Jejak Langkah Seorang Penulis Yang Sudah Punya Nama

Jejak-jejak yang Terserak. Dapatkan di Toko Buku Gramedia

Setiap rangkaian kata yang membentuk cerita di bawah ini adalah hasil karya dari seorang penulis yang sudah punya nama dan sudah menghasilkan banyak tulisan dan beberapa buku. Penulis itu adalah saya sendiri.

Saya menulis kalimat di atas bukan maksud untuk menyombongkan diri. Jika saya bermaksud demikian, saya akan menulis dengan kalimat “seorang penulis yang sudah terkenal”.

Pada kenyataannya, saya memang penulis. Penulis, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya adalah orang yang menulis. Jadi menurut saya pribadi, siapa pun orangnya yang sudah membuat sebuah tulisan baik panjang atau pendek, maka orang tersebut disebut sebagai penulis. Saya membuat tulisan ini, maka saya adalah seorang penulis.

Pada kenyatannya lagi, sejak beberapa hari setelah saya terlahir di muka bumi ini, kedua orang tua saya sudah memberikan sebuah nama untuk saya, Rifki. Jadi tak salah jika saya memproklamirkan diri sebagai seorang penulis yang punya nama. Sebab jika tidak punya nama, bagaimana teman-teman saya dan anda memanggil saya?

*sebuah pendahuluan yang aneh*

Saya pernah mendengar dan membaca dua buah kalimat bijak yang terkait erat dengan dunia kepenulisan dan mungkin bisa dijadikan sebuah motivasi seseorang yang berkeinginan untuk terjun ke dalam dunia kepenulisan atau sekedar ingin menulis. Dua kalimat itu berbunyi :

“Jika engkau bukan anak raja, bukan pula anak ulama besar, maka jadiah seorang penulis.”

“Jika kamu ingin dikenang berpuluh-puluh tahun, maka tanamlah pohon. Jika ingin dikenang ratusan tahun, maka menikahlah. Jika ingin dikenang ribuan tahun maka menulislah.”

Pada awalnya, menulis  bukanlah hobi saya. Lain halnya dengan mencatat. Saya suka mencatat. Terutama ketika saya duduk di bangku sekolah dan kuliah. Ketika guru menjelaskan pelajaran di depan kelas, maka saya akan mencatat poin-poin pentingnya. Ketika saya tidak mempunyai buku sebuah mata pelajaran, maka saya akan meminjam buku tersebut dari seorang teman, membawanya pulang, dan membuat rangkuman ke dalam sebuah buku catatan.

Menulis menjadi hobi saya mungkin ketika saya mulai bekerja dan mengenal internet. Mungkin sekitar tahun 2003 – 2004. Adalah seorang Bayu Gawtama yang saat itu menjadi inspirasi saya untuk menulis. Kala itu, secara rutin saya sering mengunjungi dan membaca tulisan-tulisan di dalam blog beliau. Tulisannya sederhana, mudah dicerna, namun mengena di hati. Kebanyakan tulisannya tentang kejadian sehari-hari yang beliau lihat, dengar, dan rasakan, yang kemudian dituangkan dalam sebuah tulisan. Saya ingin meniru beliau. Lalu saya mulai belajar menulis dengan memanfaatkan blog sebagai sarana.

Saya tidak tahu bagaimana teknik dan cara menulis yang baik. Saya belum pernah mengikuti pendidikan ataupun pelatihan di bidang kepenulisan. Saya hanya menulis apa yang ingin saya tulis, lalu mempublikasikannya ke dalam blog. Jika ada yang tertarik, maka setiap orang bisa membacanya dan mengomentarinya.  Jika tidak ada yang tertarik, bukan masalah bagi saya. Saya hanya melakukan apa yang ingin saya lakukan dan itu tidak mengganggu kepentingan orang lain.

Mungkin karena saya tidak mengerti tentang ketentuan bagaimana cara membuat sebuah tulisan yang baik, maka saya menulis tanpa ada batasan. Tanpa ada beban. Apa pun tema yang muncul, saya tulis. Begitu ada ide, saya tulis. Ketika saya teringat akan suatu peristiwa, maka saya akan menceritakannya kembali dalam bentuk tulisan.

Motivasi lain yang mungkin mendorong saya untuk menulis adalah ucapan salah seorang kerabat dalam sebuah acara keluarga. Beliau bekerja di bidang jurnalistik. Apa yang beliau sampaikan saat itu adalah nasihat dari sang ayah yang kira-kira berbunyi seperti berikut :

“Kalau loe jadi penceramah, paling-paling yang dengerin ceramah loe cuma segelintir orang, seratus sampe lima ratus orang, itu mungkin sudah hebat. Tapi kalau loe nulis, ribuan bahkan ratusan ribu orang bise bace tulisan loe. Apelagi kalo loe bise nyelipin nasihat-nasihat yang bakalan ngasih manfat dan bikin sadar banyak orang.”

Jika disamakan dengan sebuah benda, saya menganggap sebuah tulisan itu ibarat air yang mengalir. Jika air bisa mengubah tanah yang gersang menjadi hijau, maka tulisan mungkin bisa mengubah seseorang yang tidak baik menjadi baik, yang sedang berputus asa menjadi semangat kembali, yang kecewa karena mengalami kegagalan bisa bangkit dan mencoba lagi.

Ketika alirannya terhalang, air akan mencari celah sekecil apa pun untuk bisa mengalir. Tanpa memaksa. Maka tulisan yang baik adalah tulisan yang mengalir senada dengan irama kehidupan pembacanya. Tulisan yang baik akan mengajak hati pembacanya tanpa memunculkan kesan mengejek, akan merangkul perasaan bukan memukul jiwa pembacanya, akan menyandingkan kalbu bukan mengedepankan arogansi.

Menulis adalah salah satu bentuk kreatifitas. Seperti kreatifitas yang lain, bisa jadi seseorang yang akan menulis akan mengalami berbagai hambatan dan kendala.

Pertama adalah malas. Sehebat apa pun ide yang didapat, serapi apa pun rencana yang disusun, tak akan bisa menjadi kenyataan jika ada kemalasan di dalam pengerjaannya.

Kedua, adalah kesehatan. Orang yang sakit akan kesulitan untuk merealisasikan idenya. Penulis yang sakit, kemungkinan akan memilih untuk menyembuhkan sakitnya terlebih dahulu dibanding menulis. Jika dipaksakan, mungkin si penulis tak akan maksimal dalam menyelesaikan  tulisannya. Hasil tulisannya mungkin banyak mengalami kesalahan ketik ataupun penyelesaiannya akan lebih lama dibandingkan jika dikerjakan ketika dirinya fit.

Ketiga adalah lupa. Manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Jika ide tidak dituangkan dengan segera, bisa jadi ide itu segera menguap dan tak berbekas. Sebuah ide yang datang harus segera diikat. Cara mengikat ide tersebut adalah dengan menuliskannya. Saat ini banyak wadah yang bisa dijadikan tempat untuk menyimpan sebuah ide tulisan. Handphone, status di facebook, twitter, atau sarana lain yang mudah digunakan. Setelah ada waktu luang, maka ide tersebut bisa dikembangkan.

Setelah aktif menulis dan menghasilkan cukup banyak tulisan, beberapa teman blogger memberikan komentar bahwa beberapa tulisan saya layak untuk dibukukan.

Di pertengahan tahun 2011, saya membaca sebuah penggumuman lomba yang bertajuk “Booking Your Blog!”. Tujuan lomba adalah untuk mencari bog-blog yang berisikan tulisan-tulisan menarik untuk kemudian disaring dan dibukukan. Saya pun mendaftarkan diri sebagai salah satu bentuk usaha untuk mewujudkan mimpi, membukukan tulisan-tulisan saya. Namun di akhir lomba, blog saya tidak terpilih.

Saya pun menemukan beberapa cara yang bisa ditempuh untuk membukukan tulisan-tulisan di dalam blog saya. Cara tersebut adalah menerbitkan secara indoe baik offset maupun Print on Demand (POD) dan mengajukan naskah ke penerbit major. Tentunya, ada kelebihan dan kekurangan dari masing-masing cara tersebut.

Setelah mempertimbangan kelebihan dan kekurangan antara menerbitkan buku secara indie atau melalui penerbit major, akhirnya saya memutuskan untuk menerbitkan buku perdana saya secara indie. Pada bulan Oktober 2011, buku pertama saya yang berjudul “Jejak-jejak yang Terserak” terbit. Saya memilih mencetak buku secara offset. Modal yang saya gunakan berasal dari honor menyusun buku atau modul yang saya terima beberapa waktu sebelumnya.

Adalah atasan saya, seorang direktur dan juga pejabat eselon II, yang memberikan apresiasi besar terhadap buku tersebut dan kemudian selalu bertanya tentang kapan edisi selanjutnya terbit. Pertanyaan yang mungkin sepele namun memberikan motivasi yang kuat bagi diri saya untuk menerbitkan buku selanjutnya.

Selanjutnya saya mencoba untuk mengajukan naskah buku yang sama ke salah satu penerbit major  melalui seorang kontak yang merupakan pegawai di penerbit tersebut. Hasil review penerbit menyatakan bahwa naskah tersebut belum layak untuk dibukukan.

Sekitar bulan Oktober 2012, saya menerbitkan buku “Jejak-jejak yang Terserak” jilid II. Saya tetap memilih jalur indie seperti sebelumnya. Namun dengan sistem Print on Demand. Selain buku “Jejak-jejak yang Terserak” jilid II, di waktu yang hampir berdekatan saya juga menerbitkan beberapa buku lainnya dengan cara indie dengan sistem POD. Buku-buku tersebut adalah Novel “Perempan Berjilbab Kuning”, Kumpulan Cerita Pendek “Lelaki dan …”, serta dua buah buku puisi berjudul “Rima Perjalanan Cinta” dan “Rima Perjalanan Jiwa”.

Di bulan April atau Mei 2013, saya membaca sebuah status di Facebook yang intinya berupa penawaran bagi siapa saja yang mempunyai naskah sebuah buku yang bernuansa Islam bisa mengirimkannya ke penerbit tersebut. Terintas di dalam pikiran saya untuk mengirimkan kembali naskah “Jejak-jejak yang Terserak” yang sudah saya gabungkan antara jilid I dan II.

Ada keraguan dalam diri saya apakah naskah yang sudah pernah dipublikasikan di internet dan dibukukan secara indie masih bisa diterbitkan oleh penerbit major. Untuk menghapus keraguan tersebut akhirnya saya mengajukan pertanyaan langsung ke penerbit dan ternyata bisa.

Alhamdulillah, di bulan Oktober 2013, naskah yang saya kirim sudah bertransformasi menjadi sebuah buku. Semoga saja, buku tersebut bisa menginspirasi dan memberikan manfaat untuk banyak orang. Aamiin.

 


Tulisan Terkait Lainnya:

40 respons untuk ‘Jejak Langkah Seorang Penulis Yang Sudah Punya Nama

    • jampang Februari 14, 2014 / 11:00

      terima kasih, mbak.
      nggak ikutan?

      • ayanapunya Februari 14, 2014 / 11:25

        Kayaknya nggak. Saya udah makin jarang nulis nih 😦

      • jampang Februari 14, 2014 / 11:38

        sibuk banget kayanya yah 😀

      • ayanapunya Februari 15, 2014 / 10:22

        Nggak juga. Memang nggak ada ide nulis 😦

      • jampang Februari 15, 2014 / 10:59

        Oooooh… Begitu…. Ya… Ya….
        Mudah2an bisa bertemu lagi dengan si ide

    • New Rule Februari 15, 2014 / 06:35

      Yaaaa, mana Selinaaaaa

      • jampang Februari 15, 2014 / 07:53

        ayo mbak semangat…. setiap episodenya bisa dibikinin ilustrasinya sama mas roel 😀

      • ayanapunya Februari 15, 2014 / 08:29

        Belum ada, mas. Lagi mandek 😦
        Yang terakhir yang judulnya wedding day

  1. capung2 Februari 14, 2014 / 17:23

    sya pengen bnget bisa bikin postingan cerita spt sobat @Jampang..

    sukses ya !

    • jampang Februari 14, 2014 / 18:49

      Insya Allah bisa, mas.

      Terima kasih

  2. fenny Februari 14, 2014 / 17:42

    Smoga sukses …
    Buku selanjutnya kpn keluar nih … 😀

    • jampang Februari 14, 2014 / 18:48

      Terima kasih. Belum tahu kapan 😀

      • fenny Februari 15, 2014 / 16:57

        Tulisan yg wkt itu blm dpt accnya?
        Wahhh jgn2 krn saya ikutan comment nih … 😀 *uppsss ngga ngaruh ye*

      • jampang Februari 15, 2014 / 17:23

        Udah direview dan hasilnya belum bisa diterbitkan

      • fenny Februari 15, 2014 / 20:49

        Yahhh … sayang banget, mgkn d lain wkt nnt ada kesempatan n keberuntungan lg … Secara tulisannya makin bagus, kreatif n menang trus lg … 😀

      • jampang Februari 15, 2014 / 21:08

        Ya mudah2an. Emang ada niat nyoba ke penerbit lain

  3. Ririn Setia Februari 14, 2014 / 18:31

    wah jadi pengen nih bisa bikin buku sendiri, sepertinya asyik ya mas. Tapi harus berjuang dulu ya 🙂

    • jampang Februari 14, 2014 / 18:48

      Mudah2an bisa. Ya mengalir aja. Bikin tulisan yang banyak. Pasti di antara tulisan itu ada bagus. Nah yg bagus dipilih terus dibukukan 😀

    • jampang Februari 14, 2014 / 21:01

      terima kasih, mbak 😀

  4. pursuingmydreams Februari 14, 2014 / 22:03

    Gunakan self publishing ya?, semoga sukses ya bukunya 😉 .

    • jampang Februari 15, 2014 / 05:19

      Awalnya self publishing, mbak. Kemudian dua buku yang judulnya sama dan berseri saya gabung dan ajukan ke penerbit major, Elex Media Komputindo. Lolos dan diterbitkan oleh divisi Quanta. Jadi bisa dibeli di toko Buku Gramedia

      • pursuingmydreams Februari 15, 2014 / 05:30

        Ooo begitu selamat ya diterbitkan penebit besar 🙂 .

      • jampang Februari 15, 2014 / 07:52

        terima kasih, mbak 😀

  5. Gusti 'ajo' Ramli Februari 15, 2014 / 06:58

    Moga sukses lombanya.. penulia adalah profesi yg tak pernah lekang oleh waktu..

    • jampang Februari 15, 2014 / 07:54

      ah…. saya teringat dengan kalimat bijak, jika ingin dikenang ribuan tahun, maka tulislah sebuah buku 😀

      terima kasih

  6. edi padmono Februari 15, 2014 / 07:11

    Mudah mudahan benar-benar menjadi penulis yang terkenal dan menginpirasi banyak orang.

    • jampang Februari 15, 2014 / 07:55

      aamiin. tentunya harus banyak belajar lagi untuk memperbaiki kwalitas 😀

  7. titi esti Februari 16, 2014 / 15:47

    Wah, enak banget tuh… punya bos level es. II yang mendukung.

    • jampang Februari 16, 2014 / 16:20

      Tp sekarang beliaunya udah pindah. Waktu nulis jilid I, satu buku pernah dibeli seharga 200.000. Terus beli 20 buki lagi. Waktu jilid II dibeli 10.

      😀

  8. Uniek Kaswarganti Maret 20, 2014 / 14:01

    Mupeng euy pengin punya buku solo kayak Mas Rifki. Semoga sukses terus di dunia tulis menulis ya Mas 🙂

    • jampang Maret 20, 2014 / 16:20

      terima kasih, mbak.
      dicoba aja….buat naskahnya terus ngajuin. siapa tahu bisa lolos 🙂

    • jampang Mei 6, 2014 / 15:09

      terima kasih atas infonya

  9. Kang Miftah Juli 12, 2014 / 05:45

    sepertinya harus belajar banyak untuk membuat sebuah karya

    • jampang Juli 12, 2014 / 05:55

      iya. mari kita terus belajar 😀

  10. Cara Membuat Akun Maret 30, 2016 / 22:37

    saya seorang yang suka banget menulis,,, tapi juga suka membuang tulisan…
    entah kenapa saat saya memegang kertas dan pena semangat sekali untuk menulis hingga selesai dan tak terasa itu panjang sekali !
    tapi saat saya membacanya berhari hari berulang ulang selalu berasa tak nyaman dengan tulisan saya sendiri
    seperti ada yang kurang tapi saya tidak tahu itu

    • jampang Maret 31, 2016 / 07:58

      sayang kalau dibuang…. kalau disimpan kan bisa diperbaiki di waktu2 berikutnya kalau dapat ide baru

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s