Kehendak yang Tertunda – I

Cerita sebelumnya bisa dibaca DI SINI.

—oOo—

halteSepertinya, kehendak Zul untuk segera keluar dari kebimbangan dan ketidakpastian tidak dapat ditunda-tunda lagi. Dalam pikiran Zul, semakin cepat dirinya mendapatkan jawaban, baik manis atau pahit, semakin baik bagi dirinya. Zul yakin, di balik jawaban tersebut pasti terselip sebuah pembelajaran yang bisa dijadikannya sebagai bekal untuk menapak jalan kehidupan selanjutnya.

Jika jawaban yang diterimanya adalah sebuah kesempatan, maka Zul tinggal melangkah sedikit lagi untuk memiliki dua buah sayap yang sempurna. Ibarat seekor burung, dengan dua sayap itu, dia bisa terbang tinggi di langit biru. Bahkan, Zul pun merasa bisa terbang menembus langit ketujuh, bahkan ke surga. Sebaliknya, jika jawaban yang diterima adalah sebuah penolakan, maka kebaikan yang akan dirasakan Zul adalah kepastian untuk mengubur perasaan yang mulai tumbuh di taman hatinya. Bagaimana pun juga, menyimpan sebuah rasa yang   tumbuh dan berkembang bukan pada tempatnya adalah salah satu bentuk sebuah ketidakadilan.

Sore itu, di hari pertama kembalinya dari tugas mengikuti pendidikan dan pelatihan di Bandung selama beberapa hari, Zul sudah bertekad untuk meyampaikan apa yang ada di dalam pikiran dan hatinya secara langsung kepada Sali. Apa pun jawaban yang diberikan Sali, Zul sudah siap.

Waktu telah menunjukkan pukul enam belas, bertepatan dengan selesainya jam kerja kantor. Suasana Gedung Kembar ramai dengan lalu-lalang para pegawai yang ingin segera pulang ke rumah, tak berbeda jauh dengan ramainya lalu-lintas di Jalan gatot Subroto. Jika di luar banyak kendaraan yang berjalan dengan laju yang lambat, maka di dalam Gedung Kembar, baik di Grha Tirtaloka I dan II, para pegawai mulai menyemut di depan lift pada setiap lantainya. Mereka menunggu giliran untuk bisa masuk ke dalam lift agar segera bisa turun ke lantai dasar.

Ada rasa kecewa yang harus diterima oleh beberapa pegawai ketika pintu lift terbuka dengan kondisi yang hampir penuh. Hanya satu atau dua pegawai saja yang bisa masuk untuk menempati ruang yang tersisa di dalam lift tersebut. Sedangkan yang lain harus kembali menunggu.

Zul yang berada di antara para pegawai tersebut akhirnya memutuskan untuk menggunakan tangga untuk turun daripada menunggu lama di depan lift.

Dengan segera, Zul menuruni satu per satu anak tangga dari lantai lima menuju lantai dasar. Seolah tak ingin kehilangan waktu sedikit pun.

Sebenarnya, bukan kali itu saja Zul menggunakan tangga darurat untuk turun ke lantai dasar. Di pagi hari, Zul biasa menaiki anak tangga di banding menggunakan lift. Naik tangga tersebut mungkin menjadi satu-satunya olahraga yang dilakukan Zul di pagi hari. Konon menurut berita yang pernah didengarnya, dengan menaiki tangga, bisa melatih otot-otot jantung untuk tetap sehat. Setidaknya itu adalah informasi yang pernah Zul dengar.

Suatu pagi, Zul mencoba menghitung berapa jumlah anak tangga yang dinaikinya dari lantai dasar ke lantai lima. Seratus dua anak tangga adalah jumlah hasil penghitungannya.

Ada sebuah pelajaran yang diperoleh Zul ketika menaiki anak tangga tersebut. Khususnya terkait dengan cita-cita atau keinginan. Setiap manusia pastilah punya cita-cita, keinginan, dan impian. Itu wajar. Karena apa jadinya seseorang tanpa cita-cita, keinginan dan impian? Bila demikian adanya, maka tak akan muncul sebuah ungkapan yang berbunyi “Gantungkan cita-citamu setinggi bintang di langit.”

Untuk meraih cita-cita, keinginan, atau impian harus ada proses. Selangkah demi selangkah. Setahap demi setahap. Tidak bisa langsung sekaligus. Langkah dan tahapan itu ada dalam setiap anak tangga. Keinginan yang kecil akan mudah dicapai, karena keinginan tersebut berada pada anak tangga awal. Semakin besar dan tinggi keinginan dan cita-cita tersebut, maka semakin besar usaha yang diperlukan untuk meraihnya, karena keinginan dan cita-cita tersebut berada pada anak tangga yang jauh lebih tinggi. Zul merasakan hal itu ketika langkahnya mulai menaiki anak tangga dari lanati empat menuju lantai lima. Zul harus mengeluarkan banyak tenaga, napas mulai terasa berat, keringat mulai menetes, kaki pun mulai terasa sulit diangkat.

Namun demikian, cita-cita, keinginan, atau impian yang besar tidak akan mungkin bisa diraih jika tidak mewujudkan cita-cita, keinginan, atau impian kecil yang bisa mendukung atau menopang proses pencapaian sesuatu yang lebih besar lagi.

Hal itulah yang Zul akan lakukan sekarang. Seiring langkahnya menuruni anak tangga, Zul berpikir bahwa sebuah anak tangga harus dia lewati sebelum menaiki anak tangga selanjutnya. Untuk mewujudkan kehendak dan keinginannya kepada Sali, Zul harus menyampaikan kehendak dan keinginannya terlebih dahulu. Tak mungkin semua itu terwujud jika dia tidak menyampaikannya.

Tiba di lantai dasar, Zul segera menuju lobby dan pintu keluar gedung. Lalu melanjutkan langkahnya menuju halte di depan gedung. Zul berharap, di halte tersebut, dia bisa bertemu dengan Sali seperti saat pertama kali bertemu.

Harapan Zul tidak meleset. Sejak keluar pintu gerbang gedung kembar, kedua matanya menangkap sosok seorang perempuan sedang duduk di bangku halte. Semakin dekat langkahnya menuju halte, semakin yakinlah Zul bahwa sosok itu adalah Sali yang sedang membaca buku. Persis seperti posisi Sali yang ditemui Zul beberapa hari yang lalu.

Dengan detak jantung yang semakin cepat, Zul mendekati Sali.

“Assalaamu Alaikum,” ucap Zul ketika dirinya tinggal beberapa langkah dari tempat Sali duduk.

….. bersambung …..


Baca Juga Cerita Terkait Lainnya :

7 thoughts on “Kehendak yang Tertunda – I

  1. dani Desember 22, 2014 / 20:07

    Aaaaak. Mutusnyaaaà. Bikin penasaraaan. Hahahaha

    • jampang Desember 23, 2014 / 05:16

      biar nggak terlalu panjang, mas 😀

  2. adejhr Desember 22, 2014 / 21:08

    sali jadi inget lagu piterpan 😀

    • jampang Desember 23, 2014 / 05:17

      tapi nama lenkapnya kan beda 😀

  3. yosbeda Desember 23, 2014 / 06:46

    Singkat kata, sebuah langkah besar tidak akan tercapai tanpa langkah-langkah kecil ya mas ya 🙂

    • jampang Desember 23, 2014 / 07:31

      yup. betul sekali, mas

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s