
Menunggu. Itulah yang kulakukan saat ini. Di salah satu tempat di dalam sebuah kamar tidur yang ditata sedemikian rupa. Sebuah lampu yang dijadikan penerang ruangan menyala alakadarnya. Remang. Aroma pengharum ruangan merebak ke segala penjuru ruangan. Siapapun yang berada di dalam kamar ini, kujamin akan langsung merasakan aura yang begitu romantis.
Menunggu. Hanya itu yang bisa kulakukan sebelum melakukan tugasku sesuai jadwal. Sebagai penjagal, aku harus aat pada jadwal. Lagi pula, aku tidak akan bisa mengeksekusi tugasku tanpa campur tangan manusia yang beberapa saat lagi akan masuk ke dalam kamar ini. Sebab aku bukanlah penjagal seperti kebanyakan.
Tak ada jubah tebal berwarna hitam yang menjadi penutup seluruh tubuhku. Tak ada pula senjata tajam seperti sabit perang di tanganku. Aku bekerja dengan tangan kosong.
Ukuran tubuhku jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan tubuh manusia. Ukuran targetku juga jauh lebih kecil daripada tubuhku. Namun jumlah mereka sangat banyak. Tugasku menghabisi mereka semua dalam sekali aksi.
Yang kutunggu sudah datang. Pintu kamar terbuka dari luar dan masuklah dua sosok beriringan ke dalam kamar. Satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya masuk sambil berpegangan tangan.
Aku masih menunggu di tempatku berada. Menunggu aksi keduanya.
“Sayang, apa yang kau rasakan ketika berada di dalam kamar ini sekarang?” tanya sang lelaki.
Yang ditanya langsung memperhatikan sekeliling kamar sebelum memberikan jawaban. “Seperti malam pertama kita dua tahun yang lalu,” jawabnya dengan malu-malu.
“Tepat sekali,” timpal sang lelaki. “Aku sengaja menata kamar tidur kita ini seperti malam itu. Apa kau menyukainya?”
“Aku sangat menyukainya.”
“Happy Aniversary, sayang!” ucap sang lelaki sambil mengecup mesra kening sang istri.
“Terima kasih, sayang!” balas sang istri sambil merangkul sang suami.
Di detik kemudian, keduanya mulai melampiaskan hasrat masing-masing dan melepas semua tabir diantara mereka. Sementara aku masih menunggu. Melihat situasi sebelum beraksi.
Kulihat tangan kanan sang lelaki bergerak ke arahku. Kupikir, inilah saat yang tepat untuk memulai tugasku sebagai penjagal.
Aku terjaga. Kini, apa yang ada di sekelilingku telah berubah dari sebelumnya. Seratus delapan puluh derajat. Tak tercium lagi aroma harum seperti yang kudapati semalam, karena telah berganti dengan bau busuk yang begitu menyengat. Tak ada lagi suasana kamar yang sangat romantis seperti beberapa waktu sebelumnya, karena telah berganti dengan timbunan aneka sampah.
Kuperiksa seluruh tubuhku. Tak ada yang terluka. Hanya saja bentuk tubuhku sudah berubah. Tak lagi seperti semula. Kuperhatikan lagi diriku dengan seksama. Sepertinya aku telah sukses menjalankan tugasku. Sebab, di dalam genggamanku, terdapat jutaan korbanku aksiku.
Jika para penjagal dari kelompok manusia, mereka membunuh manusia yang masih hidup, aku membunuh para bakal calon anak manusia. Sebab aku adalah sebuah benda elastis yang menghalau jutaan sperma yang sedang berenang dan berjuang untuk bertemu dengan sel telur. Aku adalah sebuah kondom.
Kini, aku berada di tempat dan kondisi yang sama dengan para korbanku. Di tempat sampah. Membusuk.
*****
jumlah : 455 Kata untuk MFF Prompt #55 : Sang Penjagal
Maksudnya anaknya di gugurin kah ??
bukan, mbak. belum jadi anak koq. pembuahan aja juga belum terjadi. kan sel spermanya belum sempat berenang ke tempat sel telur….. dicegah sama “si penjagal” itu. 😀
Trus spremanya di buang di sampah gitu ?? apa lelakinya yang di buang, hehhe 😀
“si penjagal” itu kondom, mbak. ya habis dipake dibuang 😀
Owwwaalaahhh,… 😀 hehheheeee
😀
sepertinya petunjuk kurang yah… makanya masih nebak-nebak
Penjagalnya ndak tergambar seperti maaf “kondom” jadi mikirnya siapa gitu 😀
iyah seh 😀
ga ngerti… 😦
😀
iya seh…. absurd.
sudah saya perbaiki sedikit. saya kasih tahu juga deh maksudnya 😀
Skip! Katagori dewasa ternyata
Jadi anda blm dewasa? Baiklah 😛
Oalah
😀
Absurd ya, mbak?
Waduhhh penjagalnya … 😀
Iya… Penjagalnya itu…. Itu… 😀
Bhahaha, bisa aja nih kondom dianalogikan sbg penjagal! 🙂
Ya…. Maksa dikit 😀
eh, ternyata kondom. berarti yang dibunuh spermanya ya, bukan bakal calon anak?
iya. belum jadi bakal calon anak. kan belum terjadi oembuahan
heheheh kreatif heheheh idenya keren! saya lebih suka ga disebutin kalo itu kondom sih heheheh
awalnya begitu, mbak. cuma ada yang nggak nangkap cluenya, jadi saya munculin deh kata itu 😀
Kok komentar yg di atas pada salah persepsi ya? aku itu kondom >_<
komentar di atas datang sebelum saya update ceritanya dan memuat kata kondom
Haha..ampun dah..penjagalnya ituu.. 😀
😀
habisnya ngeri kalau bikin cerita penjagalnya yang serem2….
heuheu…penjagal jenis lain 🙂
iya, teh 😀
anti-mainstream! :p
sengaja 😀
wahh si nyonya pake alat kb ya?
bagus, Mas 🙂
si tuan yang pake mbak