Bukan Sekuntum Mawar Merah

 

bunga_kertas_@jampangSekuntum mawar merah
yang kauberikan kepadaku
di malam itu
ku mengerti apa maksudmu

Sampai kini kusimpan
bunga pemberian darimu
tiap kulihat
ku terkenang pada dirimu

Bunga mawar merah suatu tanda cinta
yang berarti bahwa kau cinta padaku
dengan senang hati kuterima cintamu
karena aku juga cinta kepadamu
oh bahagia, dua hati telah berpadu

Bagi yang suka dengan lagu-lagu dangdut, tentunya bukan Minyu, pasti pernah mendengar dan bahkan tahu dengan lirik lagu di atas karena sempat booming pada masanya. “Sekuntum Mawar Merah”, judulnya. Dinyanyikan oleh Elvy Sukaesih.

Katakan cinta dengan bunga. Mungkin ungkapan seperti itulah yang tergambar melalui lirik lagu di atas. Ungkapan yang juga sering saya dengar. Mungkin memang begitulah adanya, bahwa bunga bisa menjadi perwujudan sebuah rasa cinta dari seorang lelaki kepada perempuan yang menjadi pasangan hidupnya. Orang yang dicintainya.

Namun demikian, mengungkapkan rasa cinta dengan bunga haruslah sesuai dengan kondisi pasangan yang nantinya akan diberikan. Seorang lelaki harus tahu jenis bunga apa yang disukai oleh sang istri. Jangan sampai memberikan bunga yang akan mendatangkan masalah di kemudian hari karena ternyata sang istri menderita alergi terhadap bunga yang diberkan. Bunga mawar mungkin adalah bunga yang bisa diterima oleh semua orang.

Sepertinya, bahasan mengengenai katakan cinta dengan bunga di atas hanyalah dilakukan oleh seorang laki-laki kepada istrinya saja. Rasanya tak ada seorang perempuan yang mengatakan rasa cintanya kepada suaminya melalui pemberian bunga. Padahal, ungkapn cinta dan sayang sejatinya disampaikan oleh kedua pihak. Bukankah keduanya saling mencintai dan menyayangi? Maka dari itulah, coretan ini diberi judul “Bukan Sekuntum Mawar Merah”.

Dalam kehidupan berumah tangga, ungkapan cinta tidak harus dan tidak selalu disampaikan dalam bentuk bunga. Memberikan bunga dalam arti sebenarnya, yaitu berupa bunga mawar atau bunga lainnya, ternyata hanya sebagian dari rangkaian bunga-bunga yang harus diberikan oleh seseorang kepada pasangan hidupnya. Setidaknya itulah yang dikatakan oleh Bapak Budi Darmawan dalam sebuah talk show family yang bertajuk “Bunga Untuk Pasanganku”. Ada enam kuntum bunga yang harus diberikan oleh seorang suami kepada istri dan sebaliknya.

Bunga Ketaqwaan

Taqwa, pembeda antara satu manusia dengan lainnya. Taqwa, sesuatu yang harus ada di dalam diri seorang mu’min, siapa pun dia, di mana pun berada, dan kapan pun masanya. Sementara cinta, meski banyak yang telah merasakannya tapi tak mudah menggambarkan dalam sebuah definisi.

Sesuatu yang dilakukan bisa saja sah dan tak menjadi masalah jika didasarkan atas nama cinta. Namun, bisa menjadi sesuatu yang fatal jika ketaqwaan yang meniliknya. Kiranya begitulah jika cinta sudah didewakan. Ketika cinta menjadi buta.

Taqwa dan cinta, semestinya bisa seiring sejalan dalam hidup berpasangan.  Jika cinta bisa pudar karena perputaran masa. Cinta juga mungkin bisa luntur karena wujud fisik yang berubah dan sifat yang nyatanya kian tak sama dengan masa-masa awal perjumpaan. Tetapi taqwa seharusnya tak berubah, walau bukan mustahil akan mengalami pasang surut. Bahkan bisa jadi, taqwa itu yang akan menumbuhkan cinta.

Apalah artinya sebuah hubungan kasih sayang yang dijalin oleh sepasang suami-istri bila tidak dilandasi sebuah ketaqwaan. Bukankah ketika kita memutuskan untuk menggenapkan separuh dari agama kita dengan menikah, itu merupakan salah satu perwujudan ketaqwaan kita? Dengan melaksanakan perintah Allah dan sunnah Rasul-Nya, serta menghindari larangan Allah dengan tidak mendekati atau bahkan jatuh ke dalam perbuatan zina.

bila masih kugenggam masa
akan kukejar sebuah cita
tuk memiliki cinta
yang bersamanya ada rasa menghamba
kepada Sang Pemilik jiwa dan raga
dan kupeluk selamanya

Bunga Kesetiaan

Setia, memiliki arti berpegang teguh pada janji atau pendirian. Dalam hal hidup berumah tangga, kesetiaan terhadap pasangan mutlak diperlukan. Tanpa kesetiaan, tak ada lagi pengikat antara dua hati yang mungkin pernah berjanji untuk menjalani kehidupan dan meraih cita dan cinta bersama-sama.

Dalam sebuah obrolan yang cukup panjang yang tiba-tiba mengarah pada topik kesetiaan, saya menemukan sebuah kesimpulan tentang kesetiaan kepada pasangan hidup. “Bukalah mata lebar-lebar ketika mencari pasangan untuk mencari yang terbaik sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan semula. Namun, segeralah tutup mata rapat-rapat bila telah menjalani kehidupan bersama.”

Rasa-rasanya, jika prinsip tersebut yang dipegang, tak mungkin kedua mata akan memandang pekarangan di rumah tetangga terasa lebih hijau dibandingkan dengan pekarangan rumah sendiri. Pasangan yang ada di sisi adalah orang yang terbaik dengan aksesori yang menempel berupa kelebihan dan kekurangan. Pun jika pasangan itu bukanlah cinta pertama yang begitu memberi kesan sangat mendalam, niscaya, bayang-bayang masa lalu itu akan terpendam.

Di masyarakat Betawi, ada kebiasaan ketika pihak mempelai laki-laki membawa seserahan untuk diberikan kepada mempelai wanita selalu membawa roti buaya. Mengapa harus bawa roti buaya? Karena buaya adalah binatang yang setia. Ia tidak akan meninggalkan pasangannya selama hidup. Hanya kematian yang bisa memisahkan. Begitulah filosofi yang beredar di masyarakat Betawi. Mengenai valid tidaknya filosofi tersebut, wallahu a’lam.

Bunga Komunikasi    

Angin siang ini membawa kicauan burung masuk ke dalam kamar melaui jendela yang daunnya terbuka. Ramai sekali suaranya, saling bersahutan satu dengan yang lain. Entah mereka sedang bernyanyi, berdiskusi, atau mungkin sekedar menyapa, yang pasti, melalui suara kicau masing-masing, mereka telah melakukan suatu komunikasi.

Menurut kamus bahasa Indonesia, komunikasi memiliki arti pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yg dimaksud dapat dipahami.

Jika burung yang nyatanya hanya seekor binatang saja melakukan dan membutuhkan komunikasi, apalagi makhluk yang lebih sempurna daripada binatang, yaitu manusia. Tak hanya dalam kehidupan bernegara dan berbangsa, dalam sebuah rumah tangga pun pasti membutuhkan komunikasi. Bukankah ketika ingin membangun sebuah rumah tangga diawali dengan sebuah komunikasi?

Begitulah, komunikasi akan selalu dan harus ada dalam setiap langkah kehidupan berpasangan. Ketika dua orang sudah saling mengenal, sering melakukan aktifitas bersama-sama, adalah suatu hal yang mustahil bila keduanya tidak pernah berkomunikasi satu sama lain. Apalagi sepasang suami-istri yang hidup bersama-sama, tinggal di tempat yang sama, tidur di tempat tidur yang sama, makan di meja makan yang sama, pastilah keduanya akan selalu berkomunikasi.

Sama halnya seperti burung yang berkicau dengan suara yang berbeda-beda, begitu juga dengan individu-individu dari setiap pasangan. Perbedaan latar belakang budaya, lingkungan, pendidikan, dan sebagainya, menimbulkan cara berkomunikasi yang berbeda pula.

Untuk mengatakan “tidak setuju” terhadap keinginan atau pendapat seseorang, mungkin sebuah kata “tidak” sudah cukup membuatnya langsung menerima dengan lapang dada. Tetapi kepada orang lain, tak bisa mengatakan “tidak” secara langsung,  namun perlu sebuah pendahuluan dan topik yang berputar-putar dahulu sebelum sampai kepada poin yang sebenarnya.

Ada orang yang suka dengan kata-kata yang tegas dan to the poin, tidak bertele-tele. Namun ada pula orang yang lebih senang dengan sebuah diplomasi panjang sehingga tidak merasa dalam suatu paksaan.

Yang jauh lebih penting daripada segala bentuk komunikasi itu adalah apa yang diterima oleh lawan bicara, bukan apa yang disampaikan. Dan bagi setiap pasangan, komunikasi akan menjadi baik jika masing-masing tahu apa yang diinginkan dan tidak diinginkan oleh pasangannya. Di tahap selanjutnya, tak perlu dengan kata-kata yang terucap, melalui mimik muka dan gerak tubuh pasangan, seseorang bisa mengerti apa di balik semua itu. Prinsipnya :

•    aku tahu yang kau mau
•    aku tahu yang kau tidak mau
•    kamu tahu yang aku mau
•    kamu tahu apa yang aku tidak mau
•    aku dan kamu tahu apa aku dan kamu mau
•    aku dan kamu tahu apa yang aku dan kamu tidak mau

Silahkan petik bunga berikutnya >>>>>

12 respons untuk ‘Bukan Sekuntum Mawar Merah

  1. bawangijo April 22, 2014 / 18:17

    kalo dikasih bunga kamboja mau ga yah haha

    • jampang April 23, 2014 / 05:28

      nanti yang nerima marah sambil ngomong “loe doain gue mati?”

      😀

      • bawangijo April 23, 2014 / 05:30

        pan niatnya baek, kasih bunga sebagai tanda cinta 😀 #kabuuur

      • jampang April 23, 2014 / 05:32

        makanya di atas disebutin tipsnya… harus tahu bunga yang cocok dan nggak bikin alergi 😛

      • bawangijo April 23, 2014 / 05:55

        kayaknya kalo dikasih bunga deposito ga bikin alergi dah haha

      • jampang April 23, 2014 / 07:33

        bisa juga alergi, kalau yang dikasih mengikuti dalil bahwa riba itu haram 😀

  2. Yudhi Hendro April 23, 2014 / 08:22

    bunga-bunga yg diperlukan untuk membina keutuhan dan rasa kebersamaan dalam keluarga

    • jampang April 23, 2014 / 09:17

      kira-kira begitu, pak 😀

  3. thetrueideas April 23, 2014 / 10:02

    mawar merah, wangi gak sih? 🙂

    • jampang April 23, 2014 / 11:21

      belum pernah nyium, mas 😀

  4. bimbingan belajar April 23, 2014 / 11:13

    wah kalo bunga deposit mah tampa ditawarkan juga langsung pada minat 😀

    • jampang April 23, 2014 / 11:22

      😀
      ya ada juga yang nanya dulu… deposito dari bank syariah atau konvensional

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s