Gone But Not Forgotten : Little House

Sudah tiada namun tidak terlupakan. Kalimat tersebut adalah hasil terjemahan bebas saya terhadap tema weekly photo challenge minggu ini. Dan setelah mencari-cari foto yang saya miliki dan sesuai dengan tema tantangan kali ini, saya memutuskan untuk mengupoad foto berikut. Foto rumah yang bisa dikatakan sebagai rumah pertama yang saya miliki namun saat ini sudah tidak ada lagi. Saya tidak lagi memilikinya dan wujudnya juga sudah tiada.

Menjelang akhir tahun 2006, saya pernah tinggal di sebuah rumah berukuran kecil. Tak lebih dari empat puluh meter persegi. Temboknya diplester. Bata merah yang tersusun sebagai tembok dibiarkan telanjang. Tidak diplester.

Beberapa ruangan di dalamnya berukuran serba mini kecuali kamar tidur yang merupakan ruangan terbesar. Ruang tamunya kecil, dapurnya kecil, bahkan kamar mandinya hanya berukuran sekitar satu kali dua meter. Tanpa kolam. Hanya ada toilet dan sebuah kran air.

Meski kecil dan sangat sederhana, saya sangat nyaman menetapi rumah tersebut. Sepertinya, saya menemukan kelapangan di dalam ukurannya yang kecil. Saya menemukan kemewahan di dalam kesederhanaannya. Mungkin karena saat itu, para penghuni rumah tersebut mampu bersyukur atas apa yang ada di tangan.

Perjalanan waktu kemudian mengubah rumah tersebut. Bentuknya yang sederhana dianggap tidak layak bersanding dengan rumah-rumah lain yang berada di sekelilingnya. Lalu semuanya berubah. Pelan namun pasti. Rumah tersebut akhirnya direnovasi total. Ukurannya jadi lebih besar. Bentuknya jadi lebih mewah.

Sayangnya, perubahan wujud rumah tersebut tidak menyertakan rasa lapang, rasa mewah, dan rasa syukur yang hadir sebelumnya.

Foto lain yang bertemakan Gone But Not Forgotten bisa dilihat di dailypost.


Lihat Juga Koleksi Weekly Photo Challenge Lainnya :

32 respons untuk β€˜Gone But Not Forgotten : Little House’

  1. herma1206 Desember 6, 2014 / 14:16

    padahal nampaknya bagus loh…btw, itu lokasi tepatnya di mana..?? kok rasa-rasa pernah liat, pas di pinggir jalan gak..??

    • jampang Desember 7, 2014 / 14:06

      di dalam komplek perumahan. developernya milik perorangan. di depok. kalau naik angkot jelas nggak ngeliat. adanya di jalan buntu koq

      • herma1206 Desember 7, 2014 / 19:36

        Oowh…berarti salah..hehe, sya pernah liat dinding2 bata gitu di pinggir jalan, di jalan raya Parung-Depok, angkot 03 πŸ˜€

      • jampang Desember 8, 2014 / 07:44

        kalau jalan yang jalur angkot seh nggak bakal kliatan. jadi dipastikan rumah yang berbeda

  2. dani Desember 6, 2014 / 15:15

    Sedih baca ceritanya Bang.

    • jampang Desember 7, 2014 / 14:07

      yang jelas ada pelajaran di baliknya, mas πŸ˜€

  3. nengwie Desember 6, 2014 / 16:21

    Cantik rumahnya… Kalaupun diperbesar tp tetap dgn ciri batu batanya yg tetap begitu keren tuuh kang…

    Tp memang mewah dan bagusnya satu rumah tidak menjamin kenyamanan dan rasa damai buat penghuninya..

    • jampang Desember 7, 2014 / 14:09

      saya pikir juga begitu, teh. tapi ya sudahlah πŸ˜€

      betul. kelapangan hati sangat menentukan

      • nengwie Desember 8, 2014 / 12:23

        Bukan jodoh berarti hehe
        Kata orang rumah itu seperti jodoh katanyaaa… πŸ˜€

      • jampang Desember 8, 2014 / 12:55

        yg saya denger juga seperti itu, teh

  4. JNYnita Desember 6, 2014 / 16:49

    Foto after-nya dong Bang… πŸ˜€

    • jampang Desember 7, 2014 / 14:11

      sepertunya dulu pernah saya upload di blog, cuma nggak termigrasi dari multiply ke wordpress. sepertinya seh

  5. zilko Desember 6, 2014 / 18:52

    Padahal penampakannya bagus juga lho. Bata-batanya masih kelihatan gitu seperti bangunan-bangunan kuno di Belanda, hehe πŸ™‚ . Tetapi disini warna batanya tidak terlalu merah, melainkan lebih ke cokelat tua.

    • jampang Desember 7, 2014 / 14:13

      iya mas. uni. tapi terlihat dan terasa nyaman

  6. Fier Desember 6, 2014 / 21:14

    Adem euy lihat rumahnya. Sayang sudah ga ada (-_-“)

    • jampang Desember 7, 2014 / 14:13

      bukan rezeki, mas πŸ˜€

  7. GloryGrant Desember 6, 2014 / 21:31

    itu rumahnya unik warna bata. kayak rumah di Belanda.

    • jampang Desember 7, 2014 / 14:14

      iya kah? saya belum pernah ke belanda soalnya πŸ˜€

  8. adejhr Desember 7, 2014 / 09:43

    Wih ada terasnya, itu 2 tingkat ya? Yang dinatas kamar ya? Bisa liat bintang dri jendela? Keren!

    • jampang Desember 7, 2014 / 14:18

      atasnya hanya ruang yang dijadiin gudang aja. sebab nggak terlelu tinggi dan nggak luas juga. nggak bisa, sebab terhalang sama gentengnya πŸ˜€

  9. Haya Najma Desember 7, 2014 / 19:51

    waah, kecil tapi unik dan rapi pak

    • jampang Desember 8, 2014 / 07:45

      iya. setuju. idinys, mrdkipun serba mini, tspi nyaman

  10. Pamela Fitrah Desember 8, 2014 / 08:01

    saya blom punya rumah bang. ngontrak tp di kontrakan saya nyaman dan smg bahagia cm bs pasrah bs punya rmh kapan. auk deh tergantung Allah mau kasihnya kapan (sbil berusaha tentu saja) eh kok jd curcol yaa

    iya ya bang semua pada intinya kembali ke rasa syukur masing2

    • jampang Desember 8, 2014 / 09:36

      insya Allah nanti ada rezeki buat rumah, mpok.

  11. titintitan Desember 8, 2014 / 08:28

    sukaaa benget sama rumahnya.
    itu mewaah rumahnya, meski mungkin kata orang sederhana ^^

    • jampang Desember 8, 2014 / 09:43

      iya mbak. tapi kan udah nggak ada lagi itu rumahnya πŸ˜€

  12. togaretta Desember 11, 2014 / 15:59

    saya pernah kesana.. dan suka banget tempatnya.. πŸ™‚

    • jampang Desember 11, 2014 / 16:16

      sekarang rumahnya udah nggak ada, din. suasana lingkungannya juga udah beda.

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s