 21, 2013 / 15:40

      ya sama. dulu aja sering, sekarang juga kalau ke pasar tradisional cuma nganterin ibu doang. nunggu deh di tempat parkir motor 😀

      • ayanapunya Oktober 21, 2013 / 15:54

        Saya juga kalau nganterin ibu beli bahan buat bikin kue cuma nunggu di parkiran 😀
        *anak macam apa ini?

      • jampang Oktober 21, 2013 / 15:57

        macam kau lah

        😀

      • ayanapunya Oktober 21, 2013 / 16:05

        Haha. Sekarang jadi orang batak, mas? 😀

      • jampang Oktober 21, 2013 / 16:06

        ya cuma ngereply doank koq
        xixixixixi

      • ayanapunya Oktober 21, 2013 / 16:09

        Harusnya nge-reply pakai bahasa banjar 😀

      • jampang Oktober 21, 2013 / 16:11

        lah…. meneketehe

      • ayanapunya Oktober 21, 2013 / 16:13

        Ya sudah ae mun ky tu 😀
        *keluar deh bahasa banjarnya

      • jampang Oktober 21, 2013 / 16:21

        yah….. bingung jawabnya

      • ayanapunya Oktober 21, 2013 / 16:33

        Itu artinya “ya udah kalau begitu” 🙂

      • jampang Oktober 21, 2013 / 16:45

        oooooo.. 😀

        baiklah

      • ayanapunya Oktober 21, 2013 / 16:49

        Komen selesai. Hehe

      • jampang Oktober 21, 2013 / 17:07

        *closed*

  5. edi padmono Oktober 21, 2013 / 16:40

    Ya namanya orang banyak, pasti macam macamlah ekpresinya.

    • jampang Oktober 21, 2013 / 16:46

      iya… betul

  6. Ie Oktober 22, 2013 / 09:54

    buat orang di bidang jasa kayak saya, raut wajah sudah hampir seperti mantera he he he…

    • jampang Oktober 22, 2013 / 10:03

      bisa jadi. begitu ngeliat raut wajah di fronline, customer udah bisa ngebayangin apa yang akan diterima selanjutnya 😀

      • Ie Oktober 22, 2013 / 10:05

        bukan hanya frontline aja sih…
        terutama kalo grup,
        ketua rombongan nelponnya saya.
        kalo ga super ramah…
        wuiihhhhhh …

      • jampang Oktober 22, 2013 / 10:19

        xixixixi… iya, di semua lini yah.

        ya satu rombongan yang akan kecewa

      • Ie Oktober 22, 2013 / 10:31

        mau seaneh apa…
        mau se- gimana juga ajaibnya..
        tetepppppp
        pasang senyum …

        😀 😀

      • jampang Oktober 22, 2013 / 10:37

        ya karena customer nggak mau tahu apa yang ada di dalam hati dan pikiran pegawai… tahunya mereka dapat senyuman dan pelayanan yang bagus

      • Ie Oktober 22, 2013 / 10:39

        ya begitulah…
        tahu rasanya deh sekarang jadi penyelenggara jasa…

        😀

      • jampang Oktober 22, 2013 / 10:43

        ya…. saya juga. cuma bedanya saya nggak bertatapan langsung dengan ‘customer’. dialog dialkukan melalui aplikasi pengaduan/pelayanan 😀

      • Ie Oktober 22, 2013 / 10:44

        he he.. makasih sudah berbagi om jampang 🙂

      • jampang Oktober 22, 2013 / 10:57

        sama-sama, mbak

  7. nurme Oktober 22, 2013 / 20:29

    enaknya toko klontong atau warung, kadang dapat discount 🙂

    • jampang Oktober 22, 2013 / 20:38

      Di mini market juga ada diskon. Beli 2 gratis 1 😀

      • nurme Oktober 22, 2013 / 20:56

        Itu mah pemakasaan tak terasa.

        Terlalu banyak minimarket saat ini, Dan yang punya minimarket udah kaya, mending beli di kelontong atau warung.

        Kadang tinggal titipin catatan, malam dah dirumah 🙂

      • jampang Oktober 22, 2013 / 21:23

        ya seperti cerita saya di atas. kasih catatat… diantar

      • nurme Oktober 22, 2013 / 21:28

        Hihihi… iya, saya juga setuju kok. Lebih simpel dan simbiosis mutualisme *bener ga sih saling menguntungkan itu ini?

      • jampang Oktober 22, 2013 / 21:36

        yup

      • nurme Oktober 22, 2013 / 22:49

        🙂

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s