Duduk-duduk di Anak Tangga

“Jangan duduk di depan pintu, nanti susah dapat jodoh!”

“Jangan berdiri di depan pintu, nanti rezeki jadi seret!”

Mungkin kalimat yang sering diucapkan oleh orang-orang tua tersebut bisa juga diberlakukan di tempat lain, semisal jangan duduk-duduk atau berdiri di anak tangga masjid. Sebab muatannya sama. Sebab pesan moral yang disampaikan serupa.

—o0o—

Shalat Zhuhur berjama’ah di masjid sudah selesai dilaksanakan di masjid kantor. Sebagian jama’ah ada yang meninggalkan masjid setelah berdoa atau shalat sunnah ba’diyah. Sebagian lagi ada yang menyambung ibadah mereka dengan membaca al-quran.

Jika tidak ada jadwal ceramah, biasanya saya langsung kembali ke ruang kerja meskipun tidak langsung bangkit setelah imam mengucapkan salam. Jika iman sedang naik, saya akan melaksanakan shalat sunnah dan membaca beberapa ayat Al-quran. Jika iman sedang turun, maka kedua ibadah tersebut sering saya tinggalkan.

Keluar dari pintu masjid, saya melihat banyak para jama’ah yang sedang duduk-duduk di anak tangga. Oh ya, sedikit gambaran yang mungkin bisa mewakili kondisi masjid di kantor sata ini pernah saya deksripsikan dalam salah satu bab draft novel saya, yaitu pada Bab Melodi Sang Muadzin – I. Sebagian jama’ah yang duduk tersebut ada yang terlihat sedang mengenakan kaos kaki dan sepatu. Sebagian lagi terlihat duduk-duduk sambil mengaktifkan smartphone di tangan. Sebagian lagi ada yang duduk berkelompok dan asyik bicara satu sama lain.

Satu hal yang saya alami dengan kondisi tersebut adalah, saya agak kesulitan untuk mencapai titik di bawah anak tangga di mana saya meletakkan sandal yang saya kenakan ketika datang ke masjid. Kedua mata saya memang bisa langsung melihat sandal saya tersebut. Namun untuk mencapainya, saya tidak bisa berjalan lurus dan langsung menuju sepasang sandal saya. karena ada beberapa jama’ah yang duduk-duduk di anak tangga, saya harus mencari celah yang bisa saya lalui. Mungkin sedikit berputar. Tak jauh memang, paling cuma beberapa langkah saja. Tapi kadang muncul perasaan terganggu.

Adakah yang merasakan hal yang sama? Atau saya saja yang terlalu sensitif?

—o0o—

Kembali ke kalimat di awal coretan ini. Kalimat tersebut mungkin bisa dianggap mitos. Sebab selintas, tak ada hubungannya antara duduk atau berdiri di depan pintu dengan jodoh atau rzeki. Jadi kalimat tersebut mungkin bisa dibilang mengada-ada.

Tapi jika mau berpikir sedikit lebih dalam, mungkin antara berdiri di depan pintu memiliki kaitan dengan jodoh atau rezeki. Mungkin kalimat tersebut terlahir dari penglaman hidup yang dilalui oleh para orang-orang tua di jaman dahulu. Mungkin pada saat itu ada seseorang yang memiliki kebiasaan duduk atau berdiri di depan pintu yang kemudian kesulitan dalam mendapatkan jodoh atau seret dalam mencari rezeki. Dari mulut ke mulut, pengalaman tersebut menyebar lintas orang, kampung, bahkan lintas zaman.

Menurut pemikiran saya yang masih dangkal, kalimat tersebut ada benarnya. Namun saya tidak sepakat jika kalimat tersebut dijadikan sandaran atau acuan. Ada sebuah kalimat yang jauh lebih tepat untuk dijadikan dasar. Berikut adalah kalimatnya :

Barang siapa yang mempermudah kesulitan orang lain, maka Allah ta’ala akan mempermudah urusannya di dunia dan akhirat. (HR. Muslim).

Berdiri atau duduk di depan pintu adalah perbuatan yang bisa menyulitkan orang lain yang akan masuk dan keluar melalui pintu tersebut. Begitu juga halnya dengan duduk-duduk di anak tangga di mana tangga tersebut dijadikan tempat lalu-lalang banyak orang. Jika makna hadits tersebut dilihat dari sisi lain, maka bisa dikatakan jika seseorang mempersulit orang lain, maka Allah akan mempersulit urusannya di dunia dan akhirat.

Wallaahu a’lam.


Baca Juga Cerita Tentang Tangga Lainnya :

24 thoughts on “Duduk-duduk di Anak Tangga

  1. ysalma Oktober 7, 2014 / 06:59

    sepertinya iya juga, setidaknya yang mau lewat sudah membathin kurang baik

    • jampang Oktober 7, 2014 / 09:19

      Kira-kira begitu, uni

  2. Rahmat_98 Oktober 7, 2014 / 07:09

    Bener juga bang, aslinya sih ngeribetin πŸ˜€

  3. danirachmat Oktober 7, 2014 / 07:21

    Sepakat bang. Saya dulu juga suka sih duduk-duduk bentar di anak masjid kantornya bang rifki cuma buat nunggu antrian kelar. Bukan di anak tangganya. Ganggu rmang yang duduk lama di anak tangga gitu.

  4. Rivanlee Oktober 7, 2014 / 09:23

    saya keganggu kalau mereka duduk2 smbl main hape padahal masih byk yg nunggu, kadang suka saya judesin permisinya…

    duhh manusia

    • jampang Oktober 7, 2014 / 10:22

      πŸ˜€
      sebaiknya seh nyari tempat yang tidak dijadikan tempat lewat orang banyak

  5. Iwan Yuliyanto Oktober 7, 2014 / 09:50

    “Barang siapa yang mempermudah kesulitan orang lain, maka Allah ta’ala akan mempermudah urusannya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim).

    Hadits tersebut di atas ternyata punya dimensi yang sangat luas terkait dengan local wisdom. Sepakat dengan tulisannya, mas Rifki.

  6. capung2 Oktober 7, 2014 / 10:17

    Mempermudah org lain biasanya kt pun nntinya akan dipermudah.

    • jampang Oktober 7, 2014 / 10:23

      insya Allah begitu, mas

  7. rianamaku Oktober 7, 2014 / 11:42

    Dulu waktu lajang sering di tegur gitu sekarang kalau lupa trus duduk di depan pintu cuek cuek aja tu…

    • jampang Oktober 7, 2014 / 12:16

      πŸ˜€
      karena udah dapat jodoh ya mbak

  8. pinkvnie Oktober 7, 2014 / 13:04

    hanya mitos … πŸ™‚

  9. Orin Oktober 7, 2014 / 16:12

    sepakat bang, clue-nya menurutku ‘menyulitkan’ itu sih, toh harusnya bisa duduk/berdiri di tempat yang tidak menghalangi ya

  10. Hosting murah Oktober 14, 2014 / 17:15

    duduk di anak tangga ternyata senda jamaah toh

    • jampang Oktober 19, 2014 / 16:49

      itu cuma ilustrasi aja koq πŸ˜€

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s