Siomay, Singkong, dan Seafood

siomay-keripik-singkong-udang-saus-tiram

Beberapa saat setelah mengalami kisah kaca spion yang keren,  saya bertemu dengan Minyu yang sedang duduk menunggu kedatangan saya. Lalu kami langsung pulang untuk menghindari hujan, sebab langit diselimuti awan mendung. Sayangnya, beberapa ratus meter kemudian, hujan turun dan kami kehujanan di atas sepeda motor hingga tiba di rumah.

Malam harinya, Minyu menyampaikan sesuatu. “Bang, pengen siomay!”

Yang terlintas di dalam pikiran saya adalah siomay yang dijual di warung di sisi Jalan Pos Pengumben, sebelum perempatan Kelapa Dua jika dari arah Permata Hijau. Beberapa waktu sebelumnya kami pernah menikmati mie ayam dan bakwan Malang di tempat tersebut dan belum sempat menikmati batagor atau siomaynya. Meskipun di lidah saya terasa biasa saja dan kurang sebanding dengan harganya, tapi mungkin beda bagi lidah orang yang ngidam. Mungkin Minyu ingin mencobanya.

Ternyata, siomay yang diinginkan Minyu adalah siomay keliling. Biasanya, memang akan ada tukang siomay keliling yang lewat depan rumah. Namun karena cuacanya habus hujan dan masih gerimis, saya tak mendengar suara kentongan yang menjadi ciri khas tukang siomay di depan rumah.

Selepas shalat isya, saya sempatkan keluar rumah untuk mencari tukang siomay. Sayangnya, yang saya temukan hanya tukang bakwan malang. Tak ada tukang siomay. Barulah sekitar pukul sembilan malam, ada tukang siomay yang lewat. Saya langsung beli meskipun Minyu sudah tidur. Mungkin Minyu akan memakannya jika terbangun di tengah malam.

Ketika bangun saat Shubuh, saya melihat isi siomay tak lagi utuh di atas piring. Rupanya semalam Minyu bangun dan menyantapnya. Alhamdulillah. Selama dua atau tiga hari kemudian, Minyu selalu menikmati siomay saat sore atau malam hari untuk mengisi perut kosongnya.

“Mau siomay lagi?” Tanya saya kemarin sore.

“Nggak.”

Sepertinya Minyu sudah bosan dengan siomay.

“Mau keripik singkong.” ucapnya beberapa waktu kemudian.

“K*s*k*?” saya sebutkan sebuah merek keripik singkong.

“Nggak. Itu banyak MSGnya.”

“Jadi yang di pinggir jalan?”

“Iya.”

“Terus, makan malamnya apa?”

Entah berapa banyak jenis makanan yang saya sebutkan yang ditolak oleh Minyu.

“Mau telur dadar aja!” jawab Minyu pada akhirnya.

“Sekali-kali makan yang enak dong!” protes saya. “Seafood aja yah?”

Entah saya menyebutkan seafood murni agar Minyu mau makan atau mungkin saya yang sebenarnya mau makan seafood.

Akhirnya Minyu menerima usul saya. Alhamdulillah, semalam Minyu mau makan dengan menu udang saus tiram dan cah kangkung. Tanpa muntah.


Tulisan Terkait Lainnya :

35 thoughts on “Siomay, Singkong, dan Seafood

  1. rianamaku Mei 27, 2014 / 17:19

    so sweet..
    sambil lirik suami aku..

    • jampang Mei 28, 2014 / 05:18

      😀

      mau minta beliin juga yah?

    • jampang Mei 28, 2014 / 05:18

      insya Allah begitu, mas.
      mohon doanya agar semuanya sehat

    • jampang Mei 28, 2014 / 05:19

      nyam nyam enak yah 😀

  2. Wiwik Widiyatni Mei 27, 2014 / 22:28

    Mungkin lain waktu bang rifki aja yang “ngidam” pgn maem apa gitu, kali aja mbak minyu kalo maem gak muntah. Hehehe…

    • jampang Mei 28, 2014 / 05:20

      hmmm…. nanti deh saya coba lagi 😀

  3. kelanalana Mei 27, 2014 / 23:51

    Ketiganya makanan kesukaan saya gan.

    • jampang Mei 28, 2014 / 05:20

      enak-enak semua kan?
      😀

  4. nazhalitsnaen Mei 28, 2014 / 05:47

    tiga makanan gini… hmmm panteslah kalau bisa bikin ngidam… saya aja pengen kok ahaha

    • jampang Mei 28, 2014 / 05:58

      sekarang udah nggak mau makan siomay lagi. udah bosan kali 😀

      • nazhalitsnaen Mei 28, 2014 / 06:01

        yah harus ada variasi memang.. mungkin dipolain antara ketiga itu plus bakwan malang atau mie ayam 😀

      • jampang Mei 28, 2014 / 06:03

        bakwan malang udah, nas 😀

        mi ayam nggak mau

  5. pingkanrizkiarto Mei 28, 2014 / 07:11

    udah lama nih eike gak makan seafood, inget kolesterol n inget umur, wkwkwkwkw…..

    • jampang Mei 28, 2014 / 07:55

      kan ada penangkalnya, mbak 😀

  6. Inge Febria Mei 28, 2014 / 08:10

    pagi-pagi ikutan pengen somay…

    btw, semoga minyu cepetan berlalu masa eneg-nya yak

  7. yuniarinukti Mei 28, 2014 / 09:28

    Wah baca ini jadi pengen beli siomay.. slurupp bumbu kacangnya bikin ngences 😀

    • jampang Mei 28, 2014 / 10:15

      muantap deh pokoknya 😀

  8. titintitan Mei 28, 2014 / 14:38

    waaah, smp harus ditawarin buat makan enak 😀

    • jampang Mei 28, 2014 / 15:46

      iya. biar mau makan 😀

  9. Rini Mei 28, 2014 / 17:25

    Saya melihat yang ngidam dan masih muntah setelah makan itu, suka kasihan. Sabar ya.

    • jampang Mei 28, 2014 / 18:35

      Lagi masanya begitu, mbak.

  10. aqied Mei 28, 2014 / 18:58

    akuuu sukaaaaak bangeet udang. tapi sejak timbul reaksi alergi, apa daya lah ;(

  11. maembie Mei 30, 2014 / 03:15

    Namanya juga ngidam, pasti ada kepengen makan yang gak biasa. Semoga saya bisa sesabar itu ngadepin istri. Tapi belum beristri seh 😀

    • jampang Mei 30, 2014 / 05:22

      😀
      semoga segera dapat istri

      • maembie Mei 30, 2014 / 13:09

        😀 Amiin amiin

      • jampang Mei 30, 2014 / 14:54

        🙂

  12. Avizena Zen Mei 31, 2014 / 00:25

    xiixi sama kayak mbak minyu, dulu waktu hamil juga ngidam somay melulu

    • jampang Mei 31, 2014 / 05:43

      oh ya?
      tapi sekarang udah nggak mau makan siomay lagi

      • faziazen Juni 3, 2014 / 10:24

        udah bosan mungkin

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s