Lelaki dan Desir Hati [2]

CREDIT

“Sebenarnya, sesuatu yang kunantikan ketika kita bertemu belum juga kurasakan. Desir hati itu tidak ada. Tak terjadi apa-apa dalam diriku, di dalam jiwaku, di dalam hatiku, bahkan di dalam pikiranku. Mungkin saja aku yang terlalu larut dengan definisi yang dihembuskan oleh cerita cinta, lagu cinta, puisi cinta, film romantis dan sinetron picisan, sehingga berharap di pertemuanku denganmu malam itu hatiku akan berdesir hebat, darahku akan mengalir deras, jantungku berdetak lebih cepat, dan pikiranku akan terus berkelana bersama dirimu setelah pertemuan itu sebagai pertanda jatuh cinta pada pandangan pertama. Jadi akan kuabaikan saja desir hati itu.”

Lelaki itu terdiam sesaat.

“Jadi, apakah dirimu mau menerimaku?” Tanya lelaki itu lalu kembali terdiam.

Sebelum melanjutkan kalimat berikutnya, lelaki itu menarik sebuah napas panjang.

“Sebenarnya ada keraguan di hatiku tentang hal ini. Mungkinkah Aku bisa menerimamu dan kau bisa menerimaku? Sementara belum ada satu pun benih-benih cinta yang tumbuh di taman hati kita masing-masing.”

“Semuanya bisa diatur, itu kata mereka tentang kita. Apa yang aku dan kamu mau nanti bisa dibicarakan. Masing-masing dari kita bisa saling menyesuaikan. Tapi aku sendiri tidak begitu yakin. Rasanya tidak mudah untuk mengubah sesuatu yang sudah ada dan berlangsung lama menjadi sesuatu yang berbeda. Bukankah…” Ucapan lelaki itu menggantung.

“… ketika sudah menikah itu artinya masing-masing harus saling menerima pasangan apa adanya? Bukan mengubahnya menjadi sesuai dengan yang kita inginkan? Bagaimana menurutmu?”

Yang ditanya tidak menjawab.

Lelaki itu bangkit dari duduknya, lalu melangkah mendekati sosok di hadapannya. Pandangan keduanya beradu. Lurus. Cukup lama keduanya berada dalam diam.

Akhirnya lelaki itu membalikkan badan, lalu melangkahkan kakinya keluar ruangan bersamaan dengan menghilangnya sang lawan bicara di balik cermin.


Seri Lelaki Sebelumnya :

10 respons untuk ‘Lelaki dan Desir Hati [2]

    • jampang Januari 21, 2014 / 05:06

      mungkin. tapi bukan berarti nggak bisa.

      mungkin bentuknya bukan berupa desiran di dalam hati

  1. Ina Januari 20, 2014 / 22:17

    tulisannya cocok sesuai musim. musim orang banyak yg pada merit…. *pengantin baru banyak punya desir… alias strom..

    • jampang Januari 21, 2014 / 05:03

      makanya saya juga ikut-ikutan merit 😀

      • Ina Januari 21, 2014 / 16:49

        ehm!!

      • jampang Januari 21, 2014 / 16:51

        😀

  2. herma1206 Januari 21, 2014 / 13:25

    Sy saat memutuskan utk menerima seseorg yg sbentar lgi akan jadi imam saya insya Allah..blm ada desir..tpi skrg udh ada..haha..

    • jampang Januari 21, 2014 / 14:43

      cie…. cie…. semoga lancar ke proses selanjutnya

      • herma1206 Januari 21, 2014 / 15:38

        iya..doain aja lancar dan dipermudah ya..aamiin..

      • jampang Januari 21, 2014 / 16:00

        insya Allah…. insya Allah…. *ada jalan*

        #eh

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s