Apakah Dirimu Mencintaiku?


“Ada apa, Sal?” tanyaku pada suatu senja ketika dirimu terdiam setelah menyebut namaku. Saat itu kita sedang duduk di halaman belakang rumah sambil menikmati cahaya merah yang mulai terbentang di ufuk barat.

“Ada yang ingin kau katakan?” tanyaku lagi ketika hanya keheningan yang kudapatkan beberapa jeda setelah kulontarkan pertanyaanku yang pertama.

“Jika ada yang ingin kau sampaikan dan ceritakan kepadaku, sampaikanlah dan ceritakanlah sekarang!” pintaku kemudian karena tak kudengar sepatah katapun dari mulutmu. Kulihat guratan keraguan di wajahmu manismu.

“Apakah…” kalimatmu terputus. “… kamu mencintaiku, Zul?” akhirnya kudengar juga apa yang sedang membelenggu lidahmu saat itu. Akhirnya kudengar apa yang terpendam hatimu di senja itu.

“Aku mencintaimu, Sal,” jawabku. “Aku menyayangimu,” sambungku. “Bukankah aku sering mengatakan kalimat itu? Bukankah aku sering mengucapkannya?”

Anggukan kepalamu kuanggap sebagai sebuah jawaban. Kamu mengakuinya.

“Mengapa kau mencintaiku dan menyayangiku, Zul?” tanyamu kemudian. “Apa karena aku cantik? Apa karena aku pintar?”

“Bukan,” jawabku singkat.

“Lantas?”

“Karena kamu adalah istriku, Sal,” jawabku.

Guratan keraguan sudah tak lagi menghiasi wajahmu. Namun yang terlihat selanjutnya adalah raut wajah kekecewaan.

“Apakah jawabanku salah, Sal?” tanyaku kemudian.

“Jadi, seandainya aku bukan istrimu, kamu tak akan mencintaiku?” pertanyaanku kau jawab dengan sebuah pertanyaan.

“Begitulah.”

“Jadi seandainya perempuan lain yang menjadi istrimu, maka kamu akan mencintainya?”

“Yup.”

“Kalau begitu, artinya kamu menganggapku sama dan setara dengan perempuan lain dong?”

“Kenapa kamu berpikir demikian?”

“Ya karena kamu akan memperlakukan diriku sama seperti perempuan. Kamu akan mencintaiku jika aku menjadi istrimu dan kamu tidak akan mencintaiku jika aku bukan istrimu. Iya, kan?”

Aku menoleh ke arahmu. Saat itu wajahmu seperti menyembunyikan seluruh pesonamu ketika mengucapkan kalimat tersebut. Apakah kamu tahu, Sal?

“Sal, aku mencintaimu. Itu yang aku rasakan saat ini. Aku menyayangimu. Itu yang aku lakukan saat ini. Sebab saat ini, aku dan kamu dalam kondisi seperti ini. Kita menikah. Aku suamimu dan kamu adalah istriku. Bukankah begitu?”

Kamu terdiam.

“Apakah aku pernah menjadi lelaki yang bukan suamimu dan kamu pernah menjadi perempuan yang bukan istriku?” tanyaku kemudian.

“Pernah.” jawabmu dengan wajah tanpa senyum.

“Kapan?”

“Dulu, sebelum kita menikah.”

Aku tersenyum mendengar jawabanmu.

“Ah iya! Kamu benar.”

“Tuh benar, kan? Kamu sendiri mengakuinya.”

“Jika aku mencintaimu dan menyangimu saat itu, apakah kamu akan merasakannya?”

Kamu kembali terdiam.

“Sal, bukankah aku pernah mengatakan kepadamu bahwa pernikahan itu tentang masa kini dan masa depan. Bukan masa lalu. Jika saat ini dirimu yang menjadi pendamping hidupku, menjadi pelengkap kedua sayapku, maka seperti inilah kehidupan nyata yang aku dan kamu jalani. Seperti inilah kehidupan yang kita tempuh. Beginilah kenyataannya. Bukan keadaan dan kondisi semu sebagaimana yang kamu gambarkan tadi.“

Kugenggam erat kedua tanganmu.

“Sal, aku mencintaimu dan menyayangimu karena detik ini dan seterusnya, kamu adalah istriku. Jika kau menganggap bahwa diriku memposisikanmu seperti perempuan lain, itu tidak benar. Buktinya adalah, aku memilihmu menjadi pendamping hidupku. Bukan perempuan lain. Itu artinya kamu lebih baik daripada perempuan lain, di mataku. Bahkan lebih dari itu, aku memilihmu karena berharap dirimu akan membuatku menjadi sosok lelaki yang lebih baik.”

Kukecup keningmu.

“Bukankah begitu, Sal?”

Kulihat lukisan senyum di wajahmu bersamaan dengan tenggelamnya matahari dan kumandang adzan Maghrib.

“Ayo kita shalat berjam’ah di masjid, Sal!”


Baca juga seri SAMARA lainnya :

15 respons untuk ‘Apakah Dirimu Mencintaiku?

  1. ysalma Juli 16, 2014 / 09:19

    Malam di datangi denga senyum oleh dua orang yang saling mencintai 🙂

    • jampang Juli 16, 2014 / 12:51

      Biar keindahan senja tetap terbawa ke malam hari.

    • jampang Juli 16, 2014 / 12:52

      Terima kasih atas kunjungannya

  2. rianamaku Juli 16, 2014 / 12:17

    Dalam…
    aku mencintaimu karena kamu suami aku.
    ( aku balik ) namun terdengar jangal aja.
    terus sebelum nikah ngak cinta dung..
    ( bikin mikir keras nie kalimat )

    • jampang Juli 16, 2014 / 12:54

      Cinta di sini adalah cinta suami kepada istri dan sebaliknya. Cinta yg sepeeti itu kan baru lahir setelah menikah. Kalau blm nikah ya belum ada cinta antara suami-istri. Kan blm sah 😀

  3. capung2 Juli 17, 2014 / 00:10

    jadi romantis di endingnya.. 😀

    • jampang Juli 17, 2014 / 06:06

      romantis kan lebih manis, mas 😀

  4. desinamora Juli 18, 2014 / 22:39

    sip sipp setuju sama konsep cerita 🙂

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s