My Dearest Syaikhan : Layang-layang

Assalaamu ‘alaikum, Syaikhan! Apa kabarmu? Semoga dirimu baik-baik saja dan sehat selalu.

Syaikhan, melalui surat kali ini, Abi akan bercerita tentang layang-layang. Di masa kecil, Abi sering sekali bermain layang-layang. Bahkan ketika matahari sedang bersinar sangat terik.

Bagaimana dengan dirimu, apa kamu pernah bermain layang-layang seperti yang pernah Abi lakukan ketika Abi seusiamu? Abi yakin jika dirimu sudah pernah melihat dan bahkan memegang layang-layang. Namun dirimu belum pernah memainkan layang-layang dengan cara yang sebenarnya.

Pertama kali dirimu memiliki layang-layang adalah ketika Abi mengajakmu bermain di Kampung Main Cipulir. Jika kamu ingin membaca cerita lengkap apa yang kita lakukan bersama-sama di tempat tersebut, kamu bisa membacanya di salah satu catatan kebersamaan kita di akhir pekan.  Ketika kita pulang dari tempat tersebut, kamu meminta Abi membelikanmu layang-layang. Abi pun membelikan sebuah layang-layang seharga dua ribu rupiah untukmu.

Syaikhan, kamu terlihat senang sekali dengan layang-layangmu itu. Apalagi ketika kamu memainkannya di atas sepeda motor yang sedang melaju dan kemudian layang-layangmu mengenai wajah Abi, kamu langsung tertawa kencang sekali.

Keesokan harinya, kamu memainkan layang-layang tersebut di lapangan bulu tangkis di depan rumah Nenek. Abi tidak membelikanmu benang untuk memainkan layang-layang tersebut. Karenanya, kamu memainkan layang-layang tersebut dengan membawanya sambil berlari mengeliling lapangan bulu tangkis.

Kali kedua, dirimu mendapatkan layang-layang adalah ketika Om Opi mendapatkan layang-layang putus yang jatuh di dekat rumah. Ukurannya lebih besar daripada layang-layang yang pernah kamu miliki sebelumnya. Layang-layang tersebut tidak kamu mainkan, melainkan kamu jadikan sebagai perisai layaknya tokoh Captain America yang memegang perisanya di film The Avengers yang pernah kau tonton.

Syaikhan, apakah kamu mau memainkan layang-layang dengan cara yang sesungguhnya? Jika kamu mau, nanti akan kita mainkan bersama. Abi akan mencari tempat yang aman untuk kita bermain layang-layang. Mungkin di sebuah tanah lapang. Sebab, jika bermain layang-layang di sekitar rumah, selain tidak leluasa karena ruang yang sempit, juga mungkin akan mengganggu orang lain. Apalagi jika layang-layang yang kita mainkan tersangkut di kabel, tentunya akan menimbulkan bahaya.

Terkait dengan layang-layang, Abi akan memberikanmu sebuah pesan. Dalam menjalani kehidupan, pastinya dirimu akan berhadapan dengan berbagai pilihan. Yang harus kamu lakukan adalah menentukan pilihanmu dengan cepat dan tepat. Jangan sekali-kali dirimu menjadi layang-layang yang selalu terombang-ambing.

Layang-layang yang berada di udara adalah gambaran sikap keragu-raguan. Sebuah ketidakpastian. Ia tidak dilepas, tak juga dipegang. Ia dibiarkan mengangkasa, menerima hempasan angin, tapi tak dilepas bebas untuk menikmati panorama alam sekehendaknya. Tidak juga ia dipegang dalam genggaman agar merasa nyaman. Yang ada hanyalah, ia ditarik kemudian diulur. Ditarik dan diulur lagi. Begitu seterusnya.

Syaikhan, jangan pernah kamu menjadi layang-layang seperti itu. Jadilah seseorang yang tegas dalam menetukan pilihan dan mengambil keputusan. Pilihan atau keputusan apapun yang kau ambil setelah kau pikirkan masak-masak akan lebih baik dibandingkan harus berlama-lama dalam ketidakpastian. Jika pilihan itu benar adanya, maka konsistensi adalah langkah selanjutnya. Jika pilihan itu hasilnya adalah salah, maka sebuah pelajaran berharga yang bisa kamu ambil sebagai bekal langkah selanjutnya dalam menjalani hidup dan kehidupan.

Sampai jumpa, Syaikhan.

Abi sayang kamu.

Wassalaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakatuh

 

 


Baca Juga Seri My Dearest Syaikhan Lainnya :

20 respons untuk ‘My Dearest Syaikhan : Layang-layang

  1. ahsanfile November 24, 2014 / 21:56

    Aiiihh baru kemarin aku main layang-layang… Lagi musim kali mas ua ?

    • jampang November 25, 2014 / 07:38

      kalau sekarang-sekarang ini saya belum lihat layang-layang di sekitar rumah…. lagi pula udah jarang yg main layang-layang. soalnya udah nggak ada tanah lapang. main di jalanan terhalang sama bangunan rumah dan kabel listrik

  2. adejhr November 24, 2014 / 22:20

    Ngak pinter main layang-layang. Apa lagi ngebuat layang-layang sendiri. Gak bisa. Haha. Syaikhan rajin belajar ya biar jd anak yg pandai 🙂

    • jampang November 25, 2014 / 07:39

      bermain layang-layang juga harus pandai mengambil keputusan dengan cepat, kapan harus mengulur, kapan narik, kapan cuma ‘dikedet’ aja

  3. ayanapunya November 25, 2014 / 07:43

    penasaran banget pengen bisa main layang-layang ini

    • jampang November 25, 2014 / 07:46

      ganpang-gampang susah, mbak. yang jelas faktor angin menentukan. kalau anginnya cukup kencang, mungkin sekali nyoba bisa naik tuh layangan. selain angin, layangan juga harus yg bagus, yang seimbang, jangan yang berat sebelah, kalau di betawi nyebutny singit. sebab akan susah dikendalikan, adanya itu layang muter ke arah yang sama terus-menerus

      eh tapi, layangan ini umumnya dimainkan anak laki-laki 😀

      • ayanapunya November 25, 2014 / 07:55

        heeh. tapi ibu saya katanya jago main layangan. makanya saya penasaran 😀
        sekarang kayaknya udah jarang yak anak2 main layangan

      • jampang November 25, 2014 / 08:00

        woooh 😀
        soalnya jarang tempatnya yang mendukung. udah gitu anak sekarang sepertinya takut sama panas dan debu 😀

      • ayanapunya November 25, 2014 / 08:01

        lapangannya makin dikit yak soalnya. sama banyak bangunan tinggi

      • jampang November 25, 2014 / 08:25

        iyah. makanya susah buat main layang-layang

  4. dani November 25, 2014 / 09:22

    Layang-layang ini salah satu target mainan yang ingin saya bikin bareng dan terbangkan bareng anak meskipun dulu saya sendiri jarang banget maenan layang-layang. Kalo soak filosofinya keren Bang soal layang-layang itu..

    • jampang November 25, 2014 / 09:32

      mudah2an nanti bisa main layang bareng sama anak ya, mas.

      terima kasih, mas

  5. zaki19482 November 25, 2014 / 09:34

    Indahnya masa kecil bang jampang. Senangnya main layang-layang. Anak sekarang kalau sekolah udah sampe sore. Mereka udah lelah. Main layang-layang serasa menemukan kemewahan. hehehehe…!!!! Salam dari solo

    • jampang November 25, 2014 / 09:47

      ternyata main layangan sekarang menjadi hal yang mewah yah.

      iyah… anak SD kalau pulangnya sore pasti udah kecapean

  6. ysalma November 25, 2014 / 11:14

    di rumah masih ada layangan yang udah bosan dimainkan sama yang punya, secara terbangnya ga bisa tinggi 🙂

    • jampang November 25, 2014 / 11:39

      ditambahin aja benangnya biar terbanya bisa lebih tinggi 😀

  7. Okti D. November 25, 2014 / 22:15

    ah, malangnya si layang-layang…

    • jampang November 26, 2014 / 05:04

      tapi dia mengajarkan sesuatu buat manusia, mbak 😀

  8. gegekrisopras November 27, 2014 / 08:05

    Layang2, maju-mundurkan perasaan. #eaaa x)))

    • jampang November 27, 2014 / 09:28

      begitulah kira-kira 😀

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s