Ketika Beban Hidup Semakin Berat

beban“Kalau sudah besar mau sekolah di mana?”

“Di Al-falah.”

“Terus dari Al-falah, mau ke mana?”

“Tsanawiyah.”

“Dari Tsanawiyah, terus kemana?”

“Aliyah.”

“Dari Aliyah, mau kemana?”

“Kuliah.”

Begitulah apa yang diceritakan Ibu saya mengenai jawaban saya ketika ditanya tentang keinginan semasa kecil. Alhamdulillah, apa yang menjadi keinginan saya tersebut kini telah saya raih, meskipun agak sedikit meleset. Meleset karena setelah saya lulus dari Tsanwiyah, saya tidak melanjutkan ke Alilyah, tetapi ke SMU. Kini, setelah saya berhasil menyelesaikan kuliah, sebuah pekerjaan dengan penghasilan tetap setiap bulannya sudah saya miliki.

Ketika, pertama kali saya masuk sekolah di Al-falah, sebuah sekolah dasar, saya hanya membawa tiga buah buku tulis di dalam tas sekolah saya. Ketiga buku tulis itu dibungkus dengan kertas sampul warna coklat. Ayah saya memberikan tanda di masing-masing buku tersebut untuk memudahkan saya dalam penggunaannya. Buku pertama diberi tanda dengan huruf “ABC” yang artinya untuk pelajaran menulis abjad Indonesia. Buku kedua diberi tanda dengan tulisan arab berupa huruf alif, ba, dan ta, yang artinya untuk pelajaran menulis huruf hijaiyah. Buku ketiga diberi tanda dengan angka “123” yang artinya untuk pelajaran menulis angka.

Karena hanya berisi tiga buah buku saja, tas saya terasa ringan. Namun ketika saya mulai duduk di kelas yang lebih tinggi, di mana mata pelajarannya lebih banyak, maka buku yang harus saya bawa juga lebih banyak. Bahkan, terkadang untuk satu pelajaran saya harus membawa tiga buah buku tulis, satu untuk catatan, satu untuk mengerjakan soal latihan di kelas, dan satu lagi dikhususkan untuk pekerjaan rumah.

Lain lagi ketika saya kuliah, buku diktat yang tebal dan berat harus saya bawa setiap hari kuliah. Tas ransel yang saya gunakan terasa berat. Pundak saya sering terasa pegal, karena saya harus membawa tas tersebut berjalan beberapa ratus meter untuk mencapai tempat angkot dan juga sejak turun dari angkot hingga ke ruang kuliah.Bahkan tak jarang, di dalam angkot -Kopaja 613- pun saya harus berdiri, berjejal dengan penumpang lain.

Sekarang, ketika saya sudah bekerja, tak ada lagi buku diktat yang tebal dan berat di tas saya. Tas saya pun jauh lebih ringan karena hanya terisi alat tulis, sebuah hardisk eksternal, dan benda-benda kecil lainnya. Bahkan tas saya lebih sering berisi bekal makan siang yang saya bawa dari rumah. Pundak saya tak lagi menanggung benda bawaan yang berat, melainkan memikul sesuatu yang tak terlihat namun jauh lebih berat dari apa yang pernah saya pikul sebelumnya, yaitu beban pekerjaan.

Semua beban yang kini terpikul adalah sebuah konsekuensi dari segala sesuatu yang pernah saya inginkan di masa lalu. Ketika keinginan saya untuk naik kelas, maka konsekuensinya adalah saya harus bisa menerima dan menguasai pelajaran yang lebih sulit dari sebelumnya. Ketika saya berkeinginan untuk kuliah dan hal itu terwujud, maka sebagai konsekuensinya adalah saya harus mau mempelajari berbagai buku diktat yang tebal dan berbahasa Inggris, serta berjalan lebih jauh dan lebih lama dibandingkan ketika saya bersekolah. Begitu pula ketika keinginan untuk bekerja sudah saya raih, maka konsekuensinya adalah saya harus bisa menyelesaikan tugas pekerjaan yang dibebankan kepada saya.

Dalam sebuah film yang pernah saya tonton, terdapat sebuah adegan di mana seorang Paman memberikan sebuah nasehat kepada sang tokoh utama. Pesan nasehat yang selalu diingat oleh sang tokoh utama itu berbunyi, “Seiring dengan kekuatan yang besar, maka akan lahir tanggung jawab yang besar pula.”

Ya, semakin besar atau banyak yang kita raih, maka di saat bersamaan akan muncul sebuah beban yang kian bertambah. Namun demikian, tidak patut bagi kita untuk menyerah dengan beban tersebut, karena beban itu hadir seiring dengan terwujudnya apa yang pernah kita cita-citakan dan impikan. Sesungguhnya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan memberikan beban yang tidak akan mampu dipikul oleh para hambaNya.

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. [QS. Al-Baqarag : 286]

Mungkin, jika saya bisa menjadikan beban tersebut menjadi sebuah ladang ibadah, maka tidak akan ada yang terasa berat. Sebab Allah menjanjikan pahala kebaikan di balik itu semua. Semoga saja saya bisa.

Bagaimana dengan Anda?

Wallahu a’lam.


Tulisan Terkait Lainnya :

32 thoughts on “Ketika Beban Hidup Semakin Berat

  1. danirachmat November 27, 2013 / 08:26

    Suka bacanya Mas, beban diniatkan sebagai ibadah InsyaAllah jadi lebih senang menjalaninya.. 🙂

    • jampang November 27, 2013 / 10:27

      terima kasih, mas.
      iya… insya Allah begitu 😀

  2. araaminoemie November 27, 2013 / 08:38

    Dear Mas Jampang,
    Maaf sebelumnya ini komen OOT 😉
    Saya asmie http://araaminoe.wordpress.com/, mewakili dari Mas Ryan http://ryanfilelibrary.wordpress.com/2013/10/02/daftar-penerima-buku/ dikarenakan Mas Ryan sedang diluar negeri karena urusan pekerjaan jadi beliau meminta saya untuk meminta ulang alamat dari masing-masing penerima buku dan Mas adalah salah satunya, mohon dikirim alamatnya ya ke email saya : araaminoe@gmail.com terima kasih.
    Maap info nya lama 😉

    • jampang November 27, 2013 / 10:30

      oo…. oke… sudah saya kirim emailnya. terima kasih banyak

  3. andiahzahroh November 27, 2013 / 08:39

    Baca ini jadi kangen masa sekolah dulu 🙂

    • jampang November 27, 2013 / 13:17

      pantesan pengen kuliah lagi ya mbak 😀

  4. Teguh Puja November 27, 2013 / 08:48

    Kalau semuanya dijalani dengan keikhlasan, rasanya semuanya akan menjadi mudah ya mas. 😀

    • jampang November 27, 2013 / 10:30

      insya Allah begitu, mas 😀

  5. titintitan November 27, 2013 / 09:17

    yang jelas memang takada beban tanpa pundak yah..

    • jampang November 27, 2013 / 10:31

      karena pundak memang diciptakan untuk memikul beban 😀

  6. herma1206 November 27, 2013 / 09:19

    setuju..setuju…banget… 🙂

    • jampang November 27, 2013 / 10:31

      terima kasih… 😀

      • herma1206 November 27, 2013 / 12:51

        Sama-sama..:)

  7. ayanapunya November 27, 2013 / 10:30

    dulu pas sekolah bawa buku banyak banget. sekarang nggak bawa buku lagi, tapi laptop. heuheu

    • jampang November 27, 2013 / 10:32

      belum dapat komputer?
      saya bawa laptop pasti nggak dipake di kantor. dapat pc sendiri-sendiri 😀

      • ayanapunya November 27, 2013 / 11:00

        belum. 2014 katanya

      • jampang November 27, 2013 / 11:01

        ah… sebulan plus beberapa hari lagi 😀

      • jampang November 27, 2013 / 13:18

        bingung deh balas apa lagi…

      • Firsty Chrysant November 27, 2013 / 13:20

        hehehe… intinya yang bang jampamg tulis itu benar adanya… *ga nyambung lagi balesannya yaaa

      • jampang November 27, 2013 / 13:25

        terima kasih… terima kasih…. *biar nyambung deh*

  8. dedekusnpeace November 27, 2013 / 12:05

    Benar kang, beban seberat apapun akan terasa ringan jika kita menjalankannya dengan ikhlas. Kalau tidak salah, dalam Islam kegiatan apapun asal itu hal positif kalau kita lakukan dengan ikhlas akan jadi amal ibadah. 🙂
    Salam!

    • jampang November 27, 2013 / 13:16

      yup. insya Allah begitu dan jangan lupa diniatkan untuk ibadah

  9. Dyah Sujiati November 27, 2013 / 16:05

    Biasa pak *menjawab penutup tulisan 😛 *kumat-anarkis

    • jampang November 27, 2013 / 16:23

      ya gpp. udah maklum

      • jampang November 27, 2013 / 16:24

        siipppp

  10. nurme November 27, 2013 / 16:23

    Kalau saya masih naik turun kadar ikhlasnya. Hiks..
    Kadang bersyukur, sesekali mengeluh 😦

    • jampang November 27, 2013 / 16:24

      namanya juga manusia… ya begitulah…

      • nurme November 27, 2013 / 16:25

        😦

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s