[Berani Cerita #37] Perisai

CREDIT

Sesaat setelah menghilangnya kedua orang itu, ruangan ini kembali menjadi gelap gulita. Tanpa cahaya setitik pun. Hingga aku tak mampu melihat kedua telapak tanganku sendiri. Sepasang mataku seperti buta.

Selain tanpa penerangan, ruangan ini juga terasa sempit. Bila kurentangkan kedua lenganku ke kanan dan kiri, maka telapak tanganku bisa merasakan dinding pembatas yang tak bisa kulihat. Begitu pula ketika kuangkat tanganku ke atas, telapak tanganku langsung menyentuh langit-langit yang sama kerasnya.

Posisi nyaman di ruangan ini hanyalah duduk atau berbaring. Bila kucoba bangkit, kepalaku langsung membentur langit-langit. Sesekali kucoba untuk berjalan dengan posisi membungkuk sambil meraba-raba ke sekeliling ruangan, namun tak kutemukan apa-apa selain kekerasan dinding.

Tiba-tiba kurasakan suhu ruangan menghangat. Bersamaan dengan munculnya sebuah cahaya berbentuk api kecil di hadapanku. Api kecil itu redup dan bergoyang-goyang seperti api lilin yang tertiup angin. Padahal tak ada angin yang menyapa kulit dan tubuhku di ruangan ini.

Ternyata nyala itu memang bersumber dari sebuah lilin yang dibawa oleh seseorang dengan penampakan yang berbeda dengan dua orang sebelumnya. Perawakannya lebih kecil. Bentuk jubah yang dikenakannya sama tetapi  berbeda warna. Nyala  lilin yang terus bergoyang-goyang membuatku tak bisa melihat dengan jelas warna jubah yang dikenakannya. Juga wajahnya.

“Siapa kamu?” Tanyaku.

“Aku sahabatmu.” Jawabnya singkat.

“Dari mana kamu datang sementara tak ada pintu di ruangan ini?”

“Aku punya jalan masuk sendiri.”

Kurasakan suhu ruangan bukan lagi sekedar hangat. Tapi semakin panas. Tak mungkin jika nyala lilin itu yang menjadi penyebab meningginya suhu ruangan. Peluh mulai mengalir dari setiap pori-pori kulitku, membanjiri tubuhku. Sementara kerongkonganku terasa kering. Menjelma dahaga.

“Untuk apa … kau … kemari?” Tanyaku terputus-putus diselingi batuk.

“Aku datang semata-mata untuk menolongmu!”

“Menolongku? Dari apa?”

“Tidakkah kau merasakan perubahan suhu di ruangan ini?”

Aku tak menjawab. Kupikir dia juga sudah mengetahui jawabannya.

“Ketahuilah! Suhu di ruangan ini hanya akan bertambah panas. Tak akan lagi berubah sesejuk ketika dua orang sebelumku datang. Panasnya akan segera membakar kulit dan memanggang tubuhmu!”

Sedetik setelah kalimatnya terhenti, suhu ruangan bertambah panas dengan tiba-tiba.

“Aaaarghh!”  Jeritku. “Bagaimana kau akan menolongku?” Tanyaku panik.

“Dengan ini!” Jawabnya sambil melempar sebuah benda ke tubuhku. “Pakailah!”

“Sarung?”

“Benar!”

“Apa sarung tipis, jelek, dan berbau tak sedap ini bisa menolongku?” Tanyaku tak percaya.

“Tak usah banyak tanya! Pakai saja sebelum tubuhmu hangus!”

Tanpa berani bertanya lagi, kukenakan sarung tersebut untuk menyelimuti seluruh tubuhku. Kulitku yang bersentuhan langsung dengan kain sarung tersebut merasakan rasa sejuk yang mampu menetralkan suhu ruangan yang bertambah panas.

“Apakah aku bisa meminta kain yang lebih tebal dan lebih bagus?” Tanyaku memberanikan diri.

“Tidak!”

“Lantas bagaiman jika suhu ruangan ini menjadi lebih panas dari sekarang?”

“Kau hanya bisa berharap seseorang di atas sana menggunakan sarung itu untuk kebaikan terus-menerus!”

Sosok itu kemudian lenyap dari hadapanku, meninggalkanku dalam kebingungan bersama cahaya lilin sebegai penerang ruangan dan sarung sebagai pelindung tubuhku.

*****

Di bagian bumi lain, terlihat seorang lelaki tua miskin berdiri di dalam masjid.

“Allaaahu akbar!”

Diangkatnya kedua tangan untuk mengawali shalat dengan mengenakan sebuah kaos lusuh dan sarung tipis, jelek, dan berbau tak sedap sebagai penutup aurat.

Rasulullah SAW menjelaskan: Halangilah api neraka, meski hanya dengan separuh kurma.” (HR. Muttafaq Alaih)


Berani Cerita Lainnya:

47 respons untuk ‘[Berani Cerita #37] Perisai

  1. baqiberbagi November 25, 2013 / 17:21

    wah jadi penasaran dengan karya2nya om.. 😀

    • jampang November 25, 2013 / 17:26

      ah…. biasa aja. ini blog isinya cuma corat-coretan aja.

      • baqiberbagi November 25, 2013 / 18:00

        wah coretan aja bisa jadi buku.. salut om 😀 tetep semangat buat berkarya om.. 😀

      • jampang November 25, 2013 / 20:28

        Siiiippppp lah 😀

  2. Dyah Sujiati November 25, 2013 / 17:32

    Coba bukan pengemis yang pake. Tapi memang seorang fakir/miskin. Tak selamanya pengemis itu miskin, meski sudah tua, bisa jadi memang ‘hobi’ sejak muda. Dan realita tentang itu banyak.
    sepertinya saya terlalu dalam memaknai tulisan ini.
    Whatever lah, jadi komentator itu memang enak :mrgreen:

    • jampang November 25, 2013 / 17:38

      😀
      tidak apa. kali ini saya mengakomodir saran Missil

  3. deetie88 November 25, 2013 / 20:21

    Ooohh br paham… sarungnye buat solat ye bang.. hehehe 🙂

    • jampang November 25, 2013 / 20:31

      Sarung jeleknya disedekahin… Untuk dipake shalat jdnya dpt pahala… 😀

      • deetie88 November 25, 2013 / 20:40

        Knp yg jlek? Knp kaga yg bgus aje bang?

      • jampang November 25, 2013 / 20:43

        Ya dia pelit. dia nggak tahu kalau sedekahnya bisa menolong dirinya di alam barzah dan akhirat

      • deetie88 November 25, 2013 / 20:56

        Ooowwwwwwhhhhh….
        Inget cerita yg seribu vs seratus ribu.. 🙂

      • jampang November 25, 2013 / 20:58

        Ya… Begitu kira-kira

      • deetie88 November 25, 2013 / 21:02

        Iye kira2 begitu bang… 😀

      • jampang November 25, 2013 / 21:11

        😀

    • jampang November 26, 2013 / 09:47

      semoga kebaikan untuk kita semua di dunia dan akhirat

  4. jaraway November 26, 2013 / 07:12

    hadits itu juga tentang berkata2 yang baik..
    jadi jleb banget

    • jampang November 26, 2013 / 09:48

      iya kah? saya tahunya cuma itu doank. nggak tahu kalau versi panjangnya

  5. ayanapunya November 26, 2013 / 08:36

    ini cerita tentang orang yang mewakafkan sarung ya?

    • jampang November 26, 2013 / 09:49

      iya mbak. sayangnya cuma sarung doank, yang jelek lagi

      • ayanapunya November 26, 2013 / 10:03

        Tapi selama sarungnya dipakai pahalanya bakal mengalir terus doong

      • jampang November 26, 2013 / 10:07

        iyah. semoga aja. cuma dri kondisinya… pertama sarung itu udah jelek dan kedua yang make itu udah tua 😀

      • ayanapunya November 26, 2013 / 10:10

        Nggak berumur panjang ya kayaknya

      • jampang November 26, 2013 / 10:21

        itu maksud saya. mungkin akan beda jiak sedekahnya ketika barangnya masih bagus dan banyak orang…. bertahannya lebih lama

        ah…. saya sendiri belum bisa 😦

  6. nurme November 26, 2013 / 09:35

    Pelajaran berharga ini..
    Semoga banyak yang membaca dan terinspirasi. Karena di beberapa tempat banyak sarung atau mukena yang sudah tidak layak pakai.

    Contoh beberapa stasiun kereta api dan tempat rekreasi

    • jampang November 26, 2013 / 09:50

      ya mudah2an bisa memberikan manfaat

      • nurme November 26, 2013 / 10:00

        Aamiin YRA

  7. herma1206 November 26, 2013 / 10:05

    bagus idenya…good job..
    *kmrn liat buku JJT di gramed, di tarok bagian psikologi

    • jampang November 26, 2013 / 10:07

      terima kasih…

      penerbitnya sih mengategorikan motivasi islami, makanya jadi masuk situ kali yah 😀

      • herma1206 November 26, 2013 / 14:47

        iya..kayaknya…

      • jampang November 26, 2013 / 14:58

        udah selesai bacanya?

      • herma1206 November 26, 2013 / 15:41

        semua aktivitas membaca dan menonton smentara terhenti dlu, ngejer deadline tgl 30..hiks..hiks…

      • jampang November 26, 2013 / 15:56

        😀
        kecuali baca blog dan komentar 😛

      • herma1206 November 26, 2013 / 16:05

        yaa..klo itu kan sambilan…
        udh bosen ngetik…pindah tab, buka wp 😛

      • jampang November 26, 2013 / 16:08

        😀

      • herma1206 November 26, 2013 / 18:25

        Hehe…doain beres yak 😀

      • jampang November 26, 2013 / 18:30

        semoga lancar dan cepet beres

      • herma1206 November 26, 2013 / 19:25

        Aamiin…
        Ni juga masih belum pulang,hehe..

  8. Orin November 26, 2013 / 14:31

    Alhamdulillah yaaa pernah bersedekah sarung butut :))

  9. chiemayindah November 26, 2013 / 20:45

    Subhanallah… terima kasih Mas sudah diingatkan 🙂

  10. pitaloka89 November 28, 2013 / 17:56

    Baru ngeh setelah baca komennya mas…
    Udah menduga kalau itu didalam kubur, tapi masih ga ngerti dengan sarungnya.. ternyata penolong… padahal bisa jadi ga sengaja ya… 🙂

    • jampang November 28, 2013 / 17:57

      kalau nggak sengaja pastinya nggak dapat pahal dan bernilai ibadah. kan bisa bernilai ibadah jika diniatkan dan ikhlas 😀

      • pitaloka89 November 29, 2013 / 11:24

        Gitu ya… maksudnya niat sedekah, tapi kan ga tau kalau berakhir bagus dipakai ibadah… bisa aja cuma dipakai selimutan seperti yg kasih. hehehe

  11. eksak November 29, 2013 / 05:11

    Mantap, Jam! Selalu ada motivasi dalam setiap post! Kurma aja bs ngehalangin api neraka, apalagi sarung? Sip!

    • jampang November 29, 2013 / 05:17

      apalagi benda ata barang yang lain 😀
      terima kasih

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s