Kesenangan Itu Melenakan

Malam itu, di hadapan saya dan Minyu terdapat tumpukan amplop berawarna putih dan beberapa lembar uang kertas. Amplop dan uang kertas tersebut adalah pemberian sanak keluarga dan para tetangga yang menghadiri pelaksanaan aqiqah Sabiq pada siang harinya. Kami bersiap untuk menghitung jumlah yang yang menjadi rezeki Sabiq tersebut. Sebelum menghitung, tentunya kami harus membuka amplop-amplop tersebut.

Dengan penuh suka cita, kami membuka amplop satu per satu dengan cara merobeknya. Tanpa alat berupa gunting atau pisau, cukup dengan kedua tangan kami. Adakalanya kami membaca tulisan nama si pemberi yang tertulis di amplop sebelum mengeluarkan uang yang ada di dalamnya.

Tak perlu waktu lama, semua amplop suda kami keluarkan isinya. Lalu kami membereskan lembaran-lembaran uan kertas dengan aneka warna tersebut. Kami kelompokkan sesuai dengan jumlah nominalnya, merapikannya, dan mulai menghitungnya.

Tiba-tiba, Minyu terkejut ketika melihat selembar uang lima puluh ribuan yang ukurannya tidak seperti biasa. Tidak sempurna. Ternyata, ada bagian uang lima puluh ribuan yang sobek. Bagian sobekannya pun hilang. Ternyata saya terlalu senang membuka amplop uang Sabiq sehingga saya kurang hati-hati ketika menyobek amplop-amplop tersebut.

Langsung saya mengambil kembali amplop-amplop yang sudah kosong dan sudah saya robek sebelumnya. Saya cek satu per satu amplop tersebut, mebuka dan melihat bagian dalamnya. Setelah beberapa amplop saya cek, alhamdulillah, bagian sobekannya saya temukan. Masih Rezeki. Selanjutnya saya rekatkan bagian sobek tersebut menggunakan selotip agar kembali seperti uang lima puluh ribuan yang lain.

Ternyata, ketika seseorang berada dalam kesenangan, terkadang dirinya menjadi kurang awas dan kurang hati-hati sehingga terjadilah hal-hal yang tidak diharapakan dan tidak diinginkan.

Mungkin, kecelakaan yang terjadi di jalan raya sebagian besar diakibatkan kondisi jalan yang lengang dan kondisi arus lalu-lintas yang lancar. Sebab di kondisi tersebut, pengemudi umumnya akan memacu kendaraannya lebih cepat. Jika konsentrasi tiba-tiba hilang, maka kecelakaan bisa terjadi.

Sebaliknya, jika kondisi jalan raya macet dan kondisi arus lalu-lintas padat merayap, kecelakaan hampir tidak pernah terjadi. Sebab laju kendaraan sangat lambat. Kalaupun terjadi, mungkin hanya berupa badan kendaraan yang saling mepet atau bagian belakang dan bagian depan mobil yang saling cium mesra sehingga menimbulkan lecet-lecet saja. Tidak ada yang terluka sampai parah atau meninggal dunia.

Lantas, bagaimana dengan kondisi dunia tempat kita hidup saat ini? Apakah menyenangkan? Jika demikian, kita harus lebih hati-hati saat menjalani kehidupan di dunia ini agar tidak mengalami kecelakaan yang fatal.

Wallaahu a’lam.

—oOo—

ada nikmat yang bermula lalu berakhir dengan sebuah siksa
ada bahagia yang terlahir lalu berujung dalam sengsara
ada yang diberi dalam ceria lalu diambil dalam duka
ada yang ditampakkan segala kesenangan namun disembunyikan setiap lara

bujuk dan rayu itu datang dan pergi beriringan masa
menggoda dan mencari kawan tuk selalu bersama
sebab dia dicipta dengan usia panjang hingga akhir dunia

adakah bekal utama yang tertanam kokoh di dada agar tak tergoda?
adakah perisai yang bisa menjadi pembenteng jiwa dari noda?
adakah dawai yang mampu pengekang nafsu sumber petaka?
adakah hijab yang melindungi jasad dari pembakar dosa?


Tulisan Terkait Lainnya :

20 respons untuk ‘Kesenangan Itu Melenakan

  1. naniknara Februari 4, 2015 / 09:16

    jadi memang tidak boleh “TERLALU”, sebaiknya “YANG SEDANG-SEDANG SAJA” 🙂

    • jampang Februari 4, 2015 / 10:22

      kurang lebih begitu, mbak. jadi tetap waspada 😀

  2. titintitan Februari 4, 2015 / 11:38

    pengen like dowang gak komen

    *lah ini komen :))

    • jampang Februari 4, 2015 / 11:58

      gpp. saya anggap itu bukan komen.

      *bukan komen koq dibalas 😀

  3. itsmearni Februari 4, 2015 / 12:04

    Iya banget nih
    Memang semua yang “terlalu” itu gak bagus ya

    • jampang Februari 4, 2015 / 12:58

      begitulah, mbak 😀

  4. rinasetyawati Februari 4, 2015 / 12:07

    Alhamdulillah masih ketemu ya sobekannya, belum masuk tempat sampah

    • jampang Februari 4, 2015 / 12:58

      iya mbak. untung banget nyadarnya nggak lama. jadi amplopnya belum sempat keluar kamar. masih di kantong plastik di dalam kamar

  5. Gara Februari 4, 2015 / 18:36

    Puisinya bagus 🙂
    Kalau kata atasan saya, kita hidup harus “eling” dan “waspada”. Jangan lupa diri, karena kalau sudah lupa, yang mengingatkan itu Tuhan, dan biasanya Tuhan mengingatkan dengan sedikit “menyentil”.
    Hehe.

    • jampang Februari 5, 2015 / 05:46

      terima kasih, mas 😀

      sepertinya begitu. kadang kalau disentil nggak berasa… bisa dijewer… atau yang lebih sakit dari itu

      • Gara Februari 5, 2015 / 06:10

        Iya, Mas.
        Tuhan selalu punya cara mengingatkan hamba-Nya :))

      • jampang Februari 5, 2015 / 07:48

        mudah2an kita bisa sadar sebelum diingatkan

  6. indri Februari 4, 2015 / 19:29

    pak, ada tradisi nyatat ga siapa sj yg nyumbang
    saya diajarin ibuk kalau pas punya gawe dan ada acara amplop2an supaya dicatat
    lain kali yg kasi amplop punya gawe, qt jadi ingat dulu pernah dtg n scr sosial masyarakt harus balas
    sebenernya ssi syariat sesiapa yg punya hajat n qt diundang qt wajib dtg meski tdk membawa amplop. sy pernah blg gini sm ibu. tp kta ibuk, kdg ada tamu dari jauh yg khusus dtg kalau tdk dicatat nanti lupa krn tidak bergaul sehari2. acara balas membalas ini agak complicated di masyarakat.
    akhirnya sy nemuin alasan yg tepat buat ikut2an nyatat.
    yaitu jaga hati ttga, hehehe

    • jampang Februari 5, 2015 / 05:49

      kalau di kalangan orang tua, masih ada mbak.
      tapi kalau angkatan saya, mungkin udah nggak ada.
      tradisi itu ada baik dan buruknya. baiknya kita jadi mengingat kebaikan orang dan ingin membalasanya. buruknya, ada keterpaksaan ketika kita tidak memiliki rezeki yang sama seperti orang itu saat memberi. akhirnya melakkan dua pilihan memninjam atau malu dan nggak jadi datang ktika diundang oleh yg bersangkutan

  7. zilko Februari 4, 2015 / 22:51

    Hahaha, kadang aku juga begitu. Ketika membuka surat, berhubung malas mengambil gunting/cutter, aku sobek aja. Alhasil kadang-kadang bagian pinggir kertas isi suratnya juga ikut tersobek 😛 .

    • jampang Februari 5, 2015 / 05:53

      kalau cuma pinggir surat mungkin tulisannya masih bisa dibaca, mas. kalau uang kan jadi nggak laku 😀

  8. capung2 Februari 8, 2015 / 11:03

    benar sekali kawan.. kesenangan kerapkali melalaikan yg bahkan kadang bahkan merugikan kt.

    Moga kt tetap dlm ketawadhuaan saat kt sdg mendapatkan kesenangan.

    • jampang Februari 8, 2015 / 17:50

      aamiin yaa rabbal ‘aa;amiin

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s