Antara Pompa Air dan Calon Presiden

 

pompa airBeberapa waktu yang lalu, pompa air di rumah bermasalah. Air yang disedot baru bisa keluar setelah dipancing terlebih dahulu. Jika kemudian pompa air dimatikan dalam waktu cukup lama lalu dinyalakan kembali, air tidak keluar lagi. Harus dipancing lagi.

Karena harus sering dipancing, maka penutup pompa air harus dibuka dan ditutup. Akibatnya penutup tersebut menjadi aus dan kendor. Akibat selnjutnya, pompa air tidak bisa ditutup dengan rapat dan air memancar ke mana-mana. Penutup tersebut harus segera diganti.

Singkat cerita, saya tiba di tempat servis pompa air. Setelah bertanya dan menyerahkan tutup pompa air yang rusak, Bapak tukang servis segera mencarikannya. Sambil melihat bapak tukang servis tersebut mencari-cari, saya curhat atau bercerita tentang kondisi pompa air di rumah.

Dari cerita saya tersebut, Bapak tukang servis menyimpulkan bahwa kemungkinan ada yang bocor atau pecah di ujung pipa bagian bawah. Bisa juga mata bornya rusak atau klep di ujung bawah yang bermasalah.

Jika kesimpulan Bapak tukang servis itu benar, saya tanyakan berapa biaya untuk perbaikannya. Jawaban yang saya terima adalah sekitar dua juta lima ratus rupiah. Biaya yang cukup mahal. Alasan beliau untuk mengecek kerusakannya seluruh pipa harus diangkat dan kemudian dipasang kembali. Biaya sebesar itu hanya untuk ongkos tenaga saja. Kalau ada barang-barang yang harus dibeli, urusannya lain lagi.

Saya tak menawar harga yang diucapkan Bapak tukang servis tersebut. Memang belum ada niat untuk memperbaiki mesin pompa air secara total. Apalagi mendengar besaran ongkosnya. MAHAL. 😀

Beberapa hari kemudian, ibu menelpon ketika saya sedang berada di kantor. Berbekal informasi yang saya berikan soal ongkos sebelumnya, ibu ingin memanggil tetangga yang berprofesi sebagai tukang gali sumur. Kata ibu, tukang gali sumur itu diminta untuk meliht-lihat kondisi pompa air saja dahulu. Kalau bisa diperbaiki, ya langsung diperbaiki. Siapa tahu biayanya bisa lebih murah. Saya setuju.

Alhasil, begitu saya kembali ke rumah, perbaikan mesin pompa air sudah selesai. Cukup setengah hari saja. Air sudah bisa keluar tanpa perlu dipancing lagi. Bak penampung yang sebelumnya terpasang namun tidak digunakan, akhirnya digunakan kembali. Pompa air juga dipasangkan alat agar bisa menyala dan mati secara otomatis. Alhamdulillah.

Berapa totol biayanya? Cukup lima ratus tujuh puluh ribu rupiah saja. Jauh lebih murah. Ternyata, kebocoran terjadi di bagian atas, bukan di bagian bawah, apalagi di ujung paling bawah sehingga tak banyak tenaga yang harus dikeluarkan oleh tukang sumur tersebut.

Sepertinya, biaya yang disebutkan oleh Bapak tukang servis baru sekedar perkiraan. Dugaan sementara. Mungkin juga berupa opini. Sebab kenyataannya, Bapak tukang servis itu belum melihat kondisi apa yang terjadi sebenarnya dengan pompa air yang saya ceritakan. Sedangkan Bapak tukang gali sumur langsung melihat fakta, sebab langsung ke tempat kejadian perkara. Biasa jadi apa yang dugaan Bapak tukang servis benar adanya. Bisa jadi perkiraan biayanya lebih mahal daripada yang seharusnya. Bisa jadi pula biasanya bisa lebih murah jika pada kenyataannya kerusakan pompa air jauh lebih parah.

Mungkin kejadian yang saya alami dengan Bapak tukang servis dan Bapak tukang gali sumur bisa dikaitkan dengan proses pemilihan presiden yang akan berlangsung nanti. Selama ini saya hanya membaca berita dan berita tentang kedua pasangan tersebut. Dan biasanya, isi berita itu tergantung kepada siapa yang menyampaikannya. Jika yang memberitakan adalah pihak yang mendukung salah satu pasangan maka berita baik-baik sajalah yang dimuat lalu dishare oleh para pendukung pasangan tersebut. Mungkin ada pula bumbu-bumbu berupa membanding-bandingkan atau menjelek-jelekkan pasangan yang lain. Hal yang sama juga bisa berlaku sebaliknya.

Seandainya saja para pembawa berita itu bersifat jujur dan amanah, mungkin mereka bisa menyampaikan berita dengan apa adanya. Sesuai dengan fakta dan sumber yang valid. Tidak dilebih-lebihkan, tidak pula dikurang-kurangi. Yang baik mereka katakan baik. Yang jelek mereka bilang jelek. Kalau saja demikian, mungkin tidak banyak yang bingung untuk menjatuhkan pilihan.

Jika saya hanya mendengar berita saja, bisa jadi yang saya tangkap adalah seperti yang disampaikan oleh Bapak tukang servis di atas yang memberikan kesimpulan, dugaan, atau opini sementara berupa perkiraan biaya perbaikan pompa air. Bisa benar, bisa juga salah. Seandainya saja saya berada dekat dengan kehidupan kedua pasangan tersebut, tahu tentang kehidupan keseharian mereka, mungkin saya akan bersikap seperti Tukang gali sumur, menyimpulkan biaya perbaikan sesuai dengan fakta. Apa adanya.

Sayanya, tak mungkin semua orang bisa berada di samping kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden itu dan melihat kehidupan mereka secara langsung. Mungkin hanya beberapa orang saja yang mengenal dengan baik siapa sebenarnya mereka itu. Selanjutnya beberapa orang tersebut bisa berbagi cerita tentang kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden itu tersebut kepada teman dan sabahat. Mungkin pada akhirnya, berita atau cerita dan berita itu ke telinga saya.

Namun demikian, saya tetap saja menentukan, siapa-siapa saja di antara para pembawa berita di masing-masing level itu yang bisa dipercaya dan mana yang tidak. Sebab yang seperti itu harus ada ilmunya. Mungkin kalau bisa dan boleh dianalogikan, mirip dengan ilmu hadits yang membahas dan menentukan siapa perawi yang dapat dipercaya hingga sebuah hadits dikatakan shahih, dan mana yang tidak dapat dipercaya sehingga sebuah hadits dikatakan lemah dan palsu.

Wallaahu a’lam.


Tulisan Terkait Lainnya :

30 thoughts on “Antara Pompa Air dan Calon Presiden

    • jampang Juni 3, 2014 / 13:21

      ya bisa juga lebih murah 😀

  1. rianamaku Juni 3, 2014 / 10:05

    Begitu juga dengan saya hanya bisa menebak nebak juga…

    • jampang Juni 3, 2014 / 13:22

      harus kenal lebih dekat biar lebih tahu banyak, mbak

  2. eda Juni 3, 2014 / 10:49

    nah ini juga yg aku sebel! di socmed rameee banget yg ngomongin capres dan byk yg jadi pengamat dadakan. akhirnya bisa dipastikan, fitnah bertebaran..

    • jampang Juni 3, 2014 / 13:23

      bisa jadi cara itu akan menyerang diri sendiri…. 😀

  3. capung2 Juni 3, 2014 / 11:24

    Kalo asal nembak, mmg begitu biasanya, ska dimahalin 😀

    • jampang Juni 3, 2014 / 13:23

      mereka juga usaha dapat yang lebih banyak… kita berusaha nawar semurah mungkin 😀

  4. Dyah Sujiati Juni 3, 2014 / 15:14

    Setidaknya kita masih normal dan punya akal untuk berfikir dan menilai. Setidaknya, dari apa yang kita lihat kita bisa mikir kan?
    Masak kalau calon presiden yang pidatonya ngaco dianalogikan dengan kesederhanaan dan bersahaja?
    Kalau iya berarti bangsa kita telah mengalami degradasi intelektual, mental, dan akal. Bisa hancur negara.

    #kenapa sy bersemangat sekali? 😛

    • jampang Juni 3, 2014 / 15:44

      kalau pasangannya gimana? bisa saling melengkapi kan?

      • Dyah Sujiati Juni 3, 2014 / 15:45

        Hahahaa! I know what you mean 😛

      • jampang Juni 3, 2014 / 15:46

        ya kan kemaren di tempat mbak bahas soal itu 😛

      • Dyah Sujiati Juni 3, 2014 / 15:51

        Baca endingnya donk 😉

      • jampang Juni 3, 2014 / 16:08

        endingnya sedih yah? 😀

  5. ysalma Juni 3, 2014 / 22:38

    pompa air udah beres,
    jadi calon presidennya gimana? *yang mana yang perkiraan ‘harga’nya paling mendekati kondisi sekarang.

    • jampang Juni 4, 2014 / 07:34

      karena saya nggak pernah ketemu langsung, jadi saya mengikuti pilihan orang-orang yang menurut saya baik 😀

  6. pingkanrizkiarto Juni 4, 2014 / 12:04

    dua juta setengah vs lima ratus tujuh puluh ribu ? wedeeeewww…. jaoh beneeer… 😀

    • jampang Juni 4, 2014 / 16:11

      iya. karena ternyata masalahnya enggak terlalu parah banget

  7. Rivanlee Juni 4, 2014 / 14:25

    wah, mantap analoginya kang… sesungguhnya pemimpin yang hebat itu yang mengerti kondisi rakyat bukan membuat kehidupan rakyat menjadi sesuai standard yang diinginkan dirinya.

    • jampang Juni 4, 2014 / 16:12

      cuma ngait-ngaitin aja 😀

      semoga pemimpin yng terpilih nanti bisa membawa kebaikan untuk semua. aamiin

  8. Pendar Bintang Juni 4, 2014 / 15:21

    Susah juga…sih ya, karena kadang berita yang mereka bacakan juga tinggal ngebacain jadi gak tau kebenarannya, kejadian mancing memancing pipa di rumah saya dulu biasanya jika musim kemarau jika tdk kedalaman air tidak pernahh lbh dalam dari 6-7meter.

    • jampang Juni 4, 2014 / 16:13

      mungkin kita yang harus leih teliti mencernanya 😀

      kalau musim kemarau sudah pernah ngalamin juga. karena permukaan air tanah turun jadinya harus digali lebih dalam lagi

  9. faziazen Juni 5, 2014 / 22:58

    iya Bang,,udah capek baca black campaign capres dan saling menjelek2kan pihak lain di fb

    • jampang Juni 6, 2014 / 12:42

      iya mbak. lama-lama emang capek 😀

      • faziazen Juni 6, 2014 / 21:20

        ampe ada yang berdoa moga cepet world cup biar newsfeed ga black campaign melulu

      • jampang Juni 7, 2014 / 07:51

        😀
        WC sebentar lagi

  10. arip Juni 7, 2014 / 20:55

    Pusing saya juga. Mana fakta mana fitnah.

    • jampang Juni 8, 2014 / 07:27

      harus hati-hati biar tidak terjebak

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s