Berbaik Sangka, Bersyukur, dan Berdoa

berbaik sangka, beryukur, dan berdoa

Pagi ini, saya melihat mereka lagi. Untuk kesekian kali. Seorang ibu dengan anak lelakinya. Kadang berdua, kadang bertiga. Mereka berjalan melewati depan rumah. Mungkin mereka melakukannya setiap hari, meski saya tidak selalu melihat mereka. Sebab di hari kerja, ketika mereka melewati jalan di depan rumah, saya sudah berada di kantor.

Sang ibu berjalan sambil memegang kedua lengan salah seorang anaknya. Anak lelaki yang nemiliki keistimewaan. Di usia yang seharusnya sudah bisa berjalan bahkan berlari kencang, ia belum mampu untuk berpijak di atas kedua kakinya dengan mantap. Ketika ia berjalan, kedua kakinya dalam posisi tertekuk, belum bisa lurus, meski kedua telapaknya sudah menjejak di tanah.

Jika ibu itu berjalan bersama kedua anak lelakinya, maka sang adik akan berjalan di depan ibu dan abangnya atau di belakang. Jika sang adik berjalan di belakang dan tersadar bahwa dirinya sudah tertinggal cukup jauh, ia akan berteriak memanggil sang ibu. Di lain waktu, sang ibu yang memanggil dirinya.

Kemarin, Minyu melihat ibu dan kedua anaknya itu melewati depan rumah.

“Kasihan!” ucap Minyu lirih. Rasa iba itu pula yang kerap muncul manakala saya melihat kehadiran mereka.

Bingung. Minyu mengalami juga apa yang saya alami. Saya bingung dan tak tahu apa yang harus saya lakukan. Begitu pula Minyu. Minyu hanya berdiri dalam diam. Persis seperti yang saya lakukan ketika pertama kali melihat mereka.

Berbaik sangka, bersyukur, dan berdoa. Pada akhirnya, ketiga hal itu yang mungkin bisa saya dan Minyu lakukan.

Berbaik sangka bahwa apapun yang dialami oleh anak lelaki itu adalah atas izin dan kehendak Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Tak ada satupun peristiwa yang terjadi di bumi ini kecuali atas qudrah dan iradah Allah. Allah mungkin punya rencana yang luar biasa di balik apa yang mereka alami dan yang bisa saya lihat. Rencana yang tak ada seorangpun yang tahu. Berbaik sangka bahwa yang dilakukan sang ibu adalah sebuah ikhtiar untuk menyembuhkan sakit sang buah hatinya. Berprasangka baik dengan hal tersebut sepertinya akan jauh lebih baik daripada membuat dugaan-dugaan tanpa kepastian.

Bersyukur bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan ni’mat kesehatan kepada saya dan keluarga. Bersyukur yang bukan berarti berbahagia di atas penderitaan orang lain atau atas musibah yang dialami orang lain.

Berdoa. Berdoa dengab memohon agar Allah Subhanahu Wa Ta’ala selalu memberikan kesehatan kepada saya dan keluarga, serta mendoakan kesembuhan kepada anak lelaki tersebut. Aamiin.


Tulisan Terkait Lainnya :

19 thoughts on “Berbaik Sangka, Bersyukur, dan Berdoa

  1. limaumanes Januari 18, 2015 / 09:50

    Ngebatin bang kalau melihat yg seperti itu. Pertama bersyukur trus berdoa tp sering lupa harus berbaik sangka.

    • jampang Januari 18, 2015 / 09:53

      idem, de. kadang ya semuanya lewat aja.

  2. zilko Januari 18, 2015 / 19:38

    Setuju, terkadang kita harus diingatkan untuk bersyukur terhadap apa yang kita nikmati sekarang ya. Sayangnya terkadang kita diingatkan melalui “penderitaan” orang lain 😦 .

    • jampang Januari 18, 2015 / 21:07

      iya. seharusnya kapan saja harus bersyukur dan dari dalam diri. tapi ya namanya manusia, harus diingatkan dulu

  3. nengwie Januari 18, 2015 / 21:56

    Aamiin….
    Semoga kita termasuk golongan yang pandai bersyukur…

    • jampang Januari 19, 2015 / 05:11

      aamiin. semoga, teh

  4. dani Januari 18, 2015 / 21:58

    Kalau saya sering melihat seorang Ibu terlihat duduk menggelandang dengan tiga anaknya Bang, tapi saya lupa berbaik sangka, bersyukur dan berdoa. makasih Bang.. 🙂

    • jampang Januari 19, 2015 / 05:13

      adakalanya susah juga buat berbaik sangka. misalnya terhadap pengemis yang ternyata ada ada pembanding pengemis lain yang menjadikan mengemis sebagai pekerjaan

  5. Dian Rustya Januari 19, 2015 / 00:40

    Makasih bang, membaca postingan ini seperti diingatkan

  6. alrisblog Januari 19, 2015 / 03:54

    Semoga mereka diberikan yang terbaik oleh Allah swt.

    • jampang Januari 19, 2015 / 05:19

      aamiin yaa rabbal ‘aalamiin

  7. zizadesita Januari 19, 2015 / 07:18

    Pas kemarin berdua sama2 tepar, anakku yg gedhe nanya, “kenapa kita diberi sakit sama Allah ya Buk, apa Allah gak sayang kita?”
    Jawabku ” supaya kita sabar, dan bersyukur sudah pernah diberi sehat”
    Dan memang husnudzon itu yang paling susah, pasti dikepala terngiang-ngiang juga “kenapa..kenapa gini??”

    • jampang Januari 19, 2015 / 07:39

      iya mbak. lebih mudah untuk menilai dengan gegabah dibandingkan dengan berpikir lebih mendalam terlebih dahulu

  8. vivi Januari 20, 2015 / 09:07

    aku selalu lupa berbaik sangka. mksh sudah diingatkan bang

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s