Giveaway Antara Dongeng Kancil dan Burung Hudhud

syaikhan dan abi bobo


si kancil anak nakal

suka mencuri mentimun
ayo lekas ditangkap
jangan diberi ampun

Saya pernah mendengar lirik lagu tersebut dinyanyikan oleh seseorang di masa kecil. Di masa itu, Saya juga pernah menyanyikannya. Mungkin sekali atau dua kali saja. Saya kurang menyukai lagu “Si Kancil Anak Nakal” tersebut. Saya lebih sering menyanyikan lagu lain yang liriknya seperti berikut ini :

lihatlah sebuah titik jauh di tengah laut
s’makin lama s’makin jelas
bentuk rupanya
itulah kapal api yang sedang berlayar
asapnya yang putih mengepul di udara

Sekitar dua puluh lima tahun kemudian, terjadilah beberapa peristiwa seperti yang digambarkan oleh lirik lagu “Si Kancil Anak Nakal” di atas. Dalam peristiwa itu ada pihak yang ‘berperan’ sebagai si Kancil dan ada pula yang ‘berperan’ sebagai pihak yang menangkap dan mengeksekusi si Kancil. Peristiwa tersebut dikabarkan melalui berita di televisi bahwa di suatu tempat telah tertangkap seorang pencuri ayam yang kemudian dihajar habis-habisan hingga babak belur dan terluka parah. Di lain hari, sebuah berita mengabarkan tentang sekelompok orang yang membakar hidup-hidup seorang penjambret atau pencopet yang tertangkap ketika melakukan aksinya.

Selain lagu tentang si Kancil di atas, saya juga pernah membaca cerita si Kancil yang melakukan aksi yang lain di dalam buku pelajaran Bahasa Indonesia. Saya masih ingat, setiap kali saya mendapatkan warisan buku pelajaran dari salah seorang saudara yang juga merupakan kakak kelas, buku yang pertama kali saya baca adalah buku pelajaran Bahasa Indonesia karena di bagian akhir buku tersebut terdapat sebuah fabel atau cerita yang para tokohnya adalah hewan. Fabel yang paling saya ingat adalah tentang Kancil dan Buaya.

Dikisahkan dalam fabel tersebut, si Kancil ingin pergi ke sebuah tempat yang terletak di seberang sebuah sungai. Namun karena tak pandai berenang, si Kancil haru berpikir untuk mencari cara agar dirinya bisa ke seberang sungai dengan selamat. Si Kancil melihat beberapa ekor Buaya yang sedang berenang di sungai, lalu memanggi mereka. Si Kancil kemudian melakukan negosiasi dengan para Buaya. Sebuah kesepakatan terjadi. Si Kancil menjanjikan seekor sapi besar jika para Buaya tersebut berhasil membawanya ke seberang sungai dengan selamat.

Para Buaya yang tergiur dengan janji tersebut kemudian menyeberangkan si Kancil dengan mudah. Tak beberapa lama kemudian si Kancil sudah berada di seberang sungai.

Begitu sampai di tepi sungai, para Buaya langsung menagih janji Si Kancil. Tetapi si Kancil berkelit, tidak menepati janjinya dan langsung berlari dengan cepat meninggalkan para Buaya yang menyesali kebodohan mereka karena tertipu oleh muslihat si Kancil.

Sekitar dua puluh lima tahun kemudian, perstiwa Kancil dan Buaya terjadi di dalam kehidupan nyata. Banyak penipu ulung seperti Kancil yang memanfaatkan kekuatan Buaya yang tak pandai berpikir. Tanpa meneliti lebih dalam, tanpa menyelidiki dengan seksama, dan tanpa mencari tahu siapa sosok Kancil yang sebenarnya, orang-orang yang ‘berperan’ sebagai buaya langsung menerima mentah-mentah janji dari orang-orang yang yang ‘berperan’ sebagai Kancil.

Saya menggunakan masa dua puluh luma tahun di atas karena angka itu disbeutkan dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh David McClelland, seorang psikolog sosial yang tertarik pada masalah–masalah pembangunan. Peneletian tersebut menyimpulkan bahwa cerita atau bacaan yang dibaca oleh seorang anak saat ini akan memengaruhi karakternya dua puluh lima tahun kemudian. Apakah nantinya seorang anak akan cerdas, cerdik, jujur, licik, serta berbagai karakter lain yang baik atau buruk dalam dirinya terdapat peran dari cerita yang didengar atau dibacanya. Mungkin ada baiknya para orang tua memilih cerita yang lebih baik, yang bisa memberikan keteladanan kepada anak di kala besar nanti.

Wallahu a’lam.

*****

Kepada anak lelaki saya, Syaikhan, syaa tidak pernah menceritakan dongeng Kancil seperti apa yang pernah saya baca di masa kecil saya. Dongeng atau cerita yang pertama kali saya sampaikan kepadanya saat menjelang tidur adalah cerita rekaan saya sendiri. Sebuah cerita tentang beberapa burung yang datang mendekat karena ingin memakan biji-bijian yang saya lemparkan ke tanah. Cerita tersebut diilhami ketika kami berkunjung ke kebun binatang di mana Syaikhan melihat langsung burung di dalam sangkar yang sedang mematuk-matuk makanannya.

Syaikhan senang sekali dengan cerita tersebut. Sesekali syaa menirukan gerakan burung yang sedang mematuk dengan menggerakkan tangan kanan saya yang mematuk-matuk perutnya. Syaikhan pun tertawa.

Beberapa waktu kemudian, saya mengubah cerita burung tersebut dengan cerita burung yang saya ambil dari kisah Burung Hudhud yang terdapat di dalam Al-quran Surat An-Naml ayat 20-28 yang kira-kira menjadi seperti inilah jalan ceritanya :

Pada suatu hari, Nabi Sulaiman memeriksa pasukan. Namun Beliau tidak menemukan Burung Hudhud di antara para anggota pasukannya.

“Adakah yang melihat Hudhud?” Tanya Nabi Sulaiman.

“Tidak, Tuan!” Jawab beberapa anggota pasukan.

Nabi Sulaiman merasa kesal karena ada anggota pasukannya tidak disiplin dan pergi tanpa izin.

“Aku akan memberikan hukuman yang setimpal kepada Hudhud karena meninggalkan pasukan kecuali dirinya mempunyai alasan yang tepat.” Ucap Nabi Sulaiman di depan pasukannya.

Tak lama kemudian, Burung Hudhud datang ke hadapan Nabi Sulaiman.

“Hai Hudhud, dari mana saja dirimu?” Tanya Nabi Sulaiman.

“Aku memilik kabar penting untuk Tuan.” Jawab Burung Hudhud. “Aku baru saja kembali dari sebuah negeri bernama Saba. Negeri tersebut dipimpin oleh seorang Ratu. Balqis namanya. Sayangnya, Ratu Balqis dan masyarakat Negeri Saba’ tidak menyembah Allah, melainkan menyembah matahari.”

“Jika berita yang kamu bawa itu benar, maka sampaikanlah sebuah surat dariku untuk Ratu Balqis. Lalu sampaikan kepadaku tentang apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.” Nabi Sulaiman memberikan perintah kepada Burung Hudhud.

Lalu Burung Hudhud membawa surat yang ditulis oleh Nabi Sulaiman ke hadapan Ratu Balqis.

Ratu Balqis yang sudah menerika surat tersbut kemudian mengumpulkan para pembesar istana dan membacakan isi surat dari Nabi Sulaiman tersebut yang berbunyi, “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Janganlah kamu berlaku sombong terhadapku. Datanglah kepadaku sebagai orang yang berserah diri.”

Setelah membacakan isi surat tersebut, Ratu Balqis pun bertanya kepada para pembesar istana, “Bagaimana menurut kalian?”

“Kita mempunyai pasukan yang kuat dan hebat untuk berperang.” Jawab mereka.

“Bagaimanapun, peperangan akan memakan korban yang tak sedikit, baik bagi yang kalah maupun yang menang. Aku akan mengirimkan utusan kepada Raja Sulaiman dengan memberikan hadiah dan melihat apa reaksinya.” Ratu Balqis pun mengambil keputusan.

Sebenarnya, kisah tersebut masih bisa dilanjutkan, tetapi biasanya salah satu di antara kami sudah tertidur lebih dahulu. Mungkin saja saya atau Syaikhan yang lebih dahulu tertidur sehingga ceritanya berhenti seketika. 😀

referensi:
http://zoftpc.com/opini/bacaan-di-masa-kecil-pengaruhi-masa-depan-anak/
http://www.visikata.com/cerita-anak-bukan-sekedar-membawa-pesan-moral/


Tulisan Terkait Lainnya :

2 respons untuk ‘Giveaway Antara Dongeng Kancil dan Burung Hudhud

    • jampang Maret 30, 2014 / 05:22

      yup. itu lebih baik. sekalian ortunya belajar juga 😀

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s