Dare to Dream

credit : http://www.dreamstime.com

Setiap orang pasti ingin mewujudkan impian masing-masing. Hal yang teramat penting yang tak boleh dilupakan adalah bahwa langkah pertama untuk mewujudkan impian adalah memiliki impian itu sendiri. *Cak Lontong Mode On*

Setelah memiliki berbagai impian, maka untuk mewujudkan semuanya, seseorang haruslah ‘terjaga’.

Sebagian orang berhasil mewujudkan impian mereka menjadi kenyataan dengan cepat. Sebagian di antara mereka membutuhkan waktu yang lebih lama. Sebagian lagi ada yang perlu mencoba dan mencoba berulang kali hingga berhasil. Sebagian lain ada pula yang gagal mewujudkannya.

Saya pernah mendapatka sebuah cerita tentang seseorang yang mempunyai impian untuk memiliki sebuah mobil. Seseorang itu, sebut saja Fikri (bukan nama sebenarnya), menempelkan sebuah poster bergambar mobil impiannya di salah satu dinding kamar tidurnya. Setiap kali menjelang tidur, sebelum kedua matanya terpejam, Fikri menyempatkan waktu untuk memandangi poster tersebut selama beberapa saat. Mungkin sambil berdoa.

Apa tujuan Fikri melakukan hal itu? Tujuan Fikri tak lain dan tak bukan adalah agar dirinya bisa memimpikan mobil tersebut di saat tidur dan menjadi penyemangat di kala dirinya terjaga dan berusaha untuk mewujudkan mobil impiann tersebut menjadi nyata.

Beberapa tahun kemudian, Fikri tersebut berhasil mewujudkan mimpinya untuk memiliki sebuah mobil.

Apa yang dilakukan Fikri di atas, sama seperti salah satu kiat yang saya peroleh dalam sebuah kegiatan pengajian di masjid kantor. Kiat tersebut adalah sering-seringlah memvisualisasikan situasi dan kondisi yang kita impikan dalam dalam keseharian agar semangat dan motivasi untuk mewujudkan impian tersebut semakin tumbuh dan kuat di dalam diri.

Sama halnya dengan Fikri, saya juga mempunyai impian. Saya juga memvisualisasikan impian saya seperti Fikri. Hanya saja dengan sarana yang berbeda. Tak ada satu pun poster yang menempel di dinding kamar saya. Tak ada juga kutipan atau quote kalimat penyemangat yang menempel di salah satu sudut cermin yang bisa saya lihat dan baca setiap saya berkaca. Mungkin karena hobi saya membuat coretan di blog, maka visualisasi yang saya lakukan dalam bentuk tulisan.

Ada dua buah impian yang saya tuangkan dalam coretan di blog ini. Beberapa kali. Ada yang berbentuk coretan fiksi. Ada pula yang non fiksi. Kedua impan saya tersebut adalah menunaikan ibadah haji dan menerbitkan tulisan-tulisan saya menjadi buku melalui penerbit major.

 

Menunaikan Ibadah Haji

Dalam sebuah coretan fiksi berjudul “Adzan Yang Kunanti Selama 35 Tahun” , saya memvisualisasikan kondisi saya yang berada di Mekkah dan Padang Arafah di tahun 2014 ini. Berikut adalah penggalannya :

Kulangkahkan kaki dari miqat ini dengan ikhlas. Kutundukkan dan kupasrahkan diri yang hina dan lemah ini kepada Sang Pencipta alam yang Maha Gagah lagi Perkasa. Kucoba untuk tak membiarkan bibir ini diam tanpa dzikir. Lafazh talbiyah dari seluruh jama’ah sekan-akan menghangatkan suasana bis dalam perjalanan Makkah – Arafah yang cukup lancar. Alhamdulillah.

Selepas melaksanakan shalat Shubuh berjama’ah, masing-masing dari kami kembali ke tenda untuk beristirahat sambil berdzikir.

Sesaat lagi matahari akan segera tergelincir sebagai awal waktu shalat Zhuhur. Teriknya yang mungkin mencapai 40 derajat Celcius tidak menyurutkan semangatku dan jutaan jama’ah untuk berdzikir, bertafakkur, dan berdoa, di tanah lapang yang menjadi menjadi tempat pelaksanaan puncaknya ibadah haji.

Al-hajju ‘arofah. Suasana Arafah, sebuah padang tandus yang menjadi miniatur Padah Mahsyar kelak, begitu khusyu. Tak terasa, butir-butir air mataku jatuh mengalir ke pipi. Lafaz dzikir yang keluar dari lidahku pun sudah bercampur dengan isak tangis. Dan selanjutnya, tangis jutaan jama’ah pun pecah di siang bolong bersamaan dengan seruan talbiyah dari pengeras suara yang menghubungkan ke kemah-kemah tempat para jama’ah berdiam.

Tak lama kemudian, adzan berkumandang. Kurasakan ada yang lain dari adzan yang kudengar kali ini. Seandainya aku boleh membandingkan, kemerduan suara muadzin tidak sebagus lantunan adzan yang pernah kudengar sebelumnya. Tetapi, suasana di mana aku beradalah yang mungkin menyihir telingaku sehingga menjadikan adzan kali ini begitu berbeda. Tak hanya jiwaku yang bergetar, tubuhku pun begitu pula. Sungguh! Ini adalah lantunan adzan terindah yang pernah kudengar. Ini adalah kumandang adzan yang telah kunantikan selama tiga puluh lima tahun hidupku.

Saya seorang muslim. Sama halnya seperti muslim yang lain, saya meyakini Rukun Islam yang lima. Shalat, puasa, dan zakat, sudah bisa saya laksanakan. Tinggal satu ibadah lagi untuk menyempurnakannya. Ibadah Haji. Hanya saja, pelaksanaan ibadah haji tidak seperti ibadah shalat, puasa, dan zakat. Rukun Islam yang kelima tersebut membutuhkan kemampuan tenaga dan finasial yang sangat besar dibandingkan ibadah lainnya.

Saya juga pernah mendengar kisah tentang seseorang yang rajin menabung untuk mewujudkan impiannya menunaikan ibadah haji. Jumlah setiap kali ia melakukan penyetoran tidak banyak, hanya lima puluh ribu. Namun yang terpenting adalah kesungguhan dari usahanya yang layak untuk ditiru. Saya pun mencoba untuk menirunya.

Tahun 2007, saya memulai sebuah langkah untuk mewujudkan impian ke Tanah Suci. Saya membuka tabungan haji untuk merintis langkah ke Arafah. Saya sisihkan sejumlah uang ke dalam tabungan tersebut setiap bulannya. Awalnya saya bisa teratur dan rutin. Namun di kemudian hari, seiring adanya kebutuhan lain yang menurut penilaian saya amat mendesak, tabungan tersebut tak lagi bertambah. Bahkan selanjutnya ditutup. Langkah-langkah kecil saya terhenti.

Di awal tahun 2014, saya merintis langkah menuju Arafah lagi  yang sebelumnya terhenti sekian tahun lamanya. Saya kembali membuka rekening tabungan haji dan berharap bisa rutin menabung setiap bulannya hingga bisa memenuhi biaya untuk melaksanakan ibadah haji kelak.

Kapan kira-kira impian tersebut bisa terwujud? Saya sulit memperkirakannya. Sebab impian tersebut tak hanya bergantung pada apa yang saya lakukan, namun terkait juga dengan kebijakan pemerintah. Sebab selain kemampuan secara fisik dan finansial, keberangkatan haji seseorang juga ditentukan dengan jumlah kuota jamaah. Soal kuota, pemerintah yang punya kebijakan.

Mungkin saya hanya bisa membuat perkiraan yang masih mentah. Jika saya menabung sebesar Rp. 250.000 setiap bulannya, untuk mencapai jumlah Rp. 25.000.000, yaitu jumlah dana yang dibutuhkan bagi seorang calon jama’ah haji agar bisa mendapatkan kuota haji saat ini,maka saya butuh waktu kurang lebih 100 bulan. Sekitar 8 tahun 4 bulan.

Jika demikian, tabungan haji saya akan berjumlah Rp. 25.000.000 sekitar tahun 2022. Apakah saya langsung bisa berangkat haji di tahun 2022? Belum tentu. Sebab tahun itu saya hanya bisa mendapatkan kuota haji. Sementara berangkatnya, mungkin harus menunggu sekitar 8 hingga 10 tahun lagi. Mungkin sekitar tahun 2032.

Bagaimana jika saya tabungan haji saya tidak bisa mencapai Rp. 25.000.000 di tahun 2022? Dengan hitung-hitungan seperti di atas, maka saya harus menunda impian saya melaksanakan ibadah haji lebih lama lagi. Lebih panjang lagi penantiannya. Bahkan bisa juga gagal. Sebab bicara masa depan hampir sama dengan bicara soal umur. Tak ada seorang pun yang bisa memperkirakan umur sampai kapan. Tak ada yang kuasa menebak sampai usia berapa dirinya akan hidup di dunia ini.

Namun Allah Maha Adil. Allah tak menilai hamba-Nya dengan penilaian terhadap hal yang di luar kuasa hamba-Nya. Soal hasil atas setiap usaha dan doa manusia, itu adalah domain Allah. Niscaya, Allah akan tetap menghargai, menilai, dan memberikan balasan atas segala usaha yang telah dilakukan oleh para hamba-Nya. Karenanya, saya tetap akan menancapkan niat di hati, insya Allah bisa pergi haji.

telah lama hatiku memendam rindu
berkeliling tujuh kali di hadapan rumah-Mu
meniru revolusi bumi kepada matahari
sebagai tanda tercipta untuk mengabdi

telah lama kutancapkan niat di hati
untuk berlari-lari antara shafa dan marwah dalam sa’i
menyusuri jejak-jejak kaki
dari seorang ibu dari anak bakal nabi

telah kugantungkan cita-cita setinggi langit biru
untuk melempar jumrah ke arah yang satu
mengusir segala nafsu syetan yang menyelimutiku
yang menyeretku jauh dari sinaran-Mu

telah lama kunantikan suatu masa
berpakaian putih dan duduk dengan jutaan manusia
di Arafah miniatur padang Mahsyar di alam sana
hingga hilanglah kesombongan dan kekerdilan jiwa

aku tersadar
bahwa diriku tak seindah mawar
aku tenggelam
dalam nista yang semakin dalam
aku hina
terjatuh dalam lumpur-lumpur dosa
tapi mohon izinkan diriku
tuk memendam selaksa rindu
dari sebuah cita dan niat di hatiku
untuk bertemu
hingga masa yang Kau tetapkan untukku

 

Menerbitkan Banyak Buku Melalui Penerbit Major

Awalnya, menulis  bukanlah hobi saya. Menulis menjadi hobi saya mungkin ketika saya mulai bekerja dan mengenal yang namanya blog di internet. Mungkin sekitar tahun 2003 – 2004. Saya pun mulai mendokumentasikan apa yang saya lihat, dengar, dan rasakan di dalam kehidupan sehari-hari. Di masa-masa berikutnya, muncul keinginan untuk menerbitkan tulisan-tulisan yang saya hasilkan di dalam blog  menjadi sebuah buku.

Selain apresiasi beberapa teman yang sering mengunjungi dan membaca tulisan saya di blog, ada dua buah quote atau kalimat bijak yang pernah saya baca yang mendorong saya untuk menerbitkan sebuah buku. Quote atau kalimat tersebut berbunyi :

“Jika engkau bukan anak raja, bukan pula anak ulama besar, maka jadiah seorang penulis.”

“Jika kamu ingin dikenang berpuluh-puluh tahun, maka tanamlah pohon. Jika ingin dikenang ratusan tahun, maka menikahlah. Jika ingin dikenang ribuan tahun maka menulislah.”

Ada pula ucapan salah seorang kerabat dalam sebuah acara keluarga. Beliau bekerja di bidang jurnalistik. Apa yang beliau sampaikan saat itu adalah nasihat dari sang ayah yang kira-kira berbunyi seperti berikut :

“Kalau loe jadi penceramah, paling-paling yang dengerin ceramah loe cuma segelintir orang, seratus sampe lima ratus orang, itu mungkin sudah hebat. Tapi kalau loe nulis, ribuan bahkan ratusan ribu orang bise bace tulisan loe. Apelagi kalo loe bise nyelipin nasihat-nasihat yang bakalan ngasih manfat dan bikin sadar banyak orang.”

Impian menerbitkan buku melalui penerbit major saya visualisasikan dalam beberapa coretan lain di blog ini. Pertama berupa cerita fiksi tentang tokoh bernama “Astafan Haris Kim”, seorang penulis yang pada akhirnya mendapatkan kebaikan dari buku yang dihasilkannya dengan sebab buku tersebut menginspirasi banyak orang untuk melakukan kebaikan. Tulisan lainnya adalah coretan yang berjudul “Menyambung Impian”. Sebuah coretan yang bermuara untuk melanjutkan impian saya yang sudah tercapai.

Ada dua alasan kenapa saya menginginkan buku saya diterbitkan secara major.

Pertama, saya ingin buku-buku karya saya bisa dibaca oleh lebih banyak orang, lebih mudah dijangkau, dan tentunya dengan harga yang lebih murah. Sebelumnya, saya telah menerbitkan beberapa buku secara indie. Menerbitkan secara indie tentu saja berbeda dengan menerbitkan melalui penerbit major. Masing-masing memiliki keuntungan dan kerugian.

Ketika sebuah novel terbit secara indie, maka harganya akan lebih mahal dan jangkauannya tidak bisa luas sebab hanya bisa dibeli secara online. Sedangkan jika diterbitkan secara major, harganya bisa lebih murah dan mudah dijangkau karena akan didistrbusikan ke toko buku yang lokasinya dekat dengan pembaca.

Kedua, untuk mengikuti jejak buku saya yang sudah terbit secara major sebelumnya. Saya berpikir, jika ada naskah saya yang bisa terbit melalui penerbit major, maka naskah lainnya pun bisa.

Langkah awal untuk bisa menghasilkan naskah, adalah dengan menulis. Saya akan menulis sebanyak-banyaknya. Sebab bisa jadi, semakin banyak tulisan yang dihasilkan, akan semakin banyak tulisan yang berkwalitas baik dan layak untuk diterbitkan menjadi sebuah buku.

Saat ini, ada dua buah naskah yang saya ajukan kepada dua penerbit major yang berbeda. Non fiksi dan fiksi.

Naskah non fiksi yang sudah saya ajukan berjudul “My Dearest Syaikhan : Sebuah Catatan Kebersamaan”, merupakan kumpulan surat yang ditulis oleh seorang ayah kepada anak lelakinya. Tahun lalu, naskah tersebut pernah saya ajukan ke salah satu penerbit major. Setelah menunggu beberapa bulan dan melakukan konfirmasi langsung, syaa mendapatkan jawbaan bahwa naskah tersebut ditolak dengan alasan, cerita yang diinginkan penerbit adalah cerita ikatan antara seorang ayah dengan anak perempuannya. Di tahun 2014 ini, sekitar beberapa bulan yang lalu, saya mengajukan lagi naskah tersebut ke penerbit major yang lain.

Untuk naskah fiksi berupa novel, saya beri judul “Pernikahan Kedua”. Sebagai langkah awal untuk menerbitkan naskah tersebut, saya mengirimkan draft naskah novel kepada beberapa orang teman. Tujuannya adalah untuk memberikan masukan dan usulan perbaikan atas naskah tersebut sekaligus memberikan endorsement. Langkah ini selesai sekitar bulan Nopember 2013.

Langkah berikutnya adalah mengirimkan naskah tersebut ke penerbit. Saya memilih penerbit yang sama dengan yang menerbitkan buku “Jejak-jejak yang Terserak” dengan harapan akan lebih mudah masuk dan diterima. Sayangnya, harapan tersebut hanya tinggal harapan. Sekitar dua bulan berikutnya, saya melakukan konfirmasi kepada penerbit dan mendapatkan jawaban bahwa naskah saya belum bisa diterbitkan. Saya sedikit kecewa.

Selanjutnya, saya mengajukan naskah ke penerbit lain. Saya mendapatkan info bahwa penerbit yang bersangkutan memberikan tawaran kepada para pemilik naskah untuk untuk diterbitkan menjadi buku. Waktu yang dijanjikan adalah tiga minggu. Dalam tiga minggu, naskah yang diajukan akan diputuskan apakah diterima atau ditolak.

Sayangnya, setelah lewat tiga minggu, tak ada jawaban yang saya terima dari penerbit yang bersangkutan. Tak ada kepastian apakah naskah saya diterima atau ditolak. Saya pun menarik naskah yang sudah saya ajukan sebelumnya.

Tak mau berputus asa, sekitar bulan Maret 2014, saya kembali menerbitkan naskah novel yang sama kepada penerbit lain yang direkomendasikan oleh salah seorang penulis yang menjadi kontak saya di facebook.

Informasi terakhir yang saya terima, naskah sudah dikirim ke penerbit. Kini saya tinggal menunggu jawaban dari penerbit apakah naskah novel “Pernikahan Kedua” yang saya ajukan diterima atau ditolak sekitar bulan Juni atau Juli 2014. Semoga saja, kabar gembira yang saya terima.

Hal terburuk apa yang mungkin terjadi jika naskah tersebut ditolak lagi? Saya bunuh diri? Tentu saja tidak. Na’udzubillaahi min dzalik. Hal terburuk yang mungkin terjadi adalah, akan ada ribuan, puluhan ribu, atau bahkan jutaan orang yang tidak bisa membaca novel saya tersebut dengan bab pembuka “Lima Delapan Lima Sembilan”. Padahal, naskah tersebut tidak kalah dengan “Ayat-ayat Cinta” atau “Ketika Cinta Bertasbih”. Ups, maaf. Narsisnya kumat.

Demikianlah cerita dua impian saya. Doakan saja keduanya bisa terwujud . Lebih cepat lebih baik. Terima kasih.


Tulisan Terkait Lainnya :

21 thoughts on “Dare to Dream

  1. mbojosouvenir Mei 11, 2014 / 11:57

    Thanks for sharing, kunjungi kami juga yah, salam🙂

    • jampang Mei 12, 2014 / 08:46

      sama-sama. terima kasih sudah berkunjung

  2. fenny Mei 11, 2014 / 18:13

    Smoga tercapai semua impiannya … Aamiin …🙂
    Kalau ibu saya dlm mencapai impiannya dgn menulis smua impiannya lalu berdoa d setiap shalat n alhamdulillah tinggal 1 point yg blm tercapai …

    • jampang Mei 12, 2014 / 08:32

      alhamdulillah. semoga yang satu itu juga segera tercapai. aamiin

  3. adienesia Mei 11, 2014 / 20:13

    akhirnya ikut juga pak🙂
    sekarang daftar tunggu untuk naik haji lumayan lama juga, di sini saja 15 tahunan pak.
    semoga terwujud.
    eh, saya juga pengen bisa nerbitin buku, entah novel atau genre lainnya, semoga saja.
    aamiin buat impian-impiannya pak😀

    • jampang Mei 12, 2014 / 08:37

      iya. soalnya makin banyak. dan ada fasilitas dari bank juga yang punya layanan untuk dan talangan haji.

  4. Helda Mei 11, 2014 / 21:25

    Aamiin…semoga bisa terwujud semua impiannya Mas🙂

    • jampang Mei 12, 2014 / 08:38

      terima kasih doanya, mbak.
      aamiin

    • jampang Mei 12, 2014 / 08:42

      aamiin. terima kasih😀

  5. Baginda Ratu Mei 12, 2014 / 08:58

    Mimpi naik hajinya samaaaaa! Semoga terkabul impiannya ya mas..

    • jampang Mei 12, 2014 / 09:22

      semoga impian mbak juga tercapai. aamiin😀

    • jampang Mei 12, 2014 / 11:11

      aamiin. terima kasih uni

  6. nazhalitsnaen Mei 12, 2014 / 11:09

    dua hal penting yang saya dapat dari bagaimana mencapai mimpi ini…
    pertama memvisualisasikan bagaimana impian itu jadinya kalau terwujud dan ya kedua menyatakan/mendeklarasikan dalam bentuk yang konkret entah itu dengan tulisan, reminder, dan semacamnya…

    • jampang Mei 12, 2014 / 11:12

      ya begitulah kira-kira😀

  7. Terusir dari Rimba September 8, 2014 / 09:39

    Jadi terinspirasi untuk tetap pantang menyerah mengejar impian jadi penulis walaupun tidak mudah. Salam kenal

    • jampang September 8, 2014 / 09:44

      semoga bermanfaat. salam kenal juga

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s