Resign Akibat Keganasan Lelaki

rapid-fire-question

Kemarin siang saya melakukan browsing template atau format surat pengunduran diri dari pekerjaan atau perusahaan. Saya berhasil mendapatkan dua buah contoh surat. Rencananya saya akan mengedit langsung salah satu atau kedua contoh surat tersebut, namun batal karena ada data yang belum saya ketahui. Akhirnya saya putuskan untuk membawa pulang softcopy contoh surat tersebut untuk dilengkapi di rumah.

“Sudah dibuat surat pengunduran dirinya?” Tanya saya kepada Minyu di malam harinya.

“Sudah. Sudah disampaikan juga ke kecamatan. Tapi Kepala Puskesmas Kecamatan lagi rapat. Suratnya dititipin ke bagian TU.”

Ternyata, Minyu sudah membuat surat pengunduran diri sendiri. Bahkan Minyu sudah mengantar surat tersebut langsung ke Puskesmas Kecamatan dengan diantar oleh Kepala Puskesmas Kelurahan. File yang saya bawa jadinya tidak digunakan. Tak mengapa.

“Jadi Mulai bulan depan udah nggak masuk kerja dong?” Tanya saya lagi yang belum bisa dijawab dengan pasti oleh Minyu.

Biarlah perjalanan waktu yang akan menjawabnya

*****

Kondisi dan keadaan keluarga maupun lingkungan memang akan memberi pengaruh yang cukup besar kepada seseorang. Salah satu contohnya adalah mengenai apakah seorang perempuan yang sudah menikah akan tetap bekerja atau berhenti dan fokus pada urusan rumah tangga.

Di lingkungan keluarga dan tempat tinggal saya, kebanyakan para perempuannya adalah ibu rumah tangga. Mereka fokus berkarir di rumah dan bukan berkarir di luar rumah. Di antara para ibu rumah tangga tersebut ada yang memiliki usaha sendiri dengan membuka warung di depan rumah. Sebagian lagi sama sekali tidak memiliki usaha apa pun. Mereka murni sebagai ibu rumah tangga.

Saya pun pernah bertemu dengan tiga orang perempuan yang karena situasi dan kondisi keluarga memilih atau tidak memilih menjadi ibu rumah tangga. Adan yang menjadi ibu rumah tangga karena pilihannya. Ada yang kemudian bosan setelah sekian lama menjadi ibu rumah tangga. Ada pula yang tidak mendapat ridho ketika dirinya ingin menjadi ibu rumah tangga. [IRT : Yang Memilih, Yang Bosan, dan Yang Tak Diridhoi]

Saya sendiri tidak memaksa Minyu untuk tetap bekerja di luar rumah atau menjadi ibu rumah tangga. Beberapa kali saya mengutarakan hal itu. Yang saya tekankan adalah, bahwa apapun yang dipilih, bekerja atau menjadi ibu rumah tangga, harus dijalanin dengan keyakinan dan kemantapan hati. Jangan setengah-setengah. Sebab jika dilakukan dengan setengah-setengah, tidak akan memberikan kebaikan seperti yang diinginkan.

Misal, jika seorang perempuan yang telah menikah memilih untuk tetap bekerja dan berkarir di luar rumah, maka dirinya harus rela ketika meninggalkan anak-anak yang masih kecil di rumah dan mempercayakan segala kebutuhan anak-anak kepada orang lain, baik itu kakek-neneknya, om dan tantenya, atau mungkin pengasuhnya. Jangan sampai ketika bekerja,Β  dirinya tidak bisa fokus dengan apa yang dilakukannya karena pikirannya selalu tertuju pada anak-anak di rumah. Mungkin dirinya tidak bisa mencurahkan kasih sayang kepada anak-anak dengan sempurna, tapi itulah salah satu resiko yang harus dihadapi. Manajemen yang sangat baik harus bisa dijalaninya untuk menghadapi segala kondisi yang ada.

Sebaliknya, jika seorang perempuan yang telah bersuami memilih untuk berkarir di dalam rumah, menjadi ibu rumah tangga, maka dirinya harus ikhlas dengan segala kondisi yang akan ditemukannya di dalam rumah. Apa pun bentuknya. Jangan pernah berpikir bahwa bekerja di luar rumah lebih enak dibandingkan menjadi ibu rumah tangga. Jika demikian, bisa jadi, fisiknya berada di rumah, di hadapan anak-anak, tetapi pikiran dan jiwanya entah ke mana. Yang demikian juga sepertinya tidak mendatangkan kebaikan.

Apa pun pilihannya, saya serahkan kepada Minyu. Saya cuma bisa memberikan dukungan.

Lalu Minyu bercerita tentang dua orang saudara sepupu perempuan jauhnya yang juga adalah teman sepermainannya di masa kecil. Setelah menikah, keduanya berhenti bekerja dan memfokuskan diri dengan urusan internal rumah tangga.

“Setelah menikah, aku langsung mengundrukan diri meskipun baru bekerja beberapa bulan.”

“Kamu sudah bertahun-tahun bekerja. Nggak cape? Mungkin sekarang sudah waktunya kamu fokus dengan urusan rumah tangga.”

Kira-kira seperti itulah tanggapan kedua sepupu jauh Minyu yang saya dengar dari cerita Minyu.

Minyu sudah memutuskan untuk resign. Saya memberikan dukungan atas keputusannya itu. Semoga itu adalah yang terbaik untuk saya, Minyu, dan anak-anak kami kelak. Insya Allah. Di samping itu, Minyu memiliki sebuah mimpi dan rencana tentang apa yang akan dilakukannya kelak ketika menjadi ibu rumah tangga.

*****

“Nanti, kalau anak saya menikah, saya akan suruh dia resign aja dari pekerjaannya. Apalagi kalau nantinya dia hamil terus seperti Minyu. Kasihan. Minyu itu korban keganasan laki-laki.” Ucap Kepala Puskesmas Kelurahan yang menjadi atasan Minyu kepada salah seorang rekan kerja Minyu.


Tulisan Terkait Lainnya :

42 thoughts on “Resign Akibat Keganasan Lelaki

  1. ayanapunya Mei 21, 2014 / 08:00

    ah, judulnya menipu πŸ˜€
    buat mba Minyu, insya Allah pasti sudah memilih yang menurutnya terbaik πŸ™‚

    • jampang Mei 21, 2014 / 08:03

      saya hanya menyebutkan fakta. ada yang resign, dan ada yang bilang soal keganasan lelaki πŸ˜›

      • ayanapunya Mei 21, 2014 / 09:03

        kayak sebutan rumah sakit di malaysia, yak. yang ujungnya korban lelaki itu πŸ˜€

      • jampang Mei 21, 2014 / 09:07

        itu saya tulis sebutan rumah sakit itu di malaysia di komentar lainnya

  2. Rahmat_98 Mei 21, 2014 / 08:09

    Akibat keganasan lelaki…? Masyaallah, sampai segitunya…. πŸ˜€
    Semoga apa yang mba Minyu pilih adalah pilihan yang terbaik dari Allah…

    • jampang Mei 21, 2014 / 08:11

      ya mungkin omongannya sambil bercanda, bang πŸ˜€

      dulu pernah denger kalau di malaysia, rumah sakit bersalin itu disebutnya rumah sakit korban lelaki. nggak tahu bener apa nggak πŸ˜€

      • Rahmat_98 Mei 21, 2014 / 08:13

        Kalau yang di Malaysia ane pernah ngedengar juga bang.

        Hahaha, jadi gak enak juga dituduh sebagai penyebabnya bang…

      • jampang Mei 21, 2014 / 08:22

        tapi kan nggak mungkin yang jadi penyebab perempuan hamil adalah perempuan juga. pasti laki-laki. tinggal gimana menyikapinya… apakah mau jadi laki-laki sejati atau laki-laki pecundang πŸ˜€

      • Rahmat_98 Mei 21, 2014 / 08:23

        Hehehe… iya bener juga.
        Semoga pilihan mbak Minyu adalah jalan terbaik yang Allah berikan bang…

      • jampang Mei 21, 2014 / 08:31

        aamiin. tapi ada mimpi yang ingin direalisasikan ketika jadi IRT. mungkin buka usaha di rumah. biar semuanya bisa dikendalikan πŸ˜€

      • Rahmat_98 Mei 21, 2014 / 08:40

        Waaaah, mantap tuh bang…
        Semoga impiannya terwujud…

      • jampang Mei 21, 2014 / 08:41

        terima kasih doanya, bang.

  3. ira nuraini Mei 21, 2014 / 08:35

    ini emang slalu jadi hot topic para ibu2..galau antara tetap kerja ato berhenti kerja, setiap pilihan memang punya resiko..tapi benar kata mas jampang..apa pun pilihannya harus dijalanin dengan keyakinan dan kemantapan hati. Jangan setengah-setengah.

    • jampang Mei 21, 2014 / 08:36

      iya mbak. harus mantap dan yakin. jadi kalau ada ganggung di tengah jalan nggak akan mudah goyah

  4. MS Mei 21, 2014 / 09:00

    Minyu sudah mantap dengan pilihannya ya..
    harus didukung penuh bang…

    • jampang Mei 21, 2014 / 09:06

      iya mbak. saya udah bilang. karena bukan saya yang menjalani pilihan dirinya… saya hanya bisa mendukung. apa pun pilihannya

  5. syifna Mei 21, 2014 / 12:06

    Hahaha, judulnya menipu sama apa yang di tulis mba Ayana πŸ™‚
    tapi beneran loh ada perempuan yang resign karena mata genit lelaki hihihi… godaannya nggak kukuh deh :p

    • jampang Mei 21, 2014 / 13:18

      bukan hanya karena mata genit lelaki. tetapi juga karena takut matanya melihat lelaki lain

      *soalnya barusan baca coretan perempuan yang bilang begitu*

      πŸ˜€

  6. rianamaku Mei 21, 2014 / 12:18

    Wadow wadow judulnya.
    Salut buat mba minyu lantas pilihanya apa mas..
    Kalau aku kok egois untuk bekerjanya tinggi belum siap dirumah..
    mungkin saya blm punya anak jadi masih enjoy.

    • jampang Mei 21, 2014 / 13:19

      soal ganasnya bukan saya yang bilang πŸ˜€

      bisa jadi mbak. kalau belum ada anak bisa menikmati dunia kerja

  7. rinasetyawati Mei 21, 2014 / 12:27

    judulnya yaaaa… bikin penapsaran membaca sampai akhir… :)))

    • jampang Mei 21, 2014 / 13:19

      karena keganasannya ada di bagian akhir ya mbak πŸ˜€

  8. Evi Mei 21, 2014 / 14:10

    Keren deh Mas ceritanya. Minyu senang pastinya jadi korban ya πŸ™‚

    • jampang Mei 21, 2014 / 14:15

      insya Allah senang, mbak πŸ˜€

  9. ibuseno Mei 21, 2014 / 15:13

    emang ganas mas ? πŸ™‚

    • jampang Mei 21, 2014 / 15:50

      πŸ˜€

      ganas : gagah dan ganas (alias hot)

  10. izzawa Mei 21, 2014 / 15:44

    saya salah satu prmpuan yang bekerja jg skligus menjadi ibu rumah tangga mas…gak mudah emang tp saya bekerja d pemerintahan yg g bs keluar masuk bgt aja…
    kalo boleh milih sih emang enak jd ibu IRT..cuma kalo kita g bsa milih yaaa jalani aja sebaik2nya dan syukuri aja πŸ˜€
    untuglah di kantor saya atasanya sering beri kelonggaran…. ^_^
    selamat buat minyu …pekerjaan yg paling enak emang jd IRT walau capek pun tp rasanya bahagia…

    • jampang Mei 21, 2014 / 15:51

      iya mbak. tinggalan jalanin setiap pilihan tersebut dengan sepenuh hati πŸ˜€

  11. ysalma Mei 21, 2014 / 17:04

    saya termasuk salah satu yang akhirnya memilih seperti yang dilakukan Minyu,
    tetapi Minyu perlu sokongan kuat dari Suaminya tuh, secara jadi IRT itu bagi yang biasa kerja diluar rumah, tak semudah mengatakannya πŸ™‚

    • jampang Mei 21, 2014 / 21:32

      insya Allah jika niatnya untuk kebaikan, Allah akan beri kemudahan. aamiin πŸ˜€

    • jampang Mei 22, 2014 / 05:29

      Apa dan siapa yang keren, kang? πŸ˜€

      • tipongtuktuk Mei 22, 2014 / 09:41

        he he he … ada aja … πŸ˜€

      • jampang Mei 22, 2014 / 09:55

        kirain saya πŸ˜€

  12. capung2 Mei 21, 2014 / 23:53

    jaman sekarang justru bnyak para wanita yg bekerjanya diluar sma halnya spt kaum pria.. namun tak jarang keluarga spt terabaikan krn hal tsb.

    • jampang Mei 22, 2014 / 05:32

      Masing-masing mungkin punya alasan ketika memilih salah satu pilihan. namun tetap keluarga yg utama

  13. pinkvnie Mei 22, 2014 / 20:59

    Bekerja di dalam atau di luar rumaah keluarga harus tetap nomor satu.
    Salut buat ka minyu … salut juga untuk para IRT … *jempol* πŸ™‚

    • jampang Mei 23, 2014 / 05:31

      iya… keluarga itu yg utama

  14. faziazen Agustus 20, 2014 / 08:46

    hahahhaa ganas
    gapapa..bumil memang sebaiknya banyak istirahat
    takutnya kalau kerjaan banyak jadi stress, gak baik buat janin

    • jampang Agustus 20, 2014 / 08:53

      iya. jadi minyu memutuskan resign

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s