Teguran Itu, Hanya Antara Aku dan Kamu

teguran

Suatu ketika, saya sedang asyik ngobrol bersama beberapa orang teman di sebuah chat room. Saat itu sedang booming aplikasi chat yang namanya MIRC. Di selam-sela obrolan di room, tiba-tiba sebuah nick yang sudah lama saya kenal mengajak saya bicara secara empat mata melalui jalur private, bukan di room. Teman saya tersebut mengonfirmasi atau lebih tepatnya tabayyun alias crosscheck tentang kejadian di chat room sehari atau beberapa hari sebelumnya.

Sehari atau beberapa hari sebelumnya, di chat room, saya melontarkan sebuah candaan ketika anggota room membahas topik tentang pernikahan. Sebuah candaan yang berisi kira-kira seperti ini :

“Kalau menurut Mbah dukun, tanggal dan bulan kapan gue nikah udah ada. Cuma tahunnya aja yang belum ketahuan.”

“Apakah yang saya ucapan itu benar?” Kira-kira seperti itulah bentuk konfirmasi yang dilakukan oleh teman saya.

Tentu saja saya menjawab bahwa omongan itu tidak benar. Itu sekedar bercanda saja.

Mendengar jawaban tersebut, teman saya itu langsung mengutarakan ketidaksenangannya dengan candaan saya tersebut dan mengingatkan bahwa tidak boleh ada kebohongan meskipun maksudnya hanya untuk bercanda dan membuat orang sekitar tertawa.

Teman saya tersebut secara tidak langsung mengingatkan saya bahwa Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi Wa Sallam senang bersenda-gurau dan bercanda. Namun, canda beliau tidak pernah mengandung unsur kebohongan sedikitpun. Sebagaimana hadits berikut :

Abu Hurairah Radhiallaahu ‘anhu menceritakan : “Para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW : “Wahai Rasulullah, apakah engkau juga bersenda gurau bersama kami?” Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam menjawab: “Tentu, hanya saja aku selalu berkata benar.” (HR. Ahmad).

Di samping itu, cara menegur atau mengingatkan kesalahan seseorang yang dilakukan oleh teman saya tersebut patut ditiru karena memang yang demikianlah yang seharusnya. Mengingatkan kesalahan seseorang itu sebaiknya tidaklah dilakukan di depan umum atau orang banyak sebab bisa jadi pesan atau teguran yang disampaikan bukan saja tidak sampai ke hati orang yang ditegur bahkan sebaliknya, justru orang yang ditegur akan merasa sakit hati.

Selain itu, menegur kesalahan seseorang secara empat mata alias bukan di tempat umum, secara tidak langsung juga menjalankan peran sesorang muslim untuk menjaga aib sesama saudara. Bukankah bila mengingatkan di depan umum itu sama saja dengan memberitahukan kepada orang banyak bahwa orang yang ditegur itu sudah berbuat kesalahan dan orang-orang yang semula belum tahu kemudian menjadi tahu?

Akhir-akhir ini, saya melihat dan membaca beberapa artikel yang sepertinya ditulis dengan penuh luapan emosi yang isinya berupa keburukan atau kejelekan seseorang ataupun sebuah institusi atau organisasi. Artikel tersebut disampaikan secara terbuka. Mungkin ada yang hal-hal yang saya tidak ketahui ketika si penulis memilih cara tersebut.

Wallaahu a’lam.

Mungkin beberapa keterangan yang saya kutip dari berbagai sumber berikut ini bisa dijadikan bahan renungan :

Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kalian tidak mengetahui.” (Surat An-Nuur: 19)

“Perlu diketahui bahwa nasihat itu adalah pembicaraan yang dilakukan secara rahasia antaramu dengannya, karena apabila engkau menasihatinya secara rahasia dengan empat mata, maka sangat membekas pada dirinya, dan dia tahu bahwa engkau pemberi nasihat, tetapi apabila engkau bicarakan dia di hadapan orang banyak, maka besar kemungkinan bangkit kesombongannya yang menyebabkan ia berbuat dosa dengan tidak menerima nasihat, dan mungkin pula ia menyangka bahwa engkau hanya ingin balas dendam dan mendiskreditkannya serta untuk menjatuhkan kedudukannya di mata manusia sehingga ia tidak menerima isi nasihat tersebut. Tetapi apabila dilakukan secara rahasia antara kamu dan dia berdua, maka nasihatmu itu amat berarti baginya, dan dia akan menerima darimu.” (Syarah Riyadhus Shalihin, juz 4 hal. 483)

“Hendaklah engkau sengaja mendatangiku untuk memberi nasihat ketika aku sendirian
Hindarilah memberikan nasihat kepadaku di tengah khalayak ramai
Karena sesungguhnya memberi nasihat di hadapan banyak orang
Sama saja dengan memburuk-burukkan, saya tidak suka mendengarnya
Jika engkau menyalahi saya dan tidak mengikuti ucapanku
Maka janganlah engkau kaget apabila nasihatmu tidak ditaati.” (Diwan Asy Syafi’i, hal. 56)

Dari Jabir radhiallahu ‘anhu bahwasanya ia berkata: Sulaik Al Ghathafani datang (ke masjid) hari Jum’at dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam sedang duduk di atas mimbar maka Sulaik langsung duduk tanpa shalat terlebih dahulu, maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya. “Apakah engkau telah melaksanakan shalat dua rakaat?” Ia berkata, “Belum,” maka beliau memerintahkan kepadanya, “Bangunlah dan shalatlah dua rakaat!” Shahih Muslim (Juz 6 hal. 142-143 no. 58 (875)

Syeikh Salim Al-Hilali mengatakan tentang fiqih hadits di atas, di antaranya: “Boleh menasihati seseorang di hadapan orang banyak apabila di dalamnya terdapat kebaikan bagi semuanya.” (Bahjatun Naadzirin, juz I hal. 240)

Etika memberikan nasehat yang wajib bagi seorang penasehat untuk memilikinya, diantaranya:

  • Menjadikan nasehat itu semata-mata ikhlas karena Allah Ta’ala
  • Hendaknya terjadi secara rahasia antara pemberi nasehat dan orang yang dinasehati
  • Diucapkan dengan ucapan yang manis dan rasa tawadlu yang tinggi

Tulisan Terkait Lainnya :

24 thoughts on “Teguran Itu, Hanya Antara Aku dan Kamu

  1. ysalma April 2, 2014 / 08:42

    ikut menyimak,
    *sambil mikir, pernah bikin artikel yang penuh luapan emosi ga ya.
    mungkin itu pengaruh kampanye kali ye?

    • jampang April 2, 2014 / 10:44

      bisa jadi ada pengaruhnya, mbak

  2. Rahmat_98 April 2, 2014 / 08:43

    Saya pernah melakukan metode ini ketika terjadi gejolak di salah satu organisasi yang saya ikuti, sebagai salah seorang pendiri organisasi tentunya saya bertanggung jawab menegur salah satu anggota yang melenceng dari koridor. Ternyata melalui pendekatan dan bicara empat mata selama beberapa kali, metode ini berhasil dan orang tersebut masih eksis hingga sekarang….

    • jampang April 2, 2014 / 10:45

      alhamdulillah ya, mas 😀

      • Rahmat_98 April 2, 2014 / 10:57

        Betul bang, efektif. Mungkin dengan cara menegur yang demikian membuat si pembuat kesalahan akan merasa bahwa dirinya merasa diperhatikan dan dibutuhkan.

      • jampang April 2, 2014 / 10:58

        iyah. dan mungkin merasa lebih dihargai dengan cara seperti itu

      • Rahmat_98 April 2, 2014 / 11:00

        Betul, dirinya merasa dihargai….

      • jampang April 2, 2014 / 11:02

        dan sampeyan telah membuktikannya 😀

      • Rahmat_98 April 2, 2014 / 11:03

        Alhamdulillah, bukti nyata bang… 😀

      • jampang April 2, 2014 / 11:24

        😀

  3. rinasetyawati April 2, 2014 / 12:23

    makasih sudah iingatkan mas, kadang kalau sudah becanda bareng teman2 suka kebablasan

  4. lazione budy April 2, 2014 / 13:22

    kalau kasih nasehat ke seseorang di depan orang lain jangan kasar, kalau mau keras harus bawa ke ruangan hanya 4 mata. memanusiakan manusia itu penting sebesar apapun salahnya.

  5. capung2 April 2, 2014 / 15:05

    terkadang sya jga suka kelepasan klo bercanda, dan beruntungnya bila ada kawan yg mengingatkan.

    • jampang April 2, 2014 / 15:10

      kalau sama yang sensitif bisa repot 😀

  6. eda April 2, 2014 / 15:07

    waduh..aku pernah kayanya..becandaan macam itu 😦

    • jampang April 2, 2014 / 15:11

      kalau dikasih tahu bahwa itu cuma candaan alias fiktif… masih dibolehkan 😀

  7. Dyah Sujiati April 2, 2014 / 19:01

    Tapi pak, ada kalanya perbuatan buruk yang dilakukan seseorang harus diumumkan agar yang lain mengetahui dan tidak tertipu 😉

    • jampang April 2, 2014 / 21:17

      Yup. Seperti kutipan di bagian akhir postingan… Ada keterangan yang senada dengan komentar mbak

  8. faziazen April 2, 2014 / 22:58

    iyaa betul, bercanda juga harus jujur

    • jampang April 3, 2014 / 09:14

      terima kasih, kang 😀

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s