[FF] Belajar di Waktu Kecil Bagai Mengukir di Atas Batu

Azzam kecil keluar dari kamarnya sambil membawa buku Iqra Jilid I, meletakkannya di atas meja ruang keluarga, membukanya, lalu membacanya dengan suara lantang.

“A-ba, a-a-ba, ba-a-ba, ba-ba-a.”

Azzam kecil membaca dengan penuh semangat. Tiga suara dan bacaan tilawah Al-quran menggema di ruang keluarga Pak Idris.

Di depan Azzam, Ibu Rahma duduk sambil membaca mushaf Al-quran dengan sampul bernuansa merah jambu dengan motif bunga-bunga yang indah. Sementara di sebelah kanan Azzam, Pak Idris, juga sedang membaca mushaf Al-quran dengan sampul berwarna hitam bertuliskan kata “Tajwid” dengan ukuran huruf cukup besar dan jelas. Kedua mushaf Al-quran yang diproduksi oleh Syamil Quran tersebut dibeli oleh Pak Idris sekitar tiga bulan yang lalu.

Tiba-tiba Azzam menghentikan bacaannya dan langsung bertanya, “Abi, Ummi, kok qurannya beda dengan yang aku baca?”

“Bedanya di mana?” Pak Idris balik bertanya.

“Lebih besar. Lebih tebal.”

“Azzam mau baca Qur’an Abi?”

“Mau! Mau!” jawab Azzam semangat.

Pak Idris lalu menyerahkan Al-quran yang dipegangnya kepada Azzam, lelaki kecilnya yang berusia kurang lebih empat tahun.

“Coba Azzam buka!” pinta Pak Idris yang langsung dituruti oleh Azzam.

“Kok tulisannya beda, Bi?” tanya Azzam kebingungan setelah melihat tulisan yang berbeda dengan huruf-huruf di buku Iqra miliknya.

“Kalau Azzam rajin belajar mengaji setiap hari, pasti nanti bisa baca Al-quran seperti yang Ummi dan Abi baca ini,” Ibu Rahma mencoba memberikan penjelasan kepada Azzam kecil.

“Tapi Azzam mau baca yang ini aja, nggak mau yang ini.” Azzam menyingkirkan buku Iqra dari hadapannya. “Azzam sudah bisa baca kok!”

“Oh yah? Kok Abi belum tahu.”

“Kan Azzam belajar tiap hari, Bi. Jadi sudah bisa baca.” Azzam mencoba meyakinkan Pak Idris.

“Kalau begitu, sekarang Azzam baca. Abi mau dengar,” pinta Pak Idris.

Azzam kecil membuka mushaf Al-quran milik Abinya di sembarang halaman dan mulai membaca. “A-ba, a-a-ba, ba-a-ba, ba-ba-a.”

Mendengar bacaan Azzam, Pak Idris dan Ibu Rahma langsung tertawa. Suasana ruang keluarga di rumah itu penuh dengan keceriaan.

“Mas Azzam, kok malah senyum-senyum sendiri?” pertanyaan Nurul yang sedang berbaring di atas tempat tidur mengejutkan Azzam dari lamunan masa kecilnya. “Ayo ngaji lagi, kan dede mau dengar Abinya mengaji supaya kelak jika sudah besar bisa pintar mengaji seperti Abinya.”

“Maaf, sayang.” jawab Azzam. Sambil tersenyum, Azzam kembali melanjutkan bacaan Al-quran yang terhenti. Sementara tangan kanan Azzam mengusap-usap perut Nurul yang sedang hamil lima bulan.


Baca Juga Flash Fiction Lainnya :

19 thoughts on “[FF] Belajar di Waktu Kecil Bagai Mengukir di Atas Batu

  1. masdjie Juli 13, 2014 / 17:59

    Waaaah,, keluarga qurani.. 🙂

    • jampang Juli 14, 2014 / 05:40

      insya Allah begitu 😀

      • masdjie Juli 14, 2014 / 06:36

        Aaminn.. Doakan saya kelak bisa membina keluarga yang seperi kisah ini 🙂

      • jampang Juli 14, 2014 / 07:40

        aamiin

      • masdjie Juli 14, 2014 / 09:06

        Makasih… ^^

  2. ysalma Juli 13, 2014 / 20:56

    wow, orangtua azzam sudah mempunyai calon generasi kedua yang akan mencintai Al-Qur’an.

    • jampang Juli 14, 2014 / 05:41

      iya uni. mudah2an setiap keluarga bisa seperti itu

  3. cicak kreatip.com Juli 13, 2014 / 21:11

    belajar di waktu besar bagai mengukir di atas air (kayak lagu kosidah bro, kang majid pernah dengar 😀 ) nyimak om 😀

    • jampang Juli 14, 2014 / 08:27

      ikut terbawa suasana yah? 😛

  4. boemisayekti Juli 14, 2014 / 09:31

    akhirnya keluar juga FF anaknya,saya menantikan contoh FF anak, hehehe… ini yang buat lomba kan?

    • jampang Juli 14, 2014 / 09:52

      iya mbak. cuma nggak tahu apa cocok atau nggak 😀

      • boemisayekti Juli 15, 2014 / 12:09

        saya belum punya ide, padahal penasaran pengen bikin…..

      • jampang Juli 15, 2014 / 12:54

        mudah2an segera dapat ide

  5. Diah Kusumastuti Juli 16, 2014 / 04:21

    bagus nih ceritanya, mengalir dan akrab dengan keseharian saya 😀

    • jampang Juli 16, 2014 / 05:20

      Terima kasih, mbak.
      Senang bisa seperti itu 🙂

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s