Hati di Balik Kaca Spion

jaguar

Sebelumnya, ada yang sudah membaca coretan saya yang berjudul “Kisah Kaca Spion yang Keren”?  Jika ingin membacanya, silahkan di sini. Nah, di Jum’at sore yang lalu saya menemukan lagi pengendara mobil yang melakukan hal yang sama persis seperti yang saya alami pada coretan yang saya sebutkan di atas.

Sesaat setelah melewati mobil keren dengan kaca spion yang keren itu, saya jadi berpikir, kira-kira apa yang menjadi dasar atau alasan si pengemudi melakukan hal tersebut. Lalu saya menemukan tiga buah alasan yang mungkin dijadikan dasar si pengemudi merapatkan kaca spion mobil sebelah kanan –dengan menekan tombol— dan memberikan ruang yang cukup untuk saya melaju di atas sepeda motor saya.

Pertama, si pengemudi ingin menyelamatkan kaca spion mobilnya yang pasti mahal harganya itu dari kerusakan atau mungkin patah jika tersenggol oleh sepeda motor yang saya kendarai. Apalagi jika si pengemudi bukanlah pemilik mobil tersebut, sopir misalnya, pasti akan sangat kebingungan jika sang majikan menuntut ganti rugi jika kaca spion tersebut rusak atau patah.

Kedua, si pengemudi memang berhati mulia. Dia ingin memberi kesempatan kepada pengendara sepeda motor seperti saya untuk tetap bisa melaju tanpa hambatan dengan memanfaatkan ruang yang diapit oleh mobil di sisi kanan dan kiri sepeda motor saya.

Ketiga, pengemudi mobil menjadikan dua alasan di atas sekaligus. Menjaga agar kaca spion mobilnya tidak rusak atau patah serta memberi ruang yang lebih lebar kepada pengendara sepeda motor seperti saya lebih leluasa melaju di tengah kemacetan arus lalu-lintas.

Lantas, manakah alasan yang paling baik atau paling mulia dari ketiga alasan di atas?

Menurut saya, alasan ketiga adalah alasan yang paling baik atau paling mulia. Segala bentuk nikmat yang ada di dalam genggaman, termasuk nikmat kendaraan, haruslah dijaga sebaik mungkin. Menjaga agar kaca spion mobil tidak rusak merupakan salah satu cara untuk bersyukur yang dilakukan oleh pengemudi mobil tersebut atas atas nikmat yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikan. Demikian pula mendahulukan kepentingan orang lain atas kepentingan diri sendiri yang dikenal dengan sebutan itsar, merupakan salah satu jenis kebaikan.

Beberapa saat setelah memberikan penilaian mengenai alasan yang dijadikan dasar oleh pengemudi tersebut, saya kembali berpikir. Apa hak saya menilai apa yang ada di dalam hati si pengemudi? Apa manfaat bagi diri saya mengetahui niatan yang terbersit di hati pengemudi ketika melakukan kabaikan tersebut? Apakah saya bisa dan mampu melihat apa-apa yang tersimpan di dalam hati pengemudi tersebut?

Nyatanya, saya tidak memiliki hak untuk menilai isi hati si pengemudi. Sebab itu adalah perkara yang ghaib. Saya hanya bisa melihat kaca spion yang bergerak merapat karena sang pengemudi menekan sebuah tombol yang ada di dalam mobilnya. Itu saja. Tidak lebih.

Nyatanya, saya juga tidak mendapatkan manfaat dengan mengetahui apa yang menjadi niat di dalam hati pengemudi. Bagaimana saya mendapatkan manfaat, jika apa yang menjadi niat di pengemuidi itu tidak pernah saya ketahui. Yang bisa bermanfaat bagi saya adalah mengambil pelajaran dari kebaikan yang dilakukan oleh pengemudi tersebut lalu menjadikannya bekal atau inspirasi untuk melakukan kebaikan baik serupa atau tak sama kepada orang lain. Jika demikian yang saya lakukan, maka akan ada manfaat yang kelak akan saya terima.

Nyatanya, saya tidak bisa melihat isi hati si pengemudi. Saya juga tidak bisa mendengar niatan apa yang terlontar dari hati si pengemudi. Saya hanya bisa melihat dan merasakan bahwa si pengemudi telah melakukan kebaikan bagi saya. Karena memang itu saja kemampuan yang saya miliki. Tidak lebih. Tidak kurang.

Kiranya cukup bagi saya untuk merasakan kebaikan si pengemudi itu. Mengucapkan terima kasih, yang sayangnya tidak saya lakukan. Lalu meniru perbuatannya untuk selalu melakukan kebaikan. Sementara apa yang menjadi niat di dalam hatinya, sepenuhnya menjadi hak Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk, rupa dan harta benda kalian, tetapi Allah memperhatikan hati dan amal-amal kalian”. [HR. Muslim]


Tulisan Terkait Lainnya :

21 thoughts on “Hati di Balik Kaca Spion

  1. momtraveler Januari 26, 2015 / 16:09

    Setuju ..kemasan itu ga penting isi (dalam hati) itulah yg penting 🙂

    • jampang Januari 26, 2015 / 16:49

      kalau kemasan dibilang nggak penting, saya kurang setuju juga, kak. kemasan juga penting. bukankah seseorang tidak akan mau mengambi sebuah permen yang jatuh ke tanah lantaran sudah tidak terkemas dalam bungkusan lagi? Akan beda jika permen yang jatuh itu masih terbungkus rapat.

      adapun inti pokok coretan saya di atas menitikberatkan bahwa sebagai manusia, kita hanya bisa menilai perbuatan baik seseorang dari apa yang bisa kita lihat, dengar, dan rasakan. sementara bagaimana isi hati atau niat seseorang tersebut melakukan kebaikan, kita tidak bisa menilainya. hanya Allah yang bisa menilainya.

  2. ysalma Januari 26, 2015 / 16:14

    Harus punya mobil berkaca spion mahal dulu baru tau niat yang sebenarnya,
    tapi dengan membaca ini menjadi pengalaman yg tidak harus dirasakan dulu,

    • jampang Januari 26, 2015 / 16:49

      yang penting niatnya baik, uni. dan soal niat itu ya cuma si pemilik niat dan Allah saja yang tahu 😀

  3. Ryan Januari 26, 2015 / 16:39

    Nice sharing mas. Memang yang penting itu…. hati. 😀

    • jampang Januari 26, 2015 / 16:52

      kurang lengkap, mas. yang penting itu hati yang baik.

      selanjutnya, kebaikan hati akan mengendalikan pemiliknya untuk senantiasa berbuat baik. akhirnya, isinya baik, kemasannya juga baik 😀

      • Ryan Januari 26, 2015 / 16:55

        Ada ya mas… hati yang jahat?

      • jampang Januari 26, 2015 / 21:11

        kalau hati yang jahat, saya belum membaca atau mendengar ayat al-quran atau hadits yang menyebut demikian. namun ada sebutan lain.

        di awal-awal surat al-baqarah, yang menjelaskan sifat dan perbuatan orang-orang munafiq, al-quran menggunakan istilah “hati yang sakit”

        lalu ada istilah “hati yang mati” di dalam sebuah hadits yang menggambarkan hati yang tidak mau menerima kebenaran atau disebabkan karena terlalu tertawa.

        ada pula hadits yang bunyinya sebagai berikut :

        Abu Abdillah Nu’man bin Basyir ra berkata, Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda :

        “Sesungguhnya yang halal itu telah jelas dan yang haram pun telah jelas pula. Sedangkan di antaranya ada perkara yang samara-samar yang kebanyakan manusia tidak mengetahui (hukum) nya. Barang siapa yang menghindari perkara samara-samar, maka ia telah membersihkan agama dan kehormatannya. Barang siapa yang jatuh ke dalam perkara yang samara-samar maka ia telah jatuh ke dalam perkara yang haram. Seperti penggembala yang berada di dekat pagar larangan (milik orang lain) dan dikhawatirkan ia akan masuk ke dalamnya.

        Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan (undang-undang), ingatlah bahwa larangan Allah adalah apa yang diharamkan-Nya. Ketahuilah bahwa di dalam jasad manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik maka baik pula seluruh jasadnya dan jika ia rusak maka rusak pula seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.”

        (HR. Bukhori dan Muslim).

      • Ryan Januari 27, 2015 / 07:28

        Wah… ini info menarik bagi saya mas. Makasih banyak ya…

      • jampang Januari 27, 2015 / 07:55

        sama-sama. semoga bermanfaat.

  4. limaumanes Januari 26, 2015 / 16:52

    Intinya perbuatan dia itu baik.. 😀

    • jampang Januari 26, 2015 / 16:53

      nah…. itu poinnya. seratus!

      soal niat, biar Allah yang menilai.

      • limaumanes Januari 26, 2015 / 16:57

        Yesss dapet buku. Eh. Hahaha

      • jampang Januari 26, 2015 / 21:12

        silahkan ambil di toko buku terdekat 😀

  5. zilko Januari 26, 2015 / 20:13

    Hehehe, biasanya kaca spion aku rapatkan karena alasan ketiga. Supaya kaca spion sendiri aman dan juga memberikan ruang lebih ke pengemudi lain, hehehe 🙂 .

    • jampang Januari 26, 2015 / 21:15

      mantap kalau begitu, mas

  6. mama nisa Januari 27, 2015 / 08:45

    beneran keren ya pengemudi mobilnya. saya dulu waktu bermotor di jakarta pernah tuh nyenggol spion mobil orang. hehe. cuma bisa nunduk2 minta maaf trus kaburr…. 😛
    tapi sesungguhnya kebaikan itu menular mas. kalau kita sadar telah diberi kebaikan oleh orang lain atau melihat kebaikan orang lain, kita pun akan tergerak melakukan kebaikan untuk orang lain, dan orang lain yg merasakan kebaikan kita pun akan melakukan hal yang sama. jadi jangan putus rantai kebaikan itu. 🙂

    nice sharing mas jampang.

    • jampang Januari 27, 2015 / 11:16

      insya Allah negitu mbak. kebaikan akan menular

  7. dani Januari 27, 2015 / 08:56

    Setuju Bang. Kita terima saja dan doakan balik kebaikan hati seseorang itu.

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s