Kisah Kaca Spion yang Keren

 

kaca-spionKamis, 22 Mei 2014

Sore hari, langit terlihat mendung. Saya bergegas menuju tempat parkir di basement agar tak kehujanan dalam perjalanan menjemput Minyu dan pulang. Namun begitu saya keluar dari basement, hujan sudah turun dengan lebatnya. Karena tak membekali diri dengan jas hujan ataupun kantong plastik untuk melindungi barang bawaan di dalam tas, akhirnya saya menunggu huja reda.

Saat menunggu, saya menelpon Minyu untuk menanyakan apakah dirinya akan pulang sendiri dengan naik angkot atau pulang hujan-hujanan bersama. Telpon tak diangkat. SMS yang terkirim pun tak berbalas.

Tak lama kemudian hujan berhenti. Saya segera menyalakan sepeda motor dan melaju menuju Slipi. Menjemput Minyu.

Ternyata, hujan turun tidak merata. Beberapa saat melewati semanggi hingga mendekati Slipi, tak ada tanda-tanda hujan turun sebelumnya. Jalanan terlihat kering.

Sesaat mendekati putaran Slipi, laju semua kendaraan melambat karena arus lalu-lintas bertambah padat. Saya mengambil jalur sebelah kanan. Melaju dengan memanfaatkan celah-celah kosong di antara mobil. Hingga di satu titik, saya tidak bisa melaju lagi karena ruang di depan tidak cukup untuk sepeda motor. Jika dipaksakan, sepeda motor saya akan menyenggol kaca spion mobil sedan berwarna hitam yang  berada di sisi kanan. Saya pun berhenti. Menunggu.

Tiba-tiba, kaca spion mobil sedan tersebut bergerak perlahan. Merapat ke badan mobil. Otomatis. Keren, kan? Atau mungkin saya aja yang kampungan yang baru sekali ini melihat kejadian seperti itu?

Yang saya maksud dengan keren itu bukanlah fitur kaca spion yang bisa membuka dan menutup secara otomatis di mobil seda tersebut, melainkan sikap pengemudinya yang segera merapatkan kaca spion mobilnya seperti bertujuan membuka jalan bagi saya agar sepeda motor yang saya tunggangi bisa lewat dan melaju. Itu yang hal yang jauh lebih keren.

Kejadian yang saya alami sore itu mengingatkan saya akan sebuah komentar di dalam sebuah forum diskusi yang sedang membahas topik berlalu-lintas di jalan raya. Komentar tersebut kurang lebih mengisyaratkan bahwa :

“Arus lalu-lintas akan lancar jika masing-masing pengguna jalan, terutama para pengendara kendaraan bermotor saling menghargai satu sama lain. Pengendara mobil menghargai pengendara sepeda motor. Sebaliknya, pengendara sepeda motor menghargai pengendara mobil. Begitu juga para pengendara kendaraan sepeda motor bisa menghargai para pejalan kaki. Hal yang sama juga berlaku sebaliknya. Dan semua itu bisa terjadi ketika masing-masing orang pernah merasakan sebagai pengendara mobil, pengendara sepeda motor, dan pejalan kaki di jalan raya, sehingga masing-masing pernah merasakan seperti apa rasanya di ketiga kondisi tersebut.”

Mungkin, pengendara sedan yang saya ceritakan di atas pernah merasakan dan berada sebagai seorang pengendara sepeda motor. Pengalamannya itulah yang menyebabkan dirinya bisa berempati dan menyediakan jalan bagi saya, seorang pengendara motor. Sayangnya, saya tidak sempat mengucapkan terima kasih kepada pengemudi yang baik hati tersebut.

Terima kasih Mas/Mbak/Pak/Bu, atas kebaikan Anda memberikan jalan kepada saya di Kamis sore itu. Mungkin saya belum bisa bersikap seperti Anda. Saya masih sering tak mau mengalah terhadap pengendara lain. Mudah-mudahan saya bisa mencontoh sikap Anda meskipun saya belum pernah berada di jalan raya sebagai pengendara mobil.


Tulisan Terkait Lainnya :

6 thoughts on “Kisah Kaca Spion yang Keren

  1. ibuseno Mei 26, 2014 / 19:02

    Pengemudi yg baik hati, saya malah kadang kesel sm pengemudi mobil yg gak ngasih jalan motor, biasanya malah spionnya sengaja di tabrak hehehe..anarki

    • jampang Mei 27, 2014 / 04:35

      iya, mobilnya keren, pengendaranya juga keren

      wuih…. bisa ribut donk nanti, teh.

  2. aqied Mei 28, 2014 / 19:01

    nggggg jd inget kmaren sore jogja macetnya pake banget. penyakit kambuhan jogja tiap banyak tanggal merah atau musim libur. jadi saya nyelip2 n spion saya nyenggol spion mobil org yg ke kiriiii banget. kabuuuur

    • jampang Mei 28, 2014 / 23:09

      hwaaa…. lecet nggak tuh spionnya 😀

  3. dani Januari 27, 2015 / 09:29

    Merasa diingetin nih say Bang. Makasih ya.

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s