Gebyah-uyah

gebyah uyah
Tahun 2009 mungkin merupakan tahun yang terburuk bagi instansi tempat saya bekerja, Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Pasalnya, di tahun tersebut terungkap sebuah kasus mega korupsi yang meyeret salah satu pegawai DJP. GT, namanya.

Saya adalah teman seangkatan GT ketika mengemban pendidikan di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Sayangnya saya mungkin termasuk mahasiswa yang kurang gaul, sehingga saya tidak mengenalnya di kampus dan baru mengetahui hal tersebut ketika GT menjadi topik berita panas di berbagai media.

Akibat kejadian tersebut, angkatan STAN tahun 2000 menjadi bahan candaan dan sindiran. Angkatan tersebut dianggap bermasalah dan menghasilkan pegawai yang bermasalah di kalangan internal. Bahkan, seluruh pegawai DJP pun terkena imbasnya. Mereka dianggap berprilaku dan bermental sama dengan GT oleh masyarakat.

Beberapa teman yang berangkat ke kantor menggunakan jasa kereta api sempat mendapat perlakukan tidak baik dari penumpang lain. Mereka diteriaki maling atau koruptor lantaran mengenakan name tag yang bertuliskan pegawai DJP, instansi yang sama dengan tempat GT bekerja.

Bagi pegawai DJP yang menggunakan angkutan umum lain semisal Kopaja atau Metromini pun ikut merasakan dampaknya. Sesaat Kopaja atau Metromini akan melintasi depan kantor pusat DJP di sisi Jalan Gatot Subroto, sang kondektur akan berteriak dengan lantang, “Gayus turun! Gayus turun!”

Bagaimana dengan saya? Apakah mengalaminya juga?

Saya tidak mengalami hal yang sama seperti apa yang saya ceritakan di atas. Saya selalu berangkan ke kantor dengan menggunakan sepeda motor. Namun kondisi yang hampir serupa sempat saya alami di lingkungan keluarga besar almarhum buyut saya ketika mengikuti acara arisan keluarga yang rutin dilakukan pada pekan pertama setiap bulannya.

Salah seorang anggota arisan bertanya ketika saya baru saja hadir, “Naik apa?”

“Naik motor,” jawab saya.

Mendengar jawaban saya tersebut, si penanya kemudian berkomentar, “ Kalah dong sama GT!”

Di lain waktu, pada kesempatan arisan keluarga juga, seorang anggota arisan lain bertanya kepada saya, “Katanya lagi bangun rumah yah?”

Saya langsung menjawab dengan mengiyakan.

“Berapa lantai?” tanyanya lagi.

“Dua lantai.”

“Wah pasti besar dong rumahnya, seperti rumah GT!” komentarnya lagi.

Sepertinya, kedua penanya dalam dialog di atas menganggap bahwa kondisi saya sama seperti kondisi GT. Kami yang sama-sama bekerja sebagai pegawai Direktorat Jenderal Pajak, maka penghasilan dan kekayaan saya pastilah sama dengan penghasilan dan kekayaan GT. Sejatinya, tidak semua pegawai DJP melakukan tindakan yang kurang terpuji seperti yang dilakukan oleh GT. Jika GT bisa memiliki rumah yang begitu mewah dengan mudahnya, sementara saya, saat itu harus mengajukan pinjaman dana ke bank untuk melakukan renovasi rumah.

Gebyah-uyah. Mungkin itulah yang dilakukan oleh sekelompok orang terhadap saya dan pegawai DJP terkait dengan kasus korupsi yang dilakukan oleh GT. Gebyah-uyah adalah istilah Bahasa Jawa yang memiliki makna menyamaratakan. Makna tersebut dapat dilihat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi online dengan mengetikkan kata kunci “gebyah”.

Gebyah-uyah biasanya berdampak negatif. Contohnya adalah seperti yang saya ceritakan di atas. Akibat sebuah perbuatan buruk yang dilakukan oleh GT, maka masyarakat menyamaratakan semua pegawai DJP melakukan perbuatan yang sama. Padahal kenyataannya, tidak demikian.

Setiap pegawai DJP, sama seperti pegawai dan sosok pribadi lainnya. Kepada mereka, Allah Subhanahu Wa Ta’aala telah memberikan dua buah jalan untuk dipilih, sebagaimana tercantum dalam Al-quran surat Al-Balad ayat 10.

“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (jalan kebaikan dan jalan kejahatan)”.

Manusia, dengan iman dan akal yang dimilikinya bebas memilih salah satu di antara kedua jalan tersebut. Setiap pilihan pastinya akan ada konsekuensi yang harus diemban.

GT adalah pegawai DJP yang memilih dan mengambil jalan yang tidak tepat. Namun bukan berarti semua pegawai DJP memilih dan mengambil jalan yang sama denganya. Banyak pegawai DJP yang amanah. Bahkan jumlahnya jauh lebih banyak daripada yang bermasalah.

Mungkin kalimat dan pendapat saya di atas dipengaruhi oleh instansi di mana saya bekerja. Tapi rasanya amat sangat manusiawi jika saya tidak ingin disamakan dengan seseorang yang berprilaku kurang baik. Saya yakin, banyak orang yang mungkin bersikap sama seperti saya jika disamakan dengan seseorang yang berprilaku tidak baik yang bekerja di sebuah instansi atau organisasi yang sama. Mungkin mereka dan termasuk Anda di dalamnya akan berkata, “Jangan asal gebyah-uyah gitu dong!”


Tulisan Terkait Lainnya :

47 respons untuk ‘Gebyah-uyah

  1. bukanbocahbiasa September 17, 2014 / 13:59

    Hmmm, ujian kesabaran ya mas? Iya siy, waktu kasus Gayus Tambunan *biar jelassssss* lagi happening, saya juga agak-gimana-gitu dengan temen2 saya yg kerja di kantor pajak. Tapi, terus, saya nyadar, duuuuh, gak semua orang pajak kayak gitu juga kaleeee… gebyah uyah banget.

    • jampang September 17, 2014 / 14:07

      😀
      terima kasih udah diperjelas,mbak.
      apa yang saya alami mungkin nggak separah yang dialami teman lain, mbak.

  2. nafarinm September 17, 2014 / 14:07

    Oh mas ini lulusan STAN ya.
    Mas bisa bantu saya gak.. saya masih bingung mau kuliah jurusan apa. Tapi waktu smk dulu saya ngambil Akuntansi.

    • jampang September 17, 2014 / 14:33

      pelajari saja minat dan kemapuan diri. lalu putuskan kuliah di mana. sebab yang tahu semuanya itu kan diri kita sendiri.

      • nafarinm September 17, 2014 / 14:36

        Saya sempat minat ke dunia komputer.. tapi katanya ilmu komputer itu gak perlu kuliah. Cukup otodidak saja..

        Mas ngobrol lewat bbm aja bisa gak?

      • jampang September 17, 2014 / 15:30

        saya nggak punya BB 😀

      • nafarinm September 17, 2014 / 15:31

        Kalo fb punya dong..

      • jampang September 17, 2014 / 15:37

        punyalah meski jarang update status

  3. Chrismana"bee" September 17, 2014 / 14:38

    Karena nila setitik rusak susu sebelangga,… pepatah yang pas 😀

    • jampang September 17, 2014 / 15:33

      saya kira kurang pas, mbak. soalnya kalau karena nila setitik rusak susu sebelanga, maka susunya udah nggak bisa dimanfaatin lagi. nilanya tidak bisa dipisahkan dari susu. tapi kalau cerita di atas, orangnya masih bisa dipisahkan dan dikeluarkan dari instansi dan instansi tetap bisa kembali menjadi baik

      • Chrismana"bee" September 17, 2014 / 15:37

        trus yg pas yg mana om 😀

      • jampang September 17, 2014 / 15:40

        belum tahu. kalau saya tahu, mungkin saya masukin ke dalam tulisan 😀

  4. Clarissa Mey September 17, 2014 / 14:49

    Wah ternyata seangkatan sm GT di stan yah, aku malah kira GT ga pernah dpt pendidikan di indo dan studynya hny diluar negeri hehehe

    • jampang September 17, 2014 / 15:35

      lulusan dalam negeri seh 😀

  5. Rahmat_98 September 17, 2014 / 15:05

    Sampe ada kejadian klo pas naik angkutan umum, klo ada yang mau turun deket kantor dirjen pajak bilang “gayus….turun”. Ah sepertinya masih lebih banyak lulusan STAN yang tetap amanah menjalankan tugasnya bang…

    • jampang September 17, 2014 / 15:36

      nah itu bang. jangan-jangan kalimat yang benar begitu yah?
      saya ganti deh kalimat di cerita saya dengan yang abang tulis yah 😀

      • Rahmat_98 September 17, 2014 / 20:07

        Hahaha… silahkan bang…
        Temen banyak juga yang kerja custom, alhamdulillah mereka tetap amanah

      • jampang September 18, 2014 / 05:26

        alhamdulillah.
        sepertinya seh, pajak jadi idola pemberitaan 😀

  6. danirachmat September 17, 2014 / 15:51

    Untungnya waktu kasus GT ini merebak banyak temen saya yang kerja di instansi yang sama dan saya dapet cerita dari mereka gimana mereka sebenernya berusaha banget jaga integritas. Alhamdulillaah gak ikutan ngedjudge.

    • jampang September 17, 2014 / 16:46

      jadi kalau tidak mudah termakan berita dan bisa melakukan crosscheck pastinya nggak akan asal ngejudge ya mas 😀

      terima kasih

  7. faziazen September 17, 2014 / 16:58

    ahahaha pak GT ya..booming banget dulu kasusnya
    tai di kantornya Bang Jampang emang rawan banget ama penyogokan ya

    • jampang September 18, 2014 / 05:24

      sebenarnya, di kantor pajak itu nggak ada transaksi keuangan. semua pembayaran pajak dilakukan di bank dan langsung masuk penerimaan negara.

      rawan tidaknya tergantung dua pihak, wajib pajak dan aparat pajak. masing-masing amanah nggak dengan tugas dan kewajibannya

      • faziazen September 19, 2014 / 10:44

        apa gaji pegawai dinas pajak tinggi sekali? maksudnya dibanding pns di tempat lain

      • jampang September 19, 2014 / 10:53

        sepengetahuan saya gaji PNS sama, kan ada di peraturannya. mungkin tunjangannya yang berbeda2 di tiap-tiap departemen. tapi nggak jauh. kalau jaman dahulu di tahun 80an mungkin yah… jauh banget bedanya.

  8. ysalma September 17, 2014 / 17:04

    FB teman2 SMA jg ramai pada saat kasus GT ini, sama yang satunya *lupa namanya, yang dealer mobil*, tapi bukan hujatan, teman2 yg pd kerja di pajak, mereka seperti saling mengingatkan, kalau ternyata manusia itu bisa ‘berubah’. *saya ikut membaca dan ga ikut menyamaratakan semuanya*.
    sukses di kontes sadar hati.

    • jampang September 18, 2014 / 05:25

      ya kita adalah manusia, imannya sering naik turun. maka beruntung berteman yang saling menyemangati dalam kebaikan dan mengingatkan ketika berbuat kesalahan

  9. Akhmad Muhaimin Azzet September 17, 2014 / 20:59

    Iya, Mas, kedewasaan seseorang akan sangat menentukan apakah ia akan gebyah uyah dalam melakukan terhadap sesuatu atau tidak.

    • jampang September 18, 2014 / 05:26

      insya Allah begitu, mas

  10. Susanti Dewi September 18, 2014 / 08:23

    akibat ulah buruk satu org, berimbas pada semuanya ya…..

    • jampang September 18, 2014 / 08:52

      kira-kira begitu, mbak

  11. kebomandi September 18, 2014 / 08:51

    ternyata hal-hal yang kita anggap biasa saja diucapkan itu ternyata sensitif buat beberapa orang yaaa mas. kalo saya sih, sudah tau tidak semua orang pajak seperti itu, karena teman saya ada yang disitu dan dia tau disana itu bagaimana orang nya.
    tetap semangat bang jampang dan semoga menang GA nya 😀 yeay!

    • jampang September 18, 2014 / 08:59

      terima kasih, mbak 😀

  12. Yudhi Hendro September 18, 2014 / 09:28

    sebaiknya kita memang jgn terlalu cepat menyimpulkan yg sifatnya menggeneralisir alias gebyah uyah… tak semua pegawai di DJP spt GT. kadang2 media massa jg ikut memanaskan suasana dgn pemberitaan yg kurang berimbang. hal yg jelek ttg DJP diekpos habiss…tapi sisi baiknya, kemajuan yg dicapai, prestasinya kurang diberitakan

    • jampang September 18, 2014 / 09:42

      iya pak. sepertinya ada yang kurang berimbang. dan sepertinya lagi, pajak memang sering diobok-obok, mungkin karena “seksi” 😀

      • Yudhi Hendro September 19, 2014 / 15:22

        dan ada “mata air” 🙂

      • jampang September 19, 2014 / 15:42

        mata air itu maksudnya apa, pak?

      • Yudhi Hendro September 19, 2014 / 16:14

        Maksudnya begini: salah satu sumber pendapatan negara (APBN) kita selain sumber daya alam itu kan pajak.

        Nah, mata air itu ya pajak yg dipakai untuk membangun negeri ini, Mas :-). Sama seperti mata air yg bisa digunakan untuk irigasi, air minum atau pembangkit listrik

      • jampang September 19, 2014 / 17:02

        oooo….. 😀

  13. capung2 September 18, 2014 / 10:02

    Karena nila setitik, rusak susu sebelanga.

    Sejauh kt dijalur yg benar, ‘anjing menggonggong, kafilah berlalu’ 😀

    • jampang September 18, 2014 / 10:44

      tadinya mau masukin pribahasa itu…. tapi kondisinya kurang pas, jadinya saya nggak masukin pribahasa itu di dalam tulisan.

      betul. selama kita di jalur yang benar, biarin aja orang mau ngomong apa 😀

  14. rianamaku September 18, 2014 / 15:11

    Kalau soal GT memang maha dasyat bisa bisa ngak bakal di hapus dan akan jadi sejarah yang kelam.
    Duh ada tu pepatahnya namun kok lupa kata depanya ahahahha.

    Semoga menang ya mas..

    • jampang September 18, 2014 / 17:04

      sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya

      bener nggak yah? *ngasal*

  15. pingkanrizkiarto September 19, 2014 / 08:27

    hhmmm… tahun 2000 ya, pantesan gak ketemu di Jurangmangu, beda jauh juga ternyata, hihihi…
    *berasa tuwir bener dah*

    • jampang September 19, 2014 / 10:55

      ternyata ada yang lebih senior 😀
      tahun berapa emangnya, mbak?
      kali aja ada angkatan mbak yang jadi teman saya di kantor

  16. winny widyawati September 24, 2014 / 05:04

    Sekarang orang menyebutnya ‘menggeneralisir’ ya

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s