One In One Out

uang
Beberapa waktu yang lalu, ibu saya meminta saya memilah-milah pakaian yang ada di lemari saya. Ibu meminta saya mengeluarkan pakaian yang sudah tidak saya kenakan lagi karena sudah usang warnanya atau sudah kekecilan ukurannya –sepertinya saya masih dalam masa-masa pertumbuhan, atau lebih tepatnya masa-masa perkembangan.

Alhasil, beberapa potong kemeja dan celana panjang harus minggat dari dalam lemari saya. Wajar, karena sebelumnya, lemari saya sudah mendapat suntikan berupa beberapa potong celana panjang juga kemeja dengan ukuran yang lebih pas dan kondisi baru tentunya. Apalagi saya juga mendapatkan empat stel pakaian seragam dari kantor.  Alhamdulillah.

One in one out. Satu masuk, satu keluar. Meski kenyataannya tidak persis demikian, tetapi cukuplah untuk memberikan sebuah gambaran apa yang terjadi di lemari pakaian saya. Kemeja dan celana panjang baru menggantikan posisi kemeja dan celana panjang sudah lama.

Ibu saya meminta demikian, selain agar lemari saya tidak penuh sesak dengan banyaknya pakaian yang nyatanya tidak semuanya saya kenakan lagi, juga agar pakaian-pakaian tersebut bisa lebih bermanfaat seandainya berada di luar lemari pakaian saya. Pindah ke lemarin lain. Dalam hal ini lemari pakaian ayah saya. Ukuran kemeja dan celanan panjang ayah saya lebih kecil dibandingkan dengan milik saya, sehingga, ayah saya masih bisa mengenakannya tanpa merasa sempit atau sesak.

Pergantian penghuni tak hanya terjadi di dalam lemari saya. Di ruang tengah pun terjadi juga. Seperangkat kursi dan meja, serta buffet lama di ruang tengah kini sudah tiada. Sudah berpindah rumah ke tetangga yang lebih memerlukan. Kini, yang menempati ruang tengah adalah kursi dan meja, serta buffet baru. Baru dalam artian baru didatangkan dari rumah adik ibu saya sebagai sebuah pemberian. Ada beberapa bagian dari kursi, meja, dan buffet tersebut yang harus diperbaiki agar kondisinya seperti baru. Tetapi kwalitas kayu dari kursi, meja, serta buffet tersebut jauh lebih baik daripada penghuni sebelumnya.

Saya jadi teringat dengan sebuah perumpamaan aliran rezeki yang diibaratkan seperti sebuah teko yang berisi  teh atau kopi. Ketika teko tersebut kosong, ke dalam teko tersebut dapat dituangkan teh atau kopi hangat.

Bila isi teko tersebut sudah penuh, maka tak akan ada lagi ruang dan tempat untuk menuangkan teh atau kopi yang baru ke dalamnya. Bila dipaksakan maka akan tumpah. Kopi dan teh yang tumpah tentunya akan mubazir. Terbuang sia-sia. Tak ada yang menikmati. Bila didiamkan dalam jangka waktu yang lama, maka teh atau kopi di dalam teko menjadi dingin. Kenikmatannya ketika diminum akan berkurang. Bahkan bukan mustahil teh atau kopi tersebut akan basi.

Agar teh atau kopi hangat bisa dituangkan kembali ke dalam teko tersebut, maka teh atau kopi yang berada di dalamnya harus dituangkan ke dalam gelas atau cangkir agar bisa diminum. Karena isi teko berkurang, maka ke dalamnya bisa diisikan lagi dengan teh atau kopi yang lebih hangat.

Begitu pula halnya dengan rezeki dalam bentuk pakaian dan barang-barang seperti yang disebutkan di atas. Pakaian lama bisa jadi tak lagi dikenakan oleh pemiliknya. Mungkin karena bosan. Mungkin karena modelnya yang sudah ketinggalan zaman. Mungkin karena ukurannya sudah tak cocok lagi di badan.

Ruang tengah rumah kedua orang tua saya hanya bisa diisi dengan satu buah stel kursi dan meja serta buffet. Tidak bisa lebih. Karenanya, ketika ada limpahan ketiga barang tersebut dari tempat lain, kursi dan meja serta buffet lama harus dikeluarkan dari ruang tengah sehingga akan ada ruang kosong untuk kursi dan meja serta buffet yang lebih baru.

Mungkin saya, anda, kita semua belum bisa memberikan yang terbaik dari apa yang kita miliki, tetapi bukan berarti saya, anda, kita semua tidak akan pernah memberi. Bila tidak bisa melakukan kebaikan yang sempurna, maka berlatihlah berbuat baik mulai yang kecil atau yang belum sempurna. Mungkian lama-lama kebaikan itu akan menjadi besar. Sempurna.

Wallahu a’lam.


Tulisan Terkait Lainnya :

36 respons untuk ‘One In One Out

  1. omnduut Desember 15, 2013 / 14:45

    *langsung cek isi lemari* ^^ filososi air di teko itu jleb banget mas Rifki 🙂

    • jampang Desember 15, 2013 / 15:59

      kayanya lemarinya penuh tuh 😀

      banyak filosofi teko seh…. poligami juga pernah saya kaitkan dengan teko 😀

  2. mas huda Desember 15, 2013 / 16:47

    Wah oke-oke bisa dipraktekkan ne

    • jampang Desember 16, 2013 / 07:42

      silahkan… silahkan 😀

    • jampang Desember 16, 2013 / 07:44

      terima kasih sudah berbagi bunda 😀

  3. nurme Desember 15, 2013 / 19:44

    Setujuuu…
    Dikeluarga saya malah ada tempat tidur bayi yang berpindah-pindah berganti pemilik 🙂

      • nurme Desember 16, 2013 / 09:01

        jadi banyak cerita nostalgia di tempat tidur bayi itu 🙂

      • jampang Desember 16, 2013 / 09:24

        ya kalau sudah berpindah2, pastinya akan begitu

      • nurme Desember 16, 2013 / 10:46

        🙂

  4. ayanapunya Desember 15, 2013 / 22:19

    kalau ibu saya tipe yang jarang buang barang. jadinya kadang masih dikumpulin gitu. sama kayak saya 😀

    • jampang Desember 16, 2013 / 07:45

      ya kalau masih bisa dipakai ya jangan dibuang, mbak.
      sayang 😀

      • ayanapunya Desember 16, 2013 / 08:44

        Kadang yang udah nggak dipakai juga sayang ngebuangnya, mas. Mikirnya pasti sapa tahu ntar bisa dipakai lagi 😀

      • jampang Desember 16, 2013 / 12:21

        kaya saya…. siapa tahu bisa kurus lagi 😀

      • ayanapunya Desember 16, 2013 / 12:25

        Haha. Kyknya nggak mungkin deh. Kan bentar lagi ada yang ngurus #eh

      • jampang Desember 16, 2013 / 12:43

        😀

        ngurus = bikin kurus? 😛

      • ayanapunya Desember 16, 2013 / 13:08

        kalau mengurus gimana? 😀

      • jampang Desember 16, 2013 / 13:33

        membesar -> semakin besar
        mengurus -> semakin kurus

        😀

      • ayanapunya Desember 16, 2013 / 13:38

        haha.. kata-katanya ambigu

      • jampang Desember 16, 2013 / 13:59

        😀

      • jampang Desember 16, 2013 / 08:55

        😀
        iya juga seh…. mungkin kalau saya mikirnya…. siapa tahu nanti kurus lagi 😀

  5. Bunda Aisykha Desember 16, 2013 / 06:09

    Aku sudah sering bgt ni bang,,baju cepet bejubel di lemari,,jd sering dikasihin orang jg,,baju Aisyah apalagi,,paling cepet coz cepet sesak kalo dipakai,,alhamdulillah ada yg selalu bersedia menerima,,krn baju yg dikasih masih trgolong bagus,,

    • jampang Desember 16, 2013 / 07:47

      wah… mbak hebat, nih 😀
      iya…. mumpung masih ada yang bersedia menerima… sebab nanti akan datang masanya ketika tak ada orang yang mau menerima pemberian dari orang lain

      • Bunda Aisykha Desember 16, 2013 / 08:11

        Iya bang,,alhamdulillah msh ada yg mau dn msh bermanfaat bwt org lain 🙂

      • jampang Desember 16, 2013 / 08:14

        sipppp lah. lanjutkan 😀

  6. desinamora Desember 16, 2013 / 06:51

    aiiiihh.. ngaca diri, langsung lirik lemari ini 🙂

    • jampang Desember 16, 2013 / 07:47

      dan hasilnyaaaa????

      😀

      • desinamora Desember 16, 2013 / 08:43

        kyaknya harus many out hahaha

      • jampang Desember 16, 2013 / 08:53

        lebih banyak pahala sedekahnya kalau begitu 😀

  7. Baginda Ratu Desember 16, 2013 / 10:49

    Betulllll… katanya yg paling bener emang begitu. Satu masuk, berarti ada satu yg keluar. Seneng punya yg baru, dpt pahala juga karena menyedekahkan yg lama. Aamiin.. 🙂

    • jampang Desember 16, 2013 / 12:28

      alhamdulillah, sudah rutin ya mbak?

  8. pritakusumaningsih Desember 16, 2013 / 22:05

    Mumpung masih bagus, segera kasihkan orang. Kalau sdh ngasih ke orang lain, jadi punya alasan utk punya baju baru 🙂
    Oya, di Matahari dept store lagi ada penukaran baju layak pakai dengan voucher diskon lho

    • jampang Desember 17, 2013 / 04:51

      Yang lebih baik mungkin seperti itu ya, bu. Cuma masih mikir kalau ngasih dulu baru beli 😀

      Wah…. Baru ada info ini. Kalau saya nggak bisa… Mungkin yg baca info ini bisa langsung ke matahari, bu 😀

      Terima kasih.

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s