Kurang Satu Rakaat!

 masjid vector - 3Saya baru melangkah ke luar rumah menuju masjid setelah kumandang adzan ashar tak lagi terdengar. Perkiraan saya, sepertinya akan terlambat. Dan ternyata benar.

Begitu saya tiba di dalam masjid dan beberapa langkah di belakang barisan jama’ah, imam sudah mengucapkan takbir intiqal untuk ruku’. Saya tak mau memaksakan diri untuk bisa membersamai ruku’ sang imam. Beberapa kali pengalaman mengingatkan saya bahwa jika saya memaksakan diri, maka ketika saya akan ruku’, sang imam sudah bangkit. Saya tak mendapatkan ruku’ bersama imam. Kondisi tersebut tidak dihitung sebagai satu rakaat bersama imam.

“Apabila shalat telah dimulai, maka jangan kamu mendatanginya dengan tergesa-gesa. Namun datangilah dengan berjalan, dan kamu harus tenang. Lalu, apa pun yang kalian dapatkan (bersama imam), maka shalatlah. Dan apa yang kalian tertinggal, maka sempurnakanlah.” (HR. Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Abu Dawud dan Ibnu Majah)

“Apabila telah datang penggilan shalat, maka datangilah dengan berjalan kaki, dan jagalah ketenangan. Apa yang kamu dapatkan, maka shalatlah. Dan raka’at yang tertinggal olehmu, sempurnakanlah.‘ (HR. Muslim)

“Apabila telah didirikan shalat, jangan kalian datangi dengan tergesa-gesa. Namun datangilah dengan berjalan biasa saja, dan jagalah ketenangan, raka’at yang kalian dapati bersama imam kerjakanlah. Dan yang kurang, sempurnakanlah. Karena sesungguhnya jika seorang di antara kalian hendak shalat, maka ia sudah berada dalam shalat.“‘ (HR. Muslim)

Akhirnya, saya baru bisa menyamakan gerakan shalat berjama’ah ketika imam sujud. Artinya saya menjadi makmum yang masbuq. Tertinggal satu rakaat.

Ternyata, saya tidak sendirian. Di sebelah kanan saya terdapat seorang jama’ah yang mengalami hal yang sama seperti saya. Jama’ah tersebut, selanjutnya saya tulis dengan sebutan Mas Masbuq, mulai mengikuti gerakan imam di saat sujud. Sama-sama tertinggal satu rakaat shalat ashar berjamaah.

Di rakaat keempat, imam mengucapkan salam. Saya bangkit untuk menambahkan satu rakaat yang kurang. Sementara Mas Masbuq di sebelah kanan saya tidak bangkit berdiri, melainkan ikut salam bersama imam.

Satu pikiran lagi masuk ke dalam otak saya yang menyebabkan ketidakkhusyuan shalat saya bertambah.

Nanti selesai shalat saya akan mengingatkan Mas Masbuq bahwa dirinya kurang satu rakaat. Begitu tekad saya. Tapi saya tidak mengenalnya dan Mas Masbuq juga tidak mengenal saya. Bagaimana nanti jika dirinya marah ketika saya ingatkan. Bagaimana cara memulai mengingatkannya? Bagaimana jika Mas Masbuq lebih dahulu meninggalkan masjid sementara saya belum selesai shalat?

Tanpa diduga, setelah saya mengucapkan salam, Mas Masbuq mengajak salaman. Kesempatan tersebut saya langsung gunakan untuk mengingatkannya bahwa shalatnya kurang satu rakaat.

“Lupa, tadi ngikutin imam!” kira-kira begitu jawaban Mas Masbuq.

Selepas mengingatkan Mas Masbuq,saya melanjutkan aktifitas selepas shalat. Demikian juga dengan Mas Masbuq. Sepertinya tidak ada tanda-tanda kalau Mas Masbuq akan mengulang shalat asharnya. Tak apalah, yang penting saya sudah mengingatkan. Begitu pikir saya.

Tak lama kemudian, saya berdiri dan melangkah ke luar masjid untuk pulang ke rumah. Sebelum meninggalkan ruang utama masjid yang dinaungi dengan sebuah kubah berhiaskan kaligrafi, saya sempat melihat Mas Masbuq berdiri dan melakukan takbiratul ihram.

Alhamdulillah.

Adakah yang punya pengalaman serupa?


Tulisan Terkait Lainnya :

13 respons untuk ‘Kurang Satu Rakaat!

  1. masdjie Juli 31, 2014 / 13:46

    Hahaha.. lucu solatnya.. mungkin sama dengan saya, seringkali berdiskusi dengan diri sendiri ketika solat, untungnya Allah masih memperkenankan dan memberikan semangat untuk berjama’ah. Sehingga khusu’ atau tidak, insya’Allah lebih berpeluang diterima solatnya 😀 Semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung ya mas 😀

    • jampang Agustus 1, 2014 / 09:53

      iya. lebih baik berjamaah agar bisa saling menambal 😀

      • masdjie Agustus 1, 2014 / 11:25

        Betul 😀

      • jampang Agustus 1, 2014 / 14:17

        😀

  2. Yudhi Hendro Juli 31, 2014 / 14:43

    Saya jg cenderung menunggu imam selesai ruku’, baru menyamakan dgn gerakan imam. Karena kalau langsung ikut ruku’, bacaan ruku’nya terburu2, sementara imam sudah berdiri.

    • jampang Agustus 1, 2014 / 09:53

      tergantung imamnya seh, pak. kalau di kantor ruku imamnya lebih lama daripada imam di masjid dekat rumah

  3. Haya Najma Juli 31, 2014 / 14:53

    pak, taqabbalallahu minna wa minkum 🙂

    • jampang Agustus 1, 2014 / 09:54

      taqabbal yaa kariim 🙂

    • jampang Agustus 1, 2014 / 09:55

      terima kasih, kang 😀

  4. ayanapunya Juli 31, 2014 / 20:38

    saya kalau imam sudah selesai sujud mending nunggu imamnya berdiri lagi. soalnya takut lupa kehitung satu rakaat. hehe

    • jampang Agustus 1, 2014 / 09:56

      😀
      nah… soal lupa ini juga yang bikin repot. lebih tenang kalau masbuq banyak temannya

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s