Lapis-lapis Keberkahan

lapis-lapis-keberkahan

Sebuah hasil origami berbentuk serupa burung merpati itu menempel di plastik buku yang saya terima dua hari yang lalu. Warnanya hijau. Saya lepaskan origami burung tersebut dari buku dan membuka lipatan-lipatannya. Di dalamnya tertulis sebuah surat.

Assalaamu ‘alaikum wr. Wb.

Semoga merpati ini hinggap di tangan yang tepat. Juga sebagai permohonan maaf, pengirimannya terlambat.

Apa kabar Mas Rifki & Syaikhan? Semoga hari-hari kalian semakin mengesankan. Terima kasih untuk kiriman ceritanya.

Have a great day.

Karawang, 18 Januari 2015

Saya baca beberapa kalimat yang terdapat di halaman depan buku yang bergambar potongan-potongan buah yang kemudian disusun berlapis-berlapis. Salim A. Fillah, sang penulis, memberikan judul buku tersebut “Lapis-lapis Keberkahan”. Di bagian paling bawah, tertulis sebuah kalimat yang mungkin memberikan gambaran tentang pelajaran apa yang akan didapat setelah membaca isi di dalamnya. “Memburu berkah amatlah berat, tapi justru di dalamnyalah ada banyak rasa nikmat”.

Selanjutnya, saya membuka halaman prolog dan membaca penggalan kalimat di dalamnya. Saya pikir, bagian tersebut amat layak untuk saya tuliskan di sini. Tentunya dengan harapan akan memberikan manfaat bagi yang membacanya. Terlebih lagi, bagi saya pribadi.

“Ya Rasulallah,” begitu kelak ‘Aisyah bertanya sembari bersandar mesra di bahu beliau dan menatap matanya penih cinta, “pernahkah kaualami hari yang lebih berat daripada ketika di Uhud?” Mata lelaki itu, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bercerita, seperti diriwayatkan Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim berikut ini.

“Aku mendatangi para pemimpin Thaif; ‘Abdu Yalail Ibn ‘Amr, Mas’ud ibn ‘Amr, dan Hubaib ibn ‘Amr Ats-Tsaqafy untuk mengajak mereka kepada Allah. Salah seorang di antara mereka berkata, ‘Tiral Ka’bah tersobek jika sampai Allah mengutus seorang Rasul’, yang berikutnya berucap, ‘Apakah Tuhanmu tak punya orang lain untuk diutus?’, dan yang terakhir berujar, ‘Aku tak mau bicara denganmu. Jika kau benar-benar Rasul, aku khawatir mendustakanmu. Jika kau bukan Rasul, maka tak layak bagiku bicara dengan seorang pendusta!’

Lalu setelah tiga hari aku menyusur tiap sudut Thaif, mengetuk berbagai pintu, dan menawarkan Islam pada siapa pun yang kutemui, mereka pun beramai-ramai mendustakan, mengusir, dan menyakitiku.

Aku pergi dengan kegundahan dalam hati, hingga tiba di Qarn Ats-Tsa’alib. Ketika kuangkat kepalaku, maka tampaklah Jibril memanggilku dengan suara yang memenuhhi ufuk. ‘Sesungguhnya’, kata Jibril, ‘Rabbmu telah mengetahui apa yang dikatakan dan diperbuat kaummu terhadapmu. Maka Dia mengutus Malaikat penjaga gunung ini untuk kau perintahkan sesukamu.’

Lalu malaikat penjaga gunung menimpali, ‘Ya Rasulallah, ya Nabiyyallah, ya Habiballah, perintahkanlah, maka aku akan membalikkan Gunung Akhsyabain ini agar menimpa dan mengahncurkan mereka yang telah ingkar, mendustakan, menista, mengusir, dan menyakitimu.’

‘Tidak,’ jawabku, ‘sungguh, aku ingin agar diriku diutus sebagai pembawa rahmat, bukan penyebab adzab. Bahkan, aku ingin agar dari sulbi-sulbi mereka, dari rahim-rahim mereka, kelak Allah akan keluarkan anak keturunan yang mengesakan-Nya dan tajk menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.’”

Mari sejenak kembali ke pertanyaan ibunda kita, Sang Kumaira’. Apa yang berat bagi kekasih Allah ini melebihi dari Hari Uhud ketika tiga cincin rantai besi menancap di pelipisnya, perangkap tajam mencocor lututnya, dikabarkan terbunuh hingga cera-berai pengikutnya, kehilangan Paman tercinta, dan 70 shahabat setianya menjadi syuhada?

Hidupnya yang penuh lika-liku dan luka tapi tanpa leka itu, terlalu panjang untuk memeriksa satu demi satu jawabannya. Tapi kita tahu, yang berat baginya bukan lemparan batu, bukan kala dia ruku’ lalu lehernya dijerat, bukan juga saat dia bersujud kemudian kepalanya diinjak dan punggungnya dituangi kotoran. Yang berat baginya bukan caci fitnah dan cela makian, bukan tuduhan gila, penyihir, atau dukun, bukan juga tiga tahun kefakiran dalam pemboikotan.

Yang berat bagi kekasih Allah itu adalah, kala wewenang membinasakan orang-orang yang menganiaya dirinya digenggamkan penuh-penuh. Yang berta bagi kesayangan Ar-Rahman itu adalah ketika dalam gemuruh sakit lahir dan batin, peluang pelampiasan dibentangkan baginya.

Dibagian lain dari prolog buku ini menceritakan tentang kebahagiaan. Berikut dalah petikannya.

Bahagia adalah kata paling menyihir dalam hidup manusia. Jiwa merinduinya. Akal mengharapinya. Raga mengejarnya. Tapi kebahagiaan adalah goda yang tega. Ia bayangan yang melipir jika dipikir, lari jika dicari, tak tentu jika diburu, melesat jika ditangkap, menghilang jika dihadang. Di nanar mata yang tak menjumpa bahagia, insan lain tampak lebih cerah. Di denging telingan yang menyimak bahagia, insan lain terdengar lebih ceria. Di gerisik hati yang tak merasa bahagia, insan lain berkilau cahaya.

Buku ini disusun dengan keinsyafan kecil, bahwa jika bahagia dijadikan tujuan, kita akan luput menikmatinya sepanjang perjalanan. Bahwa jika bahagia dijadikan cita, kita akan kehilangan ia sebagai rasa. Bahwa jika bahagia dijadikan tugas jiwa, kita akan melalaikan kewajiban sebagai hamba. Bahwa jika bahagia dijadikan tema besar kehidupan, kita bsia kehilangan ia setelah kematian.

Bahagia adalah kata yang tak cukup mewakili segenap kebaikan. Maka buku ini diberi tajuk “lapi-lapis Keberkahan”. Hidup kita umpama buah beraneka aroma, bentuk, warna, serta rasa yang diiris-iris dan ditumpuk berlapis-lapis. Tiap irisan itu punya wangi maupun anyirnya, lembut atau kasarnya, manis serta pahitnya, masam juga asinnya. Tapi kepastian dari-Nya dalam segala yang terindra itu ialah ada gizi yang bermanfaat bagi ruh, akal, dan jasad kita.

Ialah lapis-lapis keberkahan. Mungkin bukan nikmat atau musibahnya, tapi syukur dan sabarnya. Bukan kaya atau miskinnya, tapi shadaqah dan doanya. Bukan sakit atau sehatnya, tapi dzikir dan tafakkurnya. Bukan sedikit atau banyaknya, tapi tazkiyah dan tawadhu’nya. Bukan kuat atau lemahnya, tapi adab dan akhlaknya. Bukan sempit atau lapangnya, tapi zuhud dan wara’nya. Bukan sukar atau mudahnya, tapi amal dan jihadnya. Bukan berat atau ringannya, tapi ikhlas dan tawakkalnya.

Pemilihan kata dan susunan kalimat yang indah bukan?

Buku “Lapis-lapis Keberkahan” tersebut saya terima sebagai hadiah karena coretan saya yang berjudul “My Dearest Syaikhan : Ini Cerita Kita Bersama Hujan”  terpilih menjadi tulisan terbaik pertama dalam giveaway “Cerita Bersama Hujan” yang diadakan oleh Mas Fredy Setiawan di blognya.

Coretan yang saya ikut sertakan dalam giveaway tersebut sejatinya adalah salah satu bab dari naskah buku saya yang menceritakan masa-masa kebersamaan saya dan Syaikhan. Naskah yang kemudian saya ajukan kepada dua buah penebit major yang kemudian ditolak. Penerbit major pertama menyatakan bahwa tema yang saya angkat belum sesuai dengan yang dicari penerbit. Penerbit tersebut  mencari naskah buku yang menceritakan ikatan (bounding) rasa antara seorang ayah dengan anak perempuannya, bukan anak lelakinya. Sementara penebit kedua menolak karena naskah yang saya ajukan bersifat terlalu pribadi.

Yang patut saya syukuri dengan terpilihnya coretan saya dalam giveaway “Cerita Bersama Hujan” adalah sebuah pembuktian bahwa coretan tersebut cukup baik di mata penyelenggara giveaway. Bisa jadi bab-bab lainnya juga demikian. Mungkin akan ada sesuatu yang lebih baik yang nantinya akan terjadi. Wallaahu a’lam.

Terima kasih saya ucapkan kepada Mas Fredy Setiawan yang telah memilih coretan saya sebagai terbaik pertama dan juga atas hadiah bukunya. Semoga saya bisa membaca buku tersebut dan mengambil pelajaran yang ada di dalamnya sehingga bisa mengalirkan keberkahan kepada kita semua. Aamiin.


Tulisan Terkait Lainnya :

57 thoughts on “Lapis-lapis Keberkahan

    • jampang Januari 22, 2015 / 14:14

      wah… jadi pemburu pertamax nih, teh? 😀

      • nengwie Januari 22, 2015 / 14:41

        Hehe ngga juga kang…inget jaman MP..

        Aaah kangen sama MP…sama sobat-sobat…sama candaannya…sama oot nyaaa…

      • jampang Januari 22, 2015 / 16:27

        diajakin aja ke WP. biar bisa move on 😀

      • nengwie Januari 22, 2015 / 16:30

        Kayanya banyak juga yg di WP kang…tp ngga serajin dan serame masih di MP jadi pada males gitu..sayang yaa… Jdnya suka rame di Fb saja sesama MP-ers maaah..

      • jampang Januari 22, 2015 / 16:42

        iya. sepertinya lebih rame di FB. cuma saya nggak begitu rajin komentar di FB. seringan lihat2 doank 😀

      • nengwie Januari 22, 2015 / 17:34

        Kang Rifki mah banyak di WP hehe

      • jampang Januari 22, 2015 / 20:19

        iya, teh. saya lebih nyaman di blog daripada di FB. FB buat ngeshare aja

      • nengwie Januari 22, 2015 / 20:22

        Fb buat teteh mah, buat lihat apa yg saudara2/teman2 rasakan..saudara2/teman2 lakukan..

        Ndak pernah sharing link Wp … Belum pede soalnya… 😀

      • jampang Januari 23, 2015 / 08:28

        saya otomatis ngeshare link begitu posting 😀

      • nengwie Januari 23, 2015 / 12:40

        Ach sooo… * ngangguk2*

      • jampang Januari 23, 2015 / 14:16

        😀

      • nengwie Januari 22, 2015 / 14:41

        Sawangsulna…sama-samaa…terima kasih kembali…. 🙂

      • jampang Januari 22, 2015 / 16:27

        😀

  1. Ryan Januari 22, 2015 / 14:29

    Selamat ya mas.

  2. Putri Januari 22, 2015 / 14:34

    wah, selamat ya, lama tdk berkunjung ekmari :), salam sehat selalu

    • jampang Januari 22, 2015 / 16:12

      terima kasih, mbak. aamiin. semoga mbak juga demikian

  3. titintitan Januari 22, 2015 / 14:34

    dapet buku ini juga dr temeen 😀

    • jampang Januari 22, 2015 / 16:23

      sudah selesai dibaca?

      • titintitan Januari 22, 2015 / 16:26

        beluuum, baru dapet beberapa waktu lalu *alesaaan 😀

      • jampang Januari 22, 2015 / 16:41

        kirain 😀

      • titintitan Januari 23, 2015 / 09:17

        buku Ust. Salim itu semacam referensi yg gak habis2 dibaca.. jd sering lupanya kalo titin mah.. sering dibuka lagi kalo butuh 😀

      • jampang Januari 23, 2015 / 09:33

        dan bukunya tebal-tebal juga yah 😀

      • titintitan Januari 23, 2015 / 09:44

        nah, etta pissaan :D.

      • jampang Januari 23, 2015 / 10:01

        😀

  4. bukanbocahbiasa Januari 22, 2015 / 17:19

    Yayyyy… Buku hadiah dari mas Fredy juga udah aku termasuk mas.

    • jampang Januari 22, 2015 / 20:18

      udah sampe maksudnya? 😀

      • bukanbocahbiasa Januari 23, 2015 / 04:18

        Ya ampuuuun. Baru nyadar
        Nih autotext genggeusss bangettt. Iya. Aku mau nulis “udah aku terima” kok yaaaa berubah jadi “termasuk”?

      • jampang Januari 23, 2015 / 08:31

        😀
        dimaklumin

  5. zilko Januari 22, 2015 / 17:31

    Selamat yaa 🙂

    • jampang Januari 22, 2015 / 20:18

      terima kasih, mas 😀

  6. Eko Wardoyo Januari 22, 2015 / 17:41

    Jaddi peenasaraan sama bukunya (^_^)

    • jampang Januari 22, 2015 / 20:19

      silahkan dicari mas bukunya 😀

  7. rianamaku Januari 22, 2015 / 17:47

    “Memburu berkah amatlah berat, tapi justru didalamnyalah ada banyak rasa nikmat”

    Suka dengan kata katanya asalkan bisa selalu bersyukur.
    Btw selamat ya mas buat hadiah giveaway semoga menjadi berkah.

    • jampang Januari 22, 2015 / 20:20

      iya mbak. pemilihan katanya tepat dan memikat 😀

      terima kasih. aamiin

  8. esti kristikasari Januari 22, 2015 / 20:20

    Selamat, Mas … Senang sy menikmati blognya 🙂

    • jampang Januari 22, 2015 / 20:30

      terima kasih, mbak.
      semoga betah di rumah saya ini 😀

  9. damarojat Januari 22, 2015 / 21:17

    mas Fredy mmg suka pilihan kata yg puitis ya mas. hehe… pilihan bukunya pun serupa dg itu.

  10. dani Januari 23, 2015 / 14:40

    Tulisannya Bang Rifki memang langganan juara! 🙂

    • jampang Januari 23, 2015 / 15:59

      😀
      soalnya yang nggak juara saya nggak kabarin di blog

  11. Firsty Chrysant Januari 23, 2015 / 16:12

    selamaaatt ya… Emang ya, kalau semakin rajin nulis tulisan akan makin bagus yaa…

  12. occkiy Januari 24, 2015 / 17:02

    Mantap gan. .selamat

  13. occkiy Januari 26, 2015 / 16:57

    Gan. .kalo boleh minta postingan tentang macam2 jenis lotre. .

    • jampang Januari 26, 2015 / 21:12

      wah… saya urang tahu jenis-jenisnya 😀

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s