Tamu Tak Diundang

kartu_undangan
“Selamat Datang Para Tamu dan Undangan”. Tulisan itu mungkin sedikit mewakili sang tuan rumah ketika para tamu dan undangan mulai berdatangan ke acara resepsi pernikahan anggota keluarganya. Para tamu dan undangan lalu memberikan selamat dan doa kepada sepasang pengantin yang sedang duduk mesra di pelaminan untuk selanjutnya menikmati aneka menu hidangan yang tersaji.

*****

“Siapa yang ngawinin, Bu?” Tanya seorang tamu kepada Nenek Minyu.

“Ibu. Ngawinin cucu.” Jawab Nenek Minyu.

“Kapan?”

“Kemarin.”

“Oh, pantesan kemarin sempat lewat dan ngeliat tenda dipasang. Kirian siapa. Kalau tahu ibu yang ngawinin, saya bakalan datang.” Ucap sang tamu.

Saya yang sedang duduk tak jauh dari tempat keduanya bicara hanya menyimak percakapan tersebut.

Dahulu, Ibu sering meminta saya mengantarkan beliau ke sebuah acara resepsi pernikahan. Biasanya ibu mengajak saya masuk untuk sekedar menikmati makanan di acara tersebut. Apalagi yang melakukan pernikahan masih ada pertalian keluarga meksi jauh. Seringnya saya menolak dengan alasan pakaian saya tidak cocok untuk berada di antara para tamu dan undangan meskipun pernah juga saya memenuhi permintaan ibu.

Beberapa hari yang lalu, ketika tiba di rumah, saya menemukan sebuah undangan. “Rifki dan Istri”, begitu kalimat yang tertulis di atas surat undangan tersebut. Jika membacanya sekilas, maka yang diundang adalah hanya saya dan Minyu saja. Tidak ada anggota keluarga lain.

Lantas bagaimana jika saya mengajak Syaikhan ke resepsi tersebut?
Apakah bermasalah? Apakah Syaikhan diperbolehkan datang dan menikmati makanan yang tersaji di sana sementara namanya tidak disebutkan di dalam undangan?
Lalu bagaimana jika seseorang yang bicara dengan Nenek Minyu itu datang padahal dirinya tidak diundang?
Bagaimana pula dengan saya yang memenuhi keinginan Ibu untuk menikmati makanan di acara pernikahan sementara saya tidak diundang?

Untuk mencari jawaban atas pertanyaan itu, saya membuat sebuah status di facebook.

di atas undangan pernikahan tertera tulisan “kepada yth Rifki & Istri”. bermasalah nggak kalau saya bawa anak?

Beberapa saat kemudian, muncul beberapa komentar. Baik yang serius ataupun bercanda.

  • Yg bermasalah klo bawa istri orang fren…
  • Kaga lah, kalau ada anak berarti ada istri. kalau bawa istri aja lom tentu ada anak heheheee
  • ojo disulit2in mas…
  • Bukannya sudah menjadi sebuah keumuman Mas? Kan anaknya masih kecil. Kecuali anaknya sudah punya istri dan anak…trus dibawa semua.. hehehe
  • bermasalah kalau ngajak anak buah sekantor.
  • Seharusnya rifki dan keluarga ya….

Sore ini, saya lakukan pencarian untuk menjawab pertanyaan tersebut. Hasilnya, saya mendapatkan sebuah artikel tanya jawab di http://www.konsultasisyariah.com/. Berikut petikannya.

Dibolehkan untuk datang ke walimah seseorang sementara kita tidak diundang, jika terpenuhi dua syarat:

1. Mendapat izin dari tuan rumah.
2. Tuan rumah tidak merasa keberatan untuk menerima tamu tak diundang tersebut.

Dari dua persyaratan di atas, syarat kedua adalah syarat terpenting. Karena kita boleh datang tanpa harus meminta izin tuan rumah jika diyakini orang yang mengundang tidak merasa keberatan dengan kedatangannya. Sebaliknya jika hanya diizinkan, namun tuan rumah diyakini merasa keberatan menerima kehadiran orang yang tidak diundang, maka orang tersebut tidak boleh ikut. Karena bisa jadi tuan rumah basa-basi, merasa tidak enak, malu, pekewoh ketika memberi izin.

Dari Abu Mas’ud Al Anshari radhiallahu ‘anhu, dia mengatakan, “Ada seorang Anshar yang bernama Abu Syu’aib. Suatu hari dia melihat tanda-tanda lapar di wajah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian dia perintahkan anaknya untuk membuatkan makanan dan mengundang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama empat sahabat lainnya. Namun ada seorang yang ikut (tanpa undangan). Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Anda mengundang kami lima orang, tapi ini ada satu orang yang ikut. Jika mau Anda bisa menginzinkan dan jika tidak akan aku tinggalkan (tidak diikutkan acara makan)’. Orang Anshar tersebut menjawab, “Aku izinkan.” (HR. Muslim)

Adapun dalil bolehnya menghadiri walimah sementara kita tidak diundang, tanpa harus meminta izin jika diyakini tidak merasa keberatan adalah kisah Abu Thalhah radhiallahu ‘anhu yang menyuruh istrinya Ummu Sulaim radhiallahu ‘anha untuk membuatkan makanan karena Abu Thalhah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu lemah disebabkan rasa lapar. Anas radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Kemudian aku disuruh menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku berangkat dan bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjid bersama banyak orang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Kamu disuruh Abu Thalhah? Acara makan-makan?‘ Anas menjawab, ‘Ya’. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada semua yang di masjid, ‘Berdiri semua‘. Kemudian kami berangkat bersama-sama.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Sedangkan dalil terlarangnya makan harta orang lain kecuali jika pemiliknya ridla sepenuhnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Dari Abu Humaid As Sa’idi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak halal bagi seseorang untuk mengambil harta saudaranya tanpa kerelaan penuh dari pemiliknya.” (HR. Ahmad 23654, Syaikh Al Arnauth: Sanadnya shahih). Sebagian ulama menjadikan hadis ini dalil terlarangnya seseorang mengambil harta pemberian orang lain karena malu, sementara dia tahu bahwa sebenarnya dia tidak ingin memberikan hartanya. (lih. Fatwa Yas’alunak, Dr. Hissamuddin ‘Affanah).

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang menghadiri acara makan-makan padahal tidak diundang, maka dia masuk rumah sebagaimana pencuri dan pulang dalam keadaan membuat jengkel pemilik rumah.” Hadis ini dla’if, sebagaimana dijelaskan Al Hafidz Al Haitsami dan Syaikh Al Albani. Namun banyak ulama menjadikan hadis ini dalil terlarangnya menghadiri acara orang lain tanpa sepengetahuan pemilik acara. Syaikhul Islam ditanya tentang makna hadis ini, beliau memberikan jawaban:

“Makna hadis bahwasanya orang yang mendatangi undangan tanpa izin pemilik acara maka dia masuk ke acara tersebut secara diam-diam seperti pencuri dan makan tanpa kerelaan tuan rumah dan mereka malu untuk melarangnya, sehingga dia keluar seperti orang yang membuat marah tuan rumah karena telah mengambil hartanya dengan paksa.” (Majmu’ Fatawa, 32:207).

Penulis kitab Al Mirqot mengatakan, “Kesimpulannya, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada umatnya akhlaq-akhlaq yang mulia dan melarang mereka dari akhlaq-akhlaq yang tercela. Tidak menghadiri undangan tanpa udzur menunjukkan sikap sombong, bodoh, dan tidak adanya kasih sayang dan rasa cinta (kepada yang mengundang, pen.). (sebaliknya) menghadiri acara makan-makan tanpa undangan menunjukkan jiwa yang rakus, niat yang buruk, dan menyebabkan harga dirinya rendah. Maka sikap yang terpuji adalah sikap pertengahan diantara dua sikap di atas. (dinukil dari Aunul Ma’bud, 8:244).


Tulisan Terkait Lainnya :

24 respons untuk ‘Tamu Tak Diundang

  1. aqied Maret 20, 2014 / 19:11

    Kalo misal dpt undangannya untuk rombongan gitu gimana ya , mas? Misal “kepada Divisi Hura Hura Kantor Cabang Hahahaha” gitu yg masuk di wajib dan mubah siapa aja ya

    • jampang Maret 20, 2014 / 19:17

      kurang ngerti, mbak. mungkin disesuaikan dengan kebijakan kantor kali yah. apakah semuanya harus atau ada perwakilan aja.

  2. Mirna Maret 20, 2014 / 19:36

    Terkadang, ada undangan yang menyebutkan si A dan pasangan. Ada peraturan tak tertulis kalau sebaiknya tidak membawa anak karena dikhawatirkan mengganggu jalannya acara. Begitu yang saya tahu, sih.

    • jampang Maret 20, 2014 / 19:56

      Ooo… Ada yg seperti itu ya, mbak?
      saya seh mikirnya jatah makanan aja akan berkurang buat tamu yg lain. Kalau anak masih kecil mungkin nggak masalah karena bisa diambil dari makanan ortunya 😀

  3. pinkvnie Maret 20, 2014 / 20:22

    nahhh klo dpt undangan yg asal undang, tiba2 d rmh ada undangan tp ngga d tls n krg kenal dgn nama yg dituju, pas ketemu sambil kasih undangan cm bilang “salam ya buat ibu”, krn org yg ngasih cm suruhan ja agar undangan cpt hbs tp ngga knl ma yg ngundang
    itu gmn???

    • jampang Maret 21, 2014 / 05:19

      ada yang gitu yah?
      kalau itu namanya undangan yang tak dikenal 😀

      kurang paham kalau yang begitu, tapi biasanya seh di betawi kalau ngundang ketemu tuan rumah cukup lisan aja inget, kalau nggak ketemu baru deh nitip undangan…. dan pastinya kenal

      • pinkvnie Maret 21, 2014 / 07:06

        Undangan yg kyk gitu srg dpt … Biasanya ngebayar org buat sebarin undangan, jd yg d undang yg d knl ma org yg d byr …
        Pas dtg k tmptnya tuan rumah n ortu ngga slg kenal …

      • jampang Maret 21, 2014 / 08:07

        koq bisa yah?
        kalau di rumah yang nyampe seh kenal dengan ortu

      • pinkvnie Maret 21, 2014 / 13:00

        nggak ngerti jg kenapa bs … mungkin over cetak undangan kali ye daripada sayang kebuang2 … 🙂

      • jampang Maret 21, 2014 / 13:22

        😀
        berarti yang ngasih undangan nggak bertanggung jawab

  4. ysalma Maret 20, 2014 / 21:59

    untuk undangan makan-makan memang harus jelas ya.
    undangan dari sekolah juga seperti itu sekarang, seperti acara buka puasa bersama, karena ada biaya yang dibebankan,
    anak laki ditemani ayahnya, anak perempuan ditemani ibunya, peraturan tak tertulis, tapi ada juga yang bawa keluarga serombongan. gimana ya

    • jampang Maret 21, 2014 / 05:22

      kalau ada peraturan yang tak terulis dan berlaku umum, pastinya para ortu sudah faham. nah kalau yang bawa rombongan, mungkin berlaku ketentuan yang saya kutipkan itu yang ada beberapa hadits dan kesimpulannya, mbak

  5. lazione budy Maret 21, 2014 / 01:19

    ah ribet, kita datang saja sudah senang tuan rumah.
    Yang penting jangan bawa musuh dan pedang saja itu sudah cukup.

    • jampang Maret 21, 2014 / 05:23

      😀
      jawabannya seperti yang komen di facebook berarti… janan dibukin sulit

  6. New Rule Maret 21, 2014 / 01:53

    hahaha,,,adik saya bikin tulisan serupa tapi tak sama …

    • jampang Maret 21, 2014 / 05:24

      iyakah? mana linknya? di wordpress juga?

      • New Rule Maret 23, 2014 / 06:01

        bukan di blogspot …gak bisa post link di sini kayaknya

      • jampang Maret 23, 2014 / 06:49

        yah…. nggak bisa follo2an 😀

  7. danirachmat Maret 21, 2014 / 16:46

    Wah gitu ya Bang. pernah datang ke undangan pernikahan tapi yang diundang cuma istri. DIa gak mau berangkat kalo sendiri, tempatnya jauh dan susah kendaraan umumnya. Lha kalo anak gak diajak gak ada yang jaga di rumah. kalo diajak ya makan sih meskipun puding saja (anaknya picky eater). Gimana itu Bang?

    • jampang Maret 21, 2014 / 23:11

      Seperti komentar teman saya di FB, mas…. Jangan dibikin sulit 😀

      Kalau berdasar keterangan di atas, asal tuan rumah mengizinkan dan rela… Ya nggak masalah

  8. ira nuraini Maret 24, 2014 / 03:50

    Aq pernah ini jadi tamu tak diundang…waktu mau nikahan, dan perias mantenku ada acara di 1 gedung dan lagi pake catering yg bakalan aq pake utk resepsi juga. Jd beliaunya mnt aq dtng ke acara penganten lain..untuk nyoba masakannya. Dateng sih bawa amplop juga layaknya tamu, bnran ada isinya lho bkn amplop kosong…dan begitu nyampe dpn manten nya ternyata tmn sekolah, untung itu manten lupa2 inget..aq pura2 ga kenal ajaaa,maluuuu…

    • jampang Maret 24, 2014 / 05:12

      asal jangan pengantennya curiga, jangan-jangan ini mantan suamiku 😀

  9. azitafebriani Maret 25, 2014 / 11:31

    pengalaman saya sejak tinggal disini mas, kalau undangan hanya ditulis untuk si istri misalnya…si suami ga akan datang karena merasa ga diundang.
    waktu itu saya yang baru pindah dari jakarta dan udah terlanjur nulis undangan sesuai dengan kebiasaan disana sampai harus bongkar label undangan dan ketik ulang tujuan undangan jadi suami & istri atau untuk si X beserta keluarga..hehe

    • jampang Maret 25, 2014 / 12:34

      lain daerah emang lain kebiasaan, mbak. kalau beserta keluarga… bisa bebas ngajak anggota keluarga yang mana aja 😀

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s