
Sal, sukakah dirimu ketika aku menggenggam jemari tanganmu bil kita berjalan beriringan? Aku sering melakukannya. Di akhir pekan misalnya. Aku akan menggenggam jemarimu ketika kita jalan-jalan di sabtu pagi, minggu pagi, atau di kedua hari itu. Aku juga sering menggenggam jemarimu ketika kita berbelanja di pusat perbelanjaan. Seperti beberapa waktu yang lalu saat kita mencari barang yang ada di daftar belanjaanmu.
Mengenai saling menggenggam tangan antara suami-istri, aku pernah membaca dan mendengar sebuah hadits yang menurutku bernuansa romantis. Kupikir dirimu juga pernah mendengarnya. Sebab hadits ini cukup populer dan hampir disampaikan oleh setiap penceramah ketika membahas tentang keharmonisan hubungan suami-istri. Berikut adalah terjemahan dari hadits yang kumaksud.
“Sesungguhnya bila seorang suami menatap istrinya dan Istri membalas pandangan ( dengan penuh cinta kasih ) maka Allah akan memandang mereka dengan pandangan penuh kasih sayang. Dan apabila seorang suami, menggengam tangan istrinya, maka dosa mereka akan jatuh berguguran di sela-sela jari tangan mereka.”
Sal, aku menyadari bahwa aku bukanlah seorang suami sempurna. Aku bukan lelaki tanpa cela. Bisa jadi, aku sering melakukan kesalahan kepadamu yang bahkan diriku tidak mengetahuinya. Dengan menggenggam jemarimu dan aku senang melakukannya, aku berharap dosa atas kesalahanku tersebut jatuh berguguran. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Maisarah bin Ali dari Ar-Rafi dari Abu Sa’id Al-Khudhri di atas itu.
Nyatanya, aku menyandarkan perbuatanku itu di atas landasan yang salah, Sal. Hadits tersebut rupanya palsu. Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam tidak pernah berucap demikian. Meskipun isi dari hadits tersebut sangat baik, namun tidak layak bagi kita untuk menjadikan isinya sebagai landasan perbuatan yang kulakukan. Aku yakin, jika kita mencari tahu tentang bagaimana keharmonisan rumah tangga Rasulullah, kita akan menemukan hadits-hadits shahih yang bisa kita jadikan pegangan dan landasan yang kuat.
Sal, meskipun aku mengetahui bahwa hadits itu palsu, aku tidak akan berhenti untuk memandangmu dan menggenggam jemarimu. Cukuplah rasa sayang kepadamu menjadi dasar perbuatanku itu. Cukuplah kiranya jika dirimu menerima pesan ketika aku memandangmu dan menggenggam jemarimu, bahwa aku mencintaimu.
Sekali lagi, Sal, hadits tersebut memang palsu, tetapi apa yang kulakukan bukanlah sebuah kepalsuan.
Baca Juga Cerita Samara Lainnya :
Suit suiiiit.. 😀
uhuyyyyy
Langsung bsngun pandang suami, ehhh uda berangkat kerja nanti saja…
berangkat kerjanya nanti aja?
😀
Haha suami udah berangkat dari jam 7 tadi
oooo…. kirain
jum’at romantis… 🙂
😀
plus ceria juga mbak
piwiiittttt..
ciee. cieeee..
duh .duh.. 😦
*iri
kalau cerita fiksi bisa dibikin seromantis mungkin 😀
hahaaa.
kalo aslipun pasti romantis ya om 😀
ya bisa banget 😀
uwuwwu.. harus di kehidupan nyata biar kerasa 😀
tentu saja 😀
Suit-suit,
sunnah Rasul semalam sukses kayaknya 🙂
😀
kalau sunnah rasul malam jumat yang dimaksud adalah hubungan suami-istri, itu juga nggak ada dasar haditsnya uni.
romantisnya … 🙂
ceritanya begitu
aslinya juga gpp … 😀
Bagian cerita buku PK ya???
bukan. kalau bagian PK itu biasanya dikasih tag PK
yaaah nggombal mode on nih mhihihi…
😀
ngegombal yang asyik