Sayap yang Patah

Cerita sebelumnya …..

Besar harapan Zul untuk bertemu dengan Sali kali ini sehingg dia bisa menyampaikan apa yang menjadi kehendak di dalam hatinya. Tak akan lagi tertunda.

Zul belokkan sepeda motornya ke arah kiri, mengikuti arus lalu-lintas yang menuju Slipi dan Grogol. Dari kejauhan, pandangan matanya tertuju pada halte di depan Gedung Kembar di mana Zul bertemu kembali dengan Sali pertama kali setelah sekian lama putus kontak.

Sepertinya, takdir berketetapan lain. Zul tidak melihat sosok Sali yang biasanya sedang duduk sambil membaca buku di halte tersebut. Tak ada seorang pun di halte itu. Terlambat. Zul berpikir demikian. Untuk kedua kalinya, kehendak Zul harus tertunda kembali.

Selengkapnya bisa dibaca di sini.

—oo0oo–

sayap yang patah

Para jam’ah sahalat zhuhur mulai keluar satu per satu dari dalam masjid. Sebagian di antara mereka ada yang langsung makan siang di warung kaki lima bertenda biru sebagai atapnya yang terletak di samping Masjid Al-Muflihun. Sebagian lagi ada yang terlihat langsung masuk ke Gedung Kembar, kembali ke kantor masing-masing untuk mrlanjutkan pekerjaan. Sebagian kecil lainnya, asyik mengobrol di halaman masjid atau duduk-duduk santai di anak tangga masjid.

Zul baru saja keluar dari pintu tengah masjid menuju anak tangga. Tiba-tiba pandangan matanya menangkap sosok seseorang yang sedang dicari-carinya sejak beberapa hari yang lalu, Sali. Zul melihat Sali yang baru saja turun dari lantai dua masjid,  tempat khusus bagi jama’ah perempuan melaksanakan shalat.

Zul tidak ingin melewatkan kesempatan untuk bicara langsung dengan Sali. Zul segera melangkah mendekati Sali.

“Assalaamu ‘alaikum,” Zul mengucap salam.

“Wa ‘alaikumus salam,” jawab Sali.

“Sal, ada waktu sebentar? Ada yang mau bicarakan denganmu.”

“Ada apa, Zul? Sepertinya serius sekali.”

“Bagiku sih memang sesuatu yang serius. Entah menurutmu. Beberapa hari ini Aku mencarimu di halte depan. Tapi setiap kali ke sana, Aku tidak menemukanmu.”

“Oh… Itu karena sudah beberapa hari ini, Aku ke kantor dengan sepeda motor. Jadi Aku nggak nunggu bis di halte.”

“Pantas saja. Tadinya Aku pikir Kamu selalu pulang lebih cepat, sehingga ketika Aku tiba di halte, Kamu sudah tidak ada.”

“Ngomong-ngomong, apa yang ingin kau bicarakan, Zul?”

“Begini,” Zul diam sejenak sebelum melanjutkan ucapannya. “Kau ingat ketika kita terakhir bertemu di halte itu? Ketika aku bermaksud menyampaikan sesuatu, tiba-tiba Metromini yang kau tunggu datang dan kau langsung pergi?”

“Hm… Aku ingat waktu kita terakhir bertemu. Tapi Aku tidak ingat jika saat itu kau ingin menyampaikan sesuatu. Mungkin karena aku terburu-buru.”

“Mulanya aku ragu untuk menyampaikan sesuatu yang ada di dalam pikiran dan hatiku karena aku belum tahu bagaimana keadaanmu saat itu. Tapi setelah aku tahu bahwa kau belum memiliki pendamping hidup, maka aku coba untuk memberanikan diri menyampaikan sesuatu itu.”

“Sesuatu apa?” Tanya Sali penasaran.

“Jawab dulu pertanyaanku sekali lagi, apa benar kau belum memiliki pendamping hidup?”

“Seperti jawabanku waktu itu, Zul. Belum.”

“Sal,” Zul mencoba menghilangkan keraguannya. “Aku dulu seperti burung itu,” ucap Zul sambil menunjuk ke arah seekor burung yang sedang terbang bermain di atas taman, di antara Gedung Kembar.

“Maksudmu, Zul?” Tanya Sali kebingungan.

“Dahulu Aku memiliki dua buah sayap. Seperti burung itu, dengan kedua sayap itu aku bisa terbang mengangkasa. Dengan sayap itu aku bisa pergi ke mana saja aku mau. Ke gunung, ke laut, ke hutan, bahkan aku yakin, dengan kedua sayap itu aku bisa menembus langit ke tujuh atau surga sekalipun.”

Zul terdiam lagi sejenak.

“Tapi kini, salah satu sayapku patah. Akibatnya aku tidak bisa ke mana-mana. Fisik, jiwa, hati, bahkan agamaku menjadi kurang sempurna.”

Zul menarik napas panjang.

“Maukah dirimu menggantikan sayapku yang patah itu?”

“Maksudmu, Zul?”

“Kau pasti tahu maksudku. Maukah kau menjadi pendampingku? Menjadi istriku?”

“Tapi, Zul?”

“Kenapa, Sal? Apakah kau sudah ada calon?”

Sali terdiam. Dia berada dalam kebingungan untuk menghadirkan sebuah jawaban. Di depannya berdiri seorang lelaki yang mengajukan permintaan yang mungkin tak setiap lelaki bisa langsung mengutarakannya. Sementara sosok lelaki yang ada di dalam hati dan pikirannya adalah sosok muadzin yang belum jelas siapa, bagaimana sosoknya, dan di mana rimbanya. Namun Sali harus tetap memberikan jawaban.

“Maaf, Zul. Aku tidak bisa memberikan jawaban yang sesuai dengan harapan dan keinginanmu. Saat ini, memang ada sosok laki-laki yang mengisi ruang di hatiku dan pikiranku. Meski aku belum pernah melihat dan bertemu langsung dengannya, tapi hatiku menyatakan bahwa dia ada dan begitu dekat. Sekali lagi, maafkan aku Zul,” jawab Sali dengan berat hati.

“Nggak apa-apa, Sal. Aku bisa menerima jawabanmu meski bukan jawaban yang aku harapkan. Setidaknya, hari ini Aku sudah bisa menyampaikan kehendak hatiku dan mendapatkan kepastian jawaban darimu. Hanya saja, kita tidak berjodoh.”

Tak lama waktu berselang, keduanya berpisah untuk melanjutkan aktifitas masing-masing.

pikir tenggelam
bersama mentari yang baru saja terbenam
dan bersama langit malam
hatiku muram
pandanganku suram

duduk terdiam
di sudut ruang temaram
menyusuri jiwa nan kelam
merasuk sukma terpejam

ada gundah berselimut gelisah
ada luka berbalut amarah
ada tangis yang membuncah
ada keping hati yang terbelah

cahya rembulan bersenandung
kerlip bintang mengalunkan kidung
nyanyian serangga malam sambung
menyambung
seolah berkata
harapan itu masih ada
gundah kan sirna
luka kan tiada
tangis kan reda
keping hati kan menyatu meski tak sempurna

kehendak itu tak lagi tersirat
sebuah jawaban telah didapat
dan satu sayap masih mencari
pasangan yang sejati


Baca Juga Bab Lainnya :

22 thoughts on “Sayap yang Patah

  1. Faris Februari 1, 2015 / 20:50

    Pertama baca judulnya jadi teringat akan judul buku kahlil gibran, baca ceritanya… Kasihan si Zul,,,, dia belum bisa terbang karna sayapnya belum tergantikan. 😀

    • jampang Februari 1, 2015 / 20:57

      untuk sementara…. masih ada waktu untuk tetap berusaha 😀

      • Faris Februari 1, 2015 / 21:23

        Hahaha… bisa jadi juga si zul adalah laki-laki yang sudah dekat itu. 😀

      • jampang Februari 1, 2015 / 21:26

        bisa jadi… bisa jadi 😀

    • jampang Februari 1, 2015 / 21:22

      siap…. soalnya ada kesempatan karena yyg diincar belum menikah 😀

  2. esti kristikasari Februari 1, 2015 / 22:27

    Pasti berjodoh mereka 🙂

    • jampang Februari 2, 2015 / 07:46

      bisa jadi bisa jadi 😀

  3. Gara Februari 2, 2015 / 06:29

    Bagus tulisannya, Mas 😀
    Dibikin novel, Mas :hehe

    • jampang Februari 2, 2015 / 07:46

      terima kasih.
      maunya begitu. cuma apa penerbit ada yang mau nerima

      • Gara Februari 2, 2015 / 07:51

        Dicoba aja Mas dikirim ke penerbitnya :hehe
        Kalau belum dicoba kan belum tahu :))

      • jampang Februari 2, 2015 / 08:08

        akan diusahakan. sebenarnya udah dikirim ke semacam perantara atau apalah namanya… nanti disalurkan ke penerbit. cuma udah lama banget, dan belum ada kabarnya

      • Gara Februari 2, 2015 / 08:11

        Oh, yang semacam agen gitu ya Mas?
        Memang lama sih, Mas… dulu juga saya kirim naskah novel ke penerbit, baru setahun kemudian dapat balasan bahwa ditolak :hehe

      • jampang Februari 2, 2015 / 08:35

        kayanya seh hampir setahun juga nih. jangan-jangan ditolak juga 😀

  4. damarojat Februari 2, 2015 / 13:07

    duh mas, meski sudah berjodoh tapi kl baca kisah cinta kok ya jadi ikut mengharu-biru. tapi Sali kuat juga ya bisa langsung nolak nggak pakai dag dig dug. hehe… oya mas, penulisan ‘aku’ dan ‘kamu’ di tengah kalimat pakai huruf kecil deh kayaknya. kapital hanya ketika di depan.

    • jampang Februari 2, 2015 / 13:29

      wah iya, banyak banget yang salah yah 😦

      terima kasih koreksinya, mbak. cuma mungkin nggak langsung saya perbaiki. banyak banget salahnya 😀

  5. tinsyam Februari 2, 2015 / 17:13

    ini sali nyambungnya ke surel tadi ya..

    • jampang Februari 2, 2015 / 21:01

      beda seh mbak. surel tadi itu kisah nyata, saya yg kirim surel ke calon istri waktu itu. kalau ini fiksi

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s