Memilih atau Tidak Memilih

memilih atau tidak memilih
sumber hasil googling dan diedit


Memilih atau tidak memilih
adalah sebuah pilihan. Ada sebagian orang sudah menetapkan untuk memilih partai apa dan siapa caleg mereka pada pemilu 2014 esok hari. Ada sebagian orang yang sudah menetapkan untuk memilih namun masih bingung partai apa dan siapa caleg akan mereka pilih. Ada pula sebagian yang lain sudah memantapkan diri untuk tidak memilih. Tentunya masing-masing kelompok punya alasan masing-masing yang mendasari keputusan mereka untuk memilih atau tidak memilih.

Demokrasi, mungkin bagi mereka yang sudah memutuskan untuk tidak memilih, adalah sebuah sistem yang tidak bisa diterima begitu saja secara mentah-mentah. Dalam sebuah sistem demokrasi, hasil pemikiran yang dikeluarkan oleh seorang profesor dalam bentuk suara, sama dengan suara yang diberikan oleh seorang remaja yang baru saja memiliki KTP. Dalam sebuah sistem demokrasi, suara yang diberikan oleh seorang kyai atau ustadz, sama nilainya dengan suara yang diberikan oleh seorang preman.

Adilkah yang demikian? Mungkin jika memandang prinsip satu orang satu suara tanpa membedakan kedudukan, pendidikan, dan sebagainya, prinsip tersebut adil. Adil karena menganggap semua warga negara memiliki hak yang sama dalam berdemokrasi. Namun, jika melihat dari sisi lain, bisa jadi prinsip tersebut jauh dari keadilan.

Begitulah demokrasi. Wajar. Sebab demokrasi adalah sistem yang lahir dari pemikiran manusia dan yang berkecimpung di dalamnya juga adalah manusia juga. Bukan malaikat.

Ada kemungkinan, kelompok yang memutuskan untuk tidak memilih berharap keputusan tersebut akan memperbaiki situasi dan kondisi negeri ini. Bisa jadi. Namun berdasarkan peraturan yang saat ini berlaku di dalam pemilu, hanya suara yang masuk dan yang sah saja yang dijadikan dasar penghitungan siapa yang menjadi pemenang. Suara yang tidak masuk, seandainya mayoritas, tidak akan diperhitungkan.

Demokrasi, mungkin bagi mereka yang sudah memutuskan untuk memilih, adalah sebuah alat perjuangan untuk melakukan gerakan perubahan. Perubahan untuk memperbaiki kondisi negeri. Sehingga mereka memanfaatkan momentum pemilu yang menjadi titik tolak untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik dan sebagai perwujudan salah satu hak sebagai warga negara, yaitu hak untuk mengeluarkan pendapat.

Untuk melaksanakan sebuah pesta demokrasi lima tahunan, negara harus mengeluarkan biaya yang sangat besar. Trilyunan rupiah. Uang sebesar itu mungkin akan lebih memberikan dampak yang lebih terasa jika digunakan untuk membangun sarana dan prasarana di desa-desa sebagai wujud pemerataan pembangunan, program dan fasilitas pendidikan maupun kesehatan, pengentasan kemiskinan, dan program sejenis lainnya. Mungkin dari titik pandang itulah, sebagian orang enggan untuk menggunakan hak pilih mereka. Mungkin mereka merasa, jika ikut serta dalam memilih mereka kegiatan yang menghambur-hamburkan uang negara.

Lantas, apakah dengan tidak memilih akan menghemat pengeluaran negara untuk pelaksanaan pemilu? Sepertinya tidak. Jumlah kertas suara yang dicetak, jumlah kotak suara yang dibuat, jumlah panitia yang dibentuk, tidak memperhitungkan jumlah penduduk yang tidak akan memilih. Jika saja jumlah itu semua memperhitungkan sekian orang yang tidak mau datang ke TPS dan tidak mencoblos, pastinya pengeluaran negara untuk pemilu dapat dipangkas. Sayangnya tidak.

Jika demikian halnya, manakah tindakan yang lebih baik, memilih atau tidak memilih? Sepertinya, tidak memilih tidak akan mengurangi pengeluaran untuk pemilu.

Jika tidak memilih, maka sistem dan konsep pemilu yang ada akan tetap seperti sedia kala. Jika memilih, masih ada kemungkinan untuk memperbaiki sistem dan konsep pemilu yang ada. Mungkin akan ditemukan sebuah konsep pemilu yang lebih hemat. Ada juga kemungkinan untuk mengganti orang-orang yang duduk di belakang sistem tersebut dengan orang-orang yang lebih baik.

Politik dan demokrasi, jika diibaratkan sebagai sebuah benda atau alat, mungkin seperti gelas kaca yang bening. Bersih. Apa yang kemudian diisikan ke dalamnya akan mempengaruhi penampilannya. Jika yang diisi adalah air yang bersih dan jernih, maka gelas akan terlihat bersih dan jernih. Jika yang terisi di dalamnya adalah air selokan, maka warna gelas menjadi kotor.

Mungkin, saat ini, gelas politik itu terisi dengan air dari selokan sehingga terlihat kotor. Partai dan anggota legislatif yang bercokol di dalamnya banyak yang kurang baik. Namun ada juga yang baik. Tentang porsinya, mungkin bisa terlihat dari luar gelas tersebut.

Ketika keputusan untuk tidak memilih yang diambil, maka besar kemungkinan partai dan anggota legislatif yang lama dan berkarakter kurang baik akan kembali terpilih lagi. Suara untuk partai dan calon anggota legislatif yang berkarakter lebih baik akan kalah sebab banyak suara yang tidak tersalurkan. Jika demikian, akan adakah perubahan yang lebih baik?

Saat ini, mungkin tidak ada partai yang sempurna sebagaimana manusia yang berdiri di baliknya. Namun, pasti ada partai yang terbaik dan manusia yang terbaik di antara yang tidak sempurna itu. Ketika keputusan untuk memilih yang dilaksanakan, ada harapan untuk bisa menggantikan partai dan anggota legislatif yang berkarakter kurang baik dengan yang lebih baik. Jika hal itu terjadi, maka air yang mengisi gelas politik dan demokrasi hanyalah air yang bersih. Air yang bisa memberikan banyak manfaat kepada orang banyak.

Kembali lagi ke paragraf awal, memilih atau tidak memilih adalah sebuah pilihan. Sebagaimana pilihan dalam hidup, salah satu harus diambil. Pilihlah yang baik di antara kedua pilihan tersebut. Jika kedua pilihan tersebut baik, maka pilihlah yang terbaik di antara keduanya. Saya akan menggunakan hak pilih yang ada di tangan saya. Semoga saya bisa mewujudkannya. Semoga saya tidak salah pilih. Semoga Indonesia akan lebih baik lagi.

Bismillah…


Tulisan Terkait Lainnya :

41 respons untuk ‘Memilih atau Tidak Memilih

  1. Iwan Yuliyanto April 8, 2014 / 09:35

    Bismillah … ayo ikut serta memperbaiki bangsa ini dengan memilih calon wakil rakyat yang hanif, shalih, dan amanah.

  2. capung2 April 8, 2014 / 09:51

    krn tak ada parpol yg sempurna, jdi sya memilih parpol yg sedikit korupsinya. Parpol manakah itu? langsung aja dah, parpol yg bernomor urut 3.. 😀

    • jampang April 8, 2014 / 09:53

      😀
      soalnya saya tidak boleh berkampanye, mas. makanya tidak menyebutkan salah satu parpol. tapi saya sepakat dengan pilihan sampeyan

      • capung2 April 8, 2014 / 09:58

        😀 sya jga sengaja menghaluskan kata lwt istilah no urut parpol, biar yg penasaran bs mencari sendiri.. 🙂

      • jampang April 8, 2014 / 10:00

        sip sip sip

  3. Teguh Puja April 8, 2014 / 10:29

    Iya, mas. Memilih atau tidak memilih, keduanya punya dampaknya sendiri. Semoga saja, hasil apa pun yang nanti keluar setelah semua proses ini selesai, berdampak “lebih banyak” dalam hal baiknya, bukan yang sebaliknya. 😀

  4. Rahmat_98 April 8, 2014 / 11:04

    Memilih –> Menambah calon koruptor baru…
    Tidak memilih –> Membiarkan negara semakin hancur oleh mereka
    Sungguh menjadi buah simalakama, tapi insyaallah saya tidak akan rela membiarkan negara saya semakin hancur, untuk itulah saya memilih untuk INDONESIA yang lebih baik… Insyaallah saya akan tetap setia pada partai kampus tersebut sejak pemilu 1999…

    Untuk Indonesia yang lebih baik….!

    • jampang April 8, 2014 / 11:07

      mudah2an indonesia akan lebih baik lagi. aamiin

      • Rahmat_98 April 8, 2014 / 11:09

        Amien….
        Semoga saja…

      • jampang April 8, 2014 / 11:12

        insya Allah

  5. eda April 8, 2014 / 14:42

    kata pak ustadz, kalo ga ada partai yg benar2 bersih, paling tidka pilihlah yg paling sedikit mudharatnya 😀

  6. Dyah Sujiati April 8, 2014 / 17:23

    Siyap! Insyaallah siap menjadi pemilih cerdas guna jadi bagian dari sekelompok orang yang berusaha menjadi otak-hati-tulang punggung Indonesia.

  7. nengwie April 8, 2014 / 22:10

    Udah milih dong teteh tgl 5 kemaren, pilih nomer berapa…?? Udah tau khaaan…?? Milih salah satu partai dan orangnya juga karena sayang sama sobat 🙂

    • jampang April 9, 2014 / 05:14

      Kalau di luar negeri nyoblosnya memang duluan ya, teh.
      Sippp!

  8. nengwie April 8, 2014 / 22:11

    Teteh kodenya 345 deeehh 🙂

    • jampang April 9, 2014 / 05:20

      Jangan2 dapilnya sama ama saya yah 😀

      • nengwie April 9, 2014 / 10:42

        Ho oh samaan kitaaa 😀

      • jampang April 9, 2014 / 13:15

        Barangkali, teh 😀

  9. aqied April 8, 2014 / 23:25

    Baca komen jadi sambil nebak2.

    • jampang April 9, 2014 / 05:20

      Nebak2 apa? Buah manggis?

      • aqied April 9, 2014 / 05:25

        Nebak nebak buah semangka. Hahahaha

      • jampang April 9, 2014 / 05:41

        kalau buah semangka gampang nebaknya 😀

  10. luckty April 9, 2014 / 07:26

    Memilih lima menit di bilik suara menentukan lima tahun ke depan nasib Indonesia 😀

    • jampang April 9, 2014 / 07:27

      betul sekali, mbak 😀

  11. anna April 9, 2014 / 08:03

    Insya Allah saya tetap memilih..
    Kalopun tidak ada yang baik, saya memilih yg terbaik dari yang buruk.

  12. Rivanlee April 9, 2014 / 20:53

    mari kita pilih mereka yang cocok untuk dipilih

  13. Alris April 13, 2014 / 22:09

    Memilih sesuai hati nurani dan track record caleg.
    parpol yg bernomor urut 3 paling sedikit korupsinya??? wkwkwk…

    • jampang April 14, 2014 / 05:28

      mungkin jika lebih mengenal siapa-siapanya… akan lebih tahu lagi dengan sifat dan sikapnya

    • jampang April 14, 2014 / 14:04

      nanti milih presiden 😀

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s