[Prompt #69] Jejak Retina

 

sumber

Kedua matanya terbelalak hingga bisa kulihat wajahku terlukis di kedua pupil matanya yang hitam.

“Akhhhh!”

Hanya kalimat itu yang keluar dari mulutnya.

Aku memerlukan hartamu untuk melunasi hutang-hutangku.

Tiba-tiba kedua telingaku mendengar suara pintu ruang utama terbuka. Kutinggalkan ayahku yang berusaha menarik pisau yang menancap di dadanya. Kupecahkan jendela lalu pergi menyelamatkan diri.

*****

“Silahkan masuk!” Astafan menyambut kedatanganku, adikku Elang, serta kedua pembantu ayah, Aslijan dan Cahyo.

Astafan adalah seorang detektif swasta yang bekerja untuk membantu pihak kepolisian dalam mengungkap banyak kasus pembunuhan. Kali ini, dia sedang menyelidiki kematian ayahku, Gangsa Makuta. Kuharap, dia akan menemui jalan buntu.

Astafan membawa kami berempat memasuki sebuah rungan dengan banyak sekali lukisan mata dengan aneka bentuk dan ukuran.

“Di ruangan ini, aku akan mengungkap siapa pembunuh Pak Gangsa Makuta. Dugaanku, pelakunya adalah orang dalam,” ucap Astafan.

Medengar ucapan tersebut, tubuhku langsung bergetar. Kurasakan suhu ruangan seperti memanas.

“Bukankah pelakunya memecahkan jendela?” kucoba bertanya untuk menyebunyikan rasa terkejutku.

“Benar. Tetapi dilihat dari serpihan kaca di TKP, pelaku melakukannya dari dalam kamar Pak Gangsa. Bukan dari luar.

Kurasakan darah di dalam tubuhku mengalir begitu deras. Degup jantungku pun terasa semakin cepat. Kurasakan setitik peluh mengalir di keningku.

“Tapi bisa saja pelakunya masuk dari tempat lain dan keluar dengan memecahkan jendela, kan?” Elang angkat bicara.

Kamu cerdas, Elang.

“Betul. Tapi kenyataannya, tidak ada pintu atau jendela lain yang rusak,” bantah Astafan.

“Jadi, Bapak menuduh kami yang membunuh Tuan Gangsa?” Aslijan bertanya dengan nada gemetar.

“Kurang lebih begitu.”

“Tapi kami yang melapor, Pak!” Cahyo mencoba menepis tuduhan Astafan.

“Saya tahu. Jika Anda tak bersalah, tak perlu takut.”

Astafan menghentikan kalimatnya ketika pintu ruangan terbuka. Seorang lelaki paruh baya dan berkacamata muncul dari balik pintu.

“Nah, yang kita tunggu datang. Perkenalkan, beliau adalah Profesor Makarim. Beliau yang akan membantu mengungkap kasus ini. Langsung saja, Prof!”

“Selamat datang di laboratorium saya,” Profesor Makarim mulai bicara. “Selama beberapa tahun saya melakukan penelitian tentang mata. Salah satu hal penting yang saya temukan adalah, retina mata seseorang akan menyimpan rekaman apa yang dilihat beberapa saat sebelum orang tersebut meninggal.”

Sial!

Peluh mulai membanjiri keningku.

“Saya akan melakukan uji coba pertama hasil penilitian ini terhadap retina Pak Gangsa.”

Profesor Makarim mengeluarkan tubuh ayahku dari tempat penyimpanan dan meletakkan di atas meja yang berada di tengah ruangan.

Profesor Makarim mulai bekerja. Dia membuka salah satu kelopak mata ayahku dan menempelkan sesuatu di mata tersebut. Selanjutnya, ujung alat lain dicolokkan ke sebuah komputer dan menyalakan alat penelitiannya.

Kutarik sebuah kursi dan duduk di atasnya. Tulang kakiku seperti tak sanggup lagi menopang seluruh tubuhku.

Setelah beberapa alat itu bekerja, layar komputer mulai memunculkan rekaman wajah seseorang. Kupejamkan kedua mataku.

Tamatlah riwayatku.

“Saudara Elang, Anda kami tahan atas dugaan pembunuhan Pak Gangsa Makuta,” teriak Astafan.

Kubuka mataku. Kulihat wajah Elang muncul di layar komputer. Sementara Astafan sudah memborgol kedua tangan Elang.

“Bukan aku!” Elang meronta. “Aku memang ingin membunuh ayah karena merebut Aileen, kekasihku. Tetapi, pisau itu sudah tertancap di dada Ayah ketika aku masuk kamar. Mas Gilang, tolong aku!”

Maaf Elang, aku tak bisa.

—oOo—

499 Kata Untuk Monday Flash Fiction Prompt #69 : Melukis Matamu


Baca Juga Flash Fiction Lainnya :

21 respons untuk ‘[Prompt #69] Jejak Retina

    • jampang November 7, 2014 / 05:06

      lagi belajar, mas. 😀

  1. lovelyristin November 6, 2014 / 18:01

    keren .. aku lg mampet bikin fiksi hihihi..

  2. capung2 November 6, 2014 / 19:10

    Kejahatan mmg selalu meninggalkan jejaknya..

    Pada tanggal 06/11/14, Jejak-jejak yang Terserak

    • jampang November 7, 2014 / 05:06

      betul, mas. dan pasti suatu saat akan terungkap

  3. ismyama November 6, 2014 / 20:51

    ada satu typo mas..wah kasian elang ya..hiks

    • jampang November 7, 2014 / 05:09

      sudah saya perbaiki, mbak.

      iya. dia cuma “meneruskan” saja. mungkin di kemudian waktu, gilang juga akan tertangkap

  4. Anggun November 7, 2014 / 01:56

    mantap!

  5. ysalma November 7, 2014 / 05:22

    keren,
    niat anaknya sama ternyata, hanya soal waktu siapa yg melakukannya,

    • jampang November 7, 2014 / 05:26

      yup. dan yang belakangan yang apes duluan. meskipun nantinya, anak satunya lagi bakal kena apes juga

  6. Dizz November 7, 2014 / 09:05

    Wah, awalnya saya juga ngira Elang yang membunuh, kalau nggak baca kalimat terakhir yang cetak miring. Keren banget, Bang! 😀

    • jampang November 7, 2014 / 09:07

      😀
      terima kasih, mbak

    • jampang November 7, 2014 / 09:24

      di penyelidikan berikutnya pasti ketangkap 😀

    • jampang November 7, 2014 / 10:14

      penelitiannya harus dilanjutkan biar jejaknya terekam bisa lebih lama, begitu juga kondisi mayatnya… harus lebih baru

  7. ajenangelinaa November 7, 2014 / 14:28

    wihh ternyata Mas Gilang yah heheheh

    bagus mas cuma itu kalau detektif harusnya panjang hehehehe ff gini kurang puas 🙂

    • jampang November 7, 2014 / 16:02

      soalnya dapat idenya begini mbak. dan sepertinya juga nggak begitu nyambung sama gambarnya 😀

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s