Ketika Negeri Ini Mengepalkan Jemarinya

skalanews.com
skalanews.com

Anda pernah mengepalkan kelima jari anda? Dalam keadaan bagaimana anda melakukan hal tersebut? Pernahkah anda memperkirakan besarnya energi yang terkumpul dalam kepalan tangan tersebut? Pastinya, ketika kelima jemari itu bersatu, energi yang terpusatkan akan lebih besar bila dibandingkan jika kelima jemari itu terpisah.

Suatu ketika saya pernah mendengar mantan atasan saya memberikan perumpamaan pilar-pilar sebuah negara itu ibarat kelima jari tangan. Ibu jari melambangkan pemerintah, jari telunjuk melambangkan para orang kaya, jari tengah diibaratkan sebagai ulama, jari manis melambangkan fakir miskin, dan jari kelingking melambangkan para wanita.

Suatu negara akan menjadi kuat dengan keadilan pemerintahnya, kedermawanan para orang yang kaya, ilmu para ulama, doa kamu fakir miskin, serta baiknya akhlak para wanita.

Perhatikan ibu jari anda, ia bisa mendekati keempat jari lainnya dengan mudah. Begitulah seharusnya pemerintah, bisa merangkul semua unsur-unsur dalam masyarakat.

Orang kaya bisa beramal dengan harta yang dimiliki. Tinggal tunjuk saja, maka masjid bisa berdiri, sekolah bisa dibangun, orang-orang miskin bisa disantuni.

Jari tengah adalah jari yang terpanjang. Begitulah kedudukan ulama yang merupakan ahli waris para nabi. Dengan ilmu yang dimilikinya, para ulama bertugas untuk mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemunkaran.

Fakir miskin adalah kelompok yang harus diberikan bantuan. Seperti itulah jari manis, di mana ia menjadi tempat melingkarnya cincin pemanis.

Sedangkan wanita yang diibaratkan seperti jari kelingking, kecil, dianggap remeh, namun pada hakikatnya ia memiliki peranan yang amat sangat penting. Tak heran bila wanita dianggap sebagai tiang negara, bila wanitanya berakhlak baik, maka seluruh negara akan baik, dan bila wanita berakhlak buruk maka buruklah seluruh negara. Karena dari wanita lah akan lahir generasi penerus suatu bangsa.

Lantas, bagaimana di negeri ini? Adakah kelima pilar itu bersatu padu sehingga bisa terwujud “baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur”?

Kenyataan menjawab bahwa hal itu masih jauh untuk bisa tercapai. Kelima pilar yang ada belum berfungsi dengan baik. Ibarat dalam permainan suit jari, baru tiga jari yang berperan, ibu jari, telunjuk, dan kelingking. Pemerintah, orang kaya alias konglomerat, dan wanita yang baru kelihatan sepak terjangnya, entah dalam hal kebaikan atau keburukan. Sedangkan dua jari lainnya tak pernah diperhatikan. Sepertinya begitulah nasib para ulama dan kaum miskin di negeri ini. Wallahu a’lam.


Tulisan Terkait Lainnya :

23 respons untuk ‘Ketika Negeri Ini Mengepalkan Jemarinya’

  1. nengwie Desember 16, 2013 / 18:36

    betul..betul.. energinya besar disalurkan ketika mengepalkan jari2 tangan..pengalaman soalnya tiap diinfus dan diambil darah, selalu mengepalkan kuat2..buat mengurangi rasa sakit dan sebel liat jarum hehehe.. *usap-usap tangan bekas indusan* 😥

    • jampang Desember 16, 2013 / 19:43

      Emangnya masih diinfus, teh?

      • nengwie Desember 16, 2013 / 20:25

        Masih Kang…6 kali lagi inshaAllah.
        Soalnya terakhir periksa darah, masih belum normal.

      • jampang Desember 16, 2013 / 21:44

        Nggak bisa kurang, teh?

        *kaya nawar buah2an aja*

        Semoga selanjunya lebih sehat ya, teh

      • nengwie Desember 16, 2013 / 21:51

        Hehe… Pengennya sih biaa kurang nih Kang, sudah harga pas itu ngga bisa dikurangi lagi 😀

        Aamiin…hatur nuhuuun..

      • jampang Desember 16, 2013 / 21:53

        😀
        sama-sama, teh

  2. nengwie Desember 16, 2013 / 18:37

    infusan tipo daah 😀

  3. Bunda Aisykha Desember 16, 2013 / 19:14

    Eh,,pemikiran yg smart bgt bang,,kok aku ngga terpikir yaa 🙂

    • jampang Desember 16, 2013 / 19:45

      Itu saya cuma nulis ulang dr apa yg saya denger koq, mbak 😀

  4. pinkvnie Desember 16, 2013 / 20:01

    Klo suit jepang pake semua jari, bahkan ada yg mengepal disebut batu …

    • jampang Desember 16, 2013 / 21:42

      Iya. Makanya negara jepang lebih maju 😀

      • pinkvnie Desember 16, 2013 / 22:20

        bener juga ya istilahnya suit batu “mengepal jemari” yang menang lawan suit kertas “melebarkan jemari” … 🙂
        Di dalam Qur’an ada tentang ajaran2 pemerintahan, kaya, fakir miskin, dan wanita yang kalo diikutin sesuai ajaran akan bisa mengepal dan memberi kekuatan sehingga bisa lbh maju dari negara-negara lain. *ayo maju negeriku* 😀

      • jampang Desember 17, 2013 / 04:54

        Emangnya batu menang lawan kertas yah? Saya tahunya…. Gunting menang lawan kertas. Kertas menang lawan batu. Batu menang lawan gunting.

      • pinkvnie Desember 17, 2013 / 07:30

        Upss…mksdnya begitu batu menang lawan gunting typo … *ngeles* 😀

      • jampang Desember 17, 2013 / 07:50

        😀

  5. nurme Desember 16, 2013 / 21:45

    Sungguh besar amanah Allah kepada kaum perempuan, sehingga kehancuran suatu bangsa menjadi tanggung jawab perempuan.

    Sungguh mulia amanah Allah kepada kaum laki-laki, sehingga saat seorang lelaki menjadi seorang imam, dialah yang harus ditaati oleh perempuan untuk mendapatkan surga.

    Bukankah “baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur’ artinya tergantung pada wanita dan pria. Jadi kehancuran suatu bangsa karena kekurangan dari keduanya.

    • jampang Desember 17, 2013 / 04:49

      Ya bisa jadi krn keduanya tidak menjalankan fungsi dan tugas masing-masing dengan baik…. sebagai apa pun.

      Hanya saja peranan perempuan lebih besar dlm membentuk generasi yg baik. Perempuan adalah seoraang ibu. Dan ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya

      • nurme Desember 17, 2013 / 06:53

        Seorang perempuan apabila menginginkan menjadi seorang Ibu atau telah menjadi seorang Ibu, akan berusha memberi yang terbaik buat anaknya, kalau perlu nyawa. Akan mendidik anaknya menjadi orang baik, gak ada Ibu yang mau mencelakan anaknya kecuali otaknya udah ga waras, seburuk apapun dia.

        Jadi pendidikan dini yang terbaik akan diberikan oleh seorang ibu.
        Coba baca Victoria Park, cerita mengenai TKW di Hongkong. Disitu bisa membuka pikiran dan bisa menjadi masukan bahwa pengorbanan seorang wanita terutama Ibu seperti apa.

      • jampang Desember 17, 2013 / 07:49

        tentang pengorbanan seorang ibu, Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagai Al-Khaliq pun telah menceritakannya. jadi saya nggak ragu lagi

  6. nurme Desember 16, 2013 / 21:49

    Banyak juga anak yang terlahir dari wanita berakhlak baik menjadi bajingan karena dia kecewa dengan ayahnya sebagai figur dari imam dalam keluarga, namun banyak juga wanita yang berakhlak buruk namun mempunyai anak yang berakhlak mulia, malah sang ayahlah sebagai imam dan pemimpin dalam keluarga membuat anaknya kagum dan menjadi anak berakhlak mulia.

  7. lazione budy Desember 17, 2013 / 05:04

    kasihan banget perumpamaannya, ulama dapat jari tengah.

    😀

    • jampang Desember 17, 2013 / 05:13

      ya kalau mengikuti kebiasaan di tempat lain jadi kasihan…. tp kan perumpamaan di atas bukan untuk tempat lain tersebut 😀

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s