Pasbul

Cerita ini hanyalah fiksi belaka. Kesamaan nama tokoh, peristiwa, dan tempat kejadian memang sebuah kesengajaan belaka.

ilustrasi : http://shutterstock.com/

Syaikhan berlari menuju kamar di mana Abi berada.

“Abiiiii! Lihat, Bi!” Syaikhan berteriak memanggil Abi lalu memperlihatkan kepalanya yang ditutupi dengan sebuah kantong plastik berwarna hitam.

“Wah, Syaikhan pakai topi!” Ucap Abi.

“Bagus nda, Bi?” Tanya Syaikhan berikutnya.

“Bagus!” Jawab Abi.

“Makasih, Abi!” Syaikhan tertawa sambil berlari keluar kamar.

Suasana rumah menjadi hening. Tapi tidak berlangsung lama.

“Horeeee! Horeeee!” Terdengar teriakan Syaikhan dari ruang tengah.

“Abiiii! Ke sini deeeeh!” Syaikhan memanggil Abi.

Mendengar panggilan Syaikhan, Abi pun keluar kamar.

Di ruang tengah, Syaikhan terlihat berdiri di depan kipas angin yang sedang menyala. Kepalanya sudah tidak lagi mengenakan topi kantong plastik berwarna hitam seperti sebelumnya. Kantong plastik itu kini dipegangnya. Dengan kedua tangan, Syaikhan membuka kantong plastik tersebut dan menghadapkannya ke arah kipas angin. Lalu melepaskannya.

Tiupan angin tersebut kemudian menerbangkan kantong plastik ke atas menuju langit-langit. Syaikhan melompat-lompat kegirangan.

“Lihat, Bi! Plastiknya terbang!” Syaikhan memberitahukan Abi.

“Wah, kok bisa terbang? Gimana caranya, Syaikhan?” Tanya Abi.

“Bentar, Bi. Tunggu!” Jawab Syaikhan sambil mengejar kantong plastik yang mulai turun kembali. Setelah kantong plastik itu sudah berada di tangannya, Syaikhan melangkah mendekati kipas angin.

“Begini, Bi, caranya.” Syaikhan mulai memperlihatkan bagaimana kantong plastik tersebut bisa terbang.

“Wah, Syaikhan pintar! Kantong plastiknya bisa terbang!” Puji Abi.

Syaikhan kembali tertawa. Lalu mengejar kembali kantong plastik tersebut.

“Syaikhan, mau nggak kalau plastiknya bisa terbang lebih tinggi?” Tanya Abi kemudian.

“Tingginya kaya apa, Bi?”

“Lebih tinggi dari rumah.”

“Waaah… mau, Bi. Mau!” Syaikhan bersemangat.

“Tapi kantong plastiknya harus digunting dulu. Boleh?”

“Boleh, Bi!” Syaikhan menyerahkan kantong plastik kepada Abi.

Abi kemudian melipat kantong plastik kemudian mengguntingnya hingga membentuk lingkaran sebanyak beberapa buah.

“Ini udah jadi, Syaikhan. Mainan ini namanya pasbul. Dilepas mumbul. Terbang.”

“Maininnya gimana, Bi?”

“Dilempar dengan batu. Jadi mainnya harus di luar rumah biar bisa terbang tinggi. Kita ke lapangan, yuk!” Ajak Abi.

“Ayo, Bi!”

“Nanti di kita cari batu buat melempar pasbul ini. Kalau bisa batunya yang agak lebar. Kita cari sama-sama yah!”

“Oke, Bi.”

Abi dan Syaikhan kemudian berjalan menuju lapangan yang berada di depan rumah. Sambil berjalan, keduanya mencari batu di sisi jalan. Setelah menemukan batu yang cocok, mereka mengambilnya.

“Syaikhan, begini mainnya.” Abi menunjukkan cara bermain pasbul.

Abi mengambil selembar pasbul lalu menempelkannya ke salah satu batu. Lalu diletakkan di tangan kanan dengan posisi pasbul di atas batu. Dengan sekali gerakan, tangan kanan Abi melemparkan pasbul dan batu itu ke atas. Tinggi.

Setelah pasbul dan batu itu mencapai titik tertinggi, batu jatuh ke bawah. Sementara pasbul yang semula menempel di batu terlepas. Terbang. Tertiup angin.

“Abi, plastiknya terbang! Tinggi, Bi!” Syaikhan teriak kegirangan melihat pasbul yang terbang tinggi tertiup angin.

Pasbul itu terbang melebihi atap rumah. Terbawa angin menjauh dari tempat Abi dan Syaikhan berdiri. Hingga akhirnya pasbul itu tak terlihat lagi oleh Abi dan Syaikhan. Terhalang oleh atap rumah.

“Ayo lagi, Bi! Lempar lagi!” Syaikhan meminta Abi melempar pasbul lagi.

Abi kemudian melempar pasbul lagi hingga terbang tinggi. Keduanya tertawa. Keduanya menghabiskan sore itu di lapangan depan rumah hingga semua pasbul habis. Terbang dan menghilang.


Tulisan Terkait Lainnya :

Pertarungan di Arena Karet Gelang
Pertarungan di Arena Karet Gelang

Masjid Wangi
Masjid Wangi

Bermain Bersama Syaikhan dan Abi
Bermain Bersama Syaikhan dan Abi
Celoteh Syaikhan [29] : Itu Orang, Bi?
Celoteh Syaikhan [29] : Itu Orang, Bi?
Celoteh Syaikhan [25] : Abi Ganteng Deh!
Celoteh Syaikhan [25] : Abi Ganteng Deh!

49 respons untuk ‘Pasbul

  1. jaraway Oktober 24, 2013 / 19:27

    lempar syeyaaan.. hehe

    • jampang Oktober 24, 2013 / 20:48

      😀
      lupa nambahin kalau kisah ini fiksi.

      mbak jar, WPnya ganti?

      • jaraway Oktober 24, 2013 / 20:53

        walaaah.. kirain.. hahaha

        enggak tetep koq.. cuma bikin blog baru juga buat ngumpulin tulisan para asatidz.. =D

      • jampang Oktober 24, 2013 / 20:59

        jadi blognya ada dua gitu, maksudnya?

        ooooo….

      • jaraway Oktober 24, 2013 / 21:00

        ada banyak.. hihihi
        tapi pake satu ID..
        =D

        dari sini kan bisa bikin banyak blog..hehehe

      • jampang Oktober 24, 2013 / 21:04

        wew….

        iya, saya juga bikin dua. cuma yg satu buat coba-coba doank waktu mau pindahan ke sini 😀

    • jampang Oktober 24, 2013 / 20:48

      dulu waktu masih kecil dengernya pasbol 😀

      • ayanapunya Oktober 24, 2013 / 21:37

        Haha. Saya ga ada kyknya mainan pasbol ini

      • jampang Oktober 25, 2013 / 03:44

        mungkin nggak terkenal dan nggak menyebar 😀

      • ayanapunya Oktober 25, 2013 / 04:25

        Iya kayaknya. Beda jaman juga 😀

      • jampang Oktober 25, 2013 / 05:36

        😀
        mungkin perbedaan itu yang menjadi penyebab utamanya

  2. pinkvnie Oktober 24, 2013 / 21:39

    Cerita ini hanyalah fiksi belaka. Kesamaan nama tokoh, peristiwa, dan tempat kejadian memang sebuah kesengajaan belaka -> brrt non fiksi dong … 🙂
    Br dgr ada permainan nm nya pasbul …

    • jampang Oktober 25, 2013 / 03:45

      tapi tokoh tidak mengalami peristiwa di kehidupan nyata, jadi masuk kategori fiksi.

      beda zamannya mungkin

      • fenny Oktober 25, 2013 / 07:39

        Mungkin …
        Mungkin jg agak berbahaya untuk d mainin ma anak2 yg d bwh pengawasan ortu …

      • jampang Oktober 25, 2013 / 08:42

        kalau anak-anak dahulu mungkin lebih bisa menjaga diri mereka sendiri karena sudah terbiasa “dibebaskan” bermain

      • fenny Oktober 25, 2013 / 10:24

        Setuju, klo anak dulu d bebaskan bermain dgn alam krn lingkungan msh aman n efeknya mandiri2. Beda dgn anak skrg yg autis dgn gadget krn lingkungannya sdh ngga aman efeknya cengeng n manja. 🙂

      • jampang Oktober 25, 2013 / 12:52

        😀
        iya kali yah

      • fenny Oktober 25, 2013 / 13:05

        Iya kali yah -> jd brp? 🙂

      • jampang Oktober 25, 2013 / 13:10

        infinitif

      • fenny Oktober 25, 2013 / 13:26

        Waduhhh bhs tinggi tuh …

      • jampang Oktober 25, 2013 / 13:59

        😀

  3. nengwie Oktober 24, 2013 / 21:47

    Pasbul..?? baru denger juga nih.. waahh Abinya Syaikhan bikin sampah hinggap dimana-mana niihh..hehehe

    mau fiksi atau ngga..emang Syaikhan mah emang lucu dan pinteer…:)

    • jampang Oktober 25, 2013 / 03:46

      mungkin jenis permainan ini nggak terkenal teh.

      cuma sedikit doang koq, xixixixixixi

      alhamdulillah, terima kasih teh

      • nengwie Oktober 25, 2013 / 10:46

        Dan untungnya cuma kerikil yaah.. Coba batunya segede gaban 😀

      • jampang Oktober 25, 2013 / 12:57

        Ya berat juga ngelemparnya, teh 😀

  4. nurme Oktober 25, 2013 / 05:09

    Pernah ikutan main dulu waktu SD.. paling kenceng teriak-teriak kalau terbang tinggi.. pasbul, pas dilempar ngambul.. hihihii

    • jampang Oktober 25, 2013 / 05:37

      ooo… ngambul. saya bilangnya mumbul

      • nurme Oktober 25, 2013 / 05:43

        Iya sama saja kok ngambul ama mumbul 🙂
        jadi kangen permainan ini..

      • jampang Oktober 25, 2013 / 06:00

        oooo… sama. bunyinya mirp2 juga seh

      • nurme Oktober 25, 2013 / 06:08

        iya 🙂

      • jampang Oktober 25, 2013 / 06:21

        sip

      • nurme Oktober 25, 2013 / 06:56

        🙂

  5. herma1206 Oktober 25, 2013 / 06:07

    Gak tau jg nih ama permainan ini..tpi boleh juga dipraktekin ke ponakan2…

    • jampang Oktober 25, 2013 / 06:19

      coba aja. asal ngelemparnya hati2, jangan sampe kena kepala 😀

      • herma1206 Oktober 25, 2013 / 06:24

        permainan tradisional jaman dulu..klo mau ada lagi, berarti yg dewasa2nya ya yng ngenalin ke anak2..

      • jampang Oktober 25, 2013 / 08:40

        satu-satunya cara ya begitu

      • herma1206 Oktober 25, 2013 / 09:02

        yup..cuma masalahnya, spt saya nih..kapan coba bisa keluar ngajakin anak2 komplek main 😀

      • jampang Oktober 25, 2013 / 09:04

        silahkan cari sendiri jawabnya 😀

      • herma1206 Oktober 25, 2013 / 09:08

        haaayaaaaah..dri kmrn disuruh cari solusi sendiri 😛

      • jampang Oktober 25, 2013 / 09:15

        ya kan setiap orang beda-beda situasi dan kondisinya. dan yang tahu siapa dan bagaimana itu kan dirinya sendiri 😀

      • herma1206 Oktober 25, 2013 / 09:30

        iya sih bener juga…
        hebat iiih..top markotop dah pak guru 😀

      • jampang Oktober 25, 2013 / 09:35

        😀

      • herma1206 Oktober 25, 2013 / 09:43

        😀
        mampir dunk..buka lapak baru nih 😀

      • jampang Oktober 25, 2013 / 12:52

        sudah

      • herma1206 Oktober 25, 2013 / 14:19

        siiip..makasih..

      • jampang Oktober 25, 2013 / 14:24

        sama-sama

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s