Ketika Kau Mengaduk-aduk Perasaanku

tea
Saya belum beranjak dari bangku panjang yang terbuat dari kayu dan berwarna coklat selepas mengenakan kaos kaki dan sepatu. Seorang perempuan mengenakan seragam kerja terlihat mondar-mandir.Kali pertama dirinya keluar dari dapur sambil membawa dua piring nasi goreng sudah siap untuk disantap. Satu piring untuk saya dan satu lagi untuknya.Sebuah piring berisi bihun, beberapa potong telur dadar, dan tahu sudah berada di atas meja terlebih dahulu.

Kali kedua, perempuan itu datang ke meja makan sambil membawa dua buah cangkir transparan beserta piring sebagai alas. Satu sendok gula dimasukkannya ke dalam setiap cangkir. Menyusul kemudian sebungkus teh celup ke dalam salah satu cangkir. Selanjutnya, perempuan itu menuangkan air panas dari termos ke dalam cangkir. Setengahnya. Lalu mengaduk-aduknya hingga gula di kedua cangkir itu larut.

Sesaat kemudian, perempuan itu memindahkan teh celup dari cangkir pertama ke cangkir kedua hingga air di dalam gelas kedua berubah. Teh celup dikeluarkan. Kedua cangkir yang separuhnya berisi teh manis panas dibawa ke dispenser untuk ditambahkan air hingga penuh dan panasnya berkurang, lalu diaduk kembali.

Saat melihat perempuan itu melakukan yang demikian, ada sebuah rasa yang juga teraduk-aduk di dalam dada ini. Saya juga merasakan sesuatu di kedua mata saya. Bukan air mata. Mungkin pandangan saya berkaca-kaca saat itu.

Saya teringat dengan sebuah coretan saya yang berjudul “Lelaki dan Air Mata” di mana salah satu paragrafnya menggambarkan peristiwa yang agak mirip dengan apa yang baru saya saksikan.

Lelaki itu kembali masuk ke kamarnya setelah membersihkan tubuhnya. Di atas tempat tidur, lelaki itu mendapati satu stel pakaian kerja, lengkap dengan pakaian dalam, ikat pinggang, dompet, handphone, serta jam tangan.

Dengan senyum terukir di bibirnya, lelaki itu kemudian mengenakan apa yang telah dipersiapkan olah sang istri satu per satu. Tak terasa, ketika dirinya bercermin, kedua matanya berkaca-kaca.

Setelah selesai mempersiapkan diri, lelaki itu keluar kamar menuju meja makan. Di atas meja makan, dilihatnya dua potong roti yang telah diolesi dengan mentega dan bertabur coklat mesis. Sedang di sebelahnya, sebuah gelas berisi air putih yang telah dicampur madu, minuman kesukaannya. Lelaki itu pun duduk seraya menikmati apa yang sudah tersaji. Lagi-lagi kedua matanya berkaca-kaca.

Setelah menyelesaikan sarapannya, lelaki itu memanggil istri yang baru masuk kamar setelah membersihkan diri untuk pamit berangkat ke kantor.

Sang istri keluar kamar, lalu menyusul sang suami ke pintu. Tangan kanan lelaki itu diraih untuk kemudian dikecupnya. Lelaki itu pun membalas dengan mengecup kedua pipi dan kening sang istri. Lalu keduanya memberi dan menjawab salam. Lambaian tangan sang istri mengiringi permintaannya agar sang suami berhati-hati.

Beberapa saat, ketika lelaki itu sudah berada di atas motornya yang sedang melaju, kedua matanya kembali basah.

Sambutan hangat sang istri kembali dirasakan lelaki itu ketika pulang kembali ke rumah di sore hari. Setelah membukakan pintu dan melepaskan tas ransel dari punggung suaminya. Sebuah pertanyaan kepada sang suami berisi pilihan antara mandi atau makan dahulu terucap dari mulutnya. Apapun yang dipilih lelaki itu, maka ketika aktifitas mandi atau makan dilakukan, dengan sekuat tenaga, dirinya menahan sesuatu yang ingin mengalir di kedua  ujung matanya.

Hingga di ujung malam, lelaki itu terjaga dari tidurnya. Lelaki itu medapati sang istri tidur terlelap di sambil memeluk tubuhnya. Dengan perlahan, dirinya bangkit dari tempat tidur, melawan rasa kantuk dan dinginnya cuaca. Lelaki itu kemudian berwudhu untuk shalat. Selepas dua salam, lelaki itu berdoa.

“… Ya Allah, jadikanlah diri ini termasuk dalam golongan oang-orang yang bersyukur atas segala ni’matMu. Peliharalah cinta yang bersemi di antara diriku dan istriku. Berilah kesehatan kepada dirinya seperti Kau limpahkan kesehatan kepada dirku… Sungguh, dirinya adalah wanita yang sempurna di mataku dan dihatiku. …”

Dan kembali, dua buah sungai kecil mengalir di kedua sudut matanya.

Sayangnya, saya belum sempat mengucapkan terima kasih kepada perempuan itu atas apa yang sudah dilakukannya pagi ini. Saya juga tak sempat memeluknya sebelum kami berpisah.

Kepada perempuan itu, saya memiliki panggilan khusus di sini, di blog ini, Minyu.

Tulisan Terkait Lainnya :

35 thoughts on “Ketika Kau Mengaduk-aduk Perasaanku

  1. Tita Bunda Aisykha Januari 8, 2014 / 14:24

    Nah,,salam kenal mba minyu,,setelah celoteh Syaikhan,,apakah akan ada ttg Minyu? 🙂

    • jampang Januari 8, 2014 / 14:36

      hmm… kalau ada ide, mungkin saya akan menuliskannya. 😀

    • jampang Januari 8, 2014 / 14:37

      ya… katanya…. panggilan itu ada sejarahnya. saya gunakan nama itu du blog aja. kalau sehari-hari ya saya gunakan panggilannya di rumah

    • jampang Januari 8, 2014 / 14:52

      senyum itu sedekah 😀

  2. fenny Januari 8, 2014 / 15:43

    Salam kenal mba Minyu … 😀

      • fenny Januari 8, 2014 / 19:29

        Kt2 perempuannya gnt dong ka jd istriku kan sdh sah n halal … 😀

      • jampang Januari 9, 2014 / 05:12

        ini kan jurnal perkenalan…. selanjutnya pake kata ganti yg lain

  3. izzawa Januari 8, 2014 / 16:00

    minyu baca ini gak yaaaa 😀

    • jampang Januari 8, 2014 / 18:12

      Sampai saya balas komen ini, belum baca

    • jampang Januari 8, 2014 / 18:13

      Yang ini bukan tentang ibu 😛

  4. Teguh Puja Januari 8, 2014 / 17:19

    Salam untuk Mbak “Minyu”-nya mas. Senang sekali tentunya mendapat sokongan, baik dari hal-hal sederhana seperti itu. 😀

    • jampang Januari 8, 2014 / 18:14

      Yg sederhana… Yg indah 😀

      • Teguh Puja Januari 8, 2014 / 18:27

        Iya, mas. setuju sekali. 😀

      • jampang Januari 9, 2014 / 05:10

        😀

  5. faziazen Januari 8, 2014 / 18:32

    nunggu foto nikahannya di upload
    barakallah, alhamdulillah

    • jampang Januari 9, 2014 / 05:11

      insya Allah… sebab skarang foto pernikahan lagi diproses sama tukang fotonya dan belum ada yang dikirim soft copy-nya

      • Dewi Januari 10, 2014 / 15:23

        hooh ndang di aplud,,, aku penasaran juga neh. 😛

      • jampang Januari 10, 2014 / 16:08

        maunya juga gitu, cuma foto weddingnya belum saya pegang…

  6. dian farida Januari 8, 2014 / 20:36

    Arrgh..akhirnya..barakallah.salam Kenal mba Minyu:)

    • jampang Januari 9, 2014 / 05:12

      terima kasih, mbak…. 😀

  7. jaraway Januari 9, 2014 / 16:11

    aseekkk..
    bang jampang dah keaduk2 ama si jilbab kuning a.k.a Minyu
    eh, udah ga jilbab kuning lagi yak sekarang nyebutnya.. qiqiqi

    • jampang Januari 9, 2014 / 16:19

      jilbab kuning kan piksih. ini mah nyata 😛

  8. elam Januari 12, 2014 / 00:26

    Barakallah mas pernikahannya 🙂

    • jampang Januari 12, 2014 / 06:59

      terima kasih 😀

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s