Di Empat Puluh Tahun

40 years
Sal, kita memang belum sampai di usia empat puluh tahun. Jika Allah menghendaki, dalam beberapa tahun ke depan, kita akan sampai pada bilangan usia tersebut. Aku tidak akan bercerita tentang cita-citaku, harapanmu, ataupun seperti apa keluarga kita nantinya di saat itu. Aku hanya ingin berbagi apa yang disampaikan oleh khatib di mimbar jum’at mengenai usia empat puluh tahun itu.

Sal, ada yang menyatakan bahwa di usia kisaran empat puluh tahun, seseorang akan memasuki tahapan yang namanya  krisis paruh baya (midlife crisis) atau biasa disebut puber kedua. Jika disebut sebagai krisis, pastinya sudah memberikan kesan yang tidak baik. Untuk hal tersebut, aku tidak akan membahasnya. Lagi pula, di sisi lain ada yang berpendapat bahwa usia empat puluh tahun itu adalah usia di mana seseorang sudah mencapai tingkat kematangan berfikir dan emosi. Di usia tersebutlah, jati diri seseorang terbentuk dengan sempurna, sehingga ada yang berpendapat bahwa jika seseorang sudah mencapai umur empat puluh tahun dan berada pada suatu perangai tertentu, maka orang tersebut tidak akan pernah berubah hingga datang kematiannya. Wallahu a’lam.

Semoga saja, Allah memberikan kemudahan kepadaku dan juga dirimu untuk senantiasa memiliki perangai yang baik. Aamiin.

Menurut sang khatib, pastinya ada sesuatu yang penting di usia empat puluh tahun itu, Sal. Jika tidak penting, lanjut beliau, tak mungkin Allah Subhanahu Wa Ta’ala memasukkan usia tersebut ke dalam salah satu ayat di dalam Al-quran. Ayat yang dijadikan pembuka dan pokok bahasan khutbah juma’at adalah Surat Al-Ahqaf ayat 15.

Sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. (QS. Al-Ahqaf: 15)

Di ayat tersebut, Allah tidak mengaitkan usia empat puluh tahu itu dengan krisis atau kesusahan, melainkan dengan rasa syukur. Sejatinya, bersyukur memang tidak hanya dilakukan ketika manusia berusia empat puluh tahun, melainkan setiap waktu selama hidup. Namun ada penekanan khusus ketika usia empat puluh tahu tersebut dikaitkan dengan bersyukur. Mungkin, karena di usia empat puluh itu seseorang sudah mencapai  tingkat kematangan berfikir dan emosi, sehingga dirinya sudah mengetahui segala nikmat yang Allah telah berikan kepadanya dan kepada orang tuanya, lalu mensyukurinya.

Sal, semoga kita selalu ingat untuk untuk bersyukur atas apa yang sudah kita rasakan dan kita miliki. Ingatkan diriku jika aku terlupa. Kuharap dirimu pun mau menerima jika aku mengingatkan.

Sal, di usia empat puluh nanti, mungkin kita akan seperti pasangan siami-istri pada umumnya, berada di dua posisi dalam waktu bersamaan. Posisi pertama adalah sebagai sosok ayah dan ibu bagi anak-anak. Saat itu, di tangan kita ada kewajiban untuk mendidik anak-anak dengan sebaik-baiknya. Sementara posisi lainnya adalah sebagai sosok seorang anak dari kedua orang tua kita. Kita pun memiliki kewajiban untuk berbakti kepada keduanya.

Mungkin suatu hari nanti, ketika aku dan dirimu merasakan kesulitan untuk mendidik anak-anak kita, kita harus  berpikir dan merenungkan bahwa seperti itulah yang dijalani oleh kedua orang tua ketika mendidik kita di masa kecil kita dahulu. Dengan demikian, maka akan muncul rasa syukur kita kepada Allah bahwa diri kita telah mendapatkan pendidikan yang baik dari kedua orang tua kita dan kemudian juga bersyukur kepada mereka dengan terus berbakti kepada mereka.

Sal, ayat kelima belas dari surat Al-Ahqaf di atas merupakan doa. Doa untuk lintas generasi. Terdahulu, kini, dan nanti.

Doa pertama berupa kebaikan untuk kedua orang tua yaitu dengan memohon agar diri kita bisa selalu berterima kasih kepada kedua orang tua kita. Berbakti kepada mereka. Doa kedua adalah kebaikan untuk kita sendiri, yaitu agar diri kita bisa beramal kebaikan yang Allah ridhai. Dan doa ketiga adalah kebaikan untuk anak dan cucu kita nanti. Tentunya, dengan memberikan dan mengajarkan nilai-nilai kebaikan kepada anak dan cucu, kelak kebaikan itu akan kembali kepada kita. Insya Allah.

Sal, ingatkan diriku untuk selalu berdoa untuk kebaikan diriku dan dirimu, untuk kebaikan kedua orang tua kita, dan untuk anak-cucu keturunan kita.


Seri Samara Lainnya :

19 respons untuk ‘Di Empat Puluh Tahun

  1. ayanapunya Desember 27, 2013 / 21:21

    kata orang, life begin at forty 🙂

    • jampang Desember 28, 2013 / 04:43

      Iyah… Ada yg bilang begitu

  2. nurme Desember 27, 2013 / 21:27

    Oh begitu…

      • nurme Desember 28, 2013 / 05:11

        *Mencerna kembali tulisan..

        Kalau membaca ini dan beberapa tulisanmu sebelumnya, semua perjalanan manusia itu ternyata memang sudah ada dalam Al Quran dan 70 persen dari isi Al Quran itu isinya katanya bisa untuk dakwah.

      • jampang Desember 28, 2013 / 05:25

        Semuanya bisa dijadikan dakwah koq. Kan isi al-quran bagus semua.

      • nurme Desember 28, 2013 / 05:33

        Hehehe.. ,menurut paman yang emang sekarang berkecimpung di dunia dakwah, 70% isi Al Quran adalah dakwah, 30% adalah hukum-hukum agama.

        Oleh sebab itu mereka yang telah berusia diatas 40 dan faham Al Quran memilih untuk banyak dakwah dan kuruj.

      • jampang Desember 28, 2013 / 05:37

        emangnya hukum agama bukan untuk didakwahkan?

      • nurme Desember 28, 2013 / 05:48

        Kalau yang saya serap maksudnya begini.. 30% dari isi Al Quran adalah hukum-hukum dimana hukum-hukum tersebut ada penjelasannya, penjelasan ini yang disebut dakwah yaitu 70% dari isi Al Quran.

        Kalau hasil googling sih arti dakwah itu panggilan, ajakan, seruan…

        Ya mungkin Bang Jampang lebih tahu akan hal ini 🙂

      • jampang Desember 28, 2013 / 06:02

        ooooo…. saya kurang tahu tentang pembagian itu. terima kasih infonya

      • nurme Desember 28, 2013 / 06:05

        Kalau dapat info dan saya salah mohon dikoreksi ya 🙂

      • nurme Desember 28, 2013 / 06:32

        Menurut paman mengenai pertanyaanmu.. 30% hukum agama tentu saja boleh didakwahkan, maksud beliau yang 70% adalah mentauhidkan manusia kepada Allah SWT dari jaman Nabi Adam AS sampai Nabi Muhammad SAW. Semuanya dakwah akan kebesaran Allah, nikmat-nikmat Allah dan Ciptaan Allah sodakolloh.

      • jampang Desember 28, 2013 / 06:42

        oooo…. ya… ya… terima kasih lagi

      • nurme Desember 28, 2013 / 08:57

        sama-sama, terimakasih juga sudah berbagi hasil khutbah jumat 🙂

  3. danirachmat Desember 28, 2013 / 05:26

    MAturnuwun Mas,jadi keinget buat bikin postingan hasil khutbah jum’at kemaren.. 🙂

    • jampang Desember 28, 2013 / 05:31

      sama-sama, mas. kebetulan ada yg diinget dari dengerin khutbah dan saya tulis dalam versi dialog suami-istri (fiksi) … ini yang kedua. mudah2an seh bisa rutin 😀

  4. Yudhi Hendro Desember 28, 2013 / 09:05

    Qur’an, sumber inspirasi yang mencerahkan dan tiada habisnya untuk ditulis…Mas

    • jampang Desember 28, 2013 / 09:24

      Iya, pak. Belum kalau mau membahas hikmah, pembelajaran, dan yang tersirat di dalamnya…. Nggak akan habis meski tintanya sebanyak air lautan

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s