Dan Setiap Kisahmu Akan Dibukukan

google image
google image

Seperti yang pernah saya singgung sedikit sebelumnya, di antara sekian coretan yang ada di blog ini, terdapat beberapa coretan yang sengaja dibuat untuk mengikuti ajang lomba atau give away. Sebagian menjadi karya terpilih dan mendapatkan hadiah. Sebagian dari hadiah-hadiah tersebut berupa buku. Yup. Buku yang bercerita tentang kisah fiksi ataupun non fiksi. Buku yang ditulis oleh seorang penulis.

Ketika para penulis itu menggoreskan tinta di atas kertas atau menggerak-gerakkan jemarinya di atas keyboard komputer atau laptop maka di saat yang sama ada sosok penulis lain yang sedang mengabadikan momen tersebut. Ketika saya mengetik coretan ini dan beberapa waktu kemudian anda membacanya, maka akan ada goresan pena yang akan mengabadikan peristiwa tersebut.

Jika seorang penulis cerpen hanya mengisahkan sebuah kejadian atau peristiwa istimewa yang dialami sang tokoh, maka semua kisah atau peristiwa yang dialami si penulis akan tercatat secara utuh. Jika seorang penulis novel hanya mengambil cuplikan-cuplikan dari setiap alur dan setting di mana sang tokoh beraksi, maka aksi penulis di setiap alur dan setting kehidupannya akan tercatat dengan lengkap. Jika penulis puisi megabadikan irama kehidupan seseorang dalam beberapa bait-bait berima, maka ritme hidup penulisnya akan diabadikan dalam rima yang tak terputus hingga bait kehidupannya menjadi sempurna.

Jika para penulis membutuhkan jeda waktu untuk rehat sejenak di sela-sela aktifitasnya untuk menyempurnakan cerita, maka kisah nyata si penulis akan terus berlanjut hingga perjalanan waktu yang akan menghentikannya. Jika para penulis bisa menonjolkan suatu peristiwa dan menafikan peristiwa lain agar sebuah cerita lebih menarik, maka jalan cerita sang penulis akan diungkapkan seluruhnya tanpa ada yang disembunyikan. Jika para penulis sering melakukan kesalahan dalam penulisan aksara, penggunaan tanda baca, dan penggambaran peristiwa, maka tak ada cela bagi sosok penulis lain yang sedang mencatat apa yang sedang dilakukan oleh penulis tersebut.

Sungguh, setiap kisah anak manusia akan dibukukan.

“Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al Infithaar 10 – 12)

*****

Hari-hari dalam kehidupan yang dijalani oleh setiap orang, mungkin bisa diibaratkan dengan sebuah buku harian. Tipis-tebalnya halaman tidak bisa diketahui. Itu adalah jatah umur di dunia ini. Jumlahnya akan selalu menjadi misteri karena seseorang hanya bisa berpindah satu halaman setiap harinya. Seluruh kejadian yang dilakukan setiap harinya merupakan cerita atau kisah yang dituliskan di setiap halamannya. Mungkin saja cerita atau kisah tersebut mendatangkan banyak manfaat baik bagi si penulis, maupun bagi si pembaca. Namun ada juga kalanya, kisah di dalam buku harian tersebut mengundang antipati dari para pembaca.

Bagian awal buku harian yang berupa sampul depan berisi nama dan tanggal lahir kita. Mungkin ada juga beberapa informasi mengenai keadaan kita saat lahir seperti jenis kelamin, berat badan, panjang badan, serta di mana kita dilahirkan. Di halaman awal mungkin terdapat kata pengantar yang dibuat oleh kedua orang tua kita dan orang-orang yang merindukan kelahiran kita di dunia ini. Mereka menuliskan berbagai harapan yang mungkin di antaranya adalah agar kita yang saat itu masih merah dan tak mengerti apa-apa, kelak menjadi manusia yang hebat, manusia yang bisa mendatangkan manfaat untuk keluarga dan masyarakat.

Ketika seseorang sudah bisa menulis sendiri di halaman buku harian tersebut, maka mulailah ia memiliki kendali penuh atas kehidupannya. Kisah kehidupannya pun dimulai. Apa pun yang ia lakukan akan menjadi tanggung jawabnya sendiri.

Sebagian orang mungkin memiliki kisah yang indah sehingga banyak orang-orang yang membacanya termotivasi dan ingin meniru langkah-langkah dalam kisah tersebut. Adakalanya kisah seseorang jauh dari keindahan sehingga tak ada orang yang mau membacanya. Alih-alih membaca, menyentuh buku tersebut pun sepertinya tak sudi.

Namun demikian, sejelek atau seburuk apa pun cerita atau kisah yang kita tuliskan di halaman yang lama, kita tidak bisa menghapusnya. Jangankan menghapus cerita yang sudah kita tulis, untuk kembali ke halaman sebelumnya saja diri kita tidak memiliki kemampuan. Yang masih menjadi milik kita adalah halaman-halaman baru di buku harian kita tersebut. Kita masih punya halaman berikutnya yang masih putih bersih, tak ada noda setitik pun.

Halaman-halaman baru yang masih baru tersebut adalah waktu yang tersisa yang merupakan karunia dari Allah. Jangan pernah menyia-nyiakannya. Tulislah kisah atau cerita seindah mungkin, untuk memperbaiki keburukan di halaman-halaman sebelumnya, selama kita masih memiliki pena dengan tinta yang masih bisa digunakan. Jangan terpengaruh dengan masalah-masalah di halaman yang sudah berlalu agar kita tidak terbelenggu dan patah semangat.

Dan di bagian akhir buku yang berisi riwayat penulis dan sampul belakang, itulah akhir dari kehidupan kita. Kita tak bisa menulis sesuatu di sana. Biarlah orang lain yang menulis dengan sejuta kenangan indah tentang kita. Biarlah mereka mengungkapkan kebahagian yang pernah mereka rasakan bersama kita. Akan ada doa-doa yang mereka lantunkan untuk kebaikan diri sebagai pelengkap diri kita yang mungkin pergi masih dalam kondisi serba kekurangan untuk menghadap Sang Maha Kuasa. [sumber tulisan]


Tulisan Terkait Lainnya :

22 respons untuk ‘Dan Setiap Kisahmu Akan Dibukukan

  1. Gusti 'ajo' Ramli Maret 26, 2014 / 19:31

    Dan apa yang ditulis malaikat itu akan kita pertanggungjawabkan ya bang.

  2. ysalma Maret 26, 2014 / 19:50

    berat,
    kisahku kisah seorang hamba yang masih terus belajar,
    entah bisa terbukukan, atau malah masih berupa tumpukan kertas,
    yang perlu pertanyaan panjaaang untuk menyusunnya.

    • jampang Maret 26, 2014 / 21:19

      yang pasti dibukukan dan dicatat oleh kiraaman kaatibiin

    • jampang Maret 26, 2014 / 21:20

      jika memang dunia ini panggung sandiwara 😀

    • jampang Maret 27, 2014 / 05:13

      tapi merenungnya jangan di toilet yah 😀

      • desinamora Maret 27, 2014 / 05:16

        hahhaa, lebih khusyuk biasanya 😀

      • jampang Maret 27, 2014 / 05:20

        aromanya membawa pikiran bisa melanglang buana yah 😀

      • desinamora Maret 27, 2014 / 11:24

        hahahha, bisa bisaaa 🙂

      • jampang Maret 27, 2014 / 11:25

        😀

  3. Yudhi Hendro Maret 27, 2014 / 09:50

    jadi peringatan supaya lebih berhati-hati karena apa yg kita lakukan langsung diawasi

  4. eda Maret 27, 2014 / 10:34

    baca judulnya, langsung ngeh dan merinding.. apa2 yang dilakukan selalu dalam pengawasanNya…

    • jampang Maret 27, 2014 / 10:54

      teman saya yang baca status seperti itu di FB malah bilang…. “mau donk dibikinin buku” 😀

  5. cumilebay.com Maret 27, 2014 / 12:12

    Baca postingan ini jadi mikir mikir hehehe …. Apapun tingkah laku kita mmg harus bisa di pertanggung jawabkan dan tercatat buat kita nanti di akhirat.

    • jampang Maret 27, 2014 / 13:13

      kita seharusnya memang berhati-hati, mas 😦

  6. Rahmat_98 Maret 27, 2014 / 14:36

    Kita masih punya halaman berikutnya yang masih putih bersih, tak ada noda setitik pun. Jangan menyianyiakannya. Semoga saya bisa lebih berhati-hati dalam bertingkah laku….

    • jampang Maret 27, 2014 / 15:01

      demikian juga dengan saya, mas 😦

  7. puteriamirillis Maret 28, 2014 / 15:10

    Tulisan itu merupakan sejarah kehidupan kita ya mas…

    • jampang Maret 28, 2014 / 15:13

      yup. dan sejarah kita pun selalu ditulis oleh sosok yang mendampingi kita di mana saja dan kapan saja

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s