Indonesia Adalah Kita

sumber : http://s3crt.deviantart.com/

Indonesia Raya

Indonesia tanah airku
Tanah tumpah darahku
Di sanalah aku berdiri
Jadi pandu ibuku

Indonesia kebangsaanku
Bangsa dan Tanah Airku
Marilah kita berseru
Indonesia bersatu

Hiduplah tanahku
Hiduplah negriku
Bangsaku Rakyatku semuanya

Bangunlah jiwanya
Bangunlah badannya
Untuk Indonesia Raya

Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Tanahku negriku yang kucinta

Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Hiduplah Indonesia Raya

Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Tanahku negriku yang kucinta

Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Hiduplah Indonesia Raya

Sengaja saya menuliskan lirik lagu kebangsaan Indonesia Raya sebagai pembuka coretan ini. Sebagai pengingat diri ini akan jasa para pahlawan yang telah mengorbankan tenaga, harta, bahkan jiwa mereka untuk merebut kemerdekaan tanah air tercinta ini, Indonesia.

Di masa sekolah dahulu, hampir setiap Senin pagi, saya dan teman-teman melaksanakan upacara bendera dan mendengarkan lagu Indonesia Raya dikumandangkan. Bahkan adakalanya saya dan teman-teman sekelas ditunjuk sebagai petugas yang menyanyikan lagu tersebut. Di masa selanjutnya, saya tak ingat lagi kapan terakhir kali menyanyikan lagu tersebut. Sudah terlalu lama. Sekian tahun silam. Semoga saja saya masih ingat ketika menyanyikan lagu “Indonesia Raya”.

Pesan Seorang Atasan

Beberapa waktu yang lalu, atasan saya pernah menyampaikan pesan sekaligus pengingat kepada saya dan seluruh rekan kerja. Inti dari pesan beliau adalah, jika seorang pegawai masih menerima gaji dari tempatnya bekerja, maka tak seharusnya pegawai tersebut menjelek-jelekan kantornya serta mengumbar aib para teman dan atasannya kepada pihak luar.

Bukankah menjadi hal yang sangat aneh bila seorang pegawai menjelek-jelekkan kantor tempat dirinya bekerja yang memberikan gaji atau upah sehingga dirinya bisa makan, minum, berpakaian, dan tidur di rumah yang nyaman? Bagaimana menurut Anda?

Indonesia. Saya tidak pernah meminta untuk dilahirkan sebagai warga negara atau penduduk Indonesia. Namun seperti itulah yang terjadi. Takdir. Saya lahir di Indonesia. Besar di Indonesia. Belajar dan bersekolah di Indonesia. Bekerja dan mendapat penghasilan pun di Indonesia. Jika demikian, maka sudah sepantasnya saya mencintai dan menghormati negeri ini sebagai tanah tumpah darah. Sebaliknya, tidak patut diri ini mencela dan menjelek-jelekan negeri tempat di mana saya hidup ini. Indonesia.

Indonesiaku

Indonesia adalah negeri yang luas dan kaya. Jumlah penduduknya besar dilengkapi dengan keberagaman adat-istiadat dan budaya. Kekayaan alamnya sangat berlimpah, baik kekayaan hayati maupun kekayaan sumber daya alam.

Bumi Indonesia sangat subur. Segala tanaman bisa tumbuh. “Tongkat kayu dan batu jadi tanaman”, begitulah salah satu lirik sebuah lagu yang memberikan gambaran tentang tanah di Indonesia ini. Bahkan, jika orang-orang dari negeri timur tengah datang dan menyaksikan langsung alam Indonesia, niscaya mereka akan berujar bahwa Indonesia adalah surga dunia. Sebab seperti itulah gambaran tentang surga di dalam Al-quran yang diturunkan di negara dengan wilayahnya berupa gurun pasir dan bebatuan.

Alangkah indahnya negeri ini, seandainya alam yang dikaruniakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’aala bisa diolah dengan baik oleh orang-orang yang amanah. Jika demikian, maka negeri ini akan menjadi negeri yang memberikan kemakmuran dan kesejahteraan kepada seluruh penduduknya.

Namun kenyataannya berbicara lain. Keindahan alam Indonesia tidak diimbangi dengan petinggi negeri yang amanah. Akibatnya, pemanfaatan kekayaan alam untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat tidak maksimal. Belum meluas ke seluruh lapisan. Belum merata ke seluruh pelosok negeri.

Seperti halnya pesan atasan saya di atas, tak pantas saya menjelek-jelekkan kondisi negeri ini. Baik tentang kondisi alamnya, tentang rakyatnya, ataupun tentang para pemimpinnya. Sebab saya mendapatkan penghidupan di sini. Mengeluhkannya juga tiada guna. Sebab bicara saja, apalagi dengan menggunakan kata-kata yang negatif tidak akan menyelesaikan permasalahan. Harus ada kerja sebagai bukti nyata untuk mengisi kemerdekaan bangsa ini telah diperjuangkan oleh para pahlawan dengan tenaga, darah, keringat, harta, air mata, bahkan nyawa mereka. Bukti bahwa kita menghargai perjuangan mereka adalah dengan mengisi kemerdekaan dengan sesuatu yang lebih baik buat negeri ini.

Pesan Seorang Ustadz

Kemarin siang, selepas mengerjakan shalat zhuhur berjam’ah, saya sempatkan diri untuk mendengarkan kajian seputar hikmah Ramadhan. Salah satu poin yang disampaikan oleh sang ustadz adalah bagaimana kita bisa menghargai diri sendiri dan apa yang kita lakukan hingga bisa menjadi sebuah motivasi yang besar.

Beliau mencontohkan kepada jama’ah yang semuanya adalah pegawai pajak, jangan menganggap pekerjaan yang dilakukan hanya sebagai pegawai pajak. Tapi lihatlah dalam sudut pandang yang lebih luas. Jadikan tugas dan pekerjaan yang dilakukan tersebut sebagai bagian dari pembangunan bangsa dan negara Indonesia.

Saya pegawai pajak. Tugas dan pekerjaan saya saat ini bukanlah di lapangan. Saya tidak melakukan penyuluhan, sosialisasi, dan pembinaan mengenai perpajakan kepada para wajib pajak. Saya bertugas di belakang meja di bidang teknologi informasi. Yang saya lakuka adalah membantu para pegawai pajak lain yang menggunakan aplikasi di dalam melaksanakan tugas keseharian mereka.

Jika saya melihat secara sekilas, mungkin apa yang saya lakukan tidak memiliki hubungan langsung antara penanganan teknologi dan informasi dengan penerimaan negara. Namun, jika mengingat pesan sang ustdz kemarin dan saya mau dilihat secara mendalam, tentu saja ditemukan hubungan secara tidak langsung antara pekerjaan saya dengan penerimaan pajak dan pembangunan di Indonesia. Bukankah teknologi informasi akan sangat membantu dalam mempersingkat waktu pengerjaan, proses pengumpulan dan pengolahan data, penyusunan laporan, yang bermanfaat untuk penyusunan kebijakan dan strategi untuk meningkatkan penerimaan pajak dan pembangunan negeri ini?

Indonesia Adalah Kita

Indonesia bukanlah hanya saya seorang. Indonesi bukan pula sekelompok orang. Indonesia adalah kita. Karenanya, setiap orang, termasuk saya dan Anda, bisa melakukan sesuatu untuk Indonesia yang kita cintai ini sesuai dengan kemampuan yang kita miliki dan bidang yang kita kuasai masing-masing. Mungkin jika diukur secara kwalitas maupun kwantitas, apa yang kita lakukan dianggap sepele. Kecil. Namun kita harus bisa melihat dan menilai apa yang kita lakukan dari sudut pandang yang lebih luas. Kita hanya perlu meyakini bahwa, tidak ada sesuatu yang besar tanpa didahului yang kecil. Sepakat?

Jika saya dan Anda sudah bekerja atau memiliki usaha, lalu mendapatkan penghasilan dari kegiatan tersebut, kemudian mendaftarkan diri sebagai wajib pajak dan mendapatkan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), kemudian melakukan kewajiban membayar pajak dan melaporkannya, maka di situ ada sebuah peran serta dalam membangun bangsa ini. Dari penerimaan pajak yang diterima negara itulah pembangunan sarana dan prasarana di berbagai bidang kehidupan bisa dilakukan.

Jika saya dan Anda sedang berkendara di jalan raya dengan mematuhi segala peraturan lalu-lintas yang ada, maka di situ ada peran yang sedang kita mainkan. Mungkin di saat yang bersamaan, ada seorang warga negara asing yang sedang berkendaraan di jalan yang sama melihat bahwa kita yang sangat disiplin. Apa yang dilihatnya, bahwa masyarakat dan pengguna jalan di Indonesia itu disiplin, akan disampaikan kepada rekan-rekan di negaranya ketika kembali. Hal tersebut tentunya akan menjaga nama baik Indonesia di mata masyarakar luar negeri.

Jika saya dan Anda membuang sampah pada tempatnya, itu artinya kita ikut berperan serta dalam penanggulangan bencana banjir. Jika saya dan Anda menyukai dan membeli barang dan produk buatan dalam negeri, itu artinya kita berperan dalam meningkatkan perekonomian negeri ini. Jika saya dan Anda seorang blogger, lalu menulis tentang segala hal yang positif, mengandung nilai kebaikan, serta memberikan manfaat kepada para pembaca, maka di situ ada peran kita untuk menularkan kebaikan dan memberikan manfaat kepada orang lain.

Pertanyaannya adalah, apakah kita meyakini itu? Saya dan Anda akan meyakini bahwa sekecil apapun peranan kita akan memberikan dampak yang besar, jika kita bisa menghargai apa yang kita lakukan. Bagaimana orang lain akan menghargai apa yang kita lakukan jika diri sendiri tidak menghargainya?

Jangan pernah menganggap remeh bahwa kebaikan yang bisa kita lakukan itu kecil sehingga membuat diri malas untuk mengerjakannya ditambah lagi meremehkan orang lain yang ternyata melakukan kebaikan tersebut. Mungkin, dampak atas apa yang kita lakukan tidak bisa dilihat secara langsung dan dalam tempo yang singkat. Tetapi yakinlah, bahwa akan ada nilai-nilai kebaikan yang akan lahir di masa-masa berikutnya, untuk orang lain di sekeliling kita, untu generasi selanjutnya yang menjadi pewaris dari negeri yang tercinta ini. Indonesia.

Sekali Lagi, Indonesia Adalah Kita

Beberapa hari ke depan, Indonesia akan melangsungkan pesta demokrasi pemilihan presiden dan wakil presiden. Ada dua pasangan yang ikut ambil bagian. Ada dua pendukung yang berdiri di belakang kedua pasangan tersebut. Sejak beberapa waktu yang lalu, sasing-masing kubu telah melakukan kampanye untuk menarik simpati pemilih. Tanggal 9 Juli 2014 nanti adalah hari yang akan menentukan siapa yang akan memimpin Indonesia selama lima tahun ke depan

Selang beberapa hari kemudian, tepatnya tanggal 14 Juli 2014, di Brasil, akan terjadi pertandingan final Piala Dunia 2014 yang akan menentukan siapa negara yang terhebat di jagad sepak bola dunia.

Pemilihan presiden dan wakil presiden bisa disamakan dengan pertandingan final Piala Dunia. Keduanya akan menentukan siapa yang menjadi pemenang. Yang membedakan adalah apa yang terjadi setelah laga tersebut usai.

Jika pertandingan final Piala Dunia selesai dan telah didapatkan siapa juaranya, masing-masing tim dan juga pendukungnya akan kembali ke negara masing-masing untuk melanjutkan aktifitas mereka sendiri-sendiri. Bahkan masing-masing pesepakbola mungkin akan langsung menuju negara di mana klub yang dia bela berada. Nafsi-nasfi.

Sedangkan jika pemilihan presiden sudah selesai dan telah ditentukan pasangan presiden dan wakil presiden yang menang, masing-masing pasangan dan pendukungnya tidak bisa lagi mengutamakan kepentingan kubunya sendiri. Pihak yang kalah tidak bisa begitu saja meninggalkan urusan bangsa dan negara Indonesia kepada pihak yang menang kemudian tidak mau ambil pusing. Pihak yang memang juga rasanya tidak bisa menampik bahwa pihak yang kalah memiliki peranan yang besar untuk membantu mewujudkan visi dan misi yang pernah dipaparkan demi Indonesia yang lebih baik.

Sebab kedua kelompok itu adalah sama-sama warga negara Indonesia. Sebab kedua kubu itu adalah sama-sama penduduk dan masyarakat Indonesia. Sebab kedua pihak itu adalah kita. Sebab Indonesia itu adalah kita.

Karenanya, saya akan memilih pasangan presiden dan wakil presiden sesuai dengan akal dan nurani. Saya akan memilih yang terbaik menurut pandangan saya. Bila di kemudian hari, pilihan saya yang menang ataupun kalah, saya akan tetap memberikan peran sesuai pekerjaan dan bidang yang saya kuasai, sekecil apapun itu, kepada tanah air, untuk tumpah darah, bagi bangsa dan negara ini. Indonesia.

Penutup

Ada yang mengatakan bahwa, jika seseorang mencintai pasangan hidupnya, maka dia akan sering menyebut nama sang kekasih dan menceritakan segala kebaikan yang dimiliki sang kekasih.

Sebagai blogger yang masih belajar, sepertinya saya malu ketika harus memberikan jawaban atas sebuah pertanyaan berapa kali Anda mengetik dan menggunakan kata “Indonesia” di dalam coretan-coretan blog? Atau pertanyaan seperti berapa kali Anda menceritakan dalam blog tentang kebaikan-kebaikan yang dihasilkan oleh negeri tanah tumpah darah Anda, Indonesia?

Saya harus akui bahwa saya baru sekali atau dua kali menulis jurnal yang menggunakan kata “Indonesia” sebagai bagian dari judul. Saya harus mengakui bahwa jarang sekali saya menulikan tentang sisi positif negeri ini. Saya juga harus mengakui bahwa coretan ini mungkin menjadi coretan di mana saya paling banyak memasukkan kata “Indonesia” di dalamnya.

Untuk itu, saya ucapkan banyak terima kasih kepada Pakde Abdul Cholik selaku komandan BlogCamp yang telah mengadakan kontes unggulan ini.

 

 

 


Tulisan Terkait :

25 respons untuk ‘Indonesia Adalah Kita

  1. Firsty Chrysant Juli 4, 2014 / 10:55

    Selalu cinta Indonesia dengan segenap hati dan dengan segala kelebihan serta kekurangannya… 🙂

  2. Adi Pradana Juli 4, 2014 / 11:37

    kayak jargon salah satu capres nih… arahnya kesanakah ? Hehehe…. lama tak berkunjung kesini.

    • jampang Juli 4, 2014 / 11:44

      kalau mau diarahkan ke sana bisa. malah ada unsur kritik saya terhadap jargon itu. nggak pas. kurang tepat.

      “kita” terlalu besar untuk disamakan dengan dua orang, makanya saya ganti dengan “Indonesia”

      lagian… kalau dilihat slogannya ” ….. adalah kita”

      jika di dalam “kita” itu ada saya, saya adalah rakyat. terus bisa nggak dibilang ” …. adalah rakyat”

      terus…. presidennya siapa?

      • pritakusumaningsih Juli 5, 2014 / 22:33

        baru saya mau komen juga, jargonnya mirip……
        kalau …………. adalah rakyat maka presidennya ya………………. satunya 😀

      • jampang Juli 5, 2014 / 23:22

        ya begitulah, bu 😀

  3. titintitan Juli 4, 2014 / 13:20

    wah, tumben ini tulisan puanjang kaya jurnal tugas kulian 😀

    • jampang Juli 4, 2014 / 13:31

      tapi bukan jurnal yang terpanjang. adalagi postingan yang lebih panjang 😀

      • titintitan Juli 4, 2014 / 13:34

        iya sik, tapi ini bahasannya rodo serieus 😀

      • jampang Juli 4, 2014 / 13:37

        karena ini tentang kita 😀

      • titintitan Juli 4, 2014 / 13:38

        haaaaih, kita adalah rakyat yak? 😀

      • jampang Juli 4, 2014 / 13:40

        iyah…. rakyat

  4. Yos Beda Juli 4, 2014 / 15:01

    Semoga kita sesama keluarga besar Indonesia segera menemukan pemimpin yang baik yang bisa mensejahterakan kita semua ya, heehee..

    • jampang Juli 4, 2014 / 15:04

      aamiin. semoga demikian. 🙂

  5. Pakde Cholik Juli 4, 2014 / 16:23

    Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Kontes Unggulan :Aku Dan Indonesia di BlogCamp
    Dicatat sebagai peserta
    Salam hangat dari Surabaya

    • jampang Juli 4, 2014 / 17:07

      Terima kasih juga, pak dhe

  6. pak'e_ipul Juli 4, 2014 / 16:25

    …rasa nasionalisme harus terus dipupuk ya Mas..??

    • jampang Juli 4, 2014 / 17:07

      Bisa dibilang begitu 😀

  7. fenny Juli 4, 2014 / 16:47

    Kirain mau kampanye salah satu kandidat capres … 😀

    • jampang Juli 4, 2014 / 17:08

      Belum sepakat dengan bayarannya 😀

  8. pritakusumaningsih Juli 5, 2014 / 22:35

    Lho….jadi PNS itu belum tentu hafal dengan lagu kebangsaannya ya? Memang setiap Senin gak lagi ada upacara?

    • jampang Juli 5, 2014 / 23:23

      nggak ada upacara yg setiap senin, bu. biasanya seh upacara untuk hari nasional, misal 17 agustus, sumpah pemuda, tapi yg ditunjuk aja, cuma perwakilan

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s