Karena Cermin Tak Pernah Berdusta


“if we do a positive thing to others, believe, we will have another positive things, eventho not from them.”

Kalimat di atas bukanlah hasil pemikiran saya. Rasanya terlalu keren jika saya menggunakan kalimat dengan bahasa Inggris saat membuka sebuah coretan saya di sini. Kalimat di atas saya kutip dari salah satu komentar atas coretan saya di MP yang bercerita tentang cermin dan saya jadikan status di FP pagi ini.

Cermin. Siapakah yang tidak pernah melihat atau menggunakan cermin? Saya meyakini bahwa hampir semua orang sudah pernah melihat dan menggunakannya.

Hampir setiap pagi, sebelum saya berangkat ke kantor saya tak lupa melihat cermin yang menempel di dinding kamar untuk melihat apakah pakaian yang saya kenakan sudah pas, apakah rambut saya sudah disisir, apakah penampilan saya sudah rapi. Begitu menemukan ada sesuatu yang kurang pas, maka saya akan segera merapikannya. Setelah semuanya rapi, barulah saya menyiapkan yang lain dan berangkat kerja.

Cermin tak pernah berdusta. Apa yang terlihat di cermin adalah pantulan sebenar-benarnya dari benda di depannya. Karena kejujurannya, maka tak heran, siapa pun akan menerima koreksi sang cermin dan serta merta akan memperbaiki penampilan. Tanpa merasa terpaksa sama sekali.

Begitulah cara cermin yang ada di lemari pakaian, di kendaraan, di kantor, di toko-toko dan berbagai tempat lainnya bekerja.

Cermin di atas adalah cermin yang diam, yang tak bisa berkata-kata, yang tak bisa berekspresi, hanya memantulkan bayangan. Namun, dalam kehidupan ini ada cermin yang mampu berjalan, berbicara, serta berekpresi. Cermin itu adalah orang-orang yang kita temui dalam kehidupan kita.

Terkadang, kita menemukan orang lain yang berwajah ramah, bertingkah laku sopan. Memandangnya, berbicara dengannya, membuat hati senang dan tenang. Namun adakalanya pula kita menemukan orang lain dengan wajah yang kasar, judes, tingkah lakunya pun membuat kita dongkol.

Lantas, bisakah kita bercermin kepada mereka? Bisakah kita mengembalikan apa yang kita terima dari orang lain tersebut merupakan apa yang pernah kita berikan kepada orang lain pula, hanya saja waktu, tempat, dan orang yang berbeda. Bukankah ada hukum kekekalan energi? Apa yang kita tuai adalah apa yang pernah kita tanam.

Wallahu a’lam.


Tulisan Terkait Lainnya :

18 respons untuk ‘Karena Cermin Tak Pernah Berdusta’

  1. nurme Desember 29, 2013 / 09:45

    adaaa cermin yang suka booong….. 🙂
    *cermin cekung ama cermin cembung…

      • nurme Desember 29, 2013 / 19:33

        hahahaha.. iya tuuh cermin cembung bilang saya gemuk, cermin cekung bilang saya kurus.. boong tuh keduanya..

        Linknya dah baca duluaaan.. setujuuuuu 🙂

      • jampang Desember 29, 2013 / 21:03

        Ya harusnya emang udah dibaca. Itu ada di buku JJYT indie koq

      • nurme Desember 29, 2013 / 22:11

        🙂

  2. Tita-Bunda Aisykha Desember 29, 2013 / 11:22

    Biasanya sih emang yaa,,apa yg kita tanam itulah yg kita tuai,,tp kdg bisa lebih baik,,kdg jg bisa tdk sesuai harapan kita,,he he

    • jampang Desember 29, 2013 / 19:27

      sebesar usah yang kita lakukan, maka sebesar itu pula hasil yang kita dapatkan, mbak.
      mungkin sudut pandang aja yang membuatnya berbeda

  3. faziazen Desember 29, 2013 / 14:58

    buruk muka cermin dibelah

    • jampang Desember 29, 2013 / 19:28

      sayang dong…. nanti harus beli lagi yg baru 😀

  4. pinkvnie Desember 29, 2013 / 16:10

    Jgn ada dusta antara cermin … 😀

    • jampang Desember 29, 2013 / 19:28

      😀
      harusnya begitu

  5. Dyah Sujiati Desember 29, 2013 / 18:34

    Tapi sering kali beda cermin beda hasil bayangan lho pak

  6. danirachmat Desember 29, 2013 / 23:18

    We will get exactly what we gave to others. Gitu kali ya mas..

    • jampang Desember 30, 2013 / 04:57

      Betul, mas. Kalau di al-quran bilangnya : in ahsantum ahsantum li anfusikum wa in asa’tum falahaa (jika kamu berbuat baik, kamu berbuat baik kepada dirimu. Dan jika kamu berbuat jahat, kamu berbuat jahat kepada dirimu)

      Wallaahu a’lam

  7. Ina Desember 30, 2013 / 21:25

    mau cerminan dulu mas… eit, tapi belum mandi. malu he he…
    dari quote diatas, bisa mancep juga di pikiranku, soalnya ibuku sering bilang gtu. artinya bisa seperti ini : klopun dia berbuat baik tdk secara langsung dibalas oleh-Nya, dia yakin banget mungkin kebaikan2 dibalaskan ke anak-anaknya.

    • jampang Desember 30, 2013 / 21:36

      😀
      Kalau gitu mandi dulu aja. Biar pantulannya bagus.

      Saya pernah baca artikel yg intinya begitu, mbak. Seorang pemilik warung nasi padang, dia itu sering ngasih lauk tambahan buat para mahasiswa (meski bukan yg ‘fresh from the oven). Begitu ditanya apa alasannya, dijawab… Mudah2an anak saya yg kuliah di tempat lain mendapat perlakuan yang baik juga

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s