Sebab Romantis Tak Selalu Berujung Manis

Balloons-Hearts-iconBeberapa hari yang lalu saya membaca sebuah trit di forum diskusi kantor yang berjudul “Wahai Para Suami, Mana Rmantismu?”

Dalam bayangan saya, yang namanya suami romantis itu adalah suami yang pandai merangkai kata puitis yang bisa membuat perasaan istrinya melayang tinggi. Menurut saya, romantis itu ketika suami bisa mengucap kata-kata indah untuk merayu sang pasangan jiwa. Menurut saya lagi, suami romantis adalah suami yang selalu memberika kejutan dengan membawakan bunga ke hadapan sang belahan hati.

Suatu ketika, seorang kawan pernah bertanya kepada saya melalui chatting.

“Sorry, boleh nanya-nanya enggak? Tapi agak……” dirinya memulai pembicaraan.

“Iya, boleh. Agak-agak gimana maksud loe?” Saya balik bertanya karena penasaran.

“Ini ada hubungannya dengan persiapan pernikahan,” jawabnya.

“O, pernikahan. Silahkan.”

“Gue ngerasa, bahwa calon istri lebih alim dari gue. Terus, kira-kira nanti gue bisa mengimbangi dia gak yah, baik ibadahnya, aktifitasnya dan lain-lain sebaganya.” Tanyanya kemudian.

Saya tiba-tiba menjadi sangat bijak ketika memberikan pertanyaan tersebut.

“Kalau calon loe lebih alim dari loe, maka dia bisa jadi guru yang bisa membimbing loe. Kalau loe yang lebih alim dari dia, maka loe bisa jadi guru dia. Dan kalau loe dan dia memiliki tingkat pengetahuan yang sama, maka bisa sama-sama belajar. Jadi bagaimanapun istri yang Allah tentukan untuk kita, gak ada masalah.”

“Tapi gue punya kekurangan. Misalnya gue nggak bisa apa yang loe bisa.” Dia kembali berucap

“Setiap orang pasti kekurangan. Setiap orang juga punya kelebihan.”

“Maksud gue, loe jago bikin puisi yang mendayu-dayu.”

“Hehehehe… yang gue tahu, dalam syarat nikah tuh gak ada bahwa seorang suami harus bisa buat puisi. Iya kan?”

“Iya….” jawabnya mengiyakan kalimat saya.

“Loe ngeliat gue bisa seperti itu, maka coba loe lihat ke diri loe sendiri, loe pasti bisa sesuatu yang gue enggak bisa. Jangan liat kelebihan orang kalau itu bikin loe minder, tapi kalau bikin loe semangat ya gak apa-apa.” Entah dari mana kalimat itu bisa keluar dari diri saya. Saya berharap semoga kalimat yang saya utarakan bisa memberikan ketenangan dan kesejukan kepadanya.

Merangkai kata-kata menjadi bait-bait puisi atau lirik lagu, menurut saya memang romantis. Tapi kisah beberapa biduk rumah tangga yang tak bisa mencapai tujuan mungkin bisa menyadarkan bahwa sebuah keromantisan tidak selalu berujung pada akhir yang manis. Entah karena keromantisan itu hanya dibuat-dibuat dan bukan dari sebuah ketulusan atau ada sebab lain. Mungkin hanya Allah dan pelakunya yang lebih tahu.

Kembali ke cerita paragraf awal. Dalam forum diskusi tersebut, ada beberapa komentar yang menggambarkan sebuah suasan romantis di antara para pasangan sumai istri. Misalnya, suami istri yang berboncengan sepeda onthel [mungkin seperti cerita saya di tulisan “Cinta di Generasi Berbeda“], ketika suami pulang dengan membawa selembar jilbab untuk istrinya, ketika sebuah pelukan hangat hadir manakala kedua mata terbuka setelah semalaman terpejam dan pulang dari kantor, ketika seorang istri sudah berusaha semaksimal mungkin tetapi gagal dan suami bilang “gapapa.. Ummy udah capek…”, ketika seorang suami rela menempuh perjalanan jauh di bawah iringin rintik hujan demi menjemput istrinya dan mengantarkannya sampai rumah dengan aman, dan sebagainya.

Namun awal perhatian saya tertuju pada sebuah komentar yang agak berlawanan dengan sebagagian besar komentar aggota forum lain. Komentar yang mengutip bagian dari beberapa buah lagu. Mungkin tak hanya menurut saya bahwa komentar itu menarik, menurut wartawan gossip pun demikian. Tentu saja pada masa ketika sebuah romantisme itu berujung duka.

Adakah yang pernah mendengar lirik lagu-lagu berikut?

“aku bisa membuatmu
jatuh cinta kepadaku
mesti kau tak cinta
kepadaku”

“Memandangmu
walau Selalu
tak akan pernah beri
jemu di hatiku
menyapamu
walau selalu
masih terasa merdu
bagai dawai jumpa”

“Kumiliki kamu untuk bahagia
kuhidup denganmu bukan untuk sesaat
itulah ikrar kita berdua
saling memberi
saling menerima
saling mengerti
dan saling menjaga
biar tak ada luka ooo cinta”

Saya berpikir, lirik lagu-lagu di atas itu puitis. Romantis. Tapi nyatanya, rumah tangga dari orang-orang yang terkait langsung dengan lagu-lagu tersebut berakhir tragis. Berujung sebuah perpisahan. Begitu komentar yang sedikit berbeda dengan yang lain. Nasib pemilik blog ini pun tak jauh berbeda.

Sebagai penutup, mungkin yang namanya romantis itu perlu dalam suasan berumah tangga.Kadar dan bentuknya saja mungkin yang tidak sama. Namun demikian, komitmen dari lelaki dan perempuan yang berada di dalam biduk rumah tagga itu untuk mempertahankan apa yang mereka bangun dan cita-citakan serta memelihara cinta yang tumbuh di antara keduanya, itu jauh lebih penting.

Wallaahu a’lam.


Tulisan Samara Lainnya :

91 respons untuk ‘Sebab Romantis Tak Selalu Berujung Manis

  1. ayanapunya Oktober 31, 2013 / 08:51

    Romantis nggak selalu berupa puisi kok. Bisa juga dalam perbuatan
    *blm bisa ngasih contoh 😀
    Oya komentar yang berlawanannya apa yak?

    • jampang Oktober 31, 2013 / 09:01

      itu…. para pencipta lagu dan penya lagu romantis itu… kan berpisah

      • ayanapunya Oktober 31, 2013 / 09:09

        Ooo. Berarti pintar merangkai kata nggak menjamin yak. Hehe
        Mungkin memang lebih efektif kalau lewat perbuatan, mas. Lebih berasa di hati

      • jampang Oktober 31, 2013 / 09:25

        bagi sebagian orang mungkin begitu mbak. tapi bagi sebagian lain… rasa itu tak cukup hanya diungkap dalam perbuatan… kadang juga lebih terasa ketika diucap melalui kata ketika dua pasang mata beradu tatap.

        karenanya, ukuran romantis itu berbeda bagi setiap pasangan…. bagi setiap orang

      • ayanapunya Oktober 31, 2013 / 09:28

        “Dua pasang mata beradu tatap”
        Saya kok jadi gimana ya baca kalimat ini?
        *kabur 😀

      • jampang Oktober 31, 2013 / 09:49

        Lah… Tinggal baca aja koq repot 😛

      • ayanapunya Oktober 31, 2013 / 09:57

        Haha. Iya sih 😀

      • jampang Oktober 31, 2013 / 10:17

        imajinasinya terlalu jauh nih pasti 😀

      • ayanapunya Oktober 31, 2013 / 11:04

        Ih, nuduh 😛

      • jampang Oktober 31, 2013 / 11:21

        salah yah?

      • ayanapunya Oktober 31, 2013 / 11:22

        Kasih tahu nggak yaa? 😀

      • jampang Oktober 31, 2013 / 11:23

        nggak usah aja. biarkan imajinasi saya berkembang 😀

      • ayanapunya Oktober 31, 2013 / 11:33

        Jangan berimajinasi yang nggak-nggak yaa

      • jampang Oktober 31, 2013 / 11:34

        tentu saja… saya akan berimajinasi yang iya-iya saja

      • ayanapunya Oktober 31, 2013 / 11:38

        Haha. Iya yang bagus-bagus aja yak

      • jampang Oktober 31, 2013 / 12:04

        yaaa….

      • jampang Oktober 31, 2013 / 12:10

        😀

  2. edi padmono Oktober 31, 2013 / 09:09

    Romantis itu sebenarnya sebuah tipudaya dan wanita sangat menyukainya, dalam berumah tangga jalanilah dengan apa adanya. Jika memerlukan pujian dan rayuan maka puji dan rayulah dengan sekedarnya jangan berlebihan, karena sesuatu yang berlebihan itu akan mengakibatkan sebuah tuntutan yang berlebihan pula.

    • jampang Oktober 31, 2013 / 09:26

      ya… ibarat bumbu dalam masakan…. secukupnya saja. berlebihan akan menyebabkan masakan tidak lagi pas di lidah 😀

  3. Iwan Yuliyanto Oktober 31, 2013 / 09:22

    Betul sekali.
    Jangan mudah tertipu daya akan keromantisan

    • jampang Oktober 31, 2013 / 09:27

      iya pak. romantis mungkin perlu…. tapi bukan sesuatu yang harus disamakan wujudnya

      • jampang Oktober 31, 2013 / 09:51

        Terima kasih, pak 😀

  4. herma1206 Oktober 31, 2013 / 09:29

    cara orang mencintai dan memberi perhatian beda-beda, tergantung pasangan tsb aja bisa saling menerima caranya masing2 atau gak, atau justru mau menuruti kehendak satu org saja, begitu juga romantismenya..beda2..Harus saling bisa nerimalah idealnya sih..
    *sok pengalaman

    • jampang Oktober 31, 2013 / 09:50

      Seperti itu juga yg saya tulis di beberapa komentar sebelumnya

      • herma1206 Oktober 31, 2013 / 10:08

        yang mana..?? gak ada ah..

      • jampang Oktober 31, 2013 / 10:19

        balasan komentar mbak aya

      • herma1206 Oktober 31, 2013 / 10:26

        yg ini: bagi sebagian orang mungkin begitu mbak. tapi bagi sebagian lain… rasa itu tak cukup hanya diungkap dalam perbuatan… kadang juga lebih terasa ketika diucap melalui kata ketika dua pasang mata beradu tatap—–> klo sy pribadi, sisi romantisnya justru gak perlu diucap dgn kata2..cukup mata saja yg berbicara ketika beradu tatap.. 😀

      • jampang Oktober 31, 2013 / 10:44

        maka benarlah bahwa setiap orang punya standar masing-masing

      • herma1206 Oktober 31, 2013 / 11:24

        yup..dan hrs saling menerima standar yg beda2 itu..

        *ntar mlm sy mau nge-WA, ada yg mau diomongin..

      • jampang Oktober 31, 2013 / 11:28

        iya begitu….

        *uhuyyyyy ada yang janjian ngobrol di WA…. koq mau WA aja lapor ke saya… ya silahkan aja WA sama siapa aja.

      • herma1206 Oktober 31, 2013 / 11:31

        bukaaaaan…mksdnya ngeWA mas rifki..jdinya netnya idupin…gituuuuuuu

      • jampang Oktober 31, 2013 / 11:34

        hayyyyaaaaahhh…

        kirain

      • herma1206 Oktober 31, 2013 / 11:38

        xixixi…lucu amat sih..

      • jampang Oktober 31, 2013 / 12:05

        ow…. terima kasih

      • herma1206 Oktober 31, 2013 / 13:06

        Seperti biasa 🙂

      • jampang Oktober 31, 2013 / 13:11

        yup

      • herma1206 Oktober 31, 2013 / 10:28

        oowh salah..ternyata yg ini yak: karenanya, ukuran romantis itu berbeda bagi setiap pasangan…. bagi setiap orang—-> yup..beneer bangeet..

      • jampang Oktober 31, 2013 / 10:45

        iya betul

  5. andiahzahroh Oktober 31, 2013 / 09:30

    Enggak juga. Romantis itu nggak selalu puisi yang mendayu-dayu atau surat cinta
    Pulang bawa buah tangan buat isteri aja menurutku udah romantiiiisss banget, soalnya nggak mesti dalam setahun tuh mas suami punya inisiatif. biasanya diminta dulu baru ada 😀

    • jampang Oktober 31, 2013 / 09:51

      Iya mbak, Seperti beberapa contoh romantis yg saya selipkan di dalam tulisan di atas 🙂

  6. nazhalitsnaen Oktober 31, 2013 / 10:52

    romantisme itu berjuta bentuk istilahnya *halah
    jadi inget ada salah satu buku yang saya baca tentang anak yang baru tahu romantisme kedua orang tuanya menjelang meninggalnya ibunya…
    tanpa ada kata-kata puitis ataupun memberi bunga atau klise romantisme lazimnya, tapi si ibu mengenang bahwa apa-apa yang dilalui bersama suaminya adalah suatu romantisme :_)

    • jampang Oktober 31, 2013 / 10:54

      iya… romantis banyak perwujudannya.

    • nurme Oktober 31, 2013 / 14:24

      apa judul bukunya ini cerita?*tertarik

      • nazhalitsnaen Oktober 31, 2013 / 14:54

        baru ngeh bukunya… ini sebenarnya bukunya tentang perjalanan… bukunya Agustinus Wibowo “Titik Nol”

      • nurme Oktober 31, 2013 / 15:09

        ooh okaylah.. mau nyari bukunya
        Makasih Naz udah sharing pengetahuan

  7. nurme Oktober 31, 2013 / 11:07

    Katanya romantis itu bisa terjadi saat kita mensyukuri seperti apapun pasangan kita.

    Karena romantisme setiap orang berbeda caranya 🙂

      • nurme Oktober 31, 2013 / 11:44

        romantis itu….. 🙂

      • jampang Oktober 31, 2013 / 12:06

        iya

      • nurme Oktober 31, 2013 / 13:17

        iya apa tuuuuh ? 🙂

      • jampang Oktober 31, 2013 / 13:30

        reply komentar di atasnya

      • nurme Oktober 31, 2013 / 14:12

        Baiklah…. 🙂
        Terimakasih

      • jampang Oktober 31, 2013 / 14:28

        sama-sama

  8. kebomandi Oktober 31, 2013 / 11:29

    baca ini mesem2 gimana gitu bang..
    romantisme pas pacaran itu emang semuuu.. yang real romantisme pas nikah aja kali yaaa.. hehe 🙂

    • jampang Oktober 31, 2013 / 11:32

      apa yang semu sebelum nikah akan menjadi real setelah menikah… baik itu romantisme… bahkan cinta sekalipun. sebab bukuti cinta seorang lelaki adalah ketika dia menjabat tangan wali seorang perempuan pada saat ijab qabul terucap

  9. cumilebay.com Oktober 31, 2013 / 12:29

    Romantis … kalo gw yg penting perhatian aja deh 🙂

    • jampang Oktober 31, 2013 / 13:00

      perhatian plus kasih sayang 😀

  10. thebimz Oktober 31, 2013 / 12:47

    wew.. aku ga bisa merangkai kata2 menjadi puisi…

    • jampang Oktober 31, 2013 / 13:00

      nggak masalah koq 😀

  11. Ie Oktober 31, 2013 / 13:22

    romantis…. hmmmm
    kata2 puitis memang romantis…
    tapi itu ga jaminan manis..
    ha ha ha ha ha ha…

    *komen sambil ketawa sendiri

    • jampang Oktober 31, 2013 / 13:31

      jadi manis tetep aja manis walaupun nggak romantis

      *senyum manis*

      😀

  12. nurme Oktober 31, 2013 / 14:26

    jadi manis tetep aja manis walaupun nggak romantis

    *senyum manis* ——) hihihi…. maksaaaaaa…..biar jadi romantis ya..
    *ga tahan ga komentar, geli

      • nurme Oktober 31, 2013 / 14:33

        *nyengiiiir

  13. nengwie Oktober 31, 2013 / 14:37

    “Ooooh gitu..”
    *.Setelah baca semua komentar2nya *

    • jampang Oktober 31, 2013 / 15:23

      iya teh…. kira-kira gitu 😀

  14. Baginda Ratu Oktober 31, 2013 / 15:42

    Punten, ah. Kayaknya di kalimat yang ini: “Loe ngeliat gue bisa seperti itu, maka coba loe lihat ke diri loe sendiri, loe pasti sesuatu yang gue enggak bisa.
    ada kata yang kurang ya, kang? mungkin: bisa..? 🙂
    Buatku sih, romantis itu… saat suami mengambil alih tugas mencuci baju (ketika istrinya sudah kecapekan), juga memijiti kakinya (walopun dia sendiri juga pasti udah capek kerja seharian), mencuci piring bekas makannya sendiri… pokoknya romantis itu aksi, bukan puisi. *diketik oleh istri yang udah 9 tahun 1 bulan nikah dgn suami yang sangat pengertian* 😀

  15. jaraway Oktober 31, 2013 / 16:39

    ah terlalu banyak hal romantis bukan dari kata2 puitis.. hihihi

  16. tinsyam Oktober 31, 2013 / 19:21

    ga semua wanita suka puisi mas.. romantis buatku sih kalu kangmasganteng mijitin kalu cape, mau beresin rumah, ga marah kalu ku lagi bete, selalu gandeng tangan kalu jalan, dan suka suapin kalu ku malas makan [istri durhaka].. ga melulu bentuk katakata, tapi juga tindakan..

    • jampang Oktober 31, 2013 / 20:14

      Iya mbak. Beberapa contoh juga disebutin di atas. Yg rata-rata bentuknya berupa perbuatan… Bukan.perkataan

    • winny widyawati Oktober 31, 2013 / 21:36

      setuju sama mb Tintin. Saya senang nulis puisi, tapi belum terfikir ingin dikirimin puisi sm suami.
      Puitisnya suamiku itu misalnya dia suka peluk dr belakang kl saya sdg masak, gandeng pundak saya dan memilih posisi dekat ke jalan raya dan sy ditempat yg lebih aman kl lgi jalan, suka usap2 kepala utk tunjukkan rasa sayang. Pokoknya semua yg buat sy nyaman, itulah romantisme, dan menurut saya itu buka tipu daya. Beromantis dengan pasangan hidup adalah ibadah jg.
      🙂

      • jampang November 1, 2013 / 04:55

        Iya teh… Hampir sama berarti dengan pendapat member fordis yg saya sebutkan di dalam tulisan di atas

  17. pinkvnie Oktober 31, 2013 / 20:29

    hmmm … romantis itu saling pengertian, perhatian dan sayang … kalau puisi itu hanya bumbu2 romantis yg so sweet … 🙂

    • jampang Oktober 31, 2013 / 20:55

      Setiap orang punya standar masing-masing soal romantis

      • pinkvnie Oktober 31, 2013 / 21:28

        yup betul … klo sama smua nanti repot lagi … 🙂

      • jampang November 1, 2013 / 04:53

        Iya 😀

  18. hendronurkholis November 1, 2013 / 08:55

    baca ini di saat lagi jomblo bukan pilihan yg tepat 😐

    • jampang November 1, 2013 / 09:08

      mungkin harus segera move on 🙂

  19. faziazen November 25, 2013 / 10:08

    romantis dalam kesenyapan?
    misalnya sang istri mijeti suaminya

    • jampang November 25, 2013 / 10:19

      itu romantis banget 😀

      • faziazen November 25, 2013 / 14:25

        oic 🙂

      • jampang November 25, 2013 / 16:21

        😀

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s