Prompt Quiz #5 : Sumber Petaka

sumber

“Apa yang terjadi, Pak Ketua?” tanya salah seorang anggota rombongan kepada lelaki yang baru saja menghentikan laju gerobak perbekalan yang ditariknya.

Lelaki yang merupakan ketua rombongan tersebut tidak menjawab. Dia hanya melemparkan pandangan matanya ke sekeliling.

“Apa kita salah jalan?” tanya anggota rombongan itu lagi setelah tak mendapatkan jawaban dari pertanyaan sebelumnya.

“Sepertinya rute kita sudah benar. Tetapi seharusnya kita tidak berada di sini. Lihatlah, hanya padang luas dengan ilalang yang mengering. Seharusnya kita berada di sebuah sabana yang subur dengan rumput dan pepohonan yang hijau,” jawab sang ketua.

Seluruh rombongan berhenti. Mereka tak tahu harus melangkah ke mana. Di atas mereka, langit biru tak lagi berawan. Bersih. Sementara matahari semakin garang menyiram bumi dengan sinar panasnya.

“Api! Ada api!” tiba-tiba terdengar sebuah teriakan dari belakang rombongan.

Beberapa anggota rombongan terlihat berlari kencang meninggalkan gerobak perbekalan mereka yang terbakar. Sepertinya, titik api dimulai dengan terbakarnya ilalang yang kering akibat suhu yang sangat tinggi dan disertai dengan angin yang bertiup cukup kencang.

Sedetik kemudian, seluruh anggota rombongan mencoba untuk menyelamatkan perbekalan masing-masing. Namun api menyebar lebih cepat. Gerobak mereka terbakar seluruhnya. Perbekalan mereka habis tak tersisa.

—oOo—

“Kalian tahu, segala sesuatu yang terjadi pasti memiliki sebuah alasan,” ucap lelaki tua kepada seluruh anggota rombongan yang berhasil menyelamatkan diri dari peristiwa kebakaran yang menghanguskan perbekalan mereka. “Termasuk apa yang terjadi pada diriku saat ini dan apa yang terjadi pada diri kalian kemarin.”

“Cobalah ingat-ingat kembali apa yang kalian lakukan di masa kehidupan sebelumnya? Adakah yang bisa mengaitkan perbuatan kalian saat itu dengan kejadian yang kalian alami?” sambung Pak Tua yang hanya bisa menggeser tubuhnya dengan bantuan kedua tangannya. Seluruh anggota rombongan terdiam. Tak menjawab.

“Kalian pasti tahu!” Pak Tua memancing memancing jawaban.

“Mungkinkah karena sikap kami yang suka pamer, Pak Tua?” ketua rombongan akhirnya angkat bicara.

“Maksudmu?”

“Kami menyebarluaskan kabar tentang kebaikan yang sudah kami lakukan kepada orang banyak. Persis seperti seorang perempuan yang baru saja mengubah penampilannya kemudian mengambil gambar dirinya untuk kemudian dipublikasikan di media sosial agar dilihat orang banyak. Perempupan itu juga mengabarkan setiap aktifitas yang dilakukan kepada seluruh temannya melalui handphone yang selalu berada di dalam genggamannya. Semua dilakukan agar diirinya mendapatkan pujian.”

“Apakah kalian mendapatkan pujian itu?”

“Iya. Kami mendapatkannya.”

“Maka hanya itulah yang bisa kalian bawa sekarang. Pujian dari orang-orang yang saat ini tidak lagi memberikan manfaat bagi kalian.”

Seluruh anggota rombongan langsung menundukkan kepala mereka. Guratan penyesalan terlihat jelas menghiasi wajah-wajah mereka. Penyesalan yang sia-sia belaka.

“Apakah Pak Tua melakukan seperti yang kami lakukan?” tanya ketua rombongan.

“Maksudmu?” Pak Tua balik bertanya.

“Apakah yang menyebabkan Bapak tidak bisa melanjutkan perjalanan sama seperti yang kami alami?”

“Apa kamu melihat perbekalanku habis?” kembali Pak Tua balik bertanya.

“Tidak. Bapak masih memiliki bekal yang banyak.”

“Jika begitu, tentu saja penyebabnya berbeda.”

“Apa kami boleh tahu?”

Pak Tua menarik napas panjang sebelum menjawab pertanyaan itu.

“Perjalananku tertahan karena kecelakaan yang menghancurkan kedua kakiku. Kesalahan yang kulakukan adalah berhutang tanpa memberitahu keluargaku. Sepeninggalku, mereka tak tahu apa-apa tentang hutang itu. Hingga kini, hutangku tak terlunaskan.”

*****
496 Kata Untuk Prompt Quiz #5: Burning Giraffes and Telephone


Baca Juga Flash Fiction Lainnya :

28 thoughts on “Prompt Quiz #5 : Sumber Petaka

    • jampang Agustus 28, 2014 / 13:15

      apanya, mbak?

      hiks… ceritanya belum ada yah? hilang 😀

      *tapi udah ada yang ngasih like*

      • ayanapunya Agustus 28, 2014 / 13:44

        iya tadi nggak ada. tapi sekarang udah ada 😀

      • jampang Agustus 28, 2014 / 13:47

        selamat membaca

  1. pinkvnie Agustus 28, 2014 / 14:18

    gambarnya … tutup mata … *gak fokus* 😀

  2. Dyah Sujiati Agustus 28, 2014 / 17:15

    Waduh gambarnya? Rasanya perlu direvisi deh

    • jampang Agustus 29, 2014 / 08:34

      sudah saya ganti mbak. terima kasih

  3. A. A. Muizz Agustus 28, 2014 / 22:50

    Pada memasalahkan gambarnya. Duh, aku sebagai prompter jadi merasa nggak enak. 😦

    • jampang Agustus 29, 2014 / 08:40

      khusus di tempat saya, saya ganti ilustrasinya, mas

      • A. A. Muizz Agustus 29, 2014 / 23:00

        Hehehe. Blog islami nggak boleh posting gambar jorok. 😀

      • jampang Agustus 30, 2014 / 06:56

        tapi itu gambar kan bukan foto got atau selokan yang kotor 😀

  4. junioranger Agustus 29, 2014 / 22:37

    iya ya klo gambarnya yang itu jd rada kontradiktif. *emang gambar apaan sih?*

    • jampang Agustus 30, 2014 / 06:54

      sekarang gambarnya api 😀

  5. linda Agustus 30, 2014 / 23:54

    “Sepertinya rute kita sudah benar. Tetapi seharusnya kita tidak berada di sini. Lihatlah, hanya padang luas dengan ilalang yang mengering. Seharusnya kita berada di sebuah sabana yang subur dengan rumput dan pepohonan yang hijau,” jawab sang ketua.”

    ini bikin bingung. benar tp seharusnya bukan?

    • jampang Agustus 31, 2014 / 10:53

      karena kesalahan di masa lalu, maka tempat yang seharusnya didatangi telah berubah sesuai dengan amalan-amalan para anggota rombongan itu di kehidupan sebelumnya.

  6. latree September 3, 2014 / 08:54

    maaf mas. kali ini serasa baca khotbah. kaku banget. padahal cerita dan pesannya bagus…

    • jampang September 3, 2014 / 08:59

      harap maklum, mbak 😀

  7. eksak September 4, 2014 / 03:44

    karma? tp gue suka stiap tulisan elo, Bang! gk pernah absurb, selalu ada makna dan pesan moral. ^_^

    • jampang September 4, 2014 / 07:56

      mungkin bisa dibilang begitu, sebab setiap perbuatan akan mendapat balasan. du dunia, maupun di akhirat.

      😀 jadi nggak enak body dibilang gitu. terima kasih

  8. Rizki Madfia September 6, 2014 / 17:04

    Wah ini seolah-olah di alam Barzah, 🙂

    • jampang September 7, 2014 / 05:33

      iya mbak. idenya memang begitu

    • jampang September 8, 2014 / 07:44

      iya. mungkin itu yang bikin ceritanya jadi kaku

  9. Attar Arya September 9, 2014 / 10:52

    pikiranku udah terwakili oleh beberapa komentar sebelumnya 🙂

    • jampang September 9, 2014 / 10:57

      tinggal komentar yang mana…. yang ngeritik atau muji 😀

  10. Orin September 12, 2014 / 12:47

    memang tidak mudah memasukan ‘moral of the story’ secara implisit ya bang 🙂

    • jampang September 13, 2014 / 05:17

      sepertinya begitu, teh. bikin ceritanya juga sulit bagi saya 😀

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s